Berinkarnasi

Berinkarnasi
Berita


__ADS_3

Jiang sedang duduk sendiri ditaman, Bai Yunfei sudah kembali kekerajaannya karena diperintah oleh Zhang Han, ia sudah pergi bersamaan dengan pengantaran para tamu kerajaan kemarin. sudah lebih dari sepekan Dao-Dao tidak ada kabar setelah Jiang memintanya mencari kebenaran tentang perkaataan Bai Qian karena ia tidak mau terjadi kesalahpahaman terlalu lama.


Jiang meneguk tehnya sendiri, sampai ia terlihat girang saat melihat Dao-Dao datang tetapi, terlihat cemas diwajah Dao-Dao.


" Bagaimana?" tanya Jiang penasaran. Dao-Dao melihat kiri kanan.


" Ayo bicara didalam, banyak yang ingin aku beritahu." jawab Dao-Dao. Jiang mengangguk, ia lalu pergi keruang tamu karena tidak boleh bagi mereka berduaan dalam ruang tertutup jadi mereka hanya bisa sampai diruang tamu, Jiang menutup pintu lalu ia melihat kiri kanan takut ada yang ingin menguping pembicaraan mereka


" Jiang, yang dikatakan selir Bai Qian adalah setengah kebenaran, juga tentang kakekmu, semuanya setengah kebenaran, sebenarnya yang terjadi adalah kakekmu mengorbankan diri untuk menolong raja terdahulu, tapi memang sempat terjadi salah paham tetapi tidak sampai melukai persahabatan mereka, jadi kau tidak perlu merasa bersalah karena kau murni diangkat menjadi permaisuri karena rasa sayang raja terdahulu untuk kakekmu dan untuk mengenang persahabatan mereka, jadi jangan termakan omongan dari selir Bai Qian." jelas Dao-Dao panjang lebar. Jiang senang mendengarnya.


" Lalu kakakku? apakah ia benar berkhianat?" tanya Jiang penasaran.


" Kakakmu memang tidak mengatakan pengkhianat Bai Qian pada yang mulia, tetapi ia membantu yang mulia dengan menghancurkan setengah pasukan yang sudah mereka bangun, mungkin karena rasa cinta jenderal pada Bai Qian membuatnya merasa tidak tega jika harus melihat selir Bai Qian dihukum karenanya, jadi ia hanya bisa membantu yang mulia diam-diam." jawabnya, Jiang menghela nafas, ia merasa bersyukur karena semua yang dikatakan Bai Qian adalah hal yang tidak sepenuhnya benar.


" Tapi bagaimana kakekku mengorbankan diri?" tanyanya karena Dao-Dao hanya menceritakan intinya bukan keseluruhan.


" Kurasa ayahmu dan Yang mulia yang mengetahui kejadian yang sebenarnya, aku hanya mengetahui hal itu saja, tetapi Jiang ada yang lebih penting.", kata Dao-Dao , wajahnya tampak khawatir.


" Dao-Dao apa kau tau gerakan tangan ini?" tanya Jiang, menghentikan Dao-Dao karena ia terus merasa bahwa gerakan tangan itu menganggunya karena terus terfikir olehnya. Jiang lalu memperagakan tangan seperti seorang tuna runggu tetapi yang berbeda adalah hanya kedua tangan tanpa menggerakkan tubuh lainnya dan akan sulit jika diperagakan oleh orang yang baru belajar. Dao-Dao terkejut melihat gerakan tangan Jiang


" Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Dao-Dao terkejut.


" Apa?" tanya Jiang penasaran.


" Itu adalah gerakan tangan pasukan yang sedang dibangun selir Bai Qian, kudengar gerakan itu adalah kode antara mereka untuk saling mengenal, karena mereka berbaur dengan rakyat jadi mereka berkomunikasi dengan itu, mereka tidak berbicara tetapi apa kau mengerti arti dari gerakan tadi?"

__ADS_1


" Tentu saja, gerakan tadi yang kuperlihatkan artinya apa kau baik-baik saja?" jawab Jiang. Dao-Dao mengangguk mengerti.


" Jiang, aku rasa mereka sudah mengetahui kalau aku mencari informasi tentang mereka, tetapi permasalahan yang lebih penting adalah sebenarnya Yang mulia sudah...." Dao-Dao menghentikan kata-katanya karena mendengar seseorang mengetuk pintu.


" Selir Jiang, selir Lu Xiang ingin bertemu anda." teriak prajurit itu dari balik pintu.


" untuk apa dia datang kemari?" tanya Jiang heran.


" Lebih baik kau menemuinya dahulu, karena jika kau menolak bertemu dengannya, maka ia akan curiga, pembicaraan kita akan kita lanjutkan setelah kau bertemu dengannya." jawab Dao-Dao. Jiang mengangguk.


" Katakan untuk menungguku ditaman." balas Jiang, prajurit itu lalu pergi menyampaikan pesan Jiang. Dao-Dao lalu pergi dari sana, ia ingin menyampaikan informasi yang penting pada Jiang tetapi waktu mereka tidak tepat jadi ia akan menunggu Lu Xiang pergi tetapi sekarang ia harus pergi ke kamarnya lalu melapor kepos penjagaan untuk melaporkan alasan tentang cutinya.


