
Jeritan Lian dan Yuan yang terdengar membuat Jiang mengepalkan tangannya erat, Jiang memejamkan matanya dan langsung menjatuhkan lututnya dihadapan Ming Hui dan Zhang Han, Jiang meneteskan air matanya. Begitu Jian berlutut kedua prajurit itu berhenti memukul Lian dan Yuan.
" Maafkan aku selir Ming Hui, karena kecerobohanku membuat anda celaka, sekali lagi maafkan aku." kata Jiang menahan amarah,kesal, benci, kecewa, semua bercampur aduk. kalau ini diduniannya, ia tidak akan Sudi berlutut, ia pasti akan memotong urat nadi orang itu.
Zhang Han langsung pergi begitu Jiang selesai meminta maaf meninggalkan Jiang yang masih berlutut. setelah Zhang Han pergi, selir Ming Hui tersenyum mengejek melihat Jiang." Kasihan sekali." ejeknya lalu pergi meninggalkan Jiang yang masih berlutut.
" Jiang Huan, apa aku bisa membalas dendam untukmu? aku bahkan belum memulainya sudah membuatku menderita begini, aku rasanya sedikit menyesal, mengapa kau harus mengundang jiwaku, kenapa bukan jiwa orang lain saja, raja itu bahkan lebih menyebalkan darimu." Batin Jiang teriak, ia lalu menghapus air matanya, Lian Dan Yuan langsung membantu Jiang berdiri untuk kembali kekediamannya.
" Maafkan aku telah membuat kalian berdua menderita." lirih Jiang pada mereka saat membantunya kembali kekediaman.
" Sudah menjadi kewajiban kami, kami tidak apa-apa nona." jawab Lian, Jiang tersenyum pahit karena ia merasa bersalah karena kedua pelayannya menjadi menderita karena dirinya.
Kini Zhang Han menuju kekediamannya ditemani Wei Chan dan Lan Huan." Yang mulia, anda sekarang menciptakan jarak pada yang mulia Jiang." ucap Wei Chan disela perjalanan mereka menuju kediamanan.
Zhang Han menghela nafas." Anda tau ia tidak akan mungkin menyakiti selir Ming Hui tiba-tiba seperti itu." lanjut Wei Chan.
__ADS_1
" Aku tau, tapi semua orang melihatnya ia telah mendorong selir Ming Hui kedanau, aku menyuruhnya meminta maaf untuk menutup mulut banyak orang agar tidak ada yang membicarakannya dibelakang, kau tau mereka berdua sedang bersaing dalam posisi permaisuri, Jika ia tidak meminta maaf, maka Jiang akan dikritik dalam pengadilan nantinya." jawab Zhang Han.
Zhang Han menyuruh Jiang meminta maaf karena ada alasan, sekalipun ia tau Jiang tidak mungkin melakukanya, Zhang Han ingin menutup mulut orang-orang yang akan mengkritik Jiang nantinya saat pemilihan Permaisuri.
" Yang mulia memang berfikir kedepan, tidak seperti hamba yang tidak mengerti apapun." jawab Wei Chan.
" Karena keras kepala Jiang, aku jadi khawatir." Zhang Han menghela nafas berat. begitu sampai dikediaman, Zhang Han hanya termenung melihat laporan didepan meja kerjanya, Ia terus memikirkan Jiang. Wei Chan dan Lan Huan berjaga didepan pintu ruangan Zhang Han. Zhang Han keluar dari ruang kerjanya membuat kedua pengawal setianya itu terkejut.
" Yang mulia, ada perintah apa tiba-tiba keluar." tanya Lan Huan begitu melihat Zhang Han keluar.
" Yang mulia, anda harus segera menyelesaikan laporan itu, kerajaan sedang terancam, jika anda mengabaikan tugas penting ini akan terjadi kekacauan hanya karena kegelisahan anda yang tidak berdasar, mohon fikirkan kembali."
