
Pagi ini terjadi pertemuan Kembali untuk membahas tentang Jiang, Zhang Han mengumpulkan semua para menteri, walaupun masih belum ada perkembangan, bahkan Zhang Han benar-benar tidak mendapatkan informasi apapun, entah karena informannya tidak becus atau karena sesuatu yang menghalangi mereka mencari informasi.
Perdebatan demi perdebatan terjadi, sampai seseorang pelayan meminta izin untuk bertemu Zhang Han, Zhang Han heran jadi ia mempersilakan pelayan itu masuk, pelayan itu duduk bersujud memberi hormat, kemudian ia duduk berlipat kaki.
" Ada apa?" tanya Zhang Han, wajah pelayan itu sangat sedih, terlihat dari matanya yang habis menangis.
" Yang mulia, hamba ingin memberikan sebuah surat yang ditinggalkan nona Lu Xiang." ia lalu mengeluarkan sebuah surat dari balik jubahnya, Wei Chan lalu mendekati pelayan itu untuk mengambil suratnya, lalu menyerahkan surat itu pada Zhang Han.
" Surat cerai..." Zhang Han sedikit terkejut bahwa surat itu adalah surat cerai, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Lu Xiang meminta cerai adalah berita yang membuat mereka yang berada dalam ruangan pertemuan terkejut, Zhang Han lalu menoleh pelayan itu.
" Nona sudah pergi meninggalkan istana, ia hanya mengizinkan diriku memberikannya pada yang mulia sehari setelah ia pergi." jelas pelayan itu.
" Tiba-tiba seperti ini? tapi kenapa?" para menteri sudah kasak kusuk berbisik bergosip diantara mereka tentang Lu Xiang.
" Ha... pantas saja kemarin ia tampak tergesa-gesa keluar istana, ternyata ia ingin melarikan diri." celetuk seorang menteri, seketika semua orang menoleh pada menteri itu, ia lalu menoleh pada Zhang Han kemudian memberi hormat.
" Kemarin saya memang melihat selir Lu Xiang keluar istana seorang diri, ia memakai jubah tebal, saya hanya berfikir mungkin ia ingin berjalan-jalan keluar istana, saya tidak menyangka bahwa ia pergi melarikan diri." jelas menteri itu.
" Aneh, mengapa tiba-tiba seperti ini? ia bukan orang yang gegabah dalam bertindak, meminta cerai! apa tujuannya?" batin Zhang Han.
Zhang Han melirik Wei Chan dan Lan Huan yang bediri disampingnya, ia lalu melihat semua orang. " Bagaimana menurut kalian, ini berhubungan dengan kas negara, seperti semua orang tau, keluarga Lu adalah salah satu penopang kas negara." tanya Zhang Han pada semua orang.
Semua menteri saling menoleh tidak tau harus mengatakan apa." Baiklah,aku putuskan untuk menceraikannya." Zhang Han lalu memerintahkan seseorang membawa stempel kerajaan.
" Dia sudah meninggalkan istana tanpa izin, secara terang-terangan meminta cerai, dan tidak ada yang tau keberadaannya." Zhang Han menunggu reaksi para menterinya.
" Soal selir Lu Xiang ia cepat memutuskannya, giliran selir Jiang, sudah lebih dari dua bulan tak jelas keputusan apa yang diterapkan, ah..." komentar seorang menteri berbicara pelan pada dirinya sendiri tetapi dapat didengar oleh seseorang disebelahnya.
" Diamlah, kau ingin kepalamu dipenggal ha, mengatakan hal tidak baik didepan kaisar." jawab seseorang di sebelahnya, orang itu jadi terdiam.
__ADS_1
Bai Qian yang menghadiri rapat itu tersenyum dibalik tirai saat Zhang Han menberi cap menerima perceraian Lu Xiang.
" Aku sangat mengenal tulisan Lu Xiang, dan juga sampaikan utusan pada keluarga Lu tentang berita ini." Ucap Zhang Han lalu memberikan surat itu pada Wei Chan agar dikirimkan kepada keluarga Lu.
Bai Qian segera keluar tirai, ia kemudian memberi hormat. " Yang mulia." Zhang Han menoleh.
" Izinkan saya yang mengantar surat itu pada keluarga Lu, kami berteman baik." Zhang Han sempat berfikir lalu kemudian memberikan pada Wei Chan agar surat itu diberikan pada Bai Qian.
" Dengan menceraikan Lu Xiang, meringkusnya akan lebih mudah tanpa memandang keluarga Lu, tetapi apa tujuannya meminta cerai? ini seperti teka-teki." Batin Zhang Han.
Bai Qian kemudian kembali ketempat duduknya dengan senyum bahagia yang luar biasa. setelah membahas banyak hal, Zhang Han membubarkan mereka.
