
" Xiao Yan, aku memiliki sesuatu hal perlu bantuanmu."
" Katakan."
" Ratakan Yuo Yulong."
" Tiba-tiba?"
" Dia menyerangku didepan umum, hampir mencelakai Mo Nan, dan...."
" Aku mengerti, akan kulakukan."
Setelah percakapan telepon itu terputus Xiao Na duduk diluar karena Yi Han tidur dan ia tidak ingin mengganggu.
Saat malam hari ia menerima notif sms dari Song Lan. ' Misi Selesai ' Xiao Na hanya tersenyum, ia sedang membeli makanan untuk makan malam, saat ia sampai dikamar Yi Han terlihat sedang menonton tv.
" Kau yang melakukannya?" tanya Yi Han menunjuk pada berita bahwa salah seorang putra konglomerat ditemukan koma disebuah pulau ketika ia pergi berlibur dan tidak ada yang tau pasti apa yang terjadi.
Xiao Na membuka kotak makanan cepat saji yang ia beli.
" Jangan urus itu, makan saja..." jawab Xiao Na.
" Kau sudah berjanji?"
" Aku memang sudah berjanji, tapi aku tidak berjanji bahwa aku tidak boleh menyuruh orang lain untuk melakukannya."
" licik..." Xiao Na hanya tersenyum. Yi Han mengambil mangkuk dan sumpit karena makanan disediakan dimeja yang berada didepannya.
" Hei, Bukankah aku luar biasa?"
" Kau sangat luar biasa, terutama dalam menipu."
" Menipu? kapan aku menipumu?"
" Kau berkata manis setiap hari denganku tapi kau sudah memiliki..."
" Mo Nan hanya bercanda, kenapa kau begitu serius? kau cemburu?"
Yi Han terdiam, tiba-tiba seseorang mengetuk lalu mereka masuk.
" Mo Nan, Kenapa kau bawa mereka kemari?" Xiao Na melihat Song Lan dan Feiyu tersenyum sumringah pada Xiao Na.
" Aku tidak membawa mereka, mereka sudah berdiri didepan kamar ini?"
Feiyu lalu mengatakan bahwa saat mereka lewati mereka melihat Xiao Na menuju rumah sakit lalu mengikutinya.
Song Lan memperhatikan Yi Han, Xiao Na lalu memperkenalkan mereka satu sama lain.
Mereka mengobrol hati Feiyu dan Song Lan puas setelah melihat pria yang disukai Xiao Na, terlihat Mo Nan membantu Xiao Na merapikan bekas mereka makan, Mo Nan sangat perhatian membuat hati Yi Han sedikit perih, ia terus menatap Xiao Na dan Mo Nan yang berkerja sama.
" Song Lan, sepertinya dia cemburu tetapi tidak bisa berbuat apa-apa?" Feiyu tertawa kecil melihat ekspresi Yi Han yang tidak lepas memandang dua orang itu.
" Kurasa begitu..." jawab Song Lan.
__ADS_1
Mo Nan tersenyum melihat Xiao Na dia berjanji dalam hati bahwa ia akan memperjuangkan Xiao Na dengan kerja kerasnya sendiri sampai Xiao Na sendiri bersedia untuk hidup bersamanya, ia tidak perduli Jika Xiao Na mencintai orang lain, Mo Nan berusaha agar ia selalu ada saat Xiao Na membutuhkannya bahkan sejak kejadian kemarin ia meminta pada ayahnya untuk dicarikan guru beladiri untuk ia belajar.
Setelah seminggu akhirnya Yi Han di ijinkan pulang tetapi ia harus banyak beristirahat, ia menunggu Xiao Na datang untuk mengantar pulang tetapi yang datang adalah Mo Nan, wajah tidak suka Yi Han terlihat jelas melihat Mo Nan.
" Dimana Xiao Na? kenapa kau yang menjemput?" tanyanya judes, mereka berdua terlihat manis didepan Xiao Na seolah mereka teman akrab tetapi dibelakang mereka menyimpan kebencian karena harus bersaing satu sama lain untuk memperebutkan satu wanita.
Mo Nan tidak menjawab ia mengambil tas milik Yi Han lalu menentengnya, Yi Han menjadi kesal karena diabaikan.
" Aku tidak perlu bantuanmu." Yi Han merampas tasnya dari tangan Mo Nan.
" Baguslah, ternyata kau tau diri juga." jawab Mo Nan ketus.
Yi Han merasa tangannya pegal karena membawa tas yang berat berisi keperluannya dirumah sakit dan ia juga belum sembuh total tetapi dia juga memiliki harga diri dihadapan Mo Nan, Ia berjalan mengikuti Mo Nan dibelakang, tangannya semakin sakit sampai akhirnya tas itu jatuh, Yi Han terkejut Mo Nan berbalik melihatnya.
" Yo lihat... apakah sekarang pertahananmu sudah runtuh?" Mo Nan tertawa mengejek, Yi Han menjadi kesal, ia mencoba mengangkat tasnya, ia meringis, kedua tangannya sangat sakit.
" Kalau aku tidak janji pada Xiao Na, aku tidak sudi membantumu." Mo Nan lalu mengambil tas itu dan berjalan, Yi Han sebenarnya sangat kesal karena memerlukan bantuan Mo Nan tetapi ia juga tidak bisa berbuat sesuatu karena tubuhnya masih terasa remuk.
Sebuah mobil BMW hitam mewah yang dikendarai Mo Nan, mereka menuju tempat tinggalnya, Yi Han tidak perlu menyembunyikan tempat tinggalnya karena tidak ada rahasia ditempat itu, bahkan Yi Huang juga tidak tau apapun tentang dirinya.
