Berinkarnasi

Berinkarnasi
Siasat


__ADS_3

Jiang memasuki markas rahasia mereka, semua orang menyebut meriah kedatangan Jiang sang pemimpin mereka, semua sudah Jiang rencanakan sejak kematian Dao-Dao, sejak seluruh ingatan Jiang dan pengetahuan dimasa lalu dan masa depannya membuatnya harus menuntut balas.


Jiang melihat sekeliling perkemahan, semua orang bersorak-sorak, tetapi Jiang tenggelam dalam fikirannya, Bai Yunfei menyentuh pundaknya membuat dirinya tersadar.


" Aku istirahat dulu." jawab Jiang, ia lalu masuk kedalam tendanya.


" Jiang..." panggil Bai Yunfei, Jiang tidak memperdulikan panggilan itu.


Jiang berganti pakaian, lalu seorang wanita memasuki tenda Jiang, ia lalu memberi hormat pada Jiang. " Ketua..." Wanita itu membungkuk hormat.


" Saya Xiolin, biasa dipanggil a-lin, saya satu-satunya wanita yang dikirim pangeran untuk melayani anda, beladiri saya tidak terlalu buruk, cukup untuk melindungi anda." jelas Xiolin, Jiang mengangguk, Xiolin lalu membantu Jiang berganti pakaian.


" Kau tidak perlu melindungiku, cukup lindungi dirimu sendiri." jawab Jiang setelah ia berganti pakaian.


" Ketua, apa anda ada masalah? raut wajah anda seperti tidak senang."


" Aku baik-baik saja, kau keluarlah, aku ingin beristirahat." Xiolin lalu keluar setelah memberi hormat, Jiang lalu membaringkan tubuhnya membelakangi pintu masuk tenda.


*****


Semua para menteri saling ribut tentang apa yang sudah terjadi, Zhang Han memijit pelipisnya karena pusing mendengar ocehan mereka yang tidak ada ujungnya, semuanya mengatakan tentang kejahatan Jiang, Zhang Han memukul meja membuat mereka semua terkejut.


" Sudah cukup." ucap Zhang Han kesal, ia lalu menatap mereka, tiba-tiba pintu pertemuan terbuka, beberapa pelayan mengotong Lu Xiang yang terlihat lemah dan tidak berdaya, Lu Xiang langsung berlutut dihadapan Zhang Han membuat semua orang khawatir dengan keadaannya.


" Yang mulia." Lu Xiang mencoba ingin memberi hormat, tetapi ia tidak dapat berdiri dikarenakan kondisinya.


" Tidak perlu berdiri." jawab Zhang Han mengerti dengan keadaan Lu Xiang.


" Ada apa kau datang, kondisimu sangat tidak memungkinkan." lanjutnya. Lu Xiang langsung bersujud


" Beri aku keadilan yang mulia..." ucapnya, seluruh menteri ikut bersujud bersama Lu Xiang.


" Yang mulia, beri keadilan...." ucap mereka serempak, Zhang Han menghela nafas berat.


" Berdirilah." ucap Zhang Han, mereka tetap memilih bersujud, Lan Huan dan Wei Chan dapat melihat ekspresi Zhang Han yang kesal.


" Yang mulia..." ucap mereka sekali lagi.


" Kasus ini belum jelas, aku tidak bisa memutuskannya sekarang, akan kita bahas besok." ucap Zhang Han, ia mencoba mengulur waktu untuk mencari tau apa sebenarnya tujuan Jiang melakukan semua ini secara terang-terangan, Zhang Han lalu berdiri ingin pergi.

__ADS_1


" Yang mulia...anda bukan tidak bisa tetapi tidak mau memutuskan perkara ini, karena kami tau apa yang ada didalam hati yang mulia." ucap Lu Xiang tiba-tiba, Zhang Han terhenti langkahnya, Zhang Han tau maksud perkataan Lu Xiang.


Ia mengepalkan tangannya erat. " beraninya kau mempertanyakan hal yang kau tau jawabannya." batin Zhang Han marah.


" Kalian semua bubar..." ucap Zhang Han langsung meninggalkan ruang pertemuan.


para menteri semua berdiri menghela nafas. " Benar-benar tidak memiliki hati, bukankah ia sangat mencintai selir Lu Xiang, mengapa sikapnya seperti itu?"


" Tentu saja yang mulia bimbang, sebab selir yang dituduh adalah yang mengandung anaknya."


" Tetapi hanya karena selir Jiang mengandung, apakah keadilan harus diabaikan begitu saja."


"benar..."


" Selir Jiang melakukan kejahatan dengan melakukan pembunuh diistana secara terang-terangan, bahkan melukai selir Lu Xiang separah itu, lalu mengapa harus pilih kasih seperti ini."


" kita harus memaksa yang mulia menangkap selir Jiang untuk meminta penjelasan, jika tidak? apa yang akan dikatakan orang diluar sana, mereka akan mempertanyakan keadilan." itulah percakapan diantara para menteri.


mereka semua hanya bisa menunggu keputusan besok, Ming Hui tidak banyak bicara, ia seperti tidak tau apapun, Bai Qian keluar dari tirai dan langsung menghampiri Lu Xiang yang dibantu para pelayan untuk kembali kekamarnya.


" Biar aku saja." kata Bai Qian, Ia lalu membantu Lu Xiang. para pelayan itu mengangguk lalu menjauh.


