
Zhang Han langsung naik keatas panggung, ekspresinya membuat semua orang takut menatap wajahnya. " Hei... kau siapa?" teriak walikota yang duduk bersama keluarganya ditepi panggung.
Zhang Han tidak memperdulikan teriakan walikota itu, ia lalu mencabut pedang milikinya ditiang, para pengawal langsung mengepung Zhang Han.
" Minggir atau kuratakan habis kota ini." teriak Zhang Han marah.
" Kalian semua hanya menonton saat istriku mendapatkan ketidakadilan." teriak Zhang Han marah.
" Ada apa dengan pemuda ini." tanya Walikota pada orang disekitarnya tetapi mereka sama-sama tidak mengetahuinya.
" Dia telah memotong tangan putraku, menghukum mati dirinya tidak akan cukup, seharusnya seluruh keluarganya dihukum mati." teriak teriak walikota marah.
" Menghukum seluruh keluarganya? apa kau tau dia siapa?" teriak Zhang Han menunjuk Jiang yang menatap lemah dirinya, Jarum akupuntur ditubuhnya belum di cabut, itu yang membuat dirinya sangat lemah.
Semua orang sedang berbisik-bisik, mereka tidak berani menyuarakan membela Jiang, jadi mereka hanya diam menonton pertunjukan yang menurut mereka menarik karena ada seseorang dengan lantang meneriaki Walikota mereka.
" Menurutmu bagaimana aku harus menghukum keluargamu?" tanya Zhang Han menatap tajam walikota itu, Walikota langsung tertawa keras.
" Menghukum keluargaku? hahaha kau sebentar lagi mati dan ingin menghukum keluargaku, kau fikir dirimu itu seorang raja." teriak Walikota itu, ia tertawa mengejek Zhang Han.
" Karena kau sudah berani menentangku, kau akan dihukum beserta wanita ini."kata Walikota, " tangkap dia." perintah walikota, Zhang Han menjadi geram, ia lalu mengeluarkan token raja miliknya, lalu mengangkat token itu keatas, siapapun yang langsung melihat token itu langsung bersujud.
__ADS_1
Semua orang yang berada disana melihat token itu langsung bersujud, wajah walikota tampak pucat dan seluruh tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan. " Semoga yang mulia raja panjang umur." teriak semua orang serempak sambil bersujud. Dengan tubuh bergetar walikota kota mengucapkan kata yang sama.
" Berdiri semuanya." perintah Zhang Han, ia lalu menuju Jiang dan langsung menebas rantai yang mengikat Jiang. Begitu Jiang ingin terjatuh, Zhang Han langsung menangkap tubuhnya. Seluruh keluarga walikota langsung naik ke panggung, mereka langsung berlutut memohon ampun.
Diseluruh negeri, Zhang Han terkenal tidak memiliki belas kasihan pada orang yang bersalah, satu-satunya yang mendapat belas kasihan hanya Bai Yunfei dan mereka mengerti hal itu karena mereka memiliki tali darah persaudaraan. Tapi tidak ada yang bisa menebak apa yang difikirkan Zhang Han, selain Bai Yunfei mereka tidak pernah mendengar seseorang mendapat pengampunan setelah dinyatakan bersalah.
" Titik akupunturku." guman Jiang pelan ditelinga Zhang Han, ia lalu mencabut jarum itu, Jiang merasa lebih baik, ia bisa berdiri dengan tegak walaupun belum sepenuhnya kembali tenaganya.
" Yang mulia, tolong ampuni kami... kami tidak mengetahui kalau wanita ini memiliki hubungan dengan anda." ucap walikota itu, ia sudah berkeringat dingin berhadapan dengan Zhang Han, mereka semua berlutut. Tidak banyak pejabat negara pernah melihat wajah raja maupun istri raja mereka, mereka hanya sering mendengar rumor tentang mereka saja.
Zhang Han menoleh pada wajah walikota itu, lalu ingin pergi, nampak senyum mengejek dari wajah walikota itu saat melihat Zhang Han yang ingin pergi tanpa menghiraukan mereka. " Ternyata suara guruhnya lebih keras dari curah hujannya( Kata sindiran:Rumor yang beredar tidak sesuai dengan kenyataannya)"guman Walikota itu pelan, Zhang Han langsung menoleh walikota itu.
" Mohon ampuni keluargaku yang mulia, tolong ampuni keluargaku yang mulia." walikota itu langsung bersujud dibawah kaki Zhang Han, ia terlalu terkejut dengan tindakan Zhang Han yang tiba-tiba, ia menangis memohon ampun di bawah kaki Zhang Han.
