Berinkarnasi

Berinkarnasi
Permasalahan


__ADS_3

Jiang tersadar dari keterkejutannya saat mendengar kata-kata dari Jiang An, ia ingin melawan perkaataan dari Jiang An, tetapi saat ia ingin mencoba melawan dari hati kecilnya melarang akan hal itu, seolah ia berkata bahwa bagaimanapun jahatnya Jiang An, ia tetap ayah kandungnya.


Jiang menarik nafas menenangkan hatinya, ia lalu menatap Jiang An. " Apakah seorang ayah pantas mengatakan hal ini pada putrinya?" tanya Jiang Huan, ia mengepalkan tangannya menahan amarah.


" Putri? aku tidak pernah menganggap kau adalah putriku, suatu aib bagiku memiliki Putri seperti dirimu, aku tidak pernah menginginkan putri pembawa sial." jawab Jiang An, tatapan sedih diwajah Jiang An terlihat jelas. Entah mengapa saat ditatap Jiang An, Jiang Huan ikut merasakan sakit seolah ia mengerti rasa sakit hati Jiang An padanya.


" Apa kesalahanku sehingga kau sangat membenciku, ayah?"Kini Jiang Huan yang menangis saat melihat Jiang An menangis menatap dirinya. Ia tidak mengerti mengapa ia amat bersedih melihat Jiang An Menangis juga ia merasa sangat menghormati pria ini walaupun kejahatan yang ia lakukan pada Jiang sangat kejam


" Kau bertanya tentang kesalahanmu? kesalahanmu adalah kau dilahirkan didunia ini." teriak marah Jiang An, ia lalu menangis melihat peti mati Jiang Feng dibawa masuk keruang aula pemakaman keluarganya.


Jiang An mengikuti peti mati yang dibawa para prajurit dari belakang, Jiang Huan merasa sangat sakit hati akan perkataan Jiang An, ia memegang dadanya yang terasa sesak. " Aku bukan dirimu Jiang, tetapi kenapa aku tidak boleh melawan ayahmu yang jahat itu, ia sudah memperlakukanmu dengan tidak adil tapi kau yang sudah tiada bahkan masih menginginkan diriku menghormati dirinya." batin Jiang Huan masih menyentuh dadanya yang terasa sesak.


Jiang Huan lalu masuk kedalam, saat ia ingin masuk kedalam aula pemakaman, Ibu tirinya dan saudara tirinya menghentikan Jiang.


" Kau memang wanita pembawa sial, kau adalah penyebab kematian kakak." teriak saudara tirinya, Jiang Mei.


" Minggir." kata Jiang Huan tanpa menoleh dua orang itu.


" Sombong sekali kau, hanya karena kau sudah pernah menjadi permaisuri, kau kira kau bisa seenaknya pada kami, kau harus tau, kau menjadi permaisuri karena rasa sayang kakek, Jika tidak kau mungkin sudah menjadi pengemis dijalanan." balas Jiang Mei, Jiang Huan lalu menoleh pada Jiang Mei dan Xiang Yu yang berekpresi angkuh.


" Tentu saja, kakek amat sayang padaku daripada dirimu, jadi sebagai permaisuri tunjukan rasa hormatmu padaku " Jiang Mei menjadi panas hati ia lalu ingin menampar Jiang Huan tetapi Jiang Huan lebih dulu menampar Jiang Mei. Xiang Yu sangat marah.


"Berani sekali kau memukul putriku?" teriak Xiang Yu marah, ia ingin memukul Jiang Huan tetapi tangannya ditahan lebih dulu oleh Jiang.


" Aku tidak ingin bersikap tidak sopan padamu, tapi aku tidak bisa membiarkan dirimu menganiaya diriku lagi." kata Jiang Huan sambil menggenggam pergelangan tangan ibu tirinya, ia lalu menghempaskan tangan ibu tirinya.

__ADS_1


Jiang Huan ingin masuk kedalam aula tetapi langkahnya terhenti karena teriakkan Jiang An. " Berhenti disana." teriak Jiang An dibelakangnya, Jiang Huan berhenti mendengar teriakkan Jiang An, walaupun dirinya seorang permaisuri tetapi ia tidak pernah dihormati layaknya permaisuri jika berada dirumahnya. Jiang An mendekati mereka.


" Kau tidak boleh masuk kedalam, kau tetap disini saja." Ucap Jiang An, ia lalu masuk kedalam.


" Kenapa? aku ingin menemani kakak dihari terakhirnya." jawab Jiang.


" Berlutut." teriak Jiang An marah, Jiang Huan ingin membangkang tetapi lagi-lagi hati kecilnya menyuruh untuk mentaati semua perkaataan ayahnya.


Jiang Huan berlutut didepan aula, saat ia memandang wajah Jiang An ia teringat pada ayah angkatnya. " Jiang Huan, sepertinya nasibmu lebih buruk dariku, paling tidak ayah angkatku amat sayang padaku, tapi bahkan ayah kandungmu sendiri sangat kejam, apa ia pantas kau panggil ayah dan kau hormati sedemikian rupa bahkan jiwamu yang sudah mati masih ingin memaksaku menghormatinya." batin Jiang.


