
Jiang, Xuan dan Yuan bersiap berangkat, mereka menatap Hua Rong yang berdiri dihadapan mereka, Yuan sudah menceritakan pada ibu dan kakaknya yang Hua Rong katakan padanya.
" Jadi kau akan kemana?" tanya Jiang, Hua Rong diam tertunduk.
" Bisakah aku ikut kalian?" cicitnya memohon, Mereka Sudah mengatakan akan bahayanya dan tidak akan menanggung keselamatan Hua Rong.
" Kau tidak bertanggung jawab untuk menyelamatkan kota ini, kau bisa pergi kemanapun kau mau, untuk apa membahayakan nyawamu mengikuti kami." ucap Yuan, Wajahnya memelas memohon pada Yuan, melihat itu Yuan menjadi tidak tega untuk meninggalkannya. ia lalu menoleh pada Ibu dan kakaknya, saat ditoleh kedua orang itu sudah lebih dulu menoleh Yuan, ia bahkan belum mengatakan apapun.
" Sejak kapan hati Yuan menjadi lunak seperti ini?" kata Xuan dan Jiang serempak tersenyum menggoda, Yuan hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, Jiang menghela nafas.
" Baiklah kau boleh ikut, lagipula kau yang memaksa ikut." kata Jiang, Hua Rong tersenyum sumringah ia langsung merasa senang.
" Terima kasih bibi, aku akan membantu disana juga." jawabnya senang, ia lalu mengikuti mereka menuju kediaman Gubernur Gu.
Sambil berjalan Jiang menceritakan bahwa perang pecah sudah pecah kemarin dan Jiang hanya memberi sedikit saran tentang strategi perang dan itu berhasil, jadi gubernur Gu meminta Jiang menjadi ahli strategi, awalnya Jiang menolak dan memikirkan nanti jadi sudah ia putuskan karena putranya mendukung tidak ada alasan Jiang untuk menghindarinya.
Saat sampai dikediaman Gubernur Gu, Gubernur Gu sudah menunggu lama, saat melihat Jiang ia bergegas menghampiri Jiang.
" Tabib Shi, kenapa lama sekali datang, aku kira kau akan meninggalkan kami? aku tidak tau, sekarang pasukan musuh sudah bergerak, ayo..." Ia lalu bergegas ke benteng diikuti Jiang, Xuan, Yuan dan Hua Rong.
Jiang melihat pasukan besar menuju kebenteng dari jauh, siapapun akan menggigil melihat pasukan besar itu, mereka tidak main-main dalam mengarahkan pasukan, dakam sekejap 3 wilayah sudah dikuasai, sekarang hanya kota Nanzhao yang masih bertahan, jika wilayah ini juga direbut maka pasukan musuh akan memasuki wilayah kerajaan Qing, karena hanya jalur Nanzhao mereka bisa memasuki kerajaan Qing.
" Berapa pasukan yang kita miliki?" tanya Xuan.
" Hanya 5000 pasukan, karena pasukan yang lain menjaga jalur berbeda, diselatan terdapat jalur yang bisa dilewati tetapi terdapat sungai besar disana sebagai pembatas, jika musim kemarau maka sungai itu kering dan itu yang paling mengkhawatirkan, mereka bisa menerobos lewat jalur itu, tetapi Sekarang sudah memasuki musim panas dan sungai sebentar lagi kering."jelasnya. Xuan mengangguk saat Jiang menoleh padanya.
" Apa kau percaya padaku?" tanya Jiang.
" Tentu saja, karena aku sudah pernah melihat keberhasilanmu." jawabnya tegas.
" Maka percaya pada putraku." kata Jiang, Gubernur Gu ragu saat mendengarnya tetapi saat ini ia juga tidak memiliki pilihan lain.
" Baiklah." jawabnya akhirnya.
__ADS_1
" Aku akan membantu para prajurit yang terluka." Gubernur Gu mengangguk, Jiang lalu pergi diikuti Hua Rong, Xuan dan Yuan memandang pasukan yang besar itu.
" Gubernur Gu, berapa jenderal yang anda miliki?"
" 3 jenderal terlatih."
" Itu sudah cukup ditambah Yuan." jawabnya.
dua prajurit membawa baju Zirah perang untuk Xuan dan Yuan.
" Kita sambut mereka." Kata Xuan, ia memimpin pasukan, ia memang pasukan menjadi 4 kelompok, Yuan memimpin pasukan diluar benteng, satu pasukan dikiri dan kanan benteng, yaitu wilayah barat laut dan timur laut, sisanya diatas benteng mempertahankan benteng. Xuan sudah menjabarkan Strategi apa yang ia gunakan.
Musuh sudah dekat, Xuan yang memimpin Yuan menunggu perintah, karena merasa menang jumlah musuh tidak memprediksi dan menyerang membabi buta saat mereka dalam jarak tembak mereka dihujani anak panah, setelah berhenti hujan anak panah, Yuan menyerbu, perang pecah, dan saling menyerang, dentingan pedang yang beradu memekikan telinga yang mendengarnya, lautan manusia bertempur, pasukan musuh menang jumlah membuat pasukan Yuan terdesak.
