
Xiao Na mengendarai mobil sport miliknya dengan kencang, sebelum itu ia sudah memberitahu Song Lan dan Feiyu ini bersiap segala kemungkinan karena dia akan pergi ke markas besar He Mingjue.
melihat rumah mewah berpagar besi, penjaga melirik Xiao Ya yang berada dalam mobil karena yang datang orang asing.
" Katakan, Xiao Na ingin bertemu." penjaga itu lalu menelpon seseorang, segera pintu pagar terbuka, kalaupun dilarang ia akan menabrak pagar itu, tapi etika tetap utama.
Xiao Na datang sendiri tanpa senjata ataupun perlindungan, saat ia datang, para penjaga sudah bersusun bersiaga, pemimpin penjaga itu menatap tajam Xiao Na, tentu saja kabar penyerangan sudah tersebar dan markas mereka sudah rata bahkan orang yang berkerja untuk mereka kebanyakan kabur dan terbunuh.
" Aku harus memeriksa apakah kau membawa senjata." katanya, Xiao Na merentangkan tangan dan pria itu memeriksa dengan alat pendeteksi logam.
setelah merasa aman, ia mengernyitkan kening, datang dengan tangan kosong? tanpa penjagaan? masuk ke kandang musuh? bukankah sama saja mengantarkan nyawa?
Pintu besar itu terbuka, seseorang duduk di sofa dengan beberapa penjaga didekatnya, Bahkan Yuan juga ada disana, pria itu menatap Xiao Na dengan memendam kemarahan, Xiao Na hanya tersenyum lalu duduk dengan angkuh tanpa dipersilahkan He Mingjue.
" Kau benar-benar berani datang setelah menghancurkan tempatku?" He Mingjue mengetuk-ngetuk pelan sisi sofa.
" Rumah ini sangat mewah? ah butuh beberapa hari mencari lokasi ini." matanya mengitari seisi ruangan, seolah kagum dengan interior rumah.
Tiba-tiba seorang anak kecil laki-laki berumur 5 tahun keluar dari ruangan dengan senjata air ditangannya, ia sedang bermain dengan pengasuhnya, mata He Mingjue melebar menahan marah karena keteledoran, ia tidak ingin wajah putranya dilihat Xiao Na jadi ia langsung berteriak pada pengasuh itu sehingga anak kecil itu terkejut.
" A MEI..." pengasuh itu segera menangkap tuan mudanya, tetapi karena lincah ia berlari mendekati Xiao Na lalu bersembunyi dibelakang sofa tempat Xiao Na duduk, Xiao Na hanya melihat perilaku anak itu.
" Jianjian... bermain didalam kamar." perintah He Mingjue, matanya melebar melihat Xiao Na yang sudah berdiri lalu menghampiri anak kecil itu, anak kecil itu bingung saat didekati apalagi mendengar perintah ayahnya yang tegas, ia mundur dua langkah saat dihampiri Xiao Na.
" Siapa namamu?" tanya Xiao Na, He Mingjue sudah mengecilkan pupil matanya menahan emosi ketakutan dalam dirinya, ia khawatir karena mereka memiliki permusuhan anaknya akan dalam bahaya. Anak kecil itu tidak menjawab.
" Siapa nama ayahmu?" ia tetap bungkam.
" Ibumu?" tidak ada jawaban, Xiao Na tersenyum.
" Menarik, anak yang cerdas." ucap Xiao Na.
" Kau suka bermain senjata?" ia mengangguk, anak kecil memang harus dipancing berbicara dengan benda kegemarannya, Xiao Na tersenyum lalu mengelus kepalanya, anak itu mundur saat disentuh Xiao Na.
__ADS_1
" Kenapa tidak ingin berbicara denganku? kau takut padaku?" He Mingjue tidak menghentikan Xiao Na, gadis itu penuh teka-teki, sulit membaca apa yang ia pikirkan.
Anak kecil itu menoleh pada Ayahnya, Xiao Na ikut melihat pada He Mingjue, wajah pria tua itu sudah abu-abu menahan marah pada Xiao Na, ia kembali menoleh pada Xiao Na yang berjongkok menyetarakan tinggi badannya.
" Ayah melarang ku berbicara pada orang asing tentang indentitasku, Maaf." ia membungkuk hormat lalu pergi berlari, Xiao Na tersenyum lalu ia berdiri, kembali duduk di sofa.
" Anak yang cerdas." komentar Xiao Na, He Mingjue bernafas lega.
" Aku sebenarnya tidak memiliki masalah denganmu, tetapi anak buahmu menculik orangku...aku harus bagaimana? tentu saja aku harus memperingatkannya bukan?" Xiao Na berbicara seolah tidak memiliki salah apapun.
" Sejak kapan orang pangeran ketiga menjadi orangmu?" tanya He Mingjue, pupil mata Xiao Na menyusut, ' Orang pangeran ketiga?' membuat Xiao Na sedikit terkejut tetapi segera ia berwajah datar, ia tau identitas Yi Han hanya saja ia tidak tau bahwa pangeran ketiga adalah tuannya yang berarti ia berkerja pada pangeran ketiga, selama ini ia fikir mendekati dirinya untuk balas dendam tapi sepertinya memiliki hal lain.
" Aku tidak tau kau berusaha untuk menipuku atau ingin memprovokasi aku? tetapi aku ingatkan itu tidak akan berhasil."
