
Surrrrr...
Yi Han perlahan membuka mata, bau busuk dan besi karat menyengat hidung, matanya samar-samar melihat sekitar, ia akhirnya sadarkan diri setelah disiram air dingin, rasa dingin mulai menjalar di seluruh tubuh, setelah beberapa saat akhirnya ia dapat melihat dengan jelas.
Seseorang dengan ember kosong ditanganya menatap dirinya.
" Sudah saatnya kau bangun." kata seseorang yang baru datang, Yi Han menyimpitkan mata mengenali pria yang baru saja datang itu.
" He Mingjue..." gumannya, bibirnya bergetar karena dingin yang menusuk kulit.
" Yi Han...hahahaha lama tidak bertemu..." tawanya memecah ruangan gelap yang hanya disinari beberapa cahaya dari lubang dinding yang rusak, perabotan bekas barang dan mesin tidak terpakai, dia yakin bahwa dia berada di gudang ruang bekas penggiling gandum.
" Kenapa kau menangkap ku?" tanya Yi Han, ia tidak tau kenapa dia tiba-tiba diculik, selama ini ia merasa tidak memiliki masalah apapun dengan klan He.
" Kau bertanya seolah kau tidak tau apa yang dilakukan bajingan Yuxian itu." ia mendengus, mengejek dan merendahkan Yi Han saat ia melihatnya.
" Pangeran?"
" Bawa dia." perintah He Mingjue, dua pengawal yang ia bawa segera menyeret Yi Han yang tangan dan kakinya terikat.
Saat keluar ruangan Yi Han melihat sekelilingnya, orang berlalu lalang tanpa mempedulikan dirinya yang sedari tadi berteriak meminta tolong
" Bahkan jika pita suaramu putus karena berteriak tidak akan ada yang menolongmu, karena ini adalah 'Liguai' hahaha...." ia tertawa senang melihat wajah cemas Yi Han.
Mereka menuju danau, diatas danau terdalam bangunan melingkar dari kayu dan ditengah bangunan itu terdapat banyak jebakan seperti kurungan ikan atau lebih tepatnya mengurung manusia dibawah air dan terdapat tali digantung menggunakan katrol. Yi Han melihat bahwa bangunan ini di buat untuk penyiksaan.
*****
Xiao Na setelah mendapat informasi ia segera meminta Song Lan dan Chen Feiyu untuk mencari informasi untuk mencari tahu tentang desa Liguai, ia sudah mengirim orang untuk menyelidiki desa Liguai.
Sudah dua hari sejak Yi Han hilang, Xiao Na dilanda sakit kepala karena belum juga mendapatkan informasi tentang Liguai, ia khawatir keadaan Yi Han, ia juga tidak tahu siapa yang sudah menculik Yi Han membuatnya semakin frustasi.
" Semakin lama kita menyelamatkannya semakin buruk keadaannya, kita tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan padanya." teriak Xiao Na memukul meja kerjanya, ia tidak dapat mengendalikan kemarahannya, beberapa anak buahnya yang berdiri didepannya menjadi pelampiasan kemarahan Xiao Na
__ADS_1
" Tenanglah, Yi Han pasti baik-baik saja..." kata Mo Nan menenangkan Xiao Na yang mengamuk pada anak buahnya yang tidak tau apapun.
" Bagaimana aku bisa tenang? aku tidak tau bagaimana keadaannya sekarang...ini membuatku gila." Xiao Na meramas rambutnya sendiri karena frustasi, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, ia tidak bisa menahan rasa khawatir di dadanya yang terasa sesak.
Mo Nan terdiam, hatinya merasa sakit saat melihat Xiao Na begitu frustasi, ia sebenarnya bisa menolong Yi Han tetapi itu akan membuatnya berhadapan dengan ayahnya sendiri, bukankah ia sedang dalam pelarian jika ia kembali maka harga dirinya akan diinjak oleh ayahnya, tetapi melihat Xiao Na menggila, frustasi, hatinya merasa lebih sakit daripada harus melihatnya seperti itu maka harga dirinya tidak ada apa-apanya.
