
Jiang terdiam, lalu mendengar rebusan obat yang sudah mendidih, ia segera mengangkat obat tanpa menjawab pertanyaan Yuan.
" Ibu ..." Panggil Yuan, tetapi Jiang pura-pura tidak mendengar, Yuan meneteskan air mata.
" Kami sudah besar ibu, sampai kapan ibu akan diam? ibu..." Yuan lalu menarik Jiang kasar, melihat itu, Xuan Langsung mendorong Yuan menjauh dari ibunya.
" Hentikan Yuan..." bentak Xuan, Yuan menyadari ia sedikit merasa bersalah karena sikapnya tadi, tetapi ia tidak akan mundur.
" Kita memiliki ayah atau tidak, itu tidak akan berubah, pandangan orang lain yang tidak menyukai kita akan tetap sama, apa bedanya memiliki ayah atau tidak, hidup kita tetap akan baik-baik saja selama kita saling menyayangi." Yuan masih marah, ia lalu pergi meninggalkan rumah. Jiang hanya melihat pertengkaran mereka.
" Jangan pulang terlambat malam." Pesan Jiang seolah tidak terjadi apapun. Yuan mendengus kesal mendengar pesan ibunya.
Yuan pergi ketepi hutan, disana terdapat danau, ia duduk diatas batu sambil melempar batu kedalam kolam dengan kesal. tiba-tiba ia melihat sesuatu dari kejauhan, seperti seseorang terbaring ditepi danau, Yuan segera menghampirinya, ternyata seorang gadis tergeletak ditepi danau.
Ia lalu memeriksa nadinya apakah ia masih hidup, ternyata gadis itu masih hidup ia segera menggendong gadis itu untuk dibawa pulang, karena khawatir akan ada binatang buas jika mereka terlalu lama dan matahari juga sebentar lagi tenggelam.
Jiang sedang memasak tiba-tiba, segerombolan prajurit patroli, tidak seperti biasanya, Jiang merasa khawatir terjadi sesuatu, Jiang lalu memanggil Xuan.
" Xuan..." Yang dipanggil segera menemui Jiang .
" Iya ibu." jawab Xuan yang mempersiapkan obat untuk besok.
" Apa adikmu sudah pulang?" Xuan menggeleng kepala.
" Mungkin sebentar lagi." Jiang melihat sekitar, banyak penjaga, tidak seperti biasanya, tak lama pasukan kecil lewat.
" Apa akan terjadi perang?" batin Jiang memandang prajurit yang berpatroli.
" Ada apa ibu?" tanya Xuan melihat Jiang melamun memandang prajurit yang berpatroli.
" Cari adikmu segera, ibu khawatir terjadi sesuatu." ucapnya, Xuan mengangguk lalu pergi keluar mencari Yuan.
*****
Zhang Han berdiri dijembatan atas kolam bunga racun, taman itu sudah menjadi tempat favorit Zhang Han, ia sering datang ketempat itu, tiba-tiba Wei Chan datang menghadap, Zhang Han membelakangi Wei Chan dengan tangan dibelakang punggung.
" Yang mulia..." Wei Chan memberi hormat, Zhang Han mengetahui kedatangannya, jadi ia tidak menoleh dan masih tetap memandang kolam itu.
" Berita apa yang kau bawa?" tanya Zhang Han.
" Yang mulia, suku gurun tiba-tiba membuat kekacauan dengan menyerang perbatasan, mereka ingin menguasai wilayah kita dan mengabaikan kerja sama perdamaian lama."
" Tidak heran, sebab mereka memiliki raja baru yang memimpin, kudengar raja baru ini kuat ditambah ia memiliki penerus yang berbakat, cepat atau lambat ia akan datang kemari memamerkan kekuatannya."
" Maksud anda?..."
" Benar, aku tidak akan membiarkan ia mengobrak-abrik tanahku, bila perlu aku sendiri yang akan keperbatasan untuk menghadapi mereka."
" Tapi..."