Selama ini Dao-Dao tidak memberitahukan Zhao An kemana ia pergi jadi ia ingin menceritakan semua hal itu pada Zhao An, saat ia berjalan tergesa-gesa, ia melihat selir Bai Qian yang tersenyum padanya, Dao-Dao berdegup kencang saat melihat selir Bai Qian berjalan kearahnya.


" Hei." teriak Bai Qian, Dao-Dao berniat mengambil jalan lain saat akan berhadapan pada selir Bai Qian,ia terhenti saat mendengar Bai Qian memanggil. Bagaimanapun Dao-Dao tidak boleh mengabaikan panggilan Bai Qian.


" Aku ingin meminta bantuanmu?" kata Bai Qian.Dao-Dao menaikan alisnya, hal langkah jika Bai Qian meminta bantuan pada orang lain kecuali mengantar hadiah dari ayahnya untuk Zhang Han, karena ia terkenal tidak suka berinteraksi pada orang lain, dan ia selalu pergi kemanapun tanpa pelayan tidak seperti selir lainnya yang membawa banyak pelayan.


" Kiriman hadiah ini pada yang mulia, ini adalah hadiah dari ayahku yang selalu dikirim setiap satu tahun sekali." kata Bai Qian, Dao-Dao memang pernah mendengar kepala keluarga Bai suka mengirim Hadiah pada Zhang Han setahun sekali, Dao-Dao menerima kotak kayu berwarna hitam itu yang diukir indah pada kotaknya. memang Bai Qian sering menyuruh pelayan untuk mengirim hadiah itu pada Zhang Han jadi Dao-Dao tidak merasa curiga.


" Baik." jawab Dao-Dao setelah menerima kotak itu, Dao-Dao lalu memberi hormat untuk pamit, Bai Qian tersenyum setelah melihat kepergian Dao-Dao. Bai Qian yang sudah sampai dikediamannya membuka sarung tangan kulit yang selaras dengan kulitnya sehingga tidak akan nampak ia memakai sarung tangan. ia lalu membakar sarung tangan itu.


" Tergantung padamu lagi Lu Xiang." ucapnya tersenyum licik.


Jiang Menemui Lu Xiang lalu menyuguhkan teh padanya, mereka berdua duduk berhadapan.

__ADS_1


" Kurasa kau tau bahwa aku bukan orang yang ramah, jadi jika kau ingin minum kau bisa menuangkannya sendiri."kata Jiang, ia tau Lu Xiang datang pasti ingin cari gara-gara lagi padanya.


Lu Xiang lalu menuangkan teh itu membuat Jiang kesal, sebenarnya ia mengatakan itu untuk menyindir Lu Xiang agar cepat pergi.


" Apa yang sebenarnya kau inginkan, kenapa kau datang kemari?" tanya Jiang kesal.


" Menunggu waktu yang tepat." jawabnya, Jiang menaikan alisnya tanda tidak mengerti perkataan Lu Xiang


" Jika kau ingin bertengkar denganku, maaf aku tidak ada waktu untuk itu."


" Bertengkar? apakah kau lihat aku memiliki waktu untuk bertengkar denganmu."


" Lalu untuk apa kau datang? " teriak Jiang marah, Wei Chan dan Lan Huan memperhatikan mereka dari Jauh, mereka berdua diperintah Zhang Han untuk menjaga Jiang sekaligus untuk mencari tau apa yang dilakukan Lu Xiang.


Mereka berdua tidak mendengar percakapan Jiang dan Lu Xiang karena jarak yang jauh, tetapi mereka masih bisa melihat apa yang dilakukan dua orang itu.


" Kenapa kau harus semarah itu selir Jiang? harusnya kau khawatir karena kau akan diberi pilihan." jawab Lu Xiang, ia tersenyum penuh makna pada Jiang.


" Apa maksudmu?" kata Jiang, ia khawatir dengan perkaataan Lu Xiang, pasti ada maksud dari perkataan Lu Xiang.


" Katakan." teriak Jiang marah, ia lalu memikul meja kayu itu hingga hancur, lalu mencengkeram kerah baju Lu Xiang.


" Apa yang terjadi? apa yang mereka bicarakan?" tanya Wei Chan pada Lan Huan, mereka melihat Jiang sedang marah pada Lu Xiang, Lan Huan menggelengkan kepala.


" Sabar, belum saatnya." jawab Lu Xiang, lalu dengan paksa melepaskan cengkraman Jiang dari kerah bajunya, Lu Xiang lalu membenarkan pakaiannya setelah cengkraman Jiang terlepas.

__ADS_1


" Apa yang sedang kau rencanakan?"Jiang mengepalkan tangan. ia lalu menoleh matahari, kemudian tersenyum.


" Sudah waktunya." jawab Lu Xiang tersenyum licik.


__ADS_2