
Mo Nan sadarkan diri dua hari kemudian, rasa sakit menusuk dipunggungnya, LiHua selesai mengganti perban, ia dirawat dirumah, dokter baru saja pergi diantar pelayan, melihat Mo Nan sadarkan diri LiHua merasa lega.
Mo Nan berdiri melupakan rasa sakit dipunggungnya, ia melirik kejendela ternyata Masih pagi.
" Sudah berapa hari?"
" Dua hari tuan muda." jawab LiHua, melihat Mo Nan mencoba memakai pakaian LiHua ingin menghentikannya tetapi ia urungkan.
" LiHua, aku ingin kau mencari informasi seseorang untukku." katanya sambil memakai kemeja polos hitam untuk menutupi luka punggung yang diperban, LiHua menunggu perintah selanjutnya dari Mo Nan.
" Yi Han, aku ingin kau menggali informasi orang ini." ia lalu mengambil handphone yang berada diatas meja di samping ranjang tidur king size, terdapat belasan panggilan tak terjawab dari Xiao Na, ia tersenyum lalu membuka galeri handphonenya.
Ia menunjukkan foto Yi Han yang ia ambil diam-diam saat mereka Tinggal bersama, setelah melihat orang itu LiHua mengangguk.
" Saya akan segera memerintahkan orang untuk memeriksa orang ini." Mo Nan mengangguk.
" aku akan mengirimnya padamu." lalu melambaikan tangan untuk meminta LiHua keluar dari kamarnya.
Ia menekan nomor Xiao Na lalu terdengar deringan dari handphone Xiao Na.
" Mo Nan, kau kemana saja?" terdengar suara kesal Xiao Na dari handphone, terasa sesuatu sedikit mencubit hatinya, ia menyembunyikan rasa sakit, mencoba untuk biasa saja dihadapan Xiao Na.
" Aku baik-baik saja, memangnya siapa yang bisa menyakitiku, aku hanya dihukum dikurung dikamar dan baru sekarang aku dibebaskan, dan baru sekarang aku bisa menelpon mu karena handphoneku disita kemarin." jawabnya santai tetapi penuh kebohongan.
" Aku ada kabar baik untukmu."lanjutnya.
" Apa? cepat katakan karena aku hampir putus asa karena mencari Yi Han."
" Kabar ini tentang Yi Han, aku memiliki cincin yang dapat mengakses masuk desa Liguai."
" Benarkah? terdengar suara girang sekaligus terkejut dari seberang telepon.
" Mari bertemu 3 jam kemudian di Mensionmu."
" Baik." Mo Nan memutuskan panggilan, sekarang menurut jadwal harusnya ayahnya sedang pergi.
ia jadi dapat leluasa memasuki kantor milik ayahnya, ia memandang diluar jendela jendela, matanya terpaku pada sebuah bangunan kecil Pandora, ingatan masa lalu saat ibunya meninggal datang.
Anak kecil laki-laki berusia 8 tahun, ia tidak berhenti menangis menyesali perbuatannya, kini ia hanya bisa memandang peti mati yang dikerumuni banyak orang untuk memberi penghormatan, orang berlalu lalang kadang menghampiri dirinya hanya untuk menasehatinya.
__ADS_1
" Pasti berat bagimu, tapi kau masih memiliki ayah yang akan menjagamu."
" jangan menangis, kau harus menjadi anak yang kuat karena kau anak laki-laki yang akan meneruskan ayahmu."
" Kasian sekali, tenang saja semua akan baik-baik saja." itulah yang ia dengar setiap kali orang lain datang menyapanya, itu tidak membuat dirinya baik-baik saja.
dirinya baru saja kehilangan ibunya dan itulah adalah pukulan terbesar untuk anak seumur dirinya, ia tidak berhenti menangis dengan berjongkok menyembunyikan wajahnya dilutut, tiba-tiba seseorang anak perempuan datang mendekatinya dengan membawa sepiring kue.
Anak gadis itu menyodorkan kue itu padanya, anak laki-laki mengangkat kepalanya memandang gadis kecil itu
" Makanlah, menangis juga butuh tenaga setelah makan menangis lagi." jawabnya lalu ia duduk disebelah anak laki-laki itu.
" Namaku Xiao Na, dimasa depan semua orang akan tunduk di kakiku." katanya bangga, Mo Nan sianak kecil itu menatap lama Xiao Na lalu mengambil kue yang disodorkan padanya.
" Dimasa depan jika ada yang mengganggumu katakan padaku, kau bisa mengandalkanku." Mo Nan berhenti menangis mendengar keberanian gadis kecil itu.
" Aku laki-laki bagaimana mungkin aku berlindung pada seorang gadis?" gadis kecil itu tertawa.
" Karena aku akan menjadi yang terkuat, Xiao Na berdarah dingin." ia tersenyum licik, Mo Nan kagum karena anak kecil perempuan seperti itu sudah memiliki tujuan sedangkan dirinya hanya menangisi keadaan.
Tiba-tiba seseorang pria dewasa memanggilnya, Xiao Na melambaikan tangan padanya lalu pergi, ia lupa ia belum sempat menyebut namanya.
Sudah lama ia ingin bertemu gadis itu, saat bertemu Mo Nan tidak bisa untuk tidak menggodanya, ternyata Xiao Na tidak mengingat dirinya bahkan pada anak kecil laki-laki yang terpuruk karena kehilangan ibunya, lebih sakitnya ia sudah memiliki seseorang yang ia cintai.
