
Sebenarnya setiap hari pada tengah malam Zhang Han selalu tidur dikamar Jiang sejak kejadian itu, tidak ada yang mengetahuinya, setiap hari Jiang memerintahkan beberapa pelayan selalu membersihkan kamar itu karena Lian dan Yuan sudah dibebaskan dari perbudakan sejak Zhao An memberikan kertas pembebasan.
Zhang Han juga tidak tau dimana Lian dan Yuan, karena Saat surat itu diberikan sebenarnya ada isi lain dari surat yang tidak Zhao An ketahui bahkan oleh Zhang Han, jadi ia tidak mengetahui nasib kedua pelayan itu.
Saat Zhang Han membaca laporannya diruang belajar, tiba-tiba Lan Huan datang membawa teko dan cangkir teh diatas nampan.
" Anda belum beristirahat? ini sudah larut malam?" tanya Lan Huan.
" Tidak apa-apa, sedikit lagi selesai." jawab Zhang Han, Lan Huan lalu masuk.
" Yang mulia, aku membawakan teh untuk anda." ucapnya lalu meletakkan nampan itu dimeja.
" Sejak kapan jenderal berubah menjadi pelayan?" Zhang Han menaikan sebelah alisnya menatap Lan Huan.
Lan Huan menelan ludah ditatap seperti itu, ia sedikit gugup tetapi segera ia kendalikan.
" Apa yang ada dalam teh itu?" goda Zhang Han, tetapi pertanyaan itu hampir membuat Lan Huan jatuh berlutut.
" Aku hanya mengantarkan teh, jika anda curiga buang saja." balas Lan Huan cuek, tetapi ia setengah mati menyembunyikan gugupnya, Zhang Han tertawa kecil mendengarnya.
" Kenapa wajahmu begitu tegang?" tanya Zhang Han lalu menuangkan teh di cangkirnya kemudian meneguknya.
" Hamba permisi." Lan Huan lalu pergi.
*****
" Permaisuri Ming Hui, Yang mulia meminta anda untuk menemuinya di kediamannya." lapor Wei Chan saat ia dipersilahkan bertemu permaisuri dikediamannya.
" Sekarang? larut malam begini?" tanya Ming Hui heran, karena Zhang Han tidak pernah memanggilnya seperti ini.
" Saya juga tidak tau, mungkin ada hal yang ingin dibicarakan oleh Yang mulia dengan anda."
" Baiklah, aku akan segera kesana." jawab Ming Hui, Wei Chan lalu pamit mengundurkan diri, Ming Hui sebenarnya ragu karena takut akan mengganggu, tetapi karena Wei Chan sendiri yang datang itu pasti benar.
Ming Hui segera pergi kekediaman Zhang Han seorang diri, ketika sampai dikediaman terlihat sepi, seperti tidak ada yang berjaga, Ming Hui pikir itu mungkin karena sudah larut jadi ia tidak memikirkannya, ia mencari Zhang Han tetapi tidak bertemu sampai ia mendengar suara Zhang Han dari ruang belajar.
__ADS_1
Ming Hui segera masuk dan terkejut melihat Zhang Han berkeringat dan seperti kepanasan ia menjadi khawatir. ia berlari menghampiri Zhang Han.
" Yang mulia, apa yang terjadi anda?" tanya Ming Hui, Zhang Han menatap Ming Hui, ia seperti kehilangan kendali dirinya, segera ia palingkan wajahnya dari Ming Hui untuk mengendalikan dirinya.
" Aku tidak tau, tubuhku terasa terbakar, rasanya panas sekali." jawabnya cepat, ia lalu melepaskan jubahnya.
" Yang mulia..." Ming Hui ingin melarangnya karena takut dilihat oleh pelayan.
" Aku antar anda kekamar anda saja." Jawab Ming Hui, ia lalu memapah Zhang Han menuju kamar.
Saat sampai dikamar, Zhang Han segera melepaskan pakaiannya dibantu Ming Hui, Ming Hui lalu mengambil kipas karena Zhang Han kepanasan, ia tidak tau harus melakukan apa, Zhang Han duduk ditepi peranduan dengan telanjang dada yang dikipasi Ming Hui, Deru nafas Zhang Han turun naik, saat ia menoleh pada Ming Hui membuatnya serasa lepas kendali.
" Apa yang terjadi padaku? " batinnya.
" Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi." gumannya, Ia lalu menarik Ming Hui kedalam pelukannya, Ming Hui bahkan belum bereaksi apapun karena terkejut.
" Maaf, aku tidak tau apa yang terjadi padaku, tetapi ini tidak tertahankan, bantu aku." jawabnya lalu mulai menciumi Ming Hui, melepaskan pakaiannya dan memuaskan segala hasratnya.
Pagi harinya Zhang Han bangun lebih dulu, saat ia tersadar ia melihat Ming Hui terbaring disampingnya Tanpa pakaian yang ditutupi selimut, saat ia melihat dirinya sendiri ia menghela nafas. pagi ini ia ada pertemuan, jadi ia meninggalkan Ming Hui dan segera berganti pakaian.
" Bawa pasukan kecil, tangkap Lan Huan dan Wei Chan, bawa mereka berdua dan suruh memakai pakaian pidana, dan katakan pada menteri hukum untuk datang menemuiku Sekarang diruang belajar." ucapnya tegas, kedua pengawal itu segera melaksanakan perintah.