" Apakah benar-benar tidak ada informasi tentang Jiang?" tanya Zhang Han pada Wei Chan, Lan Huan, dan Zhao An, mereka mengikuti Zhang Han kembali kekekediaman Zhang Han. Memang kini Zhao An terus mengikuti Zhang Han karena perintah Zhang Han, kini ia bahkan menjadi bawahan Zhang Han, tetapi ia tidak pernah membuka mulutnya tentang rahasia Jiang, lagipula ia juga tidak terlalu tau rencana Jiang.
Wei Chan dan Lan Huan menggeleng, Zhang Han lalu menoleh pada Zhao An. " Aku juga tidak tau keberadaannya yang mulia, aku hanya bertemu dia sekali saja." jawab Zhao An keceplosan saat Zhang Han terus memandangi dirinya.
" Zhao An..." Panggil Lembut Zhang Han, " Apa perlu aku menggunakan kekerasan untuk memaksamu membuka mulut?" Zhao An dengan cepat menggelengkan kepala, Wei Chan dan Lan Huan tersenyum, melihat kedua orang itu, Zhao An merasa dalam bahaya.
" Apa yang ingin kalian lakukan?..." Zhao An merasa terancam, dengan cepat Wei Chan dan Lan Huan memegangi dirinya dikiri dan kanan.
" Lepaskan aku, percuma kalian memaksa atau menyiksaku, aku tidak akan membuka mulutku, tidak akan pernah... walaupun dewa sendiri turun kebumi untuk memintaku, aku tidak akan membuka mulutku." Zhao An menelan ludah, walaupun ia mengatakan itu tetapi dirinya sudah berkeringat dingin.
" Tidak perlu dewa turun tangan, aku bisa memaksamu." Zhang Han tersenyum penuh makna.
" Yang mulia...anda pernah berjanji pada Selir Jiang, tidak akan menyakitiku, kenapa sekarang anda berubah fikiran." Zhao An bergelidik ngeri.
" Ah... kenapa kau bawa-bawa namanya, dia tidak akan tau, lagipula dia tidak ada disini." Zhang Han tersenyum. ia lalu berjalan menuju ruangan mereka.
" Tidak..." Zhao An mencoba membebaskan diri dari Wei Chan dan Lan Huan tetapi sia-sia. Zhao An Dikat dikursi dengan erat, kakinya juga diikat dan diletakan diatas meja, dia tidak bisa bergerak
__ADS_1
" Apa yang ingin anda lakukan yang mulia?" Zhao An merasa khawatir.
" Ah..." Zhang Han tersenyum lalu mengeluarkan sebuah bulu halus dari balik jubahnya dengan senyum bangga, melihat bulu itu Zhao An sangat ketakutan.
" Yang mulia...anda sedang tidak bercanda bukan?..." Zhao An memelas.
" Kalau begitu, jawab semua pertanyaan yang aku ajukan." Zhao An menggelengkan kepala.
" Keras kepala..." Zhang Han kemudian berjongkok lalu membelaikan bulu halus itu dikaki Zhao An.
" Aha...aha...ahaha....geli sekali...." Zhao An merasa sangat geli. " Hentikan ku mohon...ahaha...ahaha....ahaha...." Zhao An terus tertawa karena sangat menggelitik dikakinya. Zhao An terus berteriak dan tertawa, bahkan sudut matanya mengeluarkan air mata karena terlalu banyak tertawa, Wei Chan dan Lan Huan menahan tawa melihat Zhao An disiksa seperti itu.
" Kapan kau bertemu dengannya?" tanya Zhang Han sambil menggelitik kaki Zhao An.
" Ahaha....ahahahahaha...sewaktu kematian ibu suri...." jawabnya sambil tertawa, Zhao An merasa sangat tersiksa karena geli, Zhang Han berhenti.
" Berarti ia datang saat pemakaman ibu suri?" Zhao An mengangguk sambil menangis, ia tidak bisa menahan rasa geli itu.
" Selain kau, siapa lagi yang bertemu dengannya? dan dengan siapa dia kemari?" Zhao An menggelengkan kepala sambil mengatupkan mulutnya.
" Tidak mau bicara ya..." Zhang kembali menggelitiknya, Zhao An kembali tertawa dan berteriak.
" Selir Lu Xiang....ahaha.....ahaha..... ahahahahaha..dia bertemu dengannya." Jawab Zhao An terengah-engah, dia kehabisan nafas karena sedari tadi berteriak dan tertawa seperti orang gila.
" Lalu?"
" Aku tidak tau siapa pria yang bersama dirinya, dari bentuk tubuhnya seperti pangeran Bai Yunfei, tetapi wajahnya bukan." Zhao An kini menyerah, ia tidak bisa menahan rasa geli lagi, Zhang Han tampak berfikir.
" Bai Yunfei..." guman Zhang Han, ia lalu berdiri, kemudian menyuruh Lan Huan melepaskan Zhao An. tetapi tidak ada yang tau apa yang sedang Zhang Han fikirkan.
__ADS_1