" Xiao Na, aku pergi sebentar." ia lalu mengundurkan diri, ia berencana untuk pulang bertemu ayahnya.
tiga jam kemudian akhirnya Song Lan dan Chen Feiyu kembali, mereka berdua segera menemui Xiao Na.
" Bagaimana?" tanya Xiao Na tidak sabar saat melihat kedatangan Song Lan dan Chen Feiyu, mereka berdua duduk dihadapan Xiao Na. Feiyu menghela nafas lalu menggeleng kepala.
" Apa maksudnya?" Xiao Na tidak percaya tidak mendapatkan informasi apapun tentang Liguai, selama ini mereka tidak pernah gagal dalam mencari informasi.
" Tidak ada yang tau seperti apa desa Liguai, hanya orang-orang terlibat didalamnya saja, jika mereka tahupun mereka tidak akan membuka mulutnya." kata Song Lan, ia tau kecemasan Xiao Na tetapi ia memang tidak memiliki informasi apapun tentang desa Liguai, Xiao Na memukul meja karena kesal dan ia semakin frustasi.
" Tidak adakah satu keluarga dari kenalan kita yang terlibat dalam desa Liguai?" kata Xiao Na.
" Ada." jawab Feiyu, Xiao Na sontak menoleh padanya.
" Kepala Keluarga Mo, Mo Heng." jawab Song Lan, mendengarnya Xiao Na menjadi lesu.
" Itu tidak akan membantu." jawabnya, ia baru teringat Mo Nan saat mereka menyebut keluarga Mo.
" Mo Nan, kemana dia? apa dia belum kembali? ini sudah tiga sejak dia pergi." Xiao Na baru teringat dirinya, Xiao Na bertanya pada mereka yang berjaga dan mereka mengatakan bahwa Mo Nan belum kembali sejak tadi.
Xiao Na mengambil ponselnya lalu menekan nomor milik Mo Nan, hanya berdering tetapi tidak diangkat pemiliknya.
*****
Mo Nan berdiri didepan pintu pagar Mension mewah, tercetak tebal tulisan 'Keluarga Mo' pada dinding pagar Mension itu, ia tersadar saat ponselnya berdering dan nama Xiao Na tertera di ponselnya, ia mematikan ponselnya tanpa mengangkat panggilan itu.
Seorang penjaga segera membuka pagar saat melihat Mo Nan berdiri didepan, ia membungkuk memberi hormat padanya.
__ADS_1
" Tuan muda." sapanya, Mo Nan mengangguk lalu masuk, didepan pintu rumah seorang wanita seumurannya, dengan wajah khawatir ia mendekati Mo Nan saat melihatnya, tak lupa ia segera membungkuk memberi hormat.
" Tuan muda, kenapa anda kembali dengan cepat? kemarahan tuan besar belum reda." katanya khawatir, kekhawatirannya bukan dari luar tetapi dari dalam rumah ini, seseorang sudah menunggunya saat mendengar Mo Nan kembali.
" Lihua, kau tunggu disini." perintahnya.
" Tapi tuan muda..." Lihua ingin memprotes tetapi mendapat tatapan tajam darinya membuat wanita itu terdiam patuh.
" Baik." jawabnya lalu membuka pintu besar itu.
Mo Heng sudah berdiri diruang tamu membelakangi Mo Nan dengan cambuk pendek ditanganya, wajahnya keras dan menakutkan saat ia menatap Mo Nan dengan marah, tetapi mata Mo Nan setenang air tidak ada rasa takut ataupun rasa bersalah saat ia memandang ayahnya.
Ia berjalan perlahan mendekati ayahnya sambil melepaskan pakaian atasnya sehingga ia bertelanjang dada, dada yang bidang, otot yang terbentuk perut yang kotak-kotak dapat dikatakan Bahwa ia memiliki tubuh yang indah, wanita hamil tua yang berada tak jauh dari mereka duduk dengan khawatir melihat Mo Nan, Mo Nan lalu berlutut setengah berdiri membelakangi ayahnya tanpa disuruh ia sudah mempersilahkan ayahnya untuk menghukum dirinya.
