Berinkarnasi

Berinkarnasi
Bertemu kembali untuk memenuhi janji dahulu


__ADS_3

Jiang memerintah untuk berhenti didepan kuil yang dekat dengan kota raja karena ia ingin berdoa sebelum sampai diistana.


Mereka berhenti disebuah kuil yang ditunjuk Jiang, Zhang Han memerhatikan sekitar lalu mengulurkan tangan membantu Jiang turun dari kereta.


Jiang lalu mengambil beberapa buah-buahan dan makanan untuk persembahan dikuil, Xuan dan Yuan mengikuti Jiang memasuki kuil, Sifeng dan lainnya berjaga diluar bersama Zhang Han. Sifeng heran kenapa Zhang Han tidak ikut masuk kedalam kuil.


" Yang mulia tidak masuk untuk berdoa?" tanya Sifeng ragu.


" Aku atheis, tidak percaya pada dewa."


" Kudengar kuil dewi He Xian Gu membawa keberkahan pada penganutnya, membawa kesehatan dan kemakmuran."


" Kenapa tidak kau saja yang masuk?" Zhang Han terdengar kesal.


" Jangan marah yang mulia, nanti dewi mendengar bahwa kau tidak menyukainya..." sifeng tertawa kecil. Zhang Han bersikap tidak perduli dan masih menunggu Jiang dan kedua anaknya berdoa.


Tak lama Jiang keluar bersama kedua putranya.


" Sudah selesai?" tanya Zhang Han.


" Mengapa tidak masuk?" tanya Jiang.


" Haruskah aku masuk?"


" Tidak usah... dewi tau kau penganut palsu." jawab Jiang cemberut, Jiang tau Zhang Han tidak percaya pada dewa, Zhang Han tertawa kecil.


Mereka melanjutkan perjalanan, Zhang Han bersama Jiang berada dalam kereta.


" Yang mulia." panggil Jiang.


" Hmmm..." Zhang Han langsung menoleh.


" Jika aku meninggal lebih dulu darimu, aku akan menembusnya dikehidupanku selanjutnya."


" Menembus apa?"


" Menjadi istrimu yang patuh..." Zhang Han tersenyum lalu menarik Jiang kemudian memeluknya, ia mencium kening Jiang.


" Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku, tidak akan..." Zhang Han semakin erat memeluk Jiang.


Mereka sampai diistana, penjaga gerbang menahan mereka, Wei Chan terlihat berlari menuju gerbang, ia segera memerintahkan untuk membuka gerbang.


" Yang mulia." Wei Chan memberi hormat saat Zhang Han turun dari kereta bersama Jiang.


Zhang Hou berjalan tergesa-gesa menyambut kedatangan Zhang Han yang mendadak, ia penuh keringat lalu memberi hormat saat melihat Zhang Han.


" Ayahanda..."


" Zhang Hou, putraku dengan Ming Hui." kata Zhang Han memperkenalkan pada Jiang. Zhang Hou lama memandang Jiang lalu beralih pada Xuan, Yuan dan Sifeng.


" Siapa mereka? mereka persis seperti perampok." pikir Zhang Hou memandang mereka.


" Anda pasti selir Jiang Huan yang terkenal itu." Zhang Hou memberi hormat tetapi kata-katanya tajam.


" Terima kasih atas pujiannya." jawab Jiang tersenyum, dia tidak menyangka bahwa pertemuan pertama mereka akan mengenaskan.


" Seorang pangeran tetapi kata-katanya tidak terdidik sama sekali, apa gunanya tinggal diistana jika tidak tau bersikap sopan." Yuan menjadi jengkel melihat Zhang Hou. Zhang Hou memandang tidak suka pada Yuan.


" Yuan...." Xuan memelototi Yuan, lalu ia tersenyum pada Zhang Hou.


" Adik... Aku Zhang Xuan dan dia adalah Zhang Yuan, kami kakakmu... kudengar dari cerita ayah bahwa kami lebih tua darimu..." Xuan lalu memberi hormat, Zhang Hou berwajah acuh tak acuh melihat Xuan. melihat tatapan Zhang Han ia akhirnya membungkuk memberi hormat.

__ADS_1


Zhang Han menceritakan apa yang terjadi selama Enam belas tahun pada Jiang dan kedua anaknya, jadi soal Zhang Hou Jiang mengetahuinya


" Aku memberi hormat pada kakak pangeran pertama dan kedua." Terdengar berat saat ia mengatakannya.


" Silahkan masuk, semua orang sudah menunggu." kata Wei Chan, mereka masuk istana bersama-sama.


