
Xiao Na mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar ia cepat sampai di mension milik Xiao Hongli, ia sudah menunggu hari ini cukup lama, saat sampai ia melemparkan kunci pada pengawal untuk memarkirkan mobilnya, dengan menenteng sebotol anggur mahal ditangannya ia menuju ruang Xiao Hongli.
Hari ini adalah hari kematian kekasih Xiao Hongli, sejujurnya Xiao Na tidak tau apapun tentang kekasih ayahnya itu, ia hanya pernah mendengar dari paman Aang, kepala manajer sekaligus kepercayaan Xiao Hongli hanya saja sekarang pria itu sudah tua sehingga ia tidak terlalu mengingat masa lalu.
Tok tok tok
" Masuk." kata seseorang dari dalam, Xiao Na tersenyum dan langsung menunjukkan botol anggur yang masih bersegel itu, Xiao Hongli tersenyum lalu melambai padanya untuk menyuruh masuk.
para pengawal yang berada didalam ruangan segera meninggalkan mereka berdua saat mendapat perintah keluar, sebuah kalung yang digantung diatas tablet tanpa nama dan tanpa apapun selain sebuah tempat untuk mendoakan mendiang dan beberapa batang dupa yang menyala disana. setiap tahun Xiao Hongli berdoa pada dua tablet tanpa nama itu yang Xiao Na juga tidak tau siapa, yang ia tahu hanya bahwa salah satu tablet itu adalah kekasih Xiao Hongli dan satunya tablet polos tanpa apapun yang tidak diketahui siapa.
" Kau selalu tau yang ayah inginkan." Katanya tersenyum ramah, Xiao Na membuka anggur itu lalu menuangkan dalam gelas didepan Xiao Hongli lalu gelas untuk dirinya sendiri.
" Untuk ayah angkat." Xiao Na mengangkat gelas untuk penghormatan lalu meminumnya.
" Seperti biasa, sangat enak." Xiao Hongli meneguk anggur.
Mereka meminum anggur sampai beberapa gelas, Xiao Hongli tidak terlalu kuat minum seperti Xiao Na, sehingga hanya beberapa gelas membuatnya sedikit pusing, Xiao Na tersenyum. pandangan matanya menjadi kosong saat melihat minuman anggur itu, perlahan masa lalu berputar dikepalanya.
" Kau tau Xiao Na, kenapa aku hanya meminum anggur ini?"
" Karena enak." jawab Xiao Na asal, Xiao Hongli tertawa kecil mendengarnya.
"Armand De Brignac Rose, anggur merah paling mahal dan minuman pertama yang kuminum sebagai hadiah karena kerja keras kami."
" Kami? apakah ada orang lain lagi selain ayah yang membangun nama besar mafia Xiao?" Xiao Na menaikan sebelah alisnya menatap Xiao Hongli, pria paruh baya itu terlihat sedih setiap kali mabuk, dan ia hanya akan mabuk setahun sekali setiap peringatan kematian.
" Aku paling tau isi kepalamu, katakan siapa yang sebenarnya ingin kau ketahui dariku?" ia setengah mabuk jadi fikirannya belum terlalu terpengaruh.
" Yi Rouhan dan Keluarganya."
Xiao Hongli terkekeh lalu seperkian detik wajahnya murung, kesedihan jelas diwajahnya dan matanya mulai berkaca-kaca.
" Kenapa? kau ingin tau?" Xiao Na menelan ludah, ia masih menaruh hormat pada pria yang mendidiknya itu sehingga takut untuk menyinggungnya. Tetapi ia sudah menunggu ini sejak lama, menunggu hari yang tepat untuk bertanya secara langsung.
" Kenapa nama itu tabu disebut, aku hanya ingin tau alasannya, dan apa hubungan mereka dengan ayah, aku..." Xiao Na berhenti melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
" Sahabatku." jawabnya singkat, Xiao Na melebarkan matanya terkejut.
" Lalu bagaimana mereka bisa mati ditangan ayah?"
