Berinkarnasi

Berinkarnasi
Halangan


__ADS_3

Jiang segera kembali kekamar setelah mendengar penjelasan jenderal itu." Bagaimana?" tanya Xuelan saat melihat kedatangan Jiang.


" Zhang Han sudah berangkat kemedan perang malam tadi, kudengar ia membawa pasukan besar untuk memukul mundur Yan Utara, dia sendiri turun tangan memimpin pasukan." jelas Jiang, Kaki Xuelan menjadi lemas mendengar berita itu.


" Ini salahku, harusnya aku menceritakan ini pada kalian lebih awal sehingga tidak menyebabkan perang yang hanya akan merugikan kedua belah pihak." Xuelan terduduk lesu, ia sangat menyesal dengan semua yang terjadi.


" Xuelan, ini bukan waktunya bersedih, kita harus pergi menemui Zhang Han untuk menghentikan perang ini, ini masih belum terlambat." kata Jiang menenangkan Xuelan yang terlihat sangat sedih.


" Kau benar Jiang, aku harusnya tidak bersedih, Ayo kita pergi." ajak Xuelan bersemangat.


" Kudengar medan pertempuran akan terjadi di tanah lapang didekat tapi garis pantai karena itu hanya satu-satunya tanah paling luas untuk pertempuran, karena didekat tepi pantai pasukan Yan Utara berkemah." jelasnya.


" Jarak kesana memakan 1 hari tanpa istirahat jika menaiki kuda, kita tidak akan terlambat jika tidak ada halangan." jelas Dao-Dao. mereka mengangguk lalu keluar istana jalan rahasia, tapi sebelum itu Jiang berpesan pada Lian dan Yuan bahwa dirinya keluar istana tapi Lian dan Yuan tidak mengetahui ketiga temannya yang berada diistana, mereka berdua menurut perkataan Jiang.


Begitu mereka keluar istana lewat jalan rahasia, ia terkejut karena diluar istana selir Lu Xiang menunggu mereka." Selir Lu Xiang." kata Jiang yang pertama bereaksi terkejut melihat Lu Xiang.


" Aku diperintah untuk menjagamu agar tidak keluar istana untuk pergi kemedan perang." kata Selir Lu Xiang, dibelakang terdapat 10 prajurit yang siap mendengar perintahnya.


" Bagaimana kau tau aku akan melalui jalan ini?" tanyanya heran.

__ADS_1


"Kau berteman dengan keturunan pengkhianatan kerajaan, kau menjadi semakin berani Jiang." tanpa menjawab pertanyaan Jiang, Lu Xiang melirik ketiga orang yang berada dibelakang Jiang.


" Itu bukan urusanmu, aku harus bertemu yang mulia, ada hal penting yang harus aku sampaikan padanya, minggir kau selir Lu Xiang." Jiang memaksa lewat, Lu Xiang langsung memukul Jiang hingga terpukul mundur.


" Aku sudah katakan, kau dilarang pergi meninggalkan istana, prajurit tangkap permaisuri Jiang dan ketiga temannya." perintah Lu Xiang.


ketiga prajurit itu mengelilingi mereka, Jiang menjadi geram, ia menyerang para prajurit itu, ketiga temannya ikut membantu menghajar prajurit, tapi tidak sampai membunuh mereka. mereka hanya melumpuhkan prajurit-prajurit itu saja agar tidak menyerang mereka.


" Kau keterlauan Selir Lu Xiang, ini sangat genting." teriak Jiang marah." Aku tidak perduli." jawabnya lalu menyerang Jiang.


Mereka bertarung, awalnya Jiang fikir dia akan menang karena sekarang ia sudah memiliki tenaga dalam dan terakhir kali mereka bertarung, mereka imbang padahal saat itu Jiang masih belum memilki tenaga dalam, tapi hanya dalam beberapa kali mereka mengadu pukulan, terlihat jelas bahwa Jiang seperti akan kalah telak.


