
" Jiang, kau baik-baik saja?" tanya Zhang Han khawatir,
" Aku baik-baik saja." jawab Jiang.
" Biar aku lihat lukamu." ucap Ying Zheng, Ia lalu ingin melihat luka Jiang tetapi segera singkirkan oleh Zhang Han.
" Apa urusanmu, dia istriku, jangan mencoba menyentuh Jiang barang sedikitpun" ucap Zhang Han marah. Ying Zheng langsung menoleh pada Zhang Han.
" Istri? sejak kapan kau menganggap Jiang istri, kau tidak pernah peduli padanya bahkan saat ia hampir kehilangan nyawanya." Jawab Ying Zheng marah.
" Itu bukan urusanmu, pergi sana." usir Zhang Han.
" Kau saja yang pergi." jawab Ying Zheng. Zhang Han ingin melihat luka Jiang tetapi ditarik Ying Zheng.
" Aku dulu yang mengatakannya." ucap Ying Zheng, mereka berebut ingin melihat luka Jiang lebih dulu, mereka tampak seperti anak kecil memperebutkan satu mainan.
" minggir kau." usir Zhang Han, Ying Zheng tak mau kalah, mereka saling menyenggol, Jiang yang memperhatikan mereka menjadi kesal, sudah sakit tambah sakit melihat tingkah mereka.
" Hentikan." teriak Jiang, mereka langsung menoleh pada Jiang yang berteriak.
" Lebih baik kalin mencari tanaman obat untukku daripada berkelahi disini." ucap Jiang kesal.
" Aku membawa obat untuk luka seperti itu, sini biar aku oleskan lukamu." ucap Ying Zheng lalu mengeluarkan obatnya. baru ia ingin membuka tutup botol kecil obat itu Zhang Han langsung merebut obat itu dari tangan Ying Zheng.
" Biar aku saja." Ucap Zhang Han.Ying Zheng menjadi geram melihat Zhang Han.
" Kembalikan obatku." pinta Ying Zheng yang terlihat kesal.
__ADS_1
" Aku mengatakan biar aku yang mengoleskan obat ini." jawab Zhang Han.
" Bagaimana bisa kau tidak tau malu seperti ini? cepat kembalikan." Ying Zheng mengulurkan tangannya meminta obat itu dari tangan Zhang Han.
" Tidak." Jawab Zhang Han. mereka jadi berebut obat lagi, mereka saling merangkul demi obat itu, Yuwen Xue melonggo melihat mereka berdua seperti itu, lagi-lagi Jiang dibuatnya kesal melihat tingkah mereka yang tidak mau mengalah.
" Sudah cukup." teriak Jiang, mereka berhenti lalu menatap pada Jiang.
" Bawa kemari obatnya, biar aku olesi sendiri." jawab Jiang kesal, sampai pagi juga mereka tidak akan berhenti berkelahi, kapan mau istirahat jika menunggu mereka berkelahi.
Zhang Han memberikan obat itu pada Jiang, Mereka berdua hanya menonton melihat Jiang yang mengoleskan obat pada lukanya, Jiang yang terluka mereka berdua melihat Jiang mengoleskan obat, mereka meringgis kesakitan seolah mereka yang terluka.
" Apakah sakit Jiang?" tanya Ying Zheng, ia mengetahui Jiang orang sangat lemah lembut tapi saat melihat Jiang bertarung tadi ia yakin apa yang ia dengar karena ia mendengar kabar bahwa begitu Jiang bangkit dari kematian, ia sudah berbeda selain ingatannya hilang, sifat nya juga berbeda.
" Tidak." jawab Jiang, pertanyaan bodoh yang ditanyakan Ying Zheng membuat Jiang sedikit kesal.
" Sini, biar aku saja yang mengikatnya." kata Ying Zheng, Jiang ingin memberikannya tetapi tertahan saat Zhang Han juga meminta hal yang sama.
