
Setelah hukuman itu, Lan Huan dan Wei Chan 3 bulan tidak bangun dari tempat tidur, Lan Huan terus mengeluh pada Yanli karena sakit diseluruh tubuhnya, saat penghukuman, tenaga dalam Lan Huan dan wei Chan d tahan dengan jarum akupuntur itu sehingga mereka tidak dapat menