
Zhang Han membanting semua barang yang berada di mejanya, tabib Gu gemetar ketakutan bersujud didepannya.
" Untuk apa kau menjadi tabib jika kau tidak berguna seperti ini, bukankah kepalamu menjadi tidak berguna, PERGI... temukan obat untuk menyembuhkan Jiang..." teriak marah Zhang Han, Tabib Gu segera memberi hormat lalu mengundurkan diri.
" Sepertinya kepalaku tidak bertahan lama." tabib Gu ketakutan setengah mati.
" Jangan khawatir, walaupun yang mulia marah seperti itu, ia juga tidak akan mungkin benar-benar memenggalmu." ucap Wei Chan menghibur saat ia mengantarkan tabib Gu keluar.
" Terima kasih jenderal, saya permisi." ucap tabib Gu.
Ritual yang dilakukan Xuan gagal, dan sampai sekarang ia belum sadarkan diri membuat Yuan khawatir, ia tidak tau apa yang harus ia katakan pada Zhang Han tentang hal ini, jadi ia menemui Zhang Han dikamar ibunya karena saat ia mencari Zhang Han, Zhang Han tidak berada di kediamannya.
Yuan mengetuk pintu, Zhang Han mempersilahkan dia masuk.
" Ayahanda..." Yuan memberi hormat, untuk pertama kalinya Yuan bersedia memberi hormat dan memanggil ayah, Zhang Han cukup terkejut karena hal itu tetapi ia tidak memiliki waktu untuk bercanda dengan Yuan.
" Ada apa?" Zhang Han menoleh padanya setelah ia menyelimuti Jiang.
Yuan menggigit bibir bawahnya karena ia tidak tau harus mengatakan apa dan ia juga tidak tau harus meminta tolong pada siapa.
" Kau ingin mengatakan sesuatu?"
Yuan lalu berlutut.
" Ayahanda aku bersalah."
" Berdirilah..." Yuan tidak bergerak.
" Aku tidak tau apa kesalahanmu, tetapi berdirilah." Yuan ragu tetapi akhirnya ia berdiri.
" Kesalahan apa yang sudah kau lakukan?" tanya Zhang Han.
" Aku tidak bisa menghentikan Kak Xuan dan malah membantunya, sekarang dia..." Yuan tidak melanjutkan
" Apa yang terjadi padanya?"
Yuan lalu mulai bercerita tentang ritual yang mereka lakukan dan menceritakan efek yang terjadi sehingga menyebabkan Xuan tidak bangun sampai sekarang, Zhang Han langsung berdiri karena terkejut mendengar cerita Yuan.
" Kalian?... bagaimana kalian bisa bertindak ceroboh seperti ini? sekarang bagaimana?" Zhang Han langsung menuju kediaman Xuan yang diikuti Yuan.
Xuan terbaring diperanduan, Zhang Han segera memanggil tabib untuk memeriksa keadaan Xuan, tak lama tabib Gu datang dan segera memeriksa keadaan Xuan. Diistana memiliki dua tabib kerajaan. tabib Gu dan Li
" Bagaimana?" tanya Zhang Han khawatir.
" Kondisinya baik, hanya saja..."
" Hanya saja apa?" tanya Zhang Han tidak sabar.
" Tubuhnya seperti memperbaiki penyakit dan luka pada tubuhnya, tidak tau kapan pangeran akan bangun, hal ini adalah kabar baik yang mulia." jelas tabib Gu bersujud.
" Kau boleh pergi."
" Terima kasih yang mulia." tabib Gu segera mengundurkan diri, Zhang Han dan Yuan lega mendengarnya.
Kini Zhang Han sangat khawatir keadaan Jiang yang tidak memiliki perubahan, Zhang Han menggenggam tangan Jiang sambil bercerita banyak hal.
" Jiang, dulu kau pernah mengatakan padaku bahwa kau akan menemaniku sampai akhir hayat, tetapi sekarang kau ingin meninggalkanku? sekarang bagaimana aku akan hidup?" Zhang Han menangis, air matanya deras mengalir, ia sudah lupa bagaimana ia bisa menangis seperti ini.
__ADS_1
Tiba-tiba tubuh Jiang kejang-kejang membuat Zhang Han Panik.
" Wei Chan ... Wei Chan..." panggil Zhang Han, Wei Chan memang menemani Zhang Han dan ia menunggu diluar. Wei Chan segera masuk.
" Cepat panggil tabib... CEPAT..." teriak Zhang Han panik.
Wei Chan segera mencari tabib Gu.
" Jiang apa yang terjadi padamu?" Zhang Han semakin panik, tak lama Tabib Gu datang, ia langsung memeriksa keadaan Jiang.
Ia segera mengeluarkan jarum akupuntur, lalu menusukkan pada titik-titik ditubuh Jiang sampai kejangnya reda, ia menghela nafas lalu mengusap keringat dikeningnya.
" Yang mulia." Tabib Gu memberi hormat.
" Bagaimana?"
Tabib Li menggeleng.
" Reaksi tadi terjadi karena keadaan selir Jiang semakin parah, Jika sampai besok selir Jiang tidak bangun maka..." tabib Gu Takut untuk menjelaskan lebih jauh.
" OMONG KOSONG... tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padanya, dia sudah melakukan hal baik selama ini, dewa akan menyelamatkan hidupnya."
" Yang mulia..." Wei Chan merasa iba pada Zhang Han, ia mengerti bagaimana perasaan Zhang Han sekarang.
Wei Chan memberi kode agar tabib Gu pergi, segera memberi hormat tabib Gu segera meninggalkannya.
" Pasti ada obat untuk membuat Jiang bangun, Wei Chan segera suruh tabib Gu membuka seluruh buku pengobatan yang ada di kerajaan, bila perlu aku akan membalikan seluruh negeri ini, aku ingin obatnya ditemukan... segera lakukan perintahku..." teriak Zhang Han, Wei Chan tidak bergeming melihat Zhang Han yang frustasi.
" Anda sudah memberi perintah ini dua pekan yang lalu, besok adalah hari ke 15, yang mulia..."
" Tidak..." Zhang Han jatuh terduduk.
Bagi kerajaan Qing, kepercayaan mereka adalah naga langit, Zhang Han tidak percaya akan hal itu tetapi ia tidak dapat memungkiri kepercayaan masyarakat.
Malam hari Yuan banyak meminum banyak arak hingga ia mabuk, ia tidak bisa melakukan apapun, baik itu menolong ibunya atau kakaknya, ia merasa tidak berguna dan frustasi.
" Ibu, Kak Xuan." Dari pelupuk matanya air matanya terus mengalir, ia tidak tau sudah berapa banyak yang dia minum, ia lalu berjalan menuju kolam kecil yang diatasnya disinari bulan.
Yuan duduk dengan terhuyung-huyung, ia bersandar pada sebuah batu, ia meneguk arak guci kecil yang berada ditangannya.
Tiba-tiba seseorang berjalan kearahnya, orang itu tertawa mengejek pada Yuan.
" Menyedihkan." Yuan mencoba mengenali orang itu dengan bantuan sinar bulan, ia memicingkan matanya dan mengetahui orang itu adalah Gongsun Heng putra mahkota Padang rumput.
" Pergi... jangan ganggu aku, aku sedang tidak ingin bertengkar." usirnya melambaikan tangan, ia meneguk arak itu kembali.
" Kenapa? karena kau seorang pecundang, tidak tau malu dan tidak berguna."
" Tutup mulutmu." Yuan berdiri dengan sedikit terhuyung.
" Sekarang kau ingin berkelahi denganku?"
" Majulah sialan...biar kuhajar kau sampai ibumu sendiripun tidak mengenali wajahmu." Gongsun Heng tertawa, ia bersiap menyerang.