" Biar aku saja Jiang." ucap Zhang Han, Jika Jiang memberikan salah satunya pasti akan bertengkar lagi, ia melihat Yuwen Xue yang duduk tak jauh dari mereka bertiga, ia sudah menyalakan api unggun yang sempat mati karena bertarung tadi, Yuwen Xue memanggang daging persediaan makanan yang ia bawa sebagai bekal untuk tuannya. ia memanggang 4 potong karena daging yang Zhang Han masak tadi sudah kotor. mereka juga belum makan malam.
" Yuwen Xue." panggil Jiang, pria itu menoleh. Zhang Han dan Ying Zheng heran mengapa Jiang memanggil Yuwen Xue.
" Kenapa kau memanggilnya? biarkan ia menyelesaikan memanggang daging dulu." kata Ying Zheng. Yuwen Xue lalu menghampiri mereka bertiga, ia memberi hormat pada mereka bertiga.
" Kalian berdua, panggang daging itu untuk makan malam." perintah Jiang, mereka berdua saling menoleh.
" Aku." ucap mereka berdua serempak sambil menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
" Iya, kalian berdua." jawab Jiang tegas.
Mereka berdua tidak bisa menolak permintaan Jiang, dengan berat hati mereka mendekati api unggun untuk memanggang daging.
" Duduklah, ikatkan lukaku." kata Jiang menepuk tempat sebelahnya lalu memberikan kain itu pada Yuwen Xue. Yuwen Xue mengambil kain itu lalu duduk disebelah Jiang, begitu selesai ia mengikat luka Jiang, ia sempat menoleh Zhang Han dan Ying Zheng. Yuwen Xue menelan ludah sekaligus merinding melihat tatapan tajam kedua orang itu padanya. Yuwen Xue menyentuh lehernya seperti takut akan lehernya sebentar lagi di penggal.
" Yuwen Xue, kalian berasal dari mana?" tanya Jiang, Yuwen Xue mengerti Jiang kehilangan ingatan jadi ia tidak terkejut akan pertanyaan itu.
" Jin Timur, Yang mulia Ying Zheng datang kemari karena seorang teman memerlukan bantuan." jawab Yuwen Xue.
" Siapa? sehingga membuat kalian datang kemari dari negeri yang lumayan jauh." tanya Jiang penasaran.
" Bai Yunfei." Jiang terkejut mendengarnya.
" Kabar tentang Bai Yunfei bisa sampai pada negeri kalian? bagaimana mungkin bahkan seluruh warga dikerajaan Qing belum tentu mengetahuinya." tanya Jiang terkejut, Yuwen Xue tertawa mendengar perkataan Jiang, Jiang menjadi bingung mengapa Yuwen Xue tertawa mendengar perkataannya.
" Maafkan aku." kata Yuwen Xue begitu tertawanya berhenti. " apa aku harus menceritakan dari awal ceritanya? tentang bagaimana anda dan yang mulia bertemu dan Bagaimana kami mengetahui tentang Bai Yunfei." tanya Yuwen Xue menahan senyum.
" Sebenarnya aku tidak tertarik, tetapi apa salahnya mendengarnya, ceritakan secars singkat saja karena sudah hampir larut." Jawab Jiang.
" Baiklah."
Zhang Han dan Ying Zheng yang melihat Jiang dan Yuwen Xue tertawa bersama membuat mereka kesal, mereka berdua tidak bisa mendengar percakapan Jiang dan Yuwen Xue karena jarak mereka berkisar 10 meter. Yuwen Xue dan Jiang juga bercerita hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya.
" Sepertinya Yuwen Xue akan pulang tinggal Nama saja." kata Zhang Han tiba-tiba, ia masih memandang Yuwen Xue dan Jiang, Ying Zheng juga ikut melihat dua orang itu.
" Tidak perlu kau yang turun tangan, karena aku sendiri yang akan memenggal kepalanya." ucap Ying Zheng geram. Jiang lalu melihat dua orang itu yang sedang menatap dirinya dan Yuwen Xue.
__ADS_1
" Jangan terus menatap kami, liat saja daging itu apa sudah matang atau belum." teriak Jiang, Zhang Han dan Ying Zheng dengan malas menumpuk kayu agar apinya tetap menyala, mereka sedang kesal melihat Jiang bersama Yuwen Xue.