" Aku akan menyamar kesana sebagai pasukan bantuan."
" Hamba mengerti." Wei Chan memberi hormat ingin mengundurkan diri tetapi Zhang Han memanggilnya kembali.
" Ada memerlukan lain?" tanya Wei Chan.
__ADS_1
" Bagaimana dengan pencarian Jiang? apa ada kabar? " Wei Chan terdiam sejenak.
" Sudah Enam belas tahun yang mulia, anda tidak berhenti mencarinya, kami sudah mencari kemana-mana tetapi tidak ada hasil, penderitaan yang anda rasakan juga dirasakan seluruh istana ini, jika ia hidup ia pasti hidup di suatu tempat, jika tidak..."
" Aku tidak bisa berhenti memikirkannya walaupun hanya sehari, hatiku setiap hari disiksa rindu dan rasa bersalah." Zhang Han meneteskan air mata masih memandang kolam itu.
" Tidak bisakah anda melupakannya? bukankah lebih baik melepaskannya dari hati anda agar terbebas." kata-kata itu harusnya ia katakan untuk dirinya sendiri, Zhang Han tersenyum.
" Bukankah kau lebih mengerti daripada diriku tentang melepaskan seseorang dari hati?" Zhang Han menyindir Ling Long, Wei Chan tersenyum pahit. benar karena Ling Long Wei Chan tidak menikah sampai sekarang.
" Aku bersalah, seharusnya aku tidak mengatakan itu."
" Kau boleh pergi." Wei chan memberi hormat lalu mengundurkan diri, Zhang Han menarik nafas panjang memenangkan hatinya yang terasa sesak.
Tiba-tiba Lan Huan datang setelah Wei Chan.
" Yang mulia, Kaisar Ying Zheng mengirim pesan pada anda." Zhang Han lalu mengambil surat itu kemudian membacanya.
" Putri Ying Zheng berkunjung beberapa minggu yang lalu, harusnya dia sudah sampai disini, tetapi aku tidak mendapat kabar kedatangannya?" kata Zhang Han setelah membacanya.
" Putri Ying Hua Rong?" tanya Lan Huan, Zhang Han mengangguk.
" Tertulis Disini, Putri Hua Tidak mengirimkan pesan pada Ying Zheng sehingga Ying Zheng bertanya tentang keadaan putrinya padaku."
" Dimana sebenarnya keberadaan Putri Hua sekarang?" Guman Lan Huan.
" Perintahkan beberapa orang untuk mencari keberadaan putri Hua, jangan sampai ia mendapat masalah diluar, walaupun ini bukan pertama kalinya dia kemari, tetapi aku khawatir sebab ia datang dengan sedikit pengawalan."
" Hamba mengerti." Zhang Han mengangguk lalu mengundurkan diri.
*****
" Siapa yang kau bawa?" tanya Jiang terkejut mengikuti Yuan dari belakang.
" Aku menemukannya ditepi hutan, ia butuh pengobatan ibu." Jawab Yuan setelah meletakkan gadis itu ditempat tidur.
Jiang segera memeriksa keadaan gadis itu.
" Dia baik-baik saja, kau keluar dulu, ibu ingin mengganti pakaiannya." Yuan mengangguk lalu keluar ruangan, Jiang lalu memeriksa bagian tubuh lainnya karena khawatir ada bagian lain yang terluka.
Tidak sengaja Jiang menyentuh ikat kepala gadis itu, ia terkejut setengah mati.
" Putri Ying Zheng..." Guman Jiang terkejut, gadis itu memiliki Vermilion emas di keningnya, Jiang dengan cepat mengikat kembali ikatan kepala itu. jantungnya berdetak cepat, ia khawatir.
" Apa yang terjadi? bagaimana putri Ying Zheng bisa sampai terjadi seperti ini?" Gumannya, ia lalu mengambil pakaiannya kemudian menggantinya lalu memberikan obat pada gadis itu .
Tak lama Xuan datang, ketika ia masuk ia melihat Yuan.