Mereka menunggu di aula istana, saat pintu terbuka terlihat wajah orang yang sudah lama tidak pernah bertemu, Jiang tersenyum melihat mereka, Jiang memasuki aula matanya berkaca-kaca melihat mereka yang selalu membantunya.


Jiang berdiri didepan Xuelan, Mata Xuelan berkaca-kaca akhirnya air matanya jatuh ia langsung memeluk Jiang.


" Aku sangat merindukanmu..." Xuelan menangis haru.


" Aku juga..."


" Dimana calon menantuku? kuharap dia sangat tampan." kata Xuelan bersemangat setelah melepaskan pelukannya, ia tidak mau terlihat terlalu bersedih. Jiang tersenyum.


" Aku memiliki dua putra, tetapi hanya satu putra yang bisa aku tawarkan padamu, entah kau menyukainya atau tidak." Xuelan menjadi penasaran, karena yang memasuki aula hanya Zhang Han dan Jiang, mereka menunggu diluar aula.


" Xuan...Yuan..." panggil Jiang, dua pemuda memasuki aula membuat banyak orang terpesona karena ketampanan yang dimilikinya.


Xuelan tersenyum saat Xuan dan Yuan memberi hormat padanya.


" Kembar..." guman Xuelan bersemangat.


" Qiaoyin...kemarilah..." Qiaoyin mendekati ayahnya.


" Putriku, Yu Qiaoyin..." Qiaoyin memberi hormat pada Jiang.


" Yang mana calon menantuku?" Jiang lalu memegang pergelangan tangan Xuan.


" Xuan? bagus... sangat bagus...aku menyukainya." Xuelan sangat bersemangat, Jiang hanya tersenyum melihat Xuelan yang bersemangat.


" Qiaoyin, beri hormat pada calon suamimu." Xuelan sangat bahagia, Qiaoyin terdiam melihat Xuan, Xuelan menoleh pada Qiaoyin.


" Aku tidak menyukainya... Jika ayahanda suka ayah nikahin saja dia..." bak disambar petir, telinga Xuelan berdengung dan merah mendengar perkataan putrinya, kemarahan terlihat jelas dimatanya, ia bahkan hampir tidak dapat mengendalikan emosinya.


"Omong kosong apa yang kau katakan?..." Xuelan menahan kemarahannya.


" Xuelan... sudahlah..." Jiang tau Xuelan sedang dikuasai kemarahan, jadi ia menenangkannya karena ia tidak ingin Xuelan kehilangan kesabaran sehingga bertengkar dengan putrinya didepan banyak orang.


" Maafkan aku, aku tidak mendidik putriku dengan benar." kemarahan Xuelan mereda. Jiang lalu mendekati Xuelan kemudian berbisik.


" Jangan khawatir, percaya pada putraku..." Jiang tersenyum, Xuelan mengangguk walaupun ia tidak yakin.


Jiang menyapa Ying Zheng.


" Putriku bercerita tentang dirimu." kata Ying Zheng.


" Tentang diriku? " Jiang bertanya untuk memastikan karena ia tidak yakin, Ying Zheng tertawa kecil.


" Aku tau maksudmu, tetapi..."


" Terima kasih..." potong Jiang, Jiang tidak ingin terlalu lama berbicara karena ia sangat kelelahan jadi dia tidak berbicara banyak, Hua Rong tidak ada diaula, ia pergi berlatih merajut karena ia tidak tau kedatangan Jiang.


Jiang menyapa semua orang dengan cepat, karena ia harus beristirahat, saat ia melihat Ming Hui, Ming Hui hanya berwajah datar melihat Jiang.


" Aku menepati janjiku, tidak kembali kecuali dijemput."


" Aku tau, maaf membuatmu membuat janji seperti itu, tetapi kepulanganmu membawa bencana untukku." Ming Hui menatap Jiang, Jiang tidak tau apa yang difikiran Ming Hui.


Setelah bertegur sapa pada semua orang, walaupun tidak semua menyukainya, Jiang tidak terlalu memikirkan, terapi tatapan yang Ming Hui berikan membuatnya khawatir.

__ADS_1


" Ming Hui... kuharap semua baik-baik saja." gumannya sendiri, Jiang tidak ingin memikirkannya, ia kini berisitirahat dikediamannya yang dulu, tidak ada yang berubah hanya saja suasananya berubah.


Tidak ada pembantu setianya lagi diistana, Lian dan Yuan, Jiang tidak tau bagaimana kedua kehidupan pelayan pribadinya itu, tetapi Jiang selalu berharap kebahagiaan kedua pelayannya. Jiang kini dilayani oleh pelayan baru.