" Fikirkan cara untuk pergi Dao-Dao, Jiang sepertinya tidak bisa mengalahkan selir Lu Xiang." kata Xuelan, mereka bertiga hanya bisa menonton saja karena mereka tidak boleh ikut campur urusan para istri raja.


" Aku sedang memikirkannya." jawab Xuelan.Jiang terpukul mundur, Zhao An dan Xuelan dengan sigap menahan tubuh Jiang agar tidak terlempar.


" Hah, Yang mulia Zhang Han." teriak Dao-Dao, Jiang meoleh kiri kanan mendengar teriakan Dao-Dao, selir Lu Xiang langsung memutar badan memberi hormat, tanpa aba-aba Dao-Dao segera berlari menarik Jiang yang dikuti Zhao An dan Xuelan.


Menyadari mereka berlari, Lu Xiang menoleh kedepan ternyata tidak ada siapapun membuatnya sangat kesal karena dikelabui oleh mereka. " Kalian fikir bisa lepas setelah menipuku?" Lu Xiang tersenyum licik, lalu berlari kearah dimana Jiang pergi.

__ADS_1


Mereka berempat berlari sebuah desa, tanpa memperhatikan jalan yang mereka lalui, tiba-tiba mereka tersandung dan dan langsung terperangkap kedalam sebuah jaring yang langsung menggantung dipohon.


" Kita terperangkap, bagaimana ini?" kata Zho An khawatir, tak lama Lu Xiang datang dengan senyuman mengejek.


" Lu Xiang, lepaskan kami." garang Jiang pada Lu Xiang. " Lepasan? kalau kau punya kemapuan, lepaskan sendiri., sepertinya kalian harus menunggu disini." jawabnya lalu pergi meninggalkan mereka yang basih bergantung didalam jaring.


" Jaring ini... sial" teriak Jiang marah. Ia mengamati situasi dan kekuataan jaring yang merangkap mereka. Jiang menarik pisau yang berada dibalik sanggul rambutnya, akibatnya rambutnya terurai, ia segera memotong jaring itu, Zhao An, Dao-Dao dan Xuelan terpesona melihat kecantikan Jiang dengan rambut terurai.


" Berhentilah menatapku jika tidak ingin kucungkil bola mata kalian." jawabnya masih memotong jaring, mereka bertiga langsung mengalihkan pandangan melihat ketebalan jaring mereka.


" Butuh waktu setengah hari untuk memotong jaring ini, kita akan sangat terlambat.", jawab Dao-Dao. " kalau begitu ayo bantu aku, cari apa saja yang berbentuk tajam." kata Jiang, tapi mereka tidak menemukannya, alhasil mereka hanya menonton Jiang.


sesuai perkiraan Dao-Dao, setelah setengah hari, barulah mereka terlepas, Jiang sangat kelelahan. " Ayo pergi ke kandang kuda, kita harus cepat." kata Jiang, mereka segera berlari, begitu sampai kekandang kuda mereka segera memilih kuda mereka, prajurit yang berjaga dikandang kuda memberi hormat saat melihat Jiang.


" Ambilkan panah." kata Xuelan, prajurit itu menuruti karena prajurit itu fikir orang yang memerintahnya datang bersama Jiang, setelah mendapatkan panah, mereka langsung melesat pergi.


Mereka berkuda tanpa henti dan tanpa istirahat padahal tubuh mereka sangat kelelahan mereka terus berkuda untuk bisa mencapai tempat itu tepat waktu, ketika mereka hampir sampai matahari hampir terbit." Ayo cepat, kita sebentar lagi sampai, perang sebentar lagi akan terjadi." teriak Jiang pada mereka.


Kedua belah pihak sudah berhadapan pasukan mereka, beratus ribu prajurit berbaris bersamaan senjata yang lengkap, Zhang Han dan para jenderalnya yang berada diatas kuda cukup takjub melihat prajurit musuhnya yang tidak sesuai perkiraannya.

__ADS_1


__ADS_2