Berinkarnasi

Berinkarnasi
Belenggu hati


__ADS_3

Yi Han demam tinggi sehari setelah penyelamatan itu, Xiao Na mengompres kepala Yi Han, pria itu bersikeras tidak ingin kerumah sakit, alhasil Xiao Na harus sibuk mengurusnya, ditengah malam ia terbangun karena Yi Han terus mengigau tentang orang tuanya.


" Ayah, ibu.. jangan tinggalkan kami..." rintihan tangis Yi Han yang mengigau karena demam, Xiao Na menggenggam tangan pria itu yang tertidur itu.


" Aku tidak akan meninggalkanmu, aku disini." Xiao Na mencium tangannya penuh kesedihan.


Keesokan harinya, Yi Han terkejut melihat Xiao Na tertidur disampingnya dengan posisi duduk bersandar yang menggenggam tangannya, ia menyentuh kepalanya dengan tangan lainnya karena kain Kompress sudah kering, genggaman itu enggan ia lepaskan.


Xiao Na terbangun karena gerakan kecil pada tangannya, Yi Han dengan cepat menutup matanya kembali untuk pura-pura tidur, Xiao Na melepaskan tangannya lalu memeriksa kain Kompress yang kering lalu memeriksa suhu tubuh Yi Han.


" Panasnya sudah turun." ia menghela nafas lelah, ia belum beristirahat beberapa hari ini, ia lalu berbaring disamping Yi Han kemudian memeluk pria itu.


Yi Han terperanjat terkejut, Xiao Na tau Yi Han pura-pura tidur jadi sekalian saja ia ikuti mau pria itu, Yi Han membuka matanya tersenyum, ia melirik Xiao Na yang sudah memejamkan matanya, ia mengangkat tangan Xiao Na yang memeluknya, tetapi pelukan itu semakin erat.


" Biarkan aku tidur, aku belum tidur beberapa hari ini." katanya tanpa membuka mata.


Yi Han membalas pelukan itu, Xiao Na tersenyum dan ia benar-benar terlelap, Yi Huang tiba-tiba masuk dan ingin berteriak memanggil kakaknya tetapi melihat adegan itu ia menutup mulutnya dan keluar kamar hati-hati dan menutup pintunya pelan.


" Kak Han sama kak Xiao Na, mereka...?" fikiran Yi Huang berkelana, remaja itu tertawa sendiri menutup mulutnya.


" Hahahaha, pantang mundur sebelum dapat..." Ia kegirangan sendiri lalu kembali ke kamarnya.


Saat Xiao Na datang membawa Yi Han kerumah ia terkejut karena Yi Han tidak pulang beberapa hari, untung Xiao Na mengatakan bahwa Yi Han pergi liburan dan tidak sempat memberitahu pada Yi Huang sehingga ia tidak khawatir. Saat melihat kondisi kakaknya Xiao Na mengatakan bahwa Yi Han terlalu lelah jadi ia harus beristirahat, Yi Huang tau jika ada Xiao Na disamping kakaknya maka tidak ada yang perlu ia khawatirkan.


malam hari Xiao Na terbangun, ia melihat Yi Han sudah tidak ada disampingnya, matanya mencari sekitar, tiba-tiba pintu kamar terbuka, Yi Han berdiri didepan pintu.


" Sudah bangun? ayo makan malam..." Xiao Na tersenyum lalu mengangguk.

__ADS_1


Ia mencuci wajahnya, lalu memandang wajahnya di cermin lalu menghela nafas.


Ia turun lalu menemui Yi Han dan Yi Huang yang menunggu dimeja makan, mereka makan bersama.


setelah makan Yi Han mengemaskan semua peralatan makan, Xiao Na dan Yi Huang menonton tv bersama, setelan lama Xiao Na tidak melihat Yi Han, Yi Huang juga tertidur di sofa, ia pergi ke dapur tetapi tidak melihat pria itu, ia bermain ponsel tadi jadi ia tidak melihat Yi Han berkeliaran.


Yi Han berdiri di balkon lantai dua mengarah kelaut, matanya dalam , fikirannya jauh kedepan, dia berdiri dengan satu tangan disaku memandang deru ombak yang menabrak tebing, deru angin sejuk menggigit kulit tetapi sama sekali tidak ia perdulikan.


" Orang yang membunuh orang tuaku, kebencian ini tidak akan bisa didamaikan." gumamnya pelan, tiba-tiba seseorang memakaikan jaket tebal pada pundaknya.


" Anginnya sejuk, kau baru pulih." ucapnya lalu berdiri menghadap Yi Han merapatkan jaketnya.


" Dan kau satu-satunya yang membuatku ragu untuk melangkah." batinnya memandang Xiao Na yang berdiri didepannya dengan senyum hangat.