" Ini rumahmu?" tanya Mo Nan saat mereka sampai didepan pagar rumah.
Yi Han malas menjawab, ia langsung keluar mobil lalu membuka pagar agar mereka bisa masuk, pagar tertutup karena Yi Huang tidak berada dirumah.
Mo Nan segera masuk kedalam pekarangan rumah saat pagar dibuka Yi Han, Yi Han menatap Mo Nan heran karena untuk apa Mo Nan masuk, mereka sudah sampai.
" Wah rumahmu sangat tenang dan indah..." ia melihat sekeliling dan terdengar suara ombak.
" Kau bisa pulang." Yi Han lalu mencari kunci rumah yang biasa disembunyikan dibawah rak sepatu untuk membuat pintu. Mo Nan masih menikmati pemandangan ia lalu membuka bagasi mobil untuk mengambil tas Yi Han.
Saat Yi Han membuka pintu Mo Nan langsung menerobos masuk, Yi Han menantap kesal pada Mo Nan.
" Siapa yang mengizinkanmu untuk masuk?" kata Yi Han menaikkan sebelah alisnya saat Mo Nan duduk disofa.
" Ah... sebaiknya aku meminta ayah untuk membuat rumah didaerah ini, disini sangat tenang..." katanya sambil memainkan ponsel tanpa menjawab Yi Han.
" Keluar dari rumahku." usir Yi Han, ia memijat pelipisnya karena pusing ditambah kelakuan Mo Nan.
" Aku ingin tinggal disini "
" Hah?"
" Aku ingin tinggal disini." ulang Mo Nan.
" Tidak, apa kau tidak memiliki rumah? keluar dari rumahku..." teriak Yi Han.
" Aku diusir dari rumah." jawabnya lesu, Yi Han menaikkan sebelah alisnya menunggu kelanjutan.
" Bukankah kau juga ikut bertanggung jawab, demi kalian berdua aku pergi dari rumah karena memutuskan pertunangan dengan Xiao Na, sekarang ayahku seperti singa lapar, jika ia melihatku pulang bukankah dia akan memotongku hidup-hidup."
" Kenapa kau memutuskan pertunangan?"
" Aku tidak ingin memaksakan diri, dia tidak ingin menikah denganku karena ia mencintaimu, aku mengalah bukan karena dirimu tetapi karena obsesinya terhadap dirimu, dunia telah menang dan hati telah kalah, apa yang bisa aku lakukan?" ia tersenyum pahit.
__ADS_1
" Terserah padamu." Jawab Yi Han malas ia lalu mengambil tasnya kemudian istirahat dikamar.
Saat Yi Huang datang, ia terkejut melihat seseorang sedang memasak dan itu bukan kakaknya, padahal pembantu mereka sedang mengambil cuti.
" Kau siapa? apakah kau pembantu baru?" Mo Nan berbalik badan untuk melihat orang tersebut.
" Coba kau perhatikan wajahku?" ia berdiri mendekati Yi Huang, Yi Huang mengikuti apa yang Mo Nan katakan.
" Apa?" tanyanya tidak mengerti setelah memperhatikan wajah Mo Nan.
" Apakah aku tampan?" Yi Huang mengangguk.
" Lalu mungkinkah orang setampan diriku menjadi pembantu?" jawabnya mendengus lalu kembali memotong daging untuk makan malam mereka
" Kau siapa?"
" Mo Nan." jawabnya tanpa menoleh.
" Mo Nan siapa?"
" Orang yang tidak tau malu untuk menumpang." jawab Yi Han yang baru memasuki dapur setelah mencium bau enak dari dapur.
" Kak Yi Han, dia akan tinggal disini?"
" Tentu saja." jawab Mo Nan.
Yi Huang hanya melambaikan tangan lalu masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian. Yi Han membantu Mo Nan memasak.
" Berapa lama kau berencana untuk pindah dari rumahku?"
" Mungkin seminggu, sebulan atau setahun...aku belum memikirkannya." Yi Han langsung menghentakan pisau yang ia pegang.
" Rumahku bukan hotel, besok kau harus meninggalkan rumahku, kalau tidak aku akan menendang kau keluar." ia lalu pergi karena kesal.
" Mo Nan Mo Nan kau sungguh kasian, tidak dapat cinta, tidak bisa pulang ke rumah, kartu kredit dibekukan, hanya membawa mobil saja dan kau bahkan tidak memiliki tempat tinggal, ya tuhan... apalagi yang ingin kau ambil dariku?" ia menatap langit-langit lalu menghela nafas.
*****
3 JAM YANG LALU SEBELUM MO NAN MENJEMPUT YI HAN.
Mo Nan datang menemui Xiao Hongli, Xiao Hongli menyambutnya dengan hangat, mereka duduk saling berhadapan diruang tamu Mension milik Xiao Hongli dengan secangkir teh dihadapan mereka.
" Xiao Na tidak ada dirumah.
" Saya tau." jawab Mo Nan sopan.
" Lalu?" Mo Nan sudah membulatkan tekad untuk mengatakannya pada Xiao Hongli untuk memutuskan pertunangan bukan karena ia tidak cinta tetapi tidak ingin memaksa diri hingga akhirnya menyiksa diri sendiri dan orang lain.
" Katakan." saat Xiao Hongli melihat Mo Nan hanya diam ia lalu menyeruput teh.
" Paman, aku ingin memutuskan pertunangan." katanya tanpa basa-basi, Xiao Hongli hampir tersedak teh saat mendengarnya.
" Kenapa?"
__ADS_1