
Ling Long memandang bulan, ia mendengar langkah kaki seseorang mendekatinya, saat ia berbalik badan ia segera memberi hormat karena yang datang adalah Ying Zheng.
" Yang mulia." Ling Long memberi hormat.
" Kenapa kau disini seorang diri?"
" Hanya ingin memandang bulan yang mulia."
" Jika kau merindukannya, kau bisa pergi menemuinya." Ying Zheng merujuk pada Seseorang, Ling Long tersenyum.
" Saya memang merindukannya, hanya saja ia berada di negeri yang jauh, tidak dapat bertemu dan bersama." ia tersenyum pahit.
" Ling Long, kau sudah cukup mengikuti diriku, kau bisa membebaskan diri.
" Yang mulia, hidupku adalah milik anda, dan sampai mati aku tetap akan mengikuti anda, aku dan Wei Chan mungkin tidak ditakdirkan hidup bersama, karena ini adalah pilihan yang kami ambil saat kami memutuskan untuk berpisah." Ling Long menahan kesedihannya mengingat masa lalu bersama Wei Chan, Ying Zheng mengetahui hal itu jadi ia tidak akan membahas lebih jauh.
" Aku tau, tidak ada pria yang lebih baik dimatamu selain Wei Chan, beristirahatlah lebih awal." Ying Zheng menepuk pelan pundak Ling Long kemudian pergi.
" Dia tidak dapat meninggalkan Yang mulia Zhang Han, aku juga tidak dapat meninggalkan yang mulia Ying Zheng, mungkin kita ditakdirkan hanya untuk bertemu bukan bersatu, semoga pilihan yang kita ambil tidak disesali seumur hidup, walaupun ada penyesalan itu tidak akan mengubah apapun." gumannya memandang bulan sejenak kemudian masuk kedalam.
*****
Lan Huan sedang berganti pakaian, tiba-tiba bayangan seseorang lewat didepan pintu kamarnya.
" Siapa?" Lan Huan melihat bayangan itu berhenti tepat didepan kamarnya, saat ditanya bayangan itu pergi, Lan Huan segera mengejarnya.
Seseorang memakai jubah bertudung dan memakai topeng berlari dikejar Lan Huan, Anehnya penjaga tidak ada dan orang yang memakai tudung itu berhenti dihalaman kediaman Lan Huan.
" Siapa kau?"tanya Lan Huan.
orang itu berbalik, ia menyeringai dibalik topengnya.
" Aku tanya siapa kau?" teriaknya marah.Karena marah Lan Huan mencabut pedang dari sarungnya kemudian menyerang orang itu.
Beladiri orang yang memakai jibah itu cukup kuat, Lan Huan tidak dapat mengalahkannya apalagi membuatnya terdesak.
" Siapa kau? dan apa maumu?" Tanya Lan Huan saat mereka memiliki jarak tarung.
" Tidak penting siapa aku, yang terpenting sekarang aku ingin kau melakukan sesuatu untukku." Mendengarnya Lan Huan terkekeh geli.
" Apa aku tidak salah mendengar?...kau benar-benar..."
__ADS_1
Tiba-tiba dua orang berbaju hitam datang dengan membawa seorang gadis yang mulutnya disumpal dan matanya ditutup. melihat wanita yang mereka ikat dengan matanya tertutup dan meyumpal mulutnya membuat Lan Huan terkejut.
" Wei Yanli..." gumannya, ia lalu menatap pria bertopeng itu dengan Kemarahan.
" Kau..." tunjuknya. " Lepaskan dia..." teriak Lan Huan marah.
" Sudah aku katakan, lakukan sesuatu untukku." Lan Huan mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih, terlihat Wei Yanli mencoba menangkap banyak suara.
" Bawa dia pergi." kedua pengawal itu segera membawa Wei Yanli pergi, Lan Huan ingin mengejarnya tetapi segera dihadang Pria bertopeng itu, Lan Huan terpukul mundur.
" Kemarahan tidak akan membuatmu hebat Lan Huan, kau perlu bersabar sedikit atau kau akan menyesal." pria bertopeng itu tersenyum licik.
" Apa yang kau inginkan dariku?"
" ternyata kau orang yang cepat berubah fikiran? kupikir akan sulit membuatmu tunduk, ternyata kau tidak sesulit yang kupikirkan."
