Berinkarnasi

Berinkarnasi
Surat dari Xuelan


__ADS_3

Zhang Han mondar-mandir didepan kamar Lu Xiang, siapapun tidak diperbolehkan masuk Sampai tabib itu merawat Lu Xiang, Zhang Han sangat khawatir menunggu, tapi jauh dalam hati Zhang Han ada hal yang tidak bisa ia jelaskan, dan ia juga tidak tau apa itu.


Semua orang khawatir dengan Lu Xiang, mereka ingin melihat kondisi Lu Xiang tapi Zhang Han memerintahkan semua orang untuk kembali kekediaman mereka sendiri dan dirinya hanya ditemani Selir Ming Hui saja.


Jiang Huan kembali kekediamannya dengan tenang. " Yang mulia." seorang prajurit menghampiri dirinya sembaru memberi hormat. " Ada Apa?" tanya Jiang, lalu ia menyodorkan sebuah tabung berukuran sedang berwarna perak, dan ada lambang ditabung itu, Jiang tidak mengenali tabung itu.


" Apa ini?" tanya Jiang lalu mengambil tabung itu.


" Surat dari Yan Utara." Jawab prajurit itu lalu memberi hormat pada Jiang kemudian pergi. Jiang menganggukan mengerti tapi ia heran bukankah jika surat diberikan akan diperiksa lebih dahulu oleh pembawa pesan, tapi sepertinya tabung ini masih tersegel.


Jiang berniat melanjutkan perjalanan, tiba-tiba ia melihat Dao-Dao dan Zhao An lewat, Jiang segera memanggil mereka, mereka segera menghampiri Jiang lalu memberi hormat, walaupun mereka berteman, didalam istana mereka harus menghormati Jiang karena Jiang memiliki status lebih tinggi dari mereka.


" Ayo temani aku minum teh." ajak Jiang mereka tersenyum lalu mengangguk senang, sudah lama mereka tidak minum bersama.


" Xuelan mengirimkan surat padaku." Jiang memperlihatkan tabung itu pada mereka berdua, mereka menjadi antusias mendengarnya, karena sejak Xuelan pergi 1Bulan lalu, ia tidak memberi kabar apapun pada mereka.


" Tapi aku heran, mengapa tabung ini masih disegel, bukankan biasa Pembawa pesan akan memberitahukan sendiri isi suratnya tanpa membawa surat itu langsung?" tanya Jiang sambil mereka berjalan bersama.


" Bearti itu surat istimewa." Jawab Dao-Dao.


" Istimewa?"


" Kau lihat, tabung ini terbuat dari perak dan miliki lambang yang diukir, bearti ia tidak boleh dibuka oleh orang lain selain oleh orang yang dimaksud untuk surat ini." Jelas Dao-Dao setelah memperhatikan tabung itu memiliki lambang yang diukir.


" pantas saja ini masih tersegel." jawab Jiang

__ADS_1


lalu tertawa kecil melihat kobodohaannya yang tidak tau apapun, memang harus diacungi jempol melihat pengetahuan luas Dao-Dao.


" Jiang, apa yang terjadi diruang sidang hari ini? Kudengar..." Dao-Dao ingin bertanya lebih lanjut tetapi Jiang segera menghentikannya.


" Dinding punya telinga dan pintu punya mata, kita berbicara itu nanti dikediamanku saja, ada yang ingin aku beritahu pada kalian berdua." kata Jiang, mereka berdua mengangguk mengerti.


Saat sampai dikediaman, Jiang disambut oleh Lian dan Yuan yang heran melihat kedatangan Jiang bersama Dao-Dao dan Zhao An.


" Nona, anda tidak pergi menemani yang mulia dikamar selir Lu Xiang?" Tanya Lian, mereka sudah mendengar tentang apa yang terjadi disidang hari ini, kabar benar-benar cepat tersebar.


" Aku sangat lelah dan tidak memiliki tenaga lagi untuk pergi kekediaman selir Lu Xiang." jawab Jiang asal lalu melanjutkan langkahnya, mereka mengerti maksud perkataan Jiang, jadi tidak bertanya lebih lanjut lagi.


" Dimana Kaisar Bai Yunfei?" tanya Jiang lagi, ia tidak melihat Bai Yunfei disekitar kediamanannya.


" Ia sedang pergi keluar, apa perlu hamba memanggilnya?"