" Apa yang sedang kau fikirkan?" Zhang Han tiba-tiba datang, Jiang tersenyum lalu berdiri.


" Yang mulia." Jiang memberi hormat.


" Ada apa?"


" Tidak ada." Jiang tersenyum. " Apa yang mulia lakukan disini?" lanjut Jiang.


" Merindukanmu." Jiang tertawa kecil, Zhang Han lalu memeluk Jiang.


*****


Xuelan memandangi putrinya dengan kemarahan.


" Apakah kau tidak bisa memberi sedikit muka pada ayahmu ini didepan sahabat ayah?" tanya Xuelan marah, kemarahan hampir membakar ubun-ubunnya. ia tau putrinya pembangkangan tetapi yang terjadi hari ini Xuelan merasa sangat malu.


" Aku hanya mengatakan yang sejujurnya, apakah ayahanda ingin aku berbohong? jika suatu hari mereka mengetahuinya bukankah ayah akan lebih malu."


Xuelan menarik nafas menghadapi keras kepala putrinya.


" Apa kau sudah memiliki pilihan lain?" Xuelan mencoba bersabar untuk mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan Putrinya. Qiaoyin terdiam, ia menelan ludah menatap ayahnya.


" Apakah ada?"


" Tidak ada..." Jawabnya lesu, walaupun ada Qiaoyin tidak berani mengatakannya pada ayahnya.


" Kalau begitu, mengapa kau menolaknya? Xuan tidak buruk."


" Aku tidak menyukainya dan berhentilah memaksaku ayah." Qiaoyin langsung meninggalkan ayahnya.


Xuelan memijit pelipisnya yang terasa sakit, ia hanya memandang putrinya yang pergi begitu saja.


Qiaoyin sangat kesal setelah bertengkar dengan ayahnya, ia berdiri ditepi kolam sambil menggerutu dan melempar kerikil kekolam.


" Kolam itu tidak bersalah, mengapa kau lempari?" tiba-tiba suara seseorang dibelakang Qiaoyin. Qiaoyin berbalik dan ia melihat senyum hangat dari seseorang tetapi Qiaoyin sangat kesal melihat orang itu.


" Pergi dari sini sebelum aku membunuhmu." ancam Qiaoyin, Xuan hanya tersenyum.


" Kenapa kau kesal padaku?" Qiaoyin tidak menjawab.


" Apakah aku tidak cukup tampan?"


" Hei bicaralah." Qiaoyin sengaja membisu. Xuan tersenyum melihat tingkah Qiaoyin yang mengunci mulutnya. Xuan lalu mengambil beberapa kerikil kemudian melemparkannya ke kolam. Qiaoyin memerhatikan apa yang dilakukan Xuan.


" Ah.. maaf kolam kau harus menjadi pelampiasan kekesalanku, seseorang marah tanpa jelas, kau tau kolam gadis itu marah hingga wajahnya merah seperti babi rebus." Xuan melirik Qiaoyin.


" Apa yang kau katakan?" Qiaoyin menjadi semakin kesal, Xuan tertawa kecil.


" Ternyata untuk bisa membuatmu bicara kau harus dibuat kesal dulu, ahh... wanita memang membingungkan, Benar kata pepatah lebih mudah memahami strategi perang dibandingkan memahami perasaan wanita." Xuan menghela nafas.


Qiaoyin sangat kesal, jadi ia pergi tetapi baru satu langkah ia terpeleset dengan sigap Xuan menarik Qiaoyin kedalam pelukannya, Qiaoyin terkejut baru beberapa detik pandangan mereka bertemu, Xuan tidak dapat mengimbangi tubuhnya dan alhasil mereka berdua jatuh kekolam.


Mereka berdua sama-sama berenang ketepi, Xuan tertawa membuat Qiaoyin kesal.


" Apakah ada yang lucu?" tanya Qiaoyin kesal, baju mereka sudah basah kuyup dan hari sudah larut sehingga terasa dingin.


" Tidak." jawab Xuan.

__ADS_1


" Lalu?"


" Aku baru ingin menciptakan keadaan yang romantis tetapi alam benar-benar tidak mendukung." Xuan masih tertawa, giginya yang puth dan rapi juga wajahnya yang basah disinari bulan terlihat benar-benar tampan, Qiaoyin memalingkan wajah karena ia tidak ingin terpesona, jadi ia berdiri kemudian meninggalkan Xuan yang masih tertawa.


__ADS_2