Mo Nan memutuskan pertunangan karena tidak ingin mengikat Xiao Na juga tidak ingin menghalangi hubungan mereka, ia rela berkorban, apalah arti sebuah ikatan jika tidak ada perasaan didalamnya, kini ia bertekad akan mengejar Xiao Na jika suatu hari ia akan kalah itu sepadan paling tidak ia sudah mencoba yang terbaik.
Mo Nan memasuki kamar ayahnya tanpa sembunyi-sembunyi dan tidak ada yang akan menghalanginya, ia juga tidak menyembunyikan niatnya, setelah mendapatkan apa yang diinginkan ia segera meninggalkan ruangan, ia hafal semua tempat barang yang disimpan ayahnya karena dia adalah satu-satunya anak dalam rumah itu walaupun dia sebentar lagi memiliki saudara dari ibu tirinya.
Sesuatu waktu yang dijanjikan, ia dapat ke mension milik Xiao Na, saat datang Xiao Na sedang dalam perjalanan ke mension miliknya karena ia baru saja pulang dari menemui Xiao Hongli.
Mo Nan duduk menunggu, saat Xiao Na datang ia menepuk pundak Mo Nan, Karena lukanya masih sakit ia menahan sakitnya agar Xiao Na tidak mengetahui lukanya, ia tersenyum menahan sakit.
" Kau baik-baik saja?" seolah Xiao Na tau raut mukanya, ia mengangguk.
" Aku baik-baik saja, memangnya siapa yang bisa menyakitiku? aku adalah pewaris keluarga Mo, ayahku tidak akan menghukum berat diriku." Jawabnya bohong.
" Syukurlah, aku khawatir kau akan dihukum berat, paling tidak cambukan, apalagi kudengar keluargamu sangat disiplin." jawab Xiao Na lalu duduk, Mo Nan tersenyum kecut jika Xiao Na menebak benar, ia ikut duduk.
lalu menyerahkan sebuah cincin, cincin bermata besar dengan ukiran naga didalamnya.
__ADS_1
" Jika ke Liguai, kau hanya perlu menunjukkan tanganmu saat masuk kedalam gerbang masuk, tidak ada yang akan berani menyerangmu, satu hal kau harus memiliki tujuan datang kesana dan mengatakan bahwa kau mencari seseorang untuk melakukan bisnis, dan memperlihatkan barang untuk dijual, maka penjaga akan langsung memberitahukan keberadaan orang itu."
" Tapi jika aku ingin membunuh orang itu sebelum keluar dari desa Liguai, Apa tidak masalah?" Mo Nan tersenyum.
" Tidak masalah, karena kadang kesepakatan bisa batal, oh ya gunakan topeng untuk datang."
Xiao Na mengangguk, ia tersenyum pada Mo Nan.
" Terima kasih." Mo Nan mengangguk.
" Tapi aku tidak bisa ikut denganmu menyelamatkannya."
" Tidak masalah, kau sudah cukup membantu, setelah selesai aku akan mengembalikan cincin ini." Mo Nan mengangguk.
Setelah itu Mo Nan pulang, ia akan segera mendengar amukan ayahnya ketika pulang nanti, Xiao Na segera menyiapkan pasukan dengan bahan untuk umpan pergi kedesa Liguai.
Chen Feiyun dan song Lan sudah bersiap seperti yang diperintahkan Xiao Na, mereka juga sudah melihat Mo Nan jadi mereka tau tujuan Mo Nan datang menemui Xiao Na. Rencana akan dijalankan besok.
Tetapi apa yang ada dalam bayangannya berbeda dengan apa yang dihadapinya sekarang, Mo Nan sudah ditunggu ayahnya, melihat putranya kembali, terlihat garis-garis tua diwajahnya, merasa sangat lelah menghadapi Mo Nan tetapi ia tidak memiliki anak selain Mo Nan sedangkan anaknya yang lain belum lahir dan belum tentu cerdas seperti Mo Nan.
" Katakan padaku, kau berikan pada siapa cincin itu?" tanya ayahnya seperti meredam amarahnya.
" Aku meminjamkannya pada seorang teman."
" Kau fikir cincin itu untuk main-main? jika jatuh pada orang lain keluarga kita bisa dihancurkan..." teriak Ayahnya, Mo Nan hanya diam tidak menanggapi ayahnya, sampai akhirnya ia hanya menghela nafas.
" Bagaimana lukamu?" tanyanya, Mo Nan terkejut, ia menatap lama ayahnya seakan mencari celah bahwa ayahnya sedang bersandiwara.
" Baik, Kalau tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, aku pergi." jawab Mo Nan lalu pergi meninggalkan ayahnya.
Tiba-tiba seorang wanita hamil tua keluar dari persembunyian, ia menatap Mo Heng dengan kasih sayang, ya dia adalah istri muda ayahnya.
" Bersikaplah lebih sabar pada Mo Nan, tadi sudah lebih baik, lain kali jangan berteriak padanya atau aku tidak akan memaafkanmu, Mo Nan adalah putraku walaupun dia tidak pernah memanggilku ibu." jawab Luo Shuohua.
Mo Heng hanya tersenyum kecil lalu menggandeng istrinya.
" Aku semakin tua, setelah putramu lahir dia akan seperti Mo Nan."
" Tidak, Mo Nan lebih baik darinya nanti, selamanya dia hanya akan menjadi adik bukan menjadi saingan Mo Nan." jawabnya mengelus perut besarnya, Mo Heng hanya tersenyum.
__ADS_1