*****
Lan Huan dan Wei Chan sudah menunggu pasukan kecil itu, karena mereka berdua sudah menduga akan dihukum, mereka bahkan sudah memakai pakaian pidana, saat pemimpin pasukan itu datang, ia tersenyum melihat kedua orang itu.
" Sepertinya kalian sudah tau." ucapnya sambil merantai kedua orang itu.
" Ah... tentu saja." Jawab Lan Huan cuek.
" Berdoalah agar hukum ini tidak berat " ia selesai mengikat rantai lalu mempersilahkan dua orang itu berjalan didepan.
" Cambukan sudah paling berat, semoga bukan hukuman itu ..." Lan Huan memikirkan sebuah hukuman paling ia benci.
Saat Zhang Han memasuki ruang pengadilan wajah para menteri berseri dan tersenyum bahagia saat melihat Zhang Han, melihat para wajah itu hanya membuat Zhang Han memutar bola matanya dengan malas.
__ADS_1
" Semoga yang mulia panjang umur." para menteri memberi hormat pada Zhang Han saat ia sudah duduk disinggasananya, mereka baru menyadari Jika Lan Huan dan Wei Chan datang bersama Zhang Han, mereka saling menoleh mencari jawaban. Zhang Han melihat ekspresi wajah para menteri, ia tersenyum.
" Kalian pasti bertanya-tanya dimana Lan Huan dan Wei Chan Sekarang?" para menteri menatap Zhang Han dan menjadi takut.
" Yang mulia..." seseorang menteri ingin menjelaskan tetapi ditahan Zhang Han untuk melanjutkan kata-katanya, menteri itu hanya menelan ludah karena mereka takut.
" Tebak, dimana mereka berdua setelah melakukan kejahatan sebesar itu, dengan menipu Kaisar mereka?" Zhang Han tersenyum penuh makna.
" Yang mulia...anda tidak mencoba untuk membunuh mereka bukan? mereka adalah..." menteri itu menelan ludah memikirkan hukuman yang ada dikepala mereka.
" Hukuman ini khusus aku pertontonkan untuk kalian." Kata Zhang Han, lalu ia keluar diikuti semua menteri.
Mereka menuju tempat bersantai yang indah, tetapi mereka tau keindahan tempat apa itu, mereka melewati jembatan menuju pendopo yang berada ditengah kolam bunga yang dikenal kolam iblis sebab semua bunga yang ditanam dikolam itu beracun, tidak ada hewan peliharaan didalam kolam itu selain bunga air yang beracun, kolam itu khusus tanaman beracun, dan ditepi kolam itu Lan Huan dan Wei Chan berendam dikolam setinggi paha mereka.
Mereka bertelanjang dada, Di bagian perut dan dadanya ditusuk jarum akupuntur untuk mencegah racun dikolam masuk kedalam tubuhnya, dan dibelakang mereka berdiri dua prajurit yang sudah dilapisi pakaian keamanan dan meminum penawar racun sehingga mereka tidak terkena dampaknya, mereka berdua berdiri dengan papan hukuman setebal 5 inci itu.
Para menteri bergelidik ngeri melihat hukuman yang diterima Lan Huan dan Wei Chan.
" Segera mulai hukumannya." perintah Zhang Han, semua menahan nafas saat papan tebal itu dipukulkan pada pantat mereka, Wei Chan dan Lan Huan mengepalkan tangannya menahan sakit, hingga pada pukulan ke lima belas mereka runtuh jatuh berlutut dengan membatukan darah, para menteri pucat melihat mereka berdua.
" Hentikan." kedua pelayan itu berhenti.
" Pukulan itu seharusnya 100 kali, rasanya tidak adil jika hanya mereka berdua yang dihukum, kalian semua ikut terlibat, jadi..." belum selesai Zhang Han mengatakannya semua menteri langsung bersujud memohon ampun.
" Maafkan kami yang mulia, kami semua mengaku bersalah." ucap mereka serempak dengan tubuh bergetar ketakutan.
" Bawa Lan Huan dan Wei Chan pergi, buat mereka sedikit menderita." kata Zhang Han sambil menatap kearah menteri hukum yang berada di ujung tepi kolam untuk sudah mempersiapkan hukuman itu, ia menelan ludah saat ditatap Zhang Han.
" Dan kalian..." Zhang Han melihat semua menterinya yang bersujud.
" Selama 3 bulan gaji kalian akan dipotong sebanyak 50 persen, sebagian kekuasaan kalian ditarik, dan tidak ada bantahan."
" APA ...?" TERIAK MEREKA SEREMPAK MENGANGKAT KEPALA.
Zhang Han hanya melewati mereka dengan senyum kemenangan, walaupun ia sudah masuk jebakan, membuat para menterinya jera itu perlu ia lakukan, menarik sebagian kekuasaan mereka sama saja membuat mereka tidak leluasa bertindak, dan memotong gaji mereka membuat mereka sengsara karena uang adalah utama bagi mereka, itu adalah hukuman paling berat yang mereka terima dari hukuman lain, ibarat lebih baik mereka dicambuk dan menderita sedikit daripada memotong perlahan urat nadi mereka seperti ini. mereka impas.
__ADS_1