
Mereka mengobrol dengan riang tanpa memperdulikan status Zhang Han karena mereka sudah terbiasa, tiba-tiba Wei Chan berlari kearah mereka dengan wajah cemas membua t mereka bertanya-tanya." Yang mulia... kabar buruk." Kata Wei Chan terengah-engah karena habis berlari.
" Atur nafasmu lalu bicara pelan-pelan." Kata Zhang Han saat Wei Chan sudah berdiri di hadapannya dengan nafas terengah-engah. Wei Chan segera memberi hormat dan berlutut dihadapan Zhang Han, menyerahkan sebuah surat kecil yang berada dalam tabung bambu kecil. Wei Chan mengetahui itu kabar buruk karena bambu itu berwarna merah yang berarti bahaya sedang terjadi di istana.
" Surat dari istana, yang mulia." lalu menyerahkannya pada Zhang Han, Zhang Han mengambilnya dari Wei Chan dan mulai membaca pesan singkat itu. Wajah Zhang Han menjadi buruk saat selesai membaca pesan itu.
" Yang Mulia, apa isi surat itu?" Tanya Wei Chan saat melihat ekspresi wajah Zhang Han yang buruk. Zhang Han menyerahkan surat itu pada Wei Chan agar membaca sendiri pesannya. Setelah membacanya,wajah Wei Chan ikutan buruk karena marah. Jiang Huan, Xuelan, Dao-Dao dan Zhao An saling menoleh karena tidak mengerti.
Wei Chan yang melihat Jiang segera menyerahkan surat itu pada Jiang, Jiang yang membaca surat itu terkejut." Kabar kau keluar istana dan menghilang selama 1bulan sudah membuat para musuhmu ingin berkuasa ya."Zhang Han hanya menoleh Jiang yang berkomentar tentang surat itu. Jiang menyerahkannya pada Xuelan yang kebetulan duduk paling dekat padanya, Zhao An yang berada disamping Xuelan ikut membaca pesan itu.
__ADS_1
" Sepertinya sebentar lagi akan terjadi perang besar, lebih baik Anda kembali keistana sekarang yang mulia." Kata Zhao An, Jiang mengangguk setuju, Dao-Dao membaca surat itu juga setuju, Xuelan yang membaca pesan itu terdiam dalam lamunannya. Jiang yang menyadari lamunan Xuelan menyentuh pundak Xuelan." Kau kenapa? Wajahmu mengapa cemas begitu." Tanya Jiang, mereka semua langsung menatap Xuelan, Xuelan yang merasa ditatap jadi salah tingkah." Ah, aku baik-baik saja." jawab Xuelan lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Jadi apa rencanamu Yang mulia." tanya Jiang." Kita akan kembali keistana sekarang." jawab Zhang Han tegas, Jiang yang mendengar ketegasan suara Zhang Han membuat Jiang merasa Zhang Han berbeda dari biasanya, karena saat ia mengatakan itu terlihat wibawa seorang penguasa negeri.
" Baiklah, kita pamitan terlebih dahulu pada kakek Xian." kata Jiang, Zhang Han mengangguk setuju. mereka semua berpamitan, setelah berpamitan, Wei Chan, Zhnag Han, dan Jiang segera kembali keistana. Dao-Dao, Zhao An dan Xuelan kembali kegubuk mereka yang dulu mereka tempati, disela perjalanan pulang mereka, Xuelan yang masih tenggelam dalam lamunan membuat Dao-Dao heran.
" Dari tadi ku perhatikan kau melamun terus setelah membaca surat itu, memangnya apa yang kau khawatirkan?" tanya Dao-Dao, Zhao An ikut menoleh pada Xuelan." Tidak ada apa-apa, ayo Kita pulang." jawab Xuelan, Mereka melanjutkan perjalanan.
" Aku raja kerajaan ini, aku Zhang Han." katanya tegas, para prajurit itu tertawa mendengarnya. Wei Chan yang melihat prajurit itu tertawa menjadi geram dan ingin menarik pedangnya untuk memenggal kepala prajurit itu tapi dihentikan oleh Zhang Han, prajurit yang melihat gelagat Wei Chan waspada terhadapnya.
__ADS_1
" Tidak perlu melakukan kekerasaan pada mereka, mereka hanya menjalankan tugas mereka dan aku bersalah karena tidak membawa token kerajaan saat keluar istana." kata Zhang Han, Wei Chan menarik nafas mendengar perkataan Zhang Han, mereka tidak tau harus bagaimana masuk kedalam istana. mereka pergi agak menjauh dari gerbang istana memikirkan cara untuk masuk istana.
Zhang Han menoleh pada Jiang dan menelitinya, Jiang yang merasa diperhatikan menjadi curiga." Jangan berfikir macam-macam, aku tidak akan melakukan apapun." jawab Jiang cepat.
" kau lihat disana, itu adalah para pelayan istana yang baru dipilih untuk menjadi dayang istana." Kata Zhang Han menunjuk rombongan para perempuan yang menuju gerbang istana."menyamarlah, lalu suruh selir Lu Xiang menjemputku." jelas Zhang Han, Jiang memutar bola matanya malas.
" Padahal aku bisa masuk jalan rahasia yang biasa aku lewati untuk masuk dan keluar istana, tapi Jika Zhang Han tau ia pasti akan menutup jalan rahasia itu, lebih baik ikuti saja kemauannya."fikir Jiang lalu menuju rombongan gadis yang masuk istana, setelah kepala pelayan memberikan titah resmi untuk pada dayang pada prajurit itu, mereka diizinkan masuk, Jiang sudah masuk dalam rombongan itu.
setelah masuk istana, Jiang diam-diam memisahkan diri dari rombongan itu "Aku harus segera mencari selir Lu Xiang." batin Jiang sambil menunduk mencari keberadaan Selir Lu Xiang, karena terlalu menperhatiakan didepan, ia tanpa sadar menabrak seseorang, orang itu sampai termundur kebelakang karena menabrak Jiang, Jiang terkejut tidak berani mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang ia tabrak.
__ADS_1
" Maafkan saya." kata Jiang masih menunduk, orang tersebut terdengar kesal dan suara orangi itu Jiang merasa pernah mendengarnya." siapa yang membiarkan pengemis ini masuk istana." teriak orang itu karena pakaian Jiang yang memakai baju rakyat biasa. Jiang sedikit mengangkat kepalanya lalu melirik, ia segera menunduk kembali setelah melihat orang itu.
" Bencana." batinnya, Jiang mengumpati kecerobohannya karena tidak Hati-hati sehingga bertemu selir yang paling ia ingin hindari yang tak lain adalah Selir Ming Hui.