Xiao Na hanya memakai pakaian piyama tanpa jaket, Yi Han tersenyum membaca otak licik Xiao Na. Xiao Na berpura-pura mengelus kedua lengannya karena dingin.


" Kemarilah..." Yi Han membentangkan jaketnya, Xiao Na tersenyum lalu memeluk pria itu, Yi Han memeluk Xiao Na dari belakang sehingga mereka berdua sama-sama memandang indah malam yang ditaburi bintang dan ditemani ombak laut.


" Rumah ini adalah peninggalan orang tuaku, kata ayah, ibu menyukai laut jadi ia membangun rumah dekat laut agar ibu selalu bahagia..." jawabnya, kenangan masa lalu terlintas dikepalanya, keluarga yang harmonis dan bahagia yang dulu ia rasakan.


" Maaf."


" Tidak masalah, itu hanya masa lalu, orang tua kami sudah lama tiada."


Xiao Na menelan ludah, ia mengepalkan tangannya karena merasa bersalah, ia kira rumah ini adalah rumah persembunyian karena jauh dari pemukiman dan juga tidak ada foto keluarga mereka kecuali foto dirinya dan adiknya saja, ternyata adalah rumah peninggalan yang hanya mengingatkan Yi Han pada rasa sakitnya.


" Boleh aku bertanya?" Xiao Na tidak memiliki keberanian untuk melihat Wajah Yi Han, jadi ia hanya akan bertanya dengan memandang laut.

__ADS_1


" Katakan."


" Jika suatu hari..." Xiao Na menarik nafas yang dalam lalu berbalik menghadap Yi Han. " Menikahlah denganku..." Ia mengalihkan pembicaraan ia tidak bisa mengatakan yang sejujurnya, Jika Yi Han tau bahwa Xiao Na sudah mengetahui identitas Yi Han, tidak akan bisa dibayangkan apa yang akan terjadi, masa depan sulit ditebak.


" Tidak..." jawab Yi Han, Xiao Na memandang mata hitam pekat itu, pandangan mendominasi pada Xiao Na membuat pemilik mata hitam pekat itu berkedip.


" Karena harusnya aku yang mengatakan itu, maukah kau menikah denganku?" Xiao Na terdiam, ia sebenarnya tadi mengatakan asal tetapi ia tidak menduga bahwa Yi Han akan mengambil langkah secepat ini.


" Aku tau apa yang kau rencanakan, ternyata kau tidak sabar." batin Xiao Na memandang mata pria itu.


" Tentu saja." Yi Han tersenyum lalu mencium bibir Xiao Na.


" Aku sudah menunggu ini untuk waktu yang lama." katanya lalu kembali mencium Xiao Na, Xiao Na tersenyum lalu membalas ciuman itu.


" Rencana ini tidak akan pernah aku biarkan berhasil, Yi Han dari dulu hingga kini aku tidak akan pernah membiarkan semua berjalan sesuai rencanamu." batin Xiao Na.


" Ayo masuk, anginnya sangat sejuk." kata Xiao Na karena mereka terlalu lama berdiri disana, Yi Han mengangguk lalu mereka berpegang tangan dan masuk bersama.


" Xiao Na..." panggil Yi Han, Xiao Na lalu menoleh.


" Aku tergoda pada seorang wanita heroik bernama Xiao Na, dalam hidupku kau satu-satunya pemilik hatiku, aku berjanji hanya kau...tetapi aku memiliki tanggung jawab lain, kau harus mengingat kata-kata ini..." Xiao Na terdiam sesaat lalu mengangguk.


" Aku akan mengingatnya." Ia lalu menarik tangan Yi Han untuk masuk kedalam rumah.


" Orang yang membunuh orang tuaku, kebencian ini tidak akan bisa didamaikan...


Aku tergoda pada seorang wanita heroik bernama Xiao Na, dalam hidupku kau satu-satunya pemilik hatiku, aku berjanji hanya kau...tetapi aku memiliki tanggung jawab lain, kau harus mengingat kata-kata ini..." kata-kata ini berputar dikepala Xiao Na.

__ADS_1


" Yang satu adalah sumpah dan satu adalah janji...ini kutukan atau berkah? takdir apa yang terjalin antara kita? Yi Han, Jika kau bertanya apa yang aku inginkan? ketenaran? tidak juga, kekuasaan? tidak juga, hanya kau... Yi Han...hanya saja kebencian itu sudah membelenggu hatimu, suatu hari jika kau dihadapan pada pilihan antara dendam dan diriku? kuharap kau akan memilihku, kau akan menyesalinya seumur hidup jika tidak!." batin Xiao Na.


Setelah itu mereka kekamar masing-masing, setelah Yi Han membangunkan Yi Huang untuk tidur di kamarnya.


__ADS_2