" Jangan banyak bicara, aku bukan orang yang mempunyai kesabaran."
" Aku ingin kau membunuh Jiang Huan pada saat pengepungan nanti." Mata Lan Huan melebar mendengarnya.
" Kau?... mengetahui rencana kami?"
" Itu tidak penting, yang terpenting kau melaksanakan tugas itu." Pria bertopeng itu lalu melemparkan sebuah kotak kecil persegi panjang pada Lan Huan, Lan Huan langsung menangkap kotak itu.
" Kau ..." Teriak kemarahan Lan Huan, ia menggenggam erat pedang itu hingga bergetar, ia dipenuhi kemarahan sekaligus rasa sesal.
" Itu hanya jarinya, lain kali aku akan mengirimkan kepalanya, jika kau berani mengkhianati diriku maka akan kupastikan kepalanya yang akan datang padamu, nyawanya tergantung seberapa sukses kau melakukan tugasmu." Pria bertopeng itu kemudian pergi ditelan kegelapan malam.
Lan Huan membanting pedangnya, ia menggenggam erat kotak itu sambil memandang jari telunjuk didalam kotak itu, tanpa ia sadari air matanya jatuh dari pelupuk matanya.
" Wei Yanli..." akhirnya tangisnya tak bisa ia tahan, ia langsung jatuh berlutut.
" Maafkan aku..." isaknya, Tiba-tiba seseorang datang dengan tergesa-gesa kearah Lan Huan.
" Lan Huan, ada apa?" tanya orang itu khawatir tak lain adalah Wei Chan.
" Lan Huan..." Panggil nya lagi, Wei Chan melihat jadi didalam kotak itu.
" Jari siapa ini?" tanyanya lagi, tetapi Lan Huan hanya terisak saja sambil menggenggam kotak kayu itu.
" Berhenti menangis, ada apa?" tanya Wei Chan semakin khawatir.
__ADS_1
" Ayo kita pergi dari sini." Wei Chan membantu Lan Huan berdiri kemudian masuk kedalam kediaman.
" Ada apa kau mencariku?" tanya Lan Huan saat mereka berdua sudah didalam kediaman, Lan Huan sudah tenang.
" Kau kenapa? apa yang terjadi?"
" Tidak ada "
" Katakan." paksa Wei Chan.
" Jari itu palsu, tetapi kau menangis seperti kehilangan hidupmu saja." sindir Wei Chan.
" Agar terlihat nyata."
" Dia?" Lan Huan mengangguk.
" Yanli berada ditangannya."
" Apa?" Wei Chan terkejut.
" Dia memintaku untuk membunuh selir Jiang nanti."
" Jadi apa rencanamu?"
" Aku tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keinginannya." Wei Chan Langsung menarik kerah baju Lan Huan.
" Kau sudah gila?" Wei Chan menjadi marah.
" Aku tidak bisa kehilangan Yanli." Lan Huan menyentak tangan Wie Chan agar melepaskan kerah bajunya.
" Pengorbanan harus dilakukan Lan Huan." Lan Huan menjadi marah saat mendengarnya.
" Pengorbanan? kau ingin mengorbankan adikmu sendiri? kau yang sudah gila." teriak Lan Huan marah.
" Yang mulia tidak akan mengampuni dirimu dan Yanli..."
" Apakah pengorbanan seumur hidupku ini tidak bisa sebanding dengan nyawa Yanli, aku bisa kehilangan segalanya tetapi tidak dengan Yanli."
" Lan Huan...sadarlah." teriak Wei Chan.
" Kalau kau tidak ingin menyelamatkan Yanli, paling tidak jangan halangi aku... keluar dari kediamanku." Lan Huan menarik paksa keluar Wei Chan dari kamarnya.
__ADS_1
" Lan Huan, jangan lakukan hal bodoh." teriak Wei Chan, sejenak ia memandang pintu yang tertutup itu sampai akhirnya ia pergi meninggalkan kediaman Lan Huan tetapi sudut bibir Wei Chan melengkung berbentuk bulan sabit. pandangannya jatuh pada sesuatu yang tidak tampak dikegelapan malam.
" Permainan semakin seru." Guman Lan Huan tersenyum lalu membanting kotak kayu itu.