" Kau tidak boleh bangun sebelum aku perintahkan." ucap Jiang An lalu masuk kedalam aula, Jiang Huan hanya memandang Jiang An, Xiang Yu dan Jiang Mei tersenyum bahagia melihat Jiang Huan yang berlutut didepan aula berhalaman terbuka itu.


" Ibu aku merasa dia bukan Jiang yang kita kenal, sepertinya rumor tentang Jiang Huan yang berubah secara tiba-tiba itu benar adanya." bisik Jiang Mei pada Xiang Yu saat mereka mengikuti Jiang An masuk keruang aula.


" Aku ikuti kemauanmu." guman Jiang Huan, ia menatap peti mati didalam aula tepat didepan pintu ia memandang sambil berlutut. tak lama seorang pendeta datang, ia memandang Jiang Huan yang berlutut, ia lalu memandang alam sekitar, seorang pelayan menuntun pendapat itu untuk keruang aula untuk menenangkan jiwa orang yang sudah mati.


" Takdir wanita ini berubah, dia bukan wanita yang kulihat 15 tahun yang lalu." kata pendeta itu, pendeta itu pernah datang saat kematian ibu Jiang Huan, jadi ia pernah melihat Jiang Huan yang saat itu berumur 9 tahun, ia bisa meramal masa depan hanya dengan melihat auranya saja.


" pendeta, mari." ucap pelayan itu, ia tidak mengerti perkataan pendeta itu, pendeta itu tersenyum menoleh pada pelayan itu kemudian ia langsung menuju aula, Jiang masih berlutut menatap ruang aula.


Sampai malam hari Jiang Huan masih berlutut, tiba-tiba hujan turun deras, Jiang yang berada diluar menggigil kedinginan tetapi ia telah bertekad bahwa ia menghormati ayahnya walaupun ia sangat buruk menjadi seorang ayah dan membiarkan putrinya menderita ia merasa tak mengapa suatu hari ia akan membuktikan bahwa ia bukanlah anak seperti yang dikatakan ayahnya.


Jiang Huan memeluk dirinya sendiri karena kedinginan tetapi ia tidak bergeming sama sekali dari tempstnya.


Zhang Han baru sadar setelah ia mendengar hujan turun deras, Tabib Guang membawa obat dimangkuk untuk diminum Zhang Han, Zhang Han tersenyum lalu menerima obat yang disodorkan padanya, ruangannya terasa hangat jadi ia merasa lebih baik.

__ADS_1


Wei Chan dan Lan Huan membakar kayu diperapian agar tetap menyala, seluruh prajurit dan pelayan dikediaman Zhang Han adalah orang-orang terpilih dan terpercaya sehingga segala informasi yang berada dikediaman Zhang Han tidak akan bocor sampai keluar.


" Wei Chan." panggil Zhang Han, ia sudah merasa kondisinya lebih baik ia kemudian duduk ditepi peranduan.. Wei Chan memberi hormat.


" Yang mulia." jawab Wei Chan.


" Apa Jiang Huan sudah kembali?" tanya Zhang Han, ia lalu terbatuk-batuk kemudian memuntahkan darah berwarna hitam, Tabib Guang mengambil kain lalu mengelap bibir Zhang Han kemudian membersihkan darah yang dimuntahkan Zhang Han. Wei Chan sangat khawatir melihat keadaan Zhang Han.


" Wei Chan, apa kau tidak dengar perkaataanku?" kata Zhang Han sedikit meninggikan suaranya.


" Sepertinya belum yang mulia." jawab Wei Chan. Zhang Han lalu berdiri.


" Yang mulia." kata Wei Chan khawatir saat melihat Zhang Han tiba-tiba berdiri.


" Ia pasti sedang disiksa oleh keluarganya lagi, aku harus menemaninya." kata Zhang Han seolah ia tau bahwa Jiang akan menderita jika ia pulang kerumahnya karena ia tau permasalahan keluarga itu. ia lalu mengambil jubah tebal bertopi bulu agar ia tetap hangat dengan cuaca hujan seperti ini.


" Yang mulia, anda sedang sakit, anda tidak boleh pergi, kalau tidak penyakit anda akan semakin parah." ucap Tabib Guang, tetapi Zhang Han sama sekali tidak memperdulikan perkataannya.


Zhang Han kemudian mengambil payung, Wei Chan dan Lan Huan sudah sangat khawatir melihat keras kepala Zhang Han, Saat mencapai pintu, Zhang Han sedikit pusing, Ia langsung bertumpu pada dinding.


" Yang mulia." ucap Wei Chan dan Lan Huan bersamaan, ia ingin membantu tetapi Zhang Han langsung menghentikan mereka.


" tetap ditempat kalian, aku baik-baik saja." jawab Zhang Han lalu ia membuka payungnya kemudian keluar dari kamarnya.


Maaf ya jika saya lama update, saya berkerja bukan pelajar jadi saya hanya update sesuai kemampuan saja, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2