Berinkarnasi

Berinkarnasi
Halaman Baru


__ADS_3

Yuan menuju lapangan latihan perang, ia dari kemarin penasaran seperti apa lapangan perang, saat ia datang semua prajurit memberi hormat karena mereka sudah mendengar dan sebagian melihat bagaimana perkasanya Yuan dimedan perang, apalagi saat mereka mengetahui bahwa Yuan adalah pangeran.


Yuan tidak berhenti kagum melihat para prajurit yang berlatih, ia melihat seseorang sedang bermain pedang dengan tangkasnya, gerakannya yang lembut seperti menari tetapi Yuan tau setiap gerakan itu mematikan bila tepat sasaran.


Zhang Hou melihat Yuan menonton ia berlatih jadi ia berhenti kemudian menatap Yuan, Yuan menemui Zhang Hou.


" Kukira kau pangeran manja yang hanya bisa bersembunyi dibelakang yang mulia." Yuan menggosok hidungnya yang tidak gatal.


Lan Jingyi ingin menyerang Yuan karena kesal mendengar Yuan tetapi segera dihentikan Zhang Hou.


" Kalau begitu, mohon bimbingannya..." Zhang Hou melemparkan sebuah pedang pada Yuan. Yuan melihat kualitas pedang itu.


" Tidak buruk." Jawabnya melihat pedang itu.


" Majulah...aku akan membimbingmu, satu dua luka goresan kurasa tidak masalah." Yuan tersenyum.


" Terlalu sombong." Zhang Hou maju menyerang tetapi segera diblokir Yuan.


Karena pertarungan mereka yang sengit dan seru mereka menjadi tontonan, saat itu Lan Huan berada disana, beberapa komandan ingin menghentikan mereka karena khawatir jika salah satu terluka maka akan bermasalah.


Mereka khawatir jika pangeran Yuan yang baru sampai akan luka parah karena Zhang Hou sangat terkenal kuat, tangkas dan ia sudah sering menghadapi musuh dimedan perang dan sangat berpengalaman sedangkan Yuan mereka tidak mengenalnya dengan baik.


Lan Huan masih menonton dan menghentikan beberapa komandan yang ingin menghentikan pertarungan Yuan dan Zhang Hou.


" Apakah kalian tidak penasaran dengan kekuatan dua pangeran itu, aku bahkan sangat penasaran siapa diantara mereka yang menang, pangeran Zhang Hou sangat terampil dan kita semua tau itu, tetapi pangeran Yuan kita hanya mendengar bahwa dia jenderal saat perang diperbatasan." Lan Huan tersenyum, Wei Chan kemarin bercerita padanya dengan semangat membara tentang kekuatan Yuan jadi Lan Huan sangat penasaran.


Bagi Lan Huan, kekuatan Zhang Hou sebanding dengan dirinya dan Wei Chan mengatakan bahwa Yuan tak kalah hebat dari Wei Chan.


Tiba-tiba dua anak panah meluncur menuju pertaruhan itu, Lan Huan terkejut melihat anak panah yang melintasi mereka karena kejelian mata mereka berdua mereka sama-sama menghindari panah dan mundur sehingga memberi jarak pertarungan. Lan Huan terkagum-kagum melihatnya, matanya berbinar-binar karena Lan Huan tau jika mereka bukan orang yang berpengalaman maka panah itu pasti mengenainya tetapi hari ini Lan Huan benar-benar mengakui kekuatan dua pangeran itu.


" Luar biasa... kerajaan diberkati dengan memiliki pangeran tangguh seperti mereka..." Lan Huan tidak berhenti kagum, Ia melihat bahwa yang menembakkan anak panah adalah Wei Chan.


" Maaf pangeran." Wei Chan memberi hormat pada mereka berdua.


" Ada apa paman?" tanya Zhang Hou, ia meletakkan tangannya dipunggungnya, sedangkan Yuan melipat tangannya didada.


" Yang mulia meminta kedua pangeran segera ke aula, karena ada tamu."

__ADS_1


" Tamu?"


" Utusan suku padang rumput."


Yuan dan Zhang Hou sama-sama membuang muka, mereka berdua sangat membenci orang asing menginjakkan tanah di negeri mereka, Zhang Hou pergi diikuti Lan Jingyi, Yuan menyusul setelah itu.


Wei Chan menghampiri Lan Huan.


" Kau puas?" Lan Huan tertawa kecil.


" Kukira kau hanya melebih-lebihkan kekuatan pangeran Yuan, ternyata dia tak kalah tangguh."


" Kau belum melihat kemampuan pangeran Xuan, kecerdasan serta pengetahuannya bisa menyamai yang mulia."


" Aku menunggu itu." mereka berdua berjalan beriringan menuju aula istana.


Utusan dari Padang rumput dua orang, salah satunya adalah pangeran putra mahkota yang beberapa waktu lalu menyerang perbatasan sedangkan satunya adalah penasehat suku padang rumput, umur putra mahkota mereka sesuai Xuan, dan penasehatnya berumur separuh baya.


Saat Zhang Hou memasuki ruang aula, aura kebencian dan permusuhan sudah ia perlihatkan pada kedua utusan itu, tak lama Yuan datang menenteng pedang, ia tidak tau bahwa tidak boleh membawa senjata saat memasuki aula jadi ia dihentikan oleh penjaga.


Diruangan itu hanya Zhang Han, Xuan dan Zhang Hou, Yuan menyerahkan senjata itu pada penjaga kemudian masuk, Diikuti Wei Chan dan Lan Huan yang baru sampai.


" Sekalipun aku tidak menaklukkannya tetapi aku tetap menginjak tanahnya." Pangeran Gongsun Heng tersenyum bangga.