" Aku tidak sengaja membunuhnya." kini air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, Xiao Na tidak mengerti, yang ia dengar adalah Yi Rouhan adalah orang yang mencoba membunuh ayahnya jadi Xiao Hongli tidak memiliki pilihan lain selain membunuhnya tetapi ini sama sekali berbeda dengan cerita yang ia dengar dari paman Aang saat ia berumur 15 tahun.
" Tidak sengaja? bagaimana sebuah pembunuhan dilakukan tanpa sengaja ayah?"
" Aku, Yi Rouhan, dan Liu Jingmi adalah anak yang dirawat dipanti asuhan, kami bertiga tumbuh bersama, saat berumur sepuluh tahun kami keluar dari panti asuhan dan dirawat oleh keluarga angkat tak lain adalah mafia besar, dibawah pendidikannya kami bertiga tumbuh menjadi mafia.
" Seiring berjalan waktu, Liu Jingmi Tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, cerdas dan penuh kasih sayang, ia tidak seperti Aku dan Rouhan yang keras, aku menjadi jatuh hati pada Jingmi, ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan Jingmi juga menaruh rasa padaku, tetapi siapa sangka bahwa Rouhan juga jatuh hati padanya.
" Aku tidak bisa menghancurkan persahabatan kami, demi kebaikan aku melepaskan Jingmi dan memberikannya pada Rouhan tanpa Rouhan tahu perasaanku sebenarnya pada Jingmi, Jingmi sangat kecewa padaku sehingga terpaksa menerima Rouhan.
" Mereka menikah dan memiliki dua anak, walaupun aku menderita patah hati aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka, kami berpisah setelah mereka berdua menikah, suatu hari Jingmi menelpon ingin bertemu, Aku bertemu dengannya disebuah vila, ia terlihat kusut dan menyedihkan, ia menangis di pelukanku mengatakan ia ingin aku membawanya pergi, ia sudah tidak sanggup lagi hidup bersama Rouhan dalam kepura-puraan.
" Aku mencoba memenangkannya tetapi ia terus mengatakan bahwa ia menderita batin, walaupun Rouhan baik padanya tetapi hatinya untukku sehingga ia menderita, ia mengambil pistol lalu menodongkan dikepalanya, dan mengancam akan bunuh diri jika aku menolak permintaannya, aku terpaksa berbohong untuk memenangkan lalu membawanya kerumah, siapa sangka Rouhan ternyata sudah menebak dimana Jingmi.
" Ia menuduhku merebut Jingmi sehingga ia kehilangan akal sehatnya, aku mencoba menjelaskan semua yang terjadi tetapi Rouhan yang dikuasi kemarahan mengambil pistol dan menebakku, Jingmi melindungiku dengan membiarkan peluru itu menembus jantungnya, aku kehilangan akal melihat tubuh Jingmi yang sudah tidak bernyawa, aku dan Rouhan berkelahi dan entah bagaimana dengan sengaja Rouhan menarik pelatuk pistol saat pistol itu mengarah padanya, ia membunuh dirinya sendiri dengan tanganku.
" Ayah..." Xiao Na mengulurkan tangan lalu menepuk pelan tangan Xiao Hongli dengan lembut.
" Kedua papan itu adalah mereka berdua, Yi Rouhan dan Liu Jingmi..."
Setelah tenang, Xiao Na mengantar Xiao Hongli kekamar untuk berisitirahat, ia menarik selimut saat Xiao Hongli tidur, setelah itu ia akan bersiap pergi tiba-tiba Xiao Hongli terbangun lalu menarik tangan Xiao Na.
" Tinggalkan pria itu, ia sangat berbahaya untukmu, dia bisa membunuhmu kapan saja." katanya tiba-tiba membuat Xiao Na terkejut, diam diam Xiao Na berfikir apakah Xiao Hongli sudah mengetahui identitas Yi Han.
" Siapa?" tanya Xiao Na memastikan.