Yuan menyambut serangan yang datang, baru beberapa gerakan tiba-tiba seseorang langsung berada ditengah dan menghentikan pertarungan.
" Pangeran Zhang Hou..." Ucap Gongsun Heng.
__ADS_1
" Kau datang menjadi utusan bukan membuat onar, jika kau berani memprovokasi lagi aku tidak akan tinggal diam." Gongsun Heng mendengus lalu pergi karena Zhang Hou merusak kesenangannya.
Zhang Hou mendekati Yuan.
" Ayo pergi." Zhang Hou membungkuk menyuruh Yuan naik ke punggungnya, Yuan menolak, tetapi karena dipaksa Zhang Hou, Yuan akhirnya ia naik.
" Hou er, adikku..." Yuan tertawa dalam keadaan mabuk .
" Jangan panggil aku seperti itu atau aku lempar kau."
" Baiklah." Yuan menjadi penurut, Zhang Hou tersenyum tipis.
" Apa menurutmu ibuku akan bangun? aku tidak khawatir tentang Xuan, tetapi jika ibuku..." Yuan menangis, Zhang Hou merasa iba, untuk pertama kali, Zhang Hou sebenarnya sangat senang bertemu Xuan dan Yuan.
Perlahan Zhang Hou menerima Xuan dan Yuan sebagai saudara, walaupun kadang ia suka bertengkar dengan Yuan, dapat bertarung dengan Yuan adalah kesenangan tersendiri baginya, karena tidak mudah bertemu lawan yang imbang yang seumuran dengannya.
" Selir Jiang orang yang baik, ia pasti akan sembuh."
" Kau benar..."
Setelah mengantar Yuan, Zhang Hou pergi kekediaman Xuan untuk melihat kondisinya, Zhang Hou duduk tepi peranduan.
" Xuan, sejak kau sakit Yuan seperti tidak bersemangat lagi, ia sering menyendiri bahkan ia sering menghindariku, ia lebih banyak menghabiskan waktu ditempat pengobatan dan meneliti obat untuk menyembuhkan selir Jiang dan kau, aku merindukan kalian yang dulu..." Tanpa ia sadari ia meneteskan air mata.
" Cepatlah bangun, rasanya tidak menyenangkan tidak ada kalian." setelah itu ia pergi.
Zhang Han menatap langit.
" Kau senang? setelah mengambil semua orang yang aku sayangi." air mata mengalir deras dimatanya.
Wei Chan menjaga jarak dari Zhang Han, tiba-tiba dua orang tabib berlari tergesa-gesa menemui Zhang Han.
" Yang mulia." dua tabib itu bersujud memberi hormat pada Zhang Han.
Zhang Han segera menghapus air matanya saat melihat kedatangan dua orang itu.
" Ada apa?" tanya Zhang Han.
Kedua tabib itu saling menoleh.
" Ampun yang mulia." tabib Gu yang mengurus pengobatan Jiang bersujud, ia tidak berani mengangkat kepalanya, tubuhnya bergetar karena takut untuk mengatakan berita yang ia bawa.
" Katakan tabib Gu." Zhang Han mendesak,
" Yang mulia, Pangeran Xuan sudah sadar." Tabib Li berinisiatif lebih dulu karena melihat tabib Gu yang takut.
" Berita bagus." Zhang Han sangat bahagia mendengarnya.
" Tabib Gu, berita apa yang kau bawa?" tanya Zhang Han, ia berharap bahwa berita itu adalah baik.
" Selir Jiang... dia ..." ia tergagap menjawab Zhang Han.
" Katakan saja." bentak Zhang Han tidak sabar.
"Selir Jiang, ia tidak terselamatkan." Tabib Gu langsung bersujud
" Apa" Zhang Han serasa tidak percaya, ia segera berlari kekediaman Jiang dengan perasaan hancur, sedih, takut, dan tidak dapat membayangkan apa yang terjadi.
__ADS_1
Begitu Xuan sadar, Jiang dinyatakan sudah meninggal.