" Aku tidak perduli, alasanku menculiknya karena ingin membalas dendam pada pangeran ketiga yang sudah mencuri barangku, percaya atau tidak urusanmu sendiri."
Xiao Na berdiri.
" Aku masih memandang ayahku yang memiliki hubungan denganmu, jauhkan tanganmu dari orangku jika tidak ingin kupotong." Xiao Na melenggang pergi, He Mingjue tau Xiao Na adalah putri kesayangan Xiao Hongli, apapun yang dilakukan gadis itu Xiao Hongli tidak akan menegurnya dengan keras, karena gadis itu punya seribu cara menenangkan kemarahan ayahnya.
Xiao Na berhenti didepan pintu lalu berbalik badan.
" Jika kau Tidak membutuhkan Yuan, berikan dia padaku." ucap Xiao Na lalu pergi, He Mingjue tidak mengerti lalu menoleh pada pengawalnya.
" Siapa Yuan?" tanya He Mingjue.
" Itu aku, dia memanggilku seperti itu." kata Su Jing. sudut bibirnya berkedut, He Mingjue menatapnya.
" Kau senang?" tanyanya.
" Maaf Tuan." He Mingjue menggelengkan kepala.
" Dia jarang tertarik pada orang lain, sepertinya kau masuk dalam hitungannya." kata He Mingjue.
__ADS_1
Xiao Na sudah sampai dirumah Yi Han, tetapi pria itu tidak ada dirumah, Yi Huang berkemah selama satu Minggu dan tadi pagi ia pergi jadi rumah sepi, Xiao Na menuju kamar Yi Han untuk mencari tau apakah yang dikatakan He Mingjue benar.
Ia membongkar barang Yi Han tetapi tidak ada yang berbeda, seperti tidak ada yang tersembunyi, ia berdiri dipintu memandang kamar itu, senjata senapan angin yang ia lihat juga tidak mencurigakan, ia berfikir sambil melihat kamar.
" Jika yang dikatakan He Mingjue benar, maka ini tidak sederhana... apa yang tersembunyi di sini?" Xiao Na melangkah lalu mengetuk dinding, memperhatikan lemari baju yang berbeda, Xiao Na menepuk lemari dan lemari itu sedikit bergeser seperti ada roda dibawahnya, Xiao langsung menggeser lemari sekuat tenaga baru terlihat apa yang tersembunyi dibalik lemari.
Senjata lengkap, pistol dengan berbagai jenis, peluru, semua alat disana, hati Xiao Na jatuh.
" Apakah takdir masa lalu tidak bisa dirubah?" Xiao Na menyentuh semua senjata itu, ia mendengar suara mobil datang, Xiao Na mengembalikan seperti semula, ia mengambil lima peluru timah, kemudian mengisi pada senapan angin Yi Han.
Begitu ia masuk kamar ia sudah menduga Xiao Na didalam kamarnya, ia terkejut Xiao Na menodongkan senjata itu, tetapi setelah itu ia tersenyum.
" Apa ini?" katanya ingin menyingkirkan senapan tetapi Xiao Na dengan keras memegang senjata, ia menatap serius pada Yi Han
" Jawab jujur pertanyaanku."
" Apa ini?" Tuss... peluru ditembakkan membuat Yi Han terkejut, peluru itu melintas kepalanya tetapi angin peluru terasa di pelipisnya, peluru itu mengenai dinding kamar.
" Dari mana kamu?" Yi Han menatap Xiao Na bingung.
" Aku dari belanja, lihat saja dibawah." jawab Yi Han santai, tangan Yi Han sedikit bergetar karena peluru yang ditembakkan Xiao Na, tentu saja ia takut jika Xiao Na benar-benar menembaknya.
" Pertanyaan kedua, Apakah kau memiliki kekasih selain aku?"
" Pertanyaan apa?...." belum selesai ia menyela Xiao Na kembali menembaknya, kali ini ia benar-benar terkejut dengan tindakan Xiao Na, jantungnya berdetak kencang karena peluru.
" Tidak ada..." jawabnya menggertakan gigi menahan kesal pada Xiao Na.
" Pertanyaan ketiga, Apa kau tulus mencintaiku?" Yi Han terdiam, ia memandang Xiao Na sedetik kemudian ia memegang moncong senapan lalu mengarahkan pada jantungnya.
" Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, tetapi jiwaku dan hatiku sudah aku gadaikan padamu, kau memilikinya jadi terserah apa yang ingin kau lakukan, aku menerimanya." Ia memejamkan mata, mata Xiao Na berkaca-kaca, ia langsung menjatuhkan senjata kemudian duduk berjongkok menutup wajahnya, terdengar Isak tangis Xiao Na, Yi Han langsung memeluknya.
" Ada apa denganmu hari ini?" tanya Yi Han tetapi tangis Xiao Na semakin pecah.
__ADS_1
" Aku membenci takdir ini? aku menolak takdir... Yi Han..." Mata Xiao Na sembab melihat Yi Han, ia langsung memeluk pria itu dengan erat, Yi Han mengelus punggungnya dan mencium kepala Xiao Na untuk menenangkan gadis itu, ia tidak tau apa yang terjadi dengan Xiao Na hari ini.
" Semua hal didunia ini, jika aku tidak memperjuangkannya bagaimana aku akan tau kalau aku dan kau bertakdir atau tidak." kata Yi Han tiba-tiba, Xiao Na menenggelamkan dirinya dalam pelukan Xiao Na.