" Dimana Ibu?"tanya Xuan.
" Ada didalam." jawab Yuan menunjuk kamar pengobatan, Jiang mendengar percakapan mereka diluar.
" Mereka tidak boleh tau identitas putri Ying Zheng ini." batin Jiang.
" Sedang ada pasien?" tanya Xuan.
__ADS_1
" Seorang gadis yang ditolong Yuan." jawab Jiang ketika ia keluar kamar, Yuan dan Xuan serempak menoleh Jiang.
" Ibu." Jawab mereka serempak. Jiang lalu duduk di bangku kemudian menuangkan air putih untuk ia minum.
" Ibu, sedang terjadi kekacauan, aku mendengar dipasar tadi, pasukan yang kita lihat tadi adalah pasukan yang menjaga perbatasan karena suku gurun menyerang." jelas Xuan
" Suku gurun menyerang?" Jiang berfikir.
" Apa yang terjadi? bukankah suku gurun memiliki perjanjian perdamaian? mengapa mereka tiba-tiba menyerang?" batin Jiang.
" Ibu, apa terjadi sesuatu?" tanya Yuan karena ia melihat Jiang melamun.
" Tidak, oh ya... gadis itu baik-baik saja, besok mungkin ia sudah akan bangun." jawab Jiang.
" Kalian istirahatlah, ini sudah malam." kata Jiang, mereka berdua mengangguk lalu pergi kekamar. mereka satu kamar, yang wilayah kamar itu dibagi dua, setengah milik Xuan lengkap dengan ranjang dan tempat pribadinya, begitu juga dengan Yuan.
Saat dikamar Xuan menggoda Yuan.
" Apakah gadis yang kau tolong itu cantik?" goda Xuan, Yuan tidur membelakangi Xuan.
" Tidurlah kak, kenapa kau tiba-tiba seperti seorang gadis yang mencari tau tentang kekasihnya selingkuh?" jawabnya kesal.
" Ayolah... kau sampai meminta ibu memeriksanya padahal kau juga pandai pengobatan, kenapa kau tidak memeriksanya sendiri."
" Karena dia seorang gadis, aku tidak bisa sembarangan memeriksa bukan?"
" Benarkah?"
" Ada apa sebenarnya?", tanya Yuan lalu berbalik badan menghadap Xuan kesal, Xuan tertawa kecil kemudian ia bergerak menghadap langit-langit atap.
" Yuan..." panggil Xuan.
" Hmm..." jawab Yuan yang ikut memandang langit-langit atap.
" Jangan pernah lagi bertanya kepada ibu tentang ayah kita, berjanjilah padaku." Yuan terdiam.
" Apa kakak tidak penasaran tentang ayah kita? apa kakak tidak ingin tau mengapa ibu pergi meninggalkan ayah atau ayah yang meninggalkan ibu? apa kakak tidak ingin tau semua itu?"
" Yuan...jika ibu tidak ingin menceritakan tentang ayah kita berarti ibu tidak ingin mengenang ayah kita lalu untuk apa kau membuat ibu sedih setiap kali kau bertanya? aku penasaran, aku juga ingin tau, aku juga sama sepertimu tapi aku tidak ingin ibu terluka, apalagi dengan sikapmu tadi, harusnya kau dihukum berlutut diluar rumah."
" Maaf, aku keterlaluan tadi."
" Minta maaf pada ibu."
" aku akan minta maaf besok."
" Janji tidak akan bertanya tentang ayah lagi?"
" Aku janji..." jawab Yuan tersenyum. " Sekarang aku sadar, benar yang kakak katakan, pandangan orang lain pada kita yang tidak menyukai kita tetap akan sama walaupun kita memiliki ayah atau tidak."
" Dengan memiliki ibu didunia ini, itu masih bisa sebanding." jawab Xuan, Yuan mengangguk sambil tersenyum pada Xuan.
" Sudah malam, selamat malam." jawab Yuan.
" selamat malam." jawab Xuan.
__ADS_1