Kenangan masa lalu kembali saat ibu kandungnya masih hidup dan ia baru berumur delapan tahun, wanita berwajah anggun sekaligus tegas menatap Mo Nan dengan sedih karena Mo Nan menolak belajar ia lebih suka bermain di kantor ayahnya melihat koleksi senjata ayahnya.
" Sudah berapa kali ibu katakan, Kau tidak boleh mengikuti jejak ayahmu, berjanjilah pada ibu, berjanjilah Mo Nan bahwa kau tidak boleh menjadi mafia, kau harus hidup dengan prinsip bahwa kau tidak akan melakukan kekerasan, kejahatan apalagi pembunuh pada orang tak bersalah." teriaknya marah, ia menghempaskan beberapa buku tebal dihadapan Mo Nan.
" Pelajaran semua buku ini, kau harus menjadi anak cerdas dan mencari jalan yang berbeda dari ayahmu, walaupun harus jalan yang sulit sekalipun kau tidak boleh menyerah, katakan bahwa ' Aku Mo Nan pria terhormat, tidak akan melakukan kejahatan, kekerasan ataupun pembunuh, aku tidak akan menapakkan kakiku dijalan ayahku ' katakan... ulangi apa yang ibu katakan."
Mo Nan menatap takut pada ibunya yang dikuasi kemarahan karena ia kabur keruang ayahnya tanpa belajar, ia menangis histeris tetapi ibunya seakan tidak perduli dengan tangisnya.
" Kau seorang pria, pantang bagi pria menangisi hal kecil, jadilah kuat anakku." Mo Nan semakin menjadi tangisnya, ia mengepalkan tangannya saat ibunya menggebrak meja.
" Aku membenci ibu... aku lebih suka pada ayah, aku benci ibu..." teriak Mo Nan lalu berlari keluar kamar, wanita itu tidak dapat menahan air matanya saat melihat putranya berlari meninggalkannya.
Setelah kejadian itu, keesokkan harinya ibunya memberi hadiah layang-layang, itu adalah hadiah pertama dari ibunya, karena masih kesal Mo Nan tidak tanggung-tanggung langsung merobek dan mematahkan layang-layang itu saat ibunya meninggalkan rumah dan itu juga menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Saat sore hari ia mendengar kabar bahwa ibunya kecelakaan dan meninggal dunia, hanya peti mati dan foto ibunya yang dikarang Bunga, ia menatap peti mati itu dengan diam, ia awalnya tak mengerti tetapi setelah beberapa saat ia mengerti apa yang terjadi, akhirnya Mo Nan menangis didepan peti mati mati.
" Aku berjanji, aku tidak akan mengikuti jejak ayahku, aku akan belajar seperti yang ibu inginkan, aku akan melakukan apapun yang ibu perintahkan, tapi kumohon... kumohon... kembali ibu... aku tau ibu marah padaku, aku tidak akan melakukannya lagi aku janji, kumohon..." ia menangis histeris tetapi nama yang ia panggil tidak akan kembali, walau bagaimanapun pun ia memohon ibunya tidak akan bangun lagi.
Setelah itu, setiap hari ia belajar tanpa henti bahkan buku yang ibunya berikan ia hafal diluar kepala, semua yang dulu ibunya ajari ia lakukan...setelah itu ia mendengar bahwa yang sudah mencelakai ibunya adalah musuh ayahnya, sejak itu ia membenci ayahnya sendiri ditambah ayahnya menikah kembali setelah ibunya meninggal.
__ADS_1
Cambukan demi cambukan mendarat punggungnya tetapi ia sama sekali tidak mengeluarkan suara, darah merebas keluar dari luka kulit yang sobek karena cambukan tetapi Mo Nan menahan sakitnya sendiri tidak akan sudi memohon ampun, kemesraan dan keharmonisan ia dan ayahnya didepan orang lain adalah topeng untuk menyelamatkan wajah keluarganya.