" Kau fikir aku tidak tau apa yang kau lakukan? walaupun kau menyukai pria itu tetapi dia adalah bawahan putra keluarga Yuo Feng, mereka adalah mafia licik jangan sampai kau memiliki hubungan dengan mereka."
" Kapan mafia itu jujur?"
" Xiao Na..."
__ADS_1
" Beristirahatlah ayah, aku pergi."
" Apa yang akan kau lakukan saat mengetahui kebenaran ini Yi Han? apakah kau akan melepaskan dendammu?" batin Xiao Na lalu keluar dari kamar.
*****
Shen Lizhu memandang dari jauh Mo Nan yang sedang bermain dengan anjingnya, pipinya merona dan tanpa sadar tersenyum seperti orang gila.
" Aaaaa Mo Nan bisa membuatku kehilangan fikiran, aku jatuh hati padanya.. akh... Mo Nan..." gumamnya, tiba-tiba seorang gadis datang dari belakang dan melewatinya.
" Kendalikan fikiranmu nona, tuan muda sudah memiliki tunangan." katanya tanpa menoleh dan berjalan lurus menuju Mo Nan.
Lizhu terdiam mematung mencerna kata-kata Li Hua, Kata Tunangan berputar dikepalanya.
" Tunangan? Mo Nan sudah memiliki tunangan? surga...takdir apa yang sedang kau mainkan..." wajahnya Lizhu memelas kecewa setelah mendengarnya, ia sudah tiga hari tinggal dirumah Mo Nan dan ia tentu tau siapa yang sedang berbicara barusan tak lain adalah kepercayaan Mo Nan.
Lizhu tidak berani mendekati Mo Nan ketika ia sedang bermain dengan anjingnya, tiba-tiba sebuah mobil memasuki parkiran rumah, Mo Nan langsung tersenyum melihat pemilik mobil itu.
Mo Nan menghampiri Xiao Na yang untuk pertama kalinya datang berkunjung sebagai calon menantu keluarga Mo, ia tidak bisa mengabaikan tradisi keluarga Mo dan mempermalukan keluarganya sendiri, Lizhu melihat senyum cerah Mo Nan pada gadis yang baru datang membuatnya menaruh sedikit kemarahan tanpa sebab. 'Cemburu' tercetak jelas diwajahnya.
" Kau datang?" sapa Mo Nan senyum cerah, Xiao Na hanya mendengus.
" Hentikan senyum bodohmu." katanya kesal, Mo Nan tetap tersenyum walaupun mendengar kata-kata kasar Xiao Na, gadis itu sangat sensitif sejak pertunangan diikat kembali, tidak sekali ia melampiaskan kemarahan pada bawahannya, Song Lan dan Feiyu bahkan takut berbicara sesuatu yang membuat Xiao Na marah tanpa sebab.
" Ayah sudah menunggu." katanya, tiba-tiba Xiao Na merasakan tatapan membunuh dari jarak jauh, ia langsung menoleh pada gadis yang melihat mereka dari jauh.
Xiao Na tersenyum sinis, gadis itu tak kalah sinis menatap Xiao Na.
" Akh... ada apa dengan cuaca hari ini, kenapa sangat dingin?" kata Li Hua, seakan merasakan suasana mencekam saat kedua mata bertabrakan.
" Dia Shen Lizhu, putri teman ayah, ayo masuk..." Ajak Mo Nan, Xiao Na mengangguk lalu mengikuti Mo Nan dibelakang.
" Dia tunangannya? tak lebih cantik dariku bahkan dibawah standar? Kurasa Mo Nan rabun saat memilihnya." tetapi ekspresi wajahnya berbalik dengan apa yang dikatakannya. keterkejutan, kekaguman, dan wajah cantik tak bisa ia pungkiri sehingga wajahnya memelas satu kata untuknya ' Kalah Telak '
" LiZhu...kau benar-benar tidak beruntung...peramal itu menipumu ha. ha.. Hah..." ia mentertawakan dirinya sendiri
__ADS_1