Mereka bertiga lalu menuju halaman taman belakang kediaman tempat mereka dulu mabuk karena Jiang memang melarang para penjaga maupun pelayan memasuki taman kecuali orang yang bertugas membersihkan taman. Jiang lalu membuka tabung itu, tetapi tidak ada tulisan apapun didalamnya.


Jiang menggaruk kepala melihat surat itu, ia membolak-balikan kertas dua lembar itu tetapi tidak ada satupun tulisan didalamnya, Dao-Dao dan Zhao An ikut keheranan.


" Setauku tulisan Xuelan sangat bagus, apa kembali ke Yan Utara ia kehilangan tangannya sehingga mengirim surat kosong ini." celetuk Jiang kesal melihat kertas kosong itu.


" Aku ingat, mungkin tulisannya tenggelam." kata Dao-Dao.


" Zhao An, tolong ambil lilin." kata Dao-Dao, Zhao an tidak mengerti tetapi ia tetap melakukan apa yang disuruh Dao-Dao.

__ADS_1


" Untuk apa lilin? apa kau akan membakar surat ini tanpa tau isinya?" tanya Jiang.


" Kau akan tau nanti." jawab Dao-Dao tersenyum penuh makna, tak lama Zhao An datang dengan membawa lilin yang sudah menyala.


" Untuk apa siang begini menghidupkan lilin?" tanya Zhao An lalu meletakan Lilin itu diatas meja.


" Sini." Dao-Dao lalu mendekatkan surat itu dengan lilin, surat itu menjadi panas dan perlahan setiap kata muncul disurat itu, Jiang dan Zhao An takjub melihatnya.


" Ini namanya tinta apel, isinya hanya akan muncul jika didekatkan dengan api, biasanya tinta apel hanya digunakan untuk mengirim surat rahasia karena tinta apel sulit didapat." jelas Dao-Dao.


" Sepertinya Xuelan sangat kaya sehingga bisa mengirim surat mengunakan tinta apel seenaknya." komentar Zhao An, Jiang dan Dao-Dao tertawa kecil mendengar komentar Zhao An.


" Salam, Maaf aku baru sempat mengirim surat untuk kalian,saat sampai di Yan Utara aku dihukum mengerjakan laporan yang sudah tertunda selama aku hilang, sangat melelahkan. Aku ingin bercerita sedikit, aku sudah melamar ***Meng Lu, tahun depan aku akan melaksanakan pernikahanku dan sudah menetapkan tanggal yaitu tanggal kita semua bertemu pertama kalinya. Aku benar-benar sangat merindukan kalian, hari pernikahanku nanti, kalian harus datang aku akan menyiapkan undangan terbaik hanya untuk kalian bertiga.


" Oh ya , sampaikan salamku untuk Dao-Dao dan Zhao An, katakan bahwa aku sangat merindukan mereka terutama Zhao An yang sudah seperti kakak bagiku. Sudah dulu suratku, lain kali akan aku kirim lagi. Jangan lupa membalas suratku.


Salam rindu dari Yan Utara Xuelan, untuk Sahabat terbaik, Jiang Huan, Dao-Dao dan Zhao An***.


Jiang selesai membacakan surat itu, Ia lalu menggulung surat itu lalu memasukkannya kedalam tabung itu lagi. " Hanya surat seperti ini sampai mengunakan tinta apel, benar-benar membuang harta saja." komentar Dao-Dao, Jiang tertawa kecil, Zhao An hanya tersenyum mendengarnya.


" Ada yang ingin kusampampaikan." kata Jiang tiba-tiba, mereka berdua menjadi antusias mendengarnya.


" Kalian harus berhati-hati pada selir Lu Xiang." kata Jiang, mereka berdua tidak mengerti maksud dari perkataan Jiang.


" Apakah ini ada kaitannya dengan kejadian disidang hari ini?" tanya Dao-Dao asal tebak. Jiang mengangguk.

__ADS_1


" Kau mencurigai selir Lu Xiang yang melakukanya?" tanya Zhao An asal, Jiang langsung menoleh pada Zhao An seolah bertanya bagaimana kau bisa secerdas ini.


" Bukan lagi mencurigai tapi sudah dipastikan." jawab Jiang, Dao-Dao dan Zhao An saling menoleh, mereka hanya asal menebak isi fikiran Jiang dan Jiang sangat yakin, membuat mereka menjadi bingung.


__ADS_2