Melihat itu Xuan memerintahkan untuk mengirimkan sinyal asap dan genderang ditabuh yang artinya meminta pasukan bantuan, mendengar itu pasukan musuh panik karena sinyal asap timur laut dan barat laut melakukan hal sama dan bendera berkibar, saat melihat itu pasukan musuh mundur karena mereka mengira bahwa mereka akan terkepung karena pasukan bantuan darang. Xuan memandang pasukan musuh yang lari tunggang langgang, para prajurit bersorak gembira karena memenangkan perang.
Semua orang mengira bahwa mereka tidak akan bertahan sampai sekarang tetapi setelah apa yang terjadi hari ini membangkitkan semangat pasukan, Xuan menghela nafas, Yuan berdiri disampingnya.
" Saat ini sungai penuh, maka air sungai itu dibendung, saat musim kemarau mereka akan mengira bahwa air kering, saat mereka lewat maka lepaskanlah bendungan..."
" Aku mengerti." jawab Yuan.
Xuan kembali diikuti Yuan dibelakangnya, mereka menemui gubernur Gu yang menunggu mereka dan menyambut mereka, gubernur begitu senang bahwa mereka memenangkan perang, tak lama Jiang datang bersama Hua Rong.
" Jadi kapan pasukan bantuan datang?" tanya Jiang, mereka semua duduk melingkar dimeja panjang.
" Aku mendapat kabar bahwa pasukan bantuan dalam perjalanan kemari, kalau tidak salah perhitungan maka sekitar satu bulan kita harus bertahan." Xuan terdiam, Gubernur Gu menegur.
" Ada apa? apa terjadi sesuatu?" tanya gubernur Gu.
" Mereka tidak bodoh, tidak mungkin untuk kedua kalinya mereka bisa ditipu." jawab Xuan.
" Maksudmu?" tanya Gubernur Gu.
__ADS_1
" Bagaimana dengan persediaan makanan?"
" Bisa bertahan selama itu." jawab gubernur Gu.
" Kita terbatas sedangkan musuh terus menyerang, aku khawatir kita tidak akan bisa bertahan lama." kata Yuan.
" Apa kau tidak memiliki kepercayaan pada kakakmu, Yuan?" tanya Jiang.
" Aku percaya makanya aku masih duduk di sini, ibu..."
" Jangan khawatir, sampai titik penghabisan kita tidak akan mundur, kita sudah memilih jalan kita, tidak akan menyesal." kata Xuan.
Perang terus berlanjut, sampai kabar tentang pertahanan kota Nanzhao yang hampir tidak mungkin selamat itu sampai pada telinga Zhang Han. Wei Chan menerima laporan setelah pengirim pengantar pesan, ia banyak mendapat kabar buruk, tetapi ia tidak menyangka bahwa kota Nanzhao masih bisa bertahan membuatnya penasaran siapa orang kuat yang mampu menahan tentara yang menyerang mereka, padahal ia menerima kabar bahwa tentang yang menyerang hampir berjumlah 30.000 prajurit sedangkan prajurit yang menjaga perbatasan hanya berkisar 10.000-15000 saja.
Sesuai perintah Zhang Han, Wei Chan menjadikan Zhang Han sebagai wakil jenderal didepan prajurit bantuan agar ia bisa leluasa memberi kabar tentang perang itu. Tidak banyak orang bisa mengenali Zhang Han sebagai Kaisar mereka.
" Yang mulia." Wei Chan menegur Zhang Han yang melamun memandang kertas yang berserakan dan peta kerajaan diatasnya. ia menoleh saat Wei Chan memanggilnya.mereka beristirahat dan berkemah, perlu 1 pekan lagi mereka akan sampai pada perbatasan Nanzhao dan mereka selalu mendapat kabar tentang kemenangan kota Nanzhao.
" Kota Nanzhao? siapa gubernurnya?" tanya Zhang Han.
" Kudengar bernama Gu Linjiang, tapi reputasi yang ia miliki sekarang aku tidak pernah mendengar bahwa ia sangat ahli strategi perang, apa mungkin ada orang lain yang berkerja dibawah perintahnya?"
" Jika memang ada, maka orang itu pantas untuk diberi penghargaan dan jika memang kemampuan mereka luar biasa, aku akan mengangkatnya menjadi pejabat kerajaan." jawab Zhang Han.
" Benar, kecerdasan seperti itu tidak bisa disia-siakan."
Tiba-tiba seperti prajurit berlari memasuki tenda sambil berteriak ' lapor', Wei Chan segera keluar menemuinya karena dia adalah pembawa pesan.
setelah itu ia menyerahkan pesan itu pada Zhang Han, Zhang Han menaikan sebelah alisnya memandang surat itu setelah membacanya.
" Kemenangan itu terjadi karena dua pemuda kembar yang cerdas, Xi Xuan sebagai pemimpin jenderal dan ahli strategi mereka sedangkan Xi Yuan sebagai jenderal kuat yang memimpin pasukan penyerang, ini merupakan keberuntungan yang dimiliki Nanzhao." ia lalu menyerahkan surat itu untuk dibaca sendiri oleh Wei Chan.
" Aku menjadi penasaran seperti apa pemuda kembar yang baru berusia 17 tahun tetapi memiliki pengetahuan yang hanya dipelajari oleh bangsawan?" guman Zhang Han memandang kembali peta kerajaan.
__ADS_1