
Xiao Na mencari Yi Han tetapi tidak ketemu, Yi Huang yang sedang menyiram bunga melihat Xiao Na berkeliling rumah mencari kakaknya.
Xiao Na lalu menghampiri Yi Huang.
" Dimana Yi Han?" Yi Huang menoleh.
" Apa tidak ada di kamarnya!"
" Tidak ada."
" Mungkin dia sedang disungai."
" Sungai? apakah ada sungai disini?"
" Tentu saja."
" Dimana?" Xiao Na memandang kesegala arah, tetapi ia tidak melihat sungai selain laut, sebab rumah mereka berada ditebing laut.
" Dibalik dinding bunga disana." Yi Huang menunjukkan kesebuah dinding bunga karena tanaman bunga disana bergantungan yang membentuk tirai tak jauh dari rumah, Xiao Na tidak pernah benar-benar memeriksa lingkungan jadi ia tidak tau lagipula ia bukan pecinta bunga.
Xiao Na menuju tempat yang diberitahukan Yi Huang begitu ia membuka bunga bergantungan yang membentuk tirai itu, ia melihat sebuah aliran sungai kecil yang dangkal airnya, terdapat banyak bebatuan dialiran sungai itu.
Alam yang sejuk, damai dan indah membuat Xiao Na terpana, udara terasa bersih ia baru mendengar air mengalir sangat tenang hingga tidak menyebabkan kebisingan, tidak heran jika Yi Han berada disini karena ia menyukai ketenangan.
Yi Han menoleh saat Xiao Na datang, melihat wanita itu memejamkan matanya menikmati udara sejuk ditambah wajahnya yang disinari mentari pagi membuat jantung berdebar, wajahnya memerah saat Xiao Na membuka mata menoleh padanya ia dengan cepat mengalihkan pandangannya lagi pada buku tebal yang ia baca.
Yi Han tidak dapat memungkiri bahwa ia perlahan jatuh cinta pada wanita itu, tetapi ia juga memiliki tujuan yang ada pada wanita itu juga, entah apa yang akan terjadi dimasa depan, ia harus memilih antara cinta dan dendam walaupun itu tidak berhubungan dengan Xiao Na tetapi Xiao Na adalah untuk membuka jalan.
Yi Han menggenggam erat buku itu, setiap melihat Xiao Na jantungnya berdebar tetapi ketika ia teringat hal yang menjadi tujuannya, untuk pertama kalinya rasa takut kehilangan menghantuinya lagi setelah belasan tahun berlalu.
Xiao Na tersenyum, ia langsung turun ke sungai untuk merasakan sejuk airnya, Yi Han duduk dibatu membaca buku sambil merendam kakinya, Xiao Na lalu duduk sekitar 3 meter dihadapan Yi Han.
Xiao Na terus memandang wajah Yi Han yang tampan.
" Kemarin aku bertemu Ying Zheng." Oceh Xiao Na.
" aku tidak mengenal orang yang kau katakan." Jawab Yi Han tanpa menoleh.
" Tentu saja kau tidak kenal, kalian memiliki hubungan sahabat dikehidupan lalu, kau tau aku adalah istrimu dikehidupan sebelumnya, hanya saja kita hidup berpisah demi masa depan anak-anak kita." Xiao Na tersenyum.
Yi Han melongo melihat Xiao Na.
" Kuharap kau belum gila." Ia kembali fokus pada bukunya.
Xiao Na tidak ingin mengatakan lebih jauh, bukankah kata-katanya memang tidak masuk akal dan siapa yang akan percaya, ia juga tidak memiliki bukti.
Meliha Yi Han yang fokus, timbul kejahilannya, Xiao Na bermain air dengan memercikkannya pada Yi Han beberapa kali hingga pria itu menoleh padanya dengan kesal.
__ADS_1
" Jangan lakukan itu." ia kembali fokus, lagi-lagi ia memercikkan air, ia berharap Yi Han membalas memercikkan air juga padanya agar mereka berdua bisa bermain air bersama.
Tapi naas harapan memang tak selalu menjadi kenyataan, Yi Han malah melemparkan batu berukuran sedang didekatnya sehingga membuatnya basah, Xiao Na menjadi kesal, dan Yi Han menyadari hal itu.
" Aku sudah melarangnya kan!" Xiao Na berdiri tak tanggung ia mengangkat batu cukup besar lalu melemparnya dekat Yi Han sehingga Yi Han basah, Xiao Na pergi dengan kesal.
" Tidak peka." ketus Xiao Na, Yi Han hanya terbengong melihatnya pergi.
Xiao Na bersiap akan pergi ketempat hiburan hari ini, ia menunggu Yi Han yang belum keluar kamar, Saat ingin keluar ponselnya berdering.
" Halo." kata Yi Han.
" Hari ini kau harus menghabisi Xiao Na, jika ia mati maka Xiao Hongli tidak memiliki orang kuat disisinya." kata seseorang diseberang telepon.
" Aku memiliki caraku sendiri untuk membunuh Xiao Hongli, tidak perlu untuk mengorbankan Xiao Na."
" Jangan lupa Xiao Hongli adalah orang yang membunuh orang tuamu."
" Aku tidak akan melupakan itu, dendam ini tidak akan pernah padam."
Yi Han memutuskan telepon, ia lalu keluar kamar.
Mereka menuju tempat hiburan terdapat banyak permainan dan hiburan, Xiao Na menarik tangan Yi Han untuk membeli es krim terlebih dahulu.