" Tapi aku sangat khawatir padanya, aku melihat pandangan matanya penuh dengan kekecewaan padaku membuatku sangat gelisah, aku tidak mau ia salah paham padaku dan berfikir yang tidak-tidak tentangku, aku harus melihatnya sebentar lalu aku akan menyelesaikan laporan." Zhang Han mencoba melangkah, tapi segera Wei Chan segera berlutut didepan Zhang Han.
" Mohon pertimbangkan kembali yang mulia." Zhang Han yang melihat Wei Chan berlutut menghela nafas berat, memang benar apa yang dikatakan Wei Chan tapi hati Zhang juga tidak tenang, mau tak mau Zhang Han kembali keruang kerjanya untuk menyelesaikan laporannya yang menumpuk.
__ADS_1
Jiang yang berada dalam kamar sangat kesal." Ada apa dengannya? sebentar ia bersikap manis padaku, sebentar ia bersikap kejam, apa ada masalah dengan otak raja kerajaan ini." Jiang berbicara sendiri didalam kamar, ia mengomel dan marah-marah tak jelas. Lian dan Yuan berjaga diluar pintu kamarnya setelah mengobati luka yang dipukul, Jiang sudah menyuruh mereka beristirahat, tetapi mereka menolak jadi Jiang hanya membiarkan apa yang ingin mereka lakukan.
Terbesit di fikiran Jiang berharap bahwa Zhang Han akan menemuinya dan menjelaskan bahwa sebenarnya ia tidak bersalah dan ia menyuruh Jiang meminta maaf agar semua orang tidak memilki pemikiran buruk tentang dirinya. andaikan, tapi semua hanya harapan Jiang yang tidak kesampaian, sampai malam hari Jiang termenung dalam lamunannya.
" Mengapa aku sangat mengharapkan Zhang Han datang meminta maaf padaku? mengapa juga aku berharap dia datang. ahhhhh menyebalkan, mengapa juga aku memikirkan ia merasa bersalah padaku atau tidak, kalau dia benar merasa bersalah ia pasti langsung menemuiku, tapi sampai sekarang bahkan dia tidak datang." Gumam Jiang sendiri, ia sangat kesal pada Zhang Han sekarang.
Andaikan Zhang Han datang meminta maaf padanya hari ini, Jiang akan memaafkannya tapi ia bahkan tidak menampakkan batang hidungnya membuat Jiang sangat kesal." Aku tidak akan memaafkannya." Jiang langsung melempar tubuhnya ke kasur." Hanya kasur ini yang membuatku nyaman." Jiang langsung terlelap.
Sebelum Jiang terlelap, ia menyuruh Lian dan Yuan pergi karena ia akan tidur, tapi begitu tengah malam, Jiang terbangun karena merasa deru angin masuk kedalam kamarnya begitu ia membuka mata, ia terkejut melihat seseorang bertengger dipintu jendela kamarnya.
" Lama tidak bertemu Jiang?" sapa orang itu, yang tak lain adalah gadis berbaju hitam yang selalu datang memakai penutup wajah.
" oh kau ternyata, aku hampir berlumut menunggumu datang." Jiang langsung mengambil posisi duduk. Gadis itu tertawa sinis mendengar ucapan Jiang.
" Pastilah kemampuanmu meningkat hingga kau berani bersikap sombong didepanku, tapi hari ini aku tidak berniat bertarung denganmu, aku ingin memberitahumu sesuatu, berhati-hatilah karena jika kau mati pertarungan tidak akan seru lagi." ucapnya lalu pergi begitu cepat dari jendela, ia menghilang dikegelapan malam.
__ADS_1
" Apa maksud dari perkataannya? dia mencoba ingin menolongku atau ingin membodohiku." Jiang tidak mengerti dan tidak ingin memikirkan perkataan orang itu, ia lalu menutup jendela dan melanjutkan tidurnya.