" Yang mulia kaisar Zhang, ayahanda bersedia berdamai tergantung bagaimana sikap anda padaku." Lanjutnya, telinga Zhang Hou sudah memerah karena marah, suku padang rumput terlalu meremehkan mereka. Zhang Hou ingin membalas tetapi Yuan lebih dulu menyahut.


" Pangeran Heng, kali ini kau mungkin berani menginjakkan kaki kemari, lain waktu akan kupatahkan kakimu jika aku melihatmu berburu ditanah kami." Gongsun Heng tertawa mendengarnya.


" Mulutmu benar-benar tajam, karena kau besar dilingkungan kotor, dan orang tuamu tidak mendidikmu dengan baik." Gongsun Heng tertawa besar setelah melemparkan penghinaan itu.


" Oh... tanaman gandum lebih berharga dibanding anggrek, anggrek memang indah karena perawatan dan hanya dapat ditemukan diistana, tetapi ia tidak memberi kehidupan, bukankah semua orang membutuhkan gandum untuk hidup, manakah yang lebih berharga? anggrek akan indah ditangan orang yang bijak, bukan orang berhati Hitam, tetapi gandum entah yang menanamnya berhati hitam atau putih iya tetap dibutuhkan." Balas Xuan, itu adalah sindiran untuk Gongsun Heng hingga membuat pemuda itu mengepalkan tangannya karena geram.


Zhang Hou menatap Xuan, walaupun tatapan Xuan tenang tetapi dimatanya mengandung kemarahan.


Lan Huan mengulum senyum mendengar jawaban Xuan.


" Luar biasa..." fikir Lan Huan.

__ADS_1


Pangeran Gongsun Heng terdiam, ia tidak boleh membuat kekacauan karena dia utusan ayahnya, walaupun ia sedang kesal sekarang tetapi ia akan membalasnya nanti.


" Saat mendengar bahwa kalian berdua adalah pangeran, kami benar-benar merasa terhormat dapat menyaksikan kehebatan pangeran berdua." Penasehat padang rumput bernama Wu Guan itu tersenyum.


Sedari tadi wajahnya tidak pernah lepas dari senyum sehingga sulit membaca ekspresi sebenarnya.


" Tuan berlebihan." Xuan memberi hormat.


" Orang seperti ini lebih sulit untuk ditebak apa yang ia fikirkan." Batin Xuan.


" Silahkan beristirahat, kalian sudah melakukan perjalanan jauh." Zhang Han mempersilahkan mereka, dikawal beberapa pelayan. Zhang Han menoleh pada ketiga putranya.


" Kalian juga, istirahatlah."


" Baik Ayahanda." ucap mereka serempak lalu memberi hormat kemudian pergi keluar ruangan.


Xuan keluar diikuti Yuan dan Zhang Hou yang berjalan dibelakangnya berdampingan, Yuan mengambil kembali pedangnya, Zhang Hou melirik pedang itu lalu membuang muka.


" Yuan, Sebisa mungkin hindari mereka, terutama penasehatnya..." Xuan mengatakan itu karena Zhang Hou harus mendengarnya juga, jika ia memperingatkan Zhang Hou ia khawatir akan tersinggung jadi ia menegur Yuan.


" Kenapa? mereka perlu diberi pelajaran karena berani menginjakkan kaki ketanah kita."


" Karena senyum orang itu menakutkan." jawab Xuan, Yuan melongok mendengarnya.


" Alasan kakak tidak masuk akal, kulihat dia sangat ramah... bahkan kulihat ia lebih baik dari Zhang Hou dalam bersikap." Zhang Hou langsung menatap kesal pada Yuan.


" Apa maksudmu?" ucap Zhang Hou garang.


" Apa? kau ingin mengajakku bertarung lagi?" Yuan bersiap, Zhang Hou menjadi kesal, ia bersikap akan menyerang Yuan yang berniat Menarik pedang dari sarungnya.


" Kalau ingin bertarung, aku tau tempatnya." Xuan tersenyum, ia sudah berkeliling istana seharian jadi ia memikirkan suatu tempat yang bagus untuk melatih diri. Yuan dan Zhang Hou serempak menoleh Xuan.


" Ayo, sebentar lagi senja." Xuan berjalan dahulu, Yuan sedikit ragu karena tindakan Xuan yang tiba-tiba, Zhang Hou ikut juga akhirnya setelah melihat Yuan mengikuti Xuan.


Mereka pergi kesebuah hutan dibelakang istana, tempat tidak dijaga ketat, terdapat halaman luas dan gubuk yang hampir roboh, seperti seseorang pernah tinggal disana, halamannya indah walaupun sudah lama ditinggalkan, suasananya tenang dan setelah diteliti bahkan binatang buas tidak akan berani memasuki wilayah itu karena ada tanaman dan penghalang, Zhang Hou ikut takjub karena ia tidak pernah mengetahui ada tempat seperti ini dibelakang istana.


" Aku menemukan tadi, indah bukan?" Xuan tersenyum puas.

__ADS_1


" Aku tidak tau ada tempat seperti ini, tempat ini tidak mudah dijangkau dan diketahui karena sangat tersembunyi, siapa yang pernah tinggal ditempat ini? selain itu ini adalah tempat strategis untuk bersembunyi dan mudah menyusup keistana." Zhang Hou memerhatikan sekitar.


" Aku tidak tau, tetapi sepertinya tempat ini sudah lama ditinggalkan." balas Xuan, Yuan takjub karena tanaman bambu melingkari tempat itu, dan cocok untuk berlatih .


__ADS_2