Mereka memainkan berbagai permainan sampai Xiao Na puas, sudah banyak hadiah yang mereka dapat, Xiao Na melihat kerumunan orang iya menarik tangan Yi Han kearah kerumunan.
Xiao Na terlihat antusias mendengar peraturan permainan.
" Permainan ini hanya boleh dimainkan oleh mereka yang memiliki pasangan, jika ingin mencoba silahkan masuk kearena." Beberapa pasangan sudah masuk arena lapangan, Xiao Na langsung menarik Yi Han masuk.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Yi Han.
" Mengikuti permainan ini."
" Kau tidak dengar, hanya sepasang kekasih saja yang boleh mengikuti permainan ini."
Mc itu melihat Xiao Na dan Yi Han bertengkar jadi ia mendekati mereka.
" Kalian berdua apakah sepasang kekasih?" tanya mc itu.
" Iya." jawab Xiao Na " Tidak." jawab Yi Han, mereka berdua serempak menjawab.
" Hah?" Mc itu menjadi bingung.
" Ayo pergi " Yi Han langsung menarik tangan Xiao Na keluar arena, tetapi Xiao Na tetapi bersikukuh ingin ikut permainan itu, Yi Han menarik Xiao Na jauh dari keramaian, Xiao Na menepis tangan Yi Han saat menjauh dari kerumunan.
" Ada apa denganmu?" bentak Xiao Na marah.
__ADS_1
" Jangan kekanak-kanakan."
" Kekanak-kanakan katamu? itu hanya permainan, apa sulitnya berpura-pura untuk menjadi sepasang kekasih..." Xiao Na marah besar, ia lalu pergi meninggalkan Yi Han.
" Xiao Na... Xiao Na... Xiao Na...." Panggil Yi Han mengejarnya.
Yi Han berhasil mengejar Xiao Na ia menarik tangan Xiao Na agar berhenti, mereka berdiri berhadapan, Yi Han merasa bersalah melihat Xiao Na, ia tidak ingin ikut dalam permainan karena ia tidak bisa mengatakan sebenarnya dan pada akhirnya akan banyak kebohongan yang ia katakan pada Xiao Na nanti sehingga jika semua terbongkar kekecewaan yang Xiao Na rasakan tidak dapat dia tanggung.
" Maaf..."
" Kau benar-benar membuatku marah, kebenaran dan kebohongan apa yang tidak bisa kau katakan...aku sangat kesal."
Yi Han menundukkan kepala, saat ia mengangkat kepala melihat Xiao Na, ia melihat sebuah mobil hitam tak jauh dari mereka, dari celah kaca terdapat moncong pistol yang mengarah pada Xiao Na, Yi Han melotot dengan cepat ia menarik Xiao Na kedalam pelukannya dan mereka bertukar posisi.
Saat suara pistol ditembakkan, Xiao Na terkejut mendengarnya saat berada dalam pelukan Yi Han, Jantung Xiao Na berdebar, ia perlahan menyentuh punggung Yi Han, dan terasa basah.
Ia lalu melihat tangannya setelah menyetuh punggung Yi Han, tangannya berlumur darah, Xiao Na terkejut, dadanya terasa sesak, rasa takut dipikirannya membuatnya serasa sulit bernafas.
" Yi.... Han..." Ucapnya terbata-bata, Yi Han langsung ambruk dipelukannya.
Xiao Na langsung menyambut Tubuh Yi Han yang hampir jatuh, ia melihat mobil itu pergi, Xiao Na melihat plat mobil itu.
" Yi Han... Yi Han..." tangannya gemetar melihat kondisi Yi Han, air matanya jatuh tanpa ia sadari.
" Siapapun, tolong panggil ambulans." teriak Xiao Na karena orang-orang hanya menonton mereka, Seseorang lalu berinisiatif menelpon ambulans karena melihat kondisi Yi Han.
Tak lama ambulans datang, mereka segera dibawa kerumah sakit, Xiao Na ikut kedalam ambulans itu.
Yi Han segera masuk ruang operasi, Xiao Na menunggu ruang tunggu operasi dengan cemas, Xiao Na lalu merogoh koceknya dan menekan nomor.
" Song Lan, cepat kemari, bawa Chen Feiyu bersamamu, aku akan mengirim alamatnya pada kalian, lacak sebuah plat mobil yang aku kirim." suara Xiao Na penuh dengan kemarahan membuat Song Lan merinding mendengarnya.
" Aku mengerti." Xiao Na memutuskan telepon, ia mengetik mengirim alamat pada Song Lan, Tak lama SongLan membalas pesan dan memberikan alamat plat mobil milik siapa.
Tak lama Song Lan dan Chen Feiyu datang, mereka terkejut melihat Xiao Na berada di rumah sakit.
" Apa yang terjadi?" tanya Feiyu saat mereka melihat Xiao Na diruang tunggu operasi.
Xiao Na tidak menjawab, ia melewati mereka berdua.
" Kalian sudah membawa senjata yang aku minta?"
" Sudah." jawab Song Lan.
" Kau ingin menyerang siapa?" tanya Feiyu.
" Mafia Yuo Feng, beraninya mereka menyentuh orang yang seharusnya tidak boleh mereka sentuh... Feiyu sebelum kau menyusul kami perintahkan beberapa orang untuk menjaga dia yang berada diruang operasi." Perintah Xiao Na.
__ADS_1
" Hah? Ah baik aku mengerti." Feiyu tidak ingin banyak bertanya walaupun ia sangat penasaran, karena ia merasa takut melihat keadaan Xiao Na yang tampak menyeramkan sekarang.