Mereka berdua sudah sampai dikamar Lu Xiang, Ia lalu mendudukkan Lu Xiang diperanduan. " beristirahatlah." ucap Bai Qian, ia berniat pergi.


" Mari berhenti sampai disini, aku tidak bisa kehilangan orang kepercayaanku lagi." kata Lu Xiang tiba-tiba, Bai Qian berhenti lalu berbalik menghadap Lu Xiang.


" Kita sudah sejauh ini, dan kau ingin aku berhenti? apa kau sudah kehilangan akal." jawab Bai Qian marah.


" Kau sudah melihat, Jiang yang sekarang bukan Jiang yang dulu kita hadapi, ia tidak terduga dan ia rela melakukan apapun demi balas dendam ini."


" Kau takut?"


" Aku bukan takut, hanya saja aku tidak mau kehilangan kau ataupun Xiaojiu, sudah cukup bagiku untuk kehilangan Jing er, mari kita hentikan semua ini Shen, sebelum terlambat."


" Menghentikannya? setelah darah dan keringat sudah kita korbankan, itu tidak mungkin...." teriak Bai Qian.


" Kecilkan suaramu, kediamanku bukan seperti dulu."


" Aku tidak akan mengalah lagi, sekarang aku tidak akan bermain, biar aku lihat seberapa kuat dia." Bai Qian lalu pergi meninggalkan Lu Xiang yang hanya memandang Bai Qian berlalu.

__ADS_1


Lu Xiang ingin berdiri, untuk mengambil kertas dan tinta, tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan, ia hampir terjatuh jika tidak ada Ruyue yang menolongnya. Ruyue lalu membantu Lu Xiang duduk.


" Kapan kau datang?"


" Kurasa karena kesehatan, kau kehilangan kewaspadaanmu."


" Tidak usah berbelit-belit." Ruyue memutar bola matanya malas mendengar perkataan Lu Xiang.


" Sejak tadi, sebelum kau masuk bersama Bai Qian, lagipula apa yang dilakukan wanita penyihir itu hingga membuatmu menuruti keinginannya."


" Dialah dalang semua ini, semua rencana yang kita buat adalah rencana dari dia." Ruyue sedikit terkejut.


" Pantas saja, sejak awal aku penasaran kenapa kau selalu bersamanya, ternyata ia pemimpin."


" Lalu, apa yang kau lakukan disini? kau tidak menemani kekasih bodohku itu?" Mendengar kekasihnya dikatakan bodoh membuat Ruyue kesal.


" Apakah kau ingin aku menusuk dadamu yang sebelah lagi, agar cepat mengantarkan nyawamu keneraka." Lu Xiang tertawa kecil.


" lupakan itu, karena kau sudah kemari aku ingin kau sampaikan pada seluruh pasukan kita agar waspada, dan cari dimana tempat persembunyian pasukan Jiang." Ruyue menaikan alisnya tidak mengerti, ia belum mendengar kabar apapun karena ia baru sampai dari perbatasan.


" Jelaskan lebih detail." karena Ruyue hanya mendengar kabar Lu Xiang ditusuk oleh Jiang dan melarikan diri, hanya berita itu yang ia dengar.


Lu Xiang menceritakan semua yang terjadi diistana, lalu ia mendapat informasi bahwa Jiang sudah menyiapkan pasukan untuk menghancurkan rencananya, Mereka sama-sama seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak, Ruyue mengangguk setelah mengerti.


" Ambillah kertas dan tinta, aku ingin menulis surat untuk Xiaojiu." Ruyue melakukan apa yang diinginkan Lu Xiang.


" Ini." Surat itu digulung lalu ia berikan pada Ruyue, Lalu surat yg lain ia simpan, Ruyue ingin bertanya tentang surat lainnya tetapi ia urungkan.


" Kalau aku tidak salah menduga ia mengingatkan dua kepala saat ini, kepala Xiaojiu balas dendam padaku dan kepala Hao Xian atas balas dendam untuk kakaknya."


" Kau harus mengantar surat itu sebelum terlambat, dan memperingati mereka untuk waspada." Ruyue mengangguk, ia lalu pergi dari sana secara diam-diam.


Setelah kepergian Ruyue, Lu Xiang bersiul, tak lama seseorang berbaju hitam masuk, Lu Xiang lalu memberikan surat yang tadi ia tulis.


" Cari keberadaan Jiang Huan, gunakan telik sandi awan agar untuk mencarinya, kau harus memberikan surat ini secara pribadi pada Jiang." Orang itu mengangguk lalu pergi.


Kepergian berbaju hitam itu ternyata sudah ditunggu Bai Qian, ia lalu meminta surat yang ingin ia kirim pada Jiang, Bai Qian sudah menduga bahwa Lu Xiang ingin menghancurkan semua rencana yang sudah mereka bangun, Bai Qian tidak bisa membiarkan itu terjadi.


Orang berbaju hitam itu juga menghormati Bai Qian, jadi ia memberikan surat yang diberikan Lu Xiang padanya. " Kau pergilan, katakan bahwa kau sudah mengirim suratnya." Orang itu mengangguk lalu pergi dari sana.

__ADS_1


" Maafkan aku, aku tidak bisa membiarkan kau melakukan ini." Bai Qian kemudian membaca isi surat itu.


__ADS_2