Zhang Han melihat walikota itu dibawah kakinya." kau terlalu mengecewakan." kata Zhang Han, lalu menebas kepala walikota itu, Jiang merinding melihat kemarahan Zhang Han, seluruh warga yang menonton itu menelan ludah, mereka tidak berani bergerak dari tempat mereka, ini adalah pertama kalinya bagi mereka menyaksikan raja mereka menghukum tanpa belas kasihan pada orang bersalah.
" Mulai sekarang, walikota ini akan dipimpin putrinya " teriak Zhang Han, putri dari walikota tidak berani mengangkat kepala melihat Zhang Han, ia daritadi menangis menyaksikan saudara dan ayahnya tewas didepan matanya.
" Kemarilah." kata Zhang Han, putri walikota itu baru berani mengangkat kepalanya lalu mendekat pada Zhang Han.
" Jangan mengecewakan aku seperti ayahmu mengecewakanku." kata Zhang Han, putri itu mengangguk cepat, yang keluar hanya airmata saja, ia tidak berani bersuara karena takut ia juga akan menjadi korban selanjutnya jika salah berkata didepan Zhang Han.
__ADS_1
Tenaga Jiang sudah pulih, ia hanya lapar sekarang karena sudah dua hari ia tidak makan, Zhang Han mendekati Jiang lalu menggenggam tangannya. " Ayo kita pergi." ajak Zhang Han, Jiang mengangguk walaupun dikepalanya sekarang penuh dengan pertanyaan bagaimana Zhang Han bisa berada disini. Jiang merasa hukuman untuk walikota itu berlebihan tetapi ia juga tidak bisa menghentikan Zhang Han.
Pemilihan prajurit diperbatasan selatan sudah terpilih sesuai dengan apa yang kabarkan, hanya tiga orang lolos dari orang suruhan Zhang Luhan untuk menjadi mata-matanya dibenteng selatan. tidak sesuai perkiraan, ternyata yang berhasil hanya 30 orang saja dari seleksi, kebanyakan tidak mampu bertahan dari babak yang ditentukan Jiang Feng.
" Kalian adalah prajurit terbaik yang terpilih, 2 hari kedepan kalian akan beristirahat terlebih dahulu barulah kalian berlatih seperti prajurit lainnya." umum Jiang Feng setelah seluruh prajurit baru berkumpul untuk mendengar perintah Jiang Feng sebagai pemimpin benteng selatan.
Jiang Feng kembali ketempat biasa ia menghabiskan waktu untuk melihat peta kerajaan dan papan strategi perang yang berada ditengah ruangan, begitu ia masuk, sahabatnya sudah berada disana.
" Min Yan." panggil Jiang Feng., Min Yan memberi hormat pada Jiang Feng. " Jenderal." jawab Min Yan.
" Kenapa kau ada disini?"
" Tidak ada, aku hanya berfikir mengapa kau suka menghabiskan waktu ditempat ini, barangkali aku menemukan sesuatu yang bisa membuat diriku berfikir sepertimu." jawab Min Yan, Jiang Feng tertawa mendengarnya, ia lalu menepuk pelan pundak Min Yan.
" Tidak ada yang istimewa Min Yan, aku hanya suka melihat peta dan papan strategi ini saja, oh ya, awasi para prajurit baru itu, karena aku takut ada penyusup diantara mereka." kata Jiang Feng, Min Yan mengangguk.
" Satu lagi, periksa seperti biasa, cari tau identitas kelurga mereka dan kirimkan padaku, aku tidak ingin penyusup masuk kedalam benteng ini." perintah Jiang Feng, Min Yan mengerti, ia lalu berpamitan pada Jiang Feng kemudian keluar dari ruangan itu.
Min Yan hanya heran mengapa kemanapun Jiang Feng pergi peta itu tidak pernah tertinggal, ia datang memeriksa apakah ada sesuatu yang istimewa tentang peta itu, tetapi ia tidak menemukan apapun tentang peta itu, karena peta itu tampak seperti peta biasa dan tidak ada yang mencurigakan, itu membuat Min Yan heran.
setelah Min Yan Keluar, Jiang Feng lalu mendekatkan pelita pada lukisan itu lalu membalikkan peta itu kebelakang, perlahan lukisan wanita muncul dipeta itu. " Bagaimana kabarmu sekarang, Bai Qian?" guman Jiang Feng memandang sedih lukisan itu.
__ADS_1