
" Kalau begitu, coba kau jawab pertanyaanku? jika kau terdampar ditempat asing dengan penuh luka, tanpa mengetahui identitas siapa dirimu, dia menjaga, melindungi tidak perduli seberapa bahaya itu, menyelamatkan hidupmu, kau dibuatnya seolah kau lupa bahwa kau punya keluarga, untuk sesaat bersamanya kau lupa rumahmu sendiri karena kasih sayang dan kebahagiaan selalu kau yang lebih dulu ia utamakan, bagaimana kau akan menghargai hal itu?" tanya Xuelan, pangeran itu tersenyum. mata Zhao An berkaca-kaca mendengar kata-kata Xuelan, ia sedikit terharu padahal ia merasa bahwa Xuelan itu melebih-lebihkan apa yang ia lakukan.
" Bahkan jika aku memberikan seluruh hartaku, tidak akan cukup untuk membalas budinya, bertemu orang seperti itu seperti mencari jarum dalam jerami, harta yang tak ternilai harganya...aku mengerti maksudmu." jawabnya lalu memberi hormat pada Xuelan, Xuelan tersenyum lalu berdiri menghampiri Pangeran itu.
" Ini baru salah satunya...aku masih memiliki satu lagi, kau lebih terkejut saat bertemu dengannya, bertemu teman seperti itu seperti berburu harta karun, tergantung keberuntungan... sayangnya aku sudah kehilangan satu orang." bisiknya ditelinga pangeran itu, Xuelan menghela nafas, ia kemudian berbalik kembali ke kursinya, pangeran itu terdiam melihat Xuelan kemudian kembali duduk di kursinya, pangeran itu berfikir sejenak. " Beruntungnya menjadi dirimu bertemu orang seperti itu." gumannya lalu meneguk arak yang berada di mejanya, ia memiliki masa lalu pengkhianat dalam hidupnya, jadi akan iri jika orang lain memiliki teman yang digambarkan Xuelan.
Acara berlanjut, Xuelan masih asyik mengobrol dengan Zhao An, kemudian Zhao An mengeluarkan dua buah kotak yang satu berwarna hitam dari Dao-Dao, yang satu berwarna Biru, wajah Xuelan tampak bahagia ia langsung meraih kedua kotak itu tampak menundanya.
Sang ayah hanya menggeleng kepala melihat Xuelan begitu antusias mengambil kedua kotak itu, sedangkan hadiah para tamu yang lain bahkan tidak ia pandang sedikitpun, ia sedari tadi memperhatikan putranya yang biasa tidak suka banyak bicara, berwajah dingin pada orang lain, hari ini sikap itu sungguh bertolak belakang dengan sekarang, ia tidak henti-hentinya berbicara dan tertawa seakan sikap dinginnya itu sudah dihebus angin.
Ayahnya sedikit ragu lalu memandang Zhao An dengan seksama, ia bukan meragukan Xuelan dalam mencari teman, hanya saja ia takut selama ini bahwa putranya yang polos itu sudah dimanfaatkan, siapa yang tau mungkin selama ini temannya pura-pura baik karena ia sudah mengetahui identitas Xuelan sejak awal.
Mereka semua menikmati hidangan, Xuelan menyuruh seorang pelayan mengambilkan arak lagi karena arak di mejanya sudah habis, Zhao An memandang semua orang disekitar, bulu kuduknya merinding padahal anginnya sangat nyaman, ia mendapat firasat bahwa sedang ada yang mengintai mereka tetapi ia tidak dapat menemukan dari sudut mana, jadi ia tidak terlalu memikirkannya, tetapi rumor mengatakan bahwa Xuelan selalu diteror untuk dibunuh ia menjadi sedikit tidak tenang.
" Xuelan, apa yang terjadi baru-baru ini padamu? kudengar ada yang berusaha untuk membunuhmu, beladirimu tidak buruk." Xuelan mengangguk.
" Mereka tidak pernah menampakkan diri, tetapi selalu menyerang dari jarak jauh, saat-saat tidak terduga dan sulit dibaca kapan mereka akan menyerang entah saat aku sendiri atau ditempat ramai, aku pernah menangkap mereka, tetapi mereka segera mati tepat setelah menyerang, dari mayat tidak ada tanda-tanda mencurigakan atau bisa dicari petunjuk." Zhao An berfikir sejenak.
" Andaikan Dao-Dao ada disini...ia pasti bisa menangani masalahmu." guman Zhao An lalu meneguk araknya, Zhao An kadang-kadang suka mengenang Dao-Dao, Xuelan terdiam lalu mereka berdua hanya tersenyum.
" Dia sudah bahagia dialam sana." ucap mereka berdua serempak, kadang kesedihan mengingat Dao-Dao membuat mereka rindu tetapi apa daya orang mati tidak akan bisa hidup.
__ADS_1
Xuelan membuka kedua kotak itu, ia mendapat cincin yang ia kenali terbuat dari apa, Zhao An sudah memberi tahukan hadiah siapa itu, ia mengelus cincin itu, matanya berkaca-kaca memandang cincin itu, ia hampir menangis tetapi ia tahan. " Indah... sangat indah..." ucap Xuelan segera memakai cincin itu, lalu membuka kotak kedua hadiah dari Xuelan, sebuah kayu panjang yang kira kira seperempat panjangnya.
" Ini..?" ia bertanya untuk apa kayu ini, seperti untuk memukul orang, Zhao An tersenyum lalu membuka kayu seperti membuka kipas, dan ternyata adalah sebuah balista kecil yang sudah dimodifikasi, ganggang balista itu seperti pistol, jarak tembak sama dengan anak panah yang diluncurkan, walaupun kecil tetapi tekanannya sangat besar, juga bahan kayu itu ringan sehingga mudah disembuhkan dibalik pakaian, Xuelan tersenyum memandang balista itu.
" Terima kasih... mendapat dua senjata luar biasa seperti ini benar-benar mendapat berkat dari dewa." ucapnya tersenyum, lalu seorang pelayan membawa arak yang diminta Xuelan, Xuelan segera menuangkan arak itu untuk bersulang dengan Zhao An, ia bahkan lupa bahwa Meng Lu sudah cemberut dari tadi karena Xuelan tidak terlalu memperdulikannya.
Pangeran dari kerajaan lain juga dari tadi memperhatikan Xuelan yang begitu antusias mendapat dua hadiah kecil, Ayahnya juga menjadi kesal, lebih-lebih Meng Lu yang cemberut, tetapi Xuelan sama sekali tidak sadar, tetapi Zhao An dapat melihat tatapan orang-orang padanya.
" Apakah sebaiknya aku pindah tempat duduk saja? aku duduk disamping Lan Huan saja." Zhao An cengir saja, ia melihat Lan Huan sedang mengobrol dengan Ling Long.
" Kenapa? kau merasa tidak enak? apakah ada yang salah?" tanya Xuelan.
" Jangan perdulikan orang lain, Ayo kita bersulang." Xuelan mengangkat cangkirnya, Zhao An memperhatikan Arak Xuelan, begitu arak itu mencapai bibir Xuelan, Zhao An segera memukul tangan Xuelan sehingga cangkir itu terlempar, Semua orang langsung menatap Zhao An, Xuelan terkejut, Zishu segera mengambil tindakan dan Langsung mengarahkan pedangnya dileher Zhao An, Zhao An terlalu terkejut karena Zishu lebih dulu menodongkan pedang itu dilehernya, saat pedang diarahkan pada lehernya maka ia akan bergetar hebat karena ia trauma masa lalu tentang keluarganya.
Semua orang terkejut karena Zhao An tampak menyerang Xuelan, dan mengira bahwa Zhao
An adalah selama ini orang yang menyerangnya diam-diam, Zishu ingin membunuh Zhao An tetapi semua orang lebih terkejut lagi karena pedang yang ingin digoreskan keleher Zhao An sudah digenggam Xuelan, darah segar dari tangannya menitik karena ia menggenggam pedang tajam itu untuk menahannya, Zishu menoleh pada Xuelan Dan Xuelan sangat menyeramkan saat dipandang Zishu, matanya memerah karena amarah.
" Beraninya kau..." teriak marah Xuelan, Zishu sedikit merasa takut hingga genggaman pedang itu mengendur dan Xuelan segera membanting pedang itu, Wajah Zhao An pucat.
" Xuelan..." Ayahnya ingin mendekati Xuelan agar menjauhi Zhao An tetapi baru satu langkah, Xuelan menahannya.
__ADS_1
" Jangan mendekat." teriaknya, semua orang hening, Xuelan sudah diserang tetapi masih melindungi orang itu, tangannya bahkan terluka tetapi ia tidak perduli, ia lalu mendekati Zhao An.
" Tenanglah...semua baik-baik saja...itu hanya mimpi buruk, hanya mimpi buruk." ia memegang pundak Zhao An untuk menenangkan pria itu yang bergetar hebat karena trauma, ia memandang mata Xuelan barulah ia mulai tenang, Xuelan lalu berdiri kemudian mendekati Zishu dan langsung mencekik Zishu.
" Xuelan..." teriak ayahnya terkejut karena Xuelan menyerang Zishu yang ingin melindunginya, nafas Zishu semakin sesak karena cengkraman Xuelan semakin kuat.
" Xuelan lepaskan... kendalikan amarahmu...Zishu akan mati jika kau mencekiknya seperti ini..." Meng Lu menarik-narik tangan Xuelan untuk menyadarkan pria yang dipenuhi amarah itu, Ia melihat jika tidak dihentikan, Zishu bisa mati.
" XUELAN..." sang ibu ikut menyadarkan, tetapi ia masih tidak bergeming. " Apakah kau tidak akan mendengarkanku?" ucap Meng Lu, cengkraman Xuelan mengendur, perlahan matanya kembali normal, ia lalu mendorong Zishu.
" Jika aku tidak mengingat jasamu, aku pasti sudah mematahkan lehermu." ucapnya, ia lalu memandang Meng Lu kemudian mendesah pelan.
" Maaf..." ucapnya, kemudian mendekati Zhao An.
" Kau baik-baik saja?" tanya Xuelan khawatir.
" Bagaimana aku baik-baik saja, kau hampir membunuh jendralmu, aku ketakutan sampai mati melihat kemarahanmu seperti tadi, lagipula ia tidak tau tentang masa laluku, kau tidak perlu bersikap seperti tadi." ucap Zhao An, Xuelan menarik nafas, semua orang tidak mengerti mengapa Xuelan begitu melindungi orang yang menyerangnya.
" Apa yang terjadi?" tanyanya penasaran.
" Racun." jawab Zhao An singkat, Xuelan reflek menoleh cangkir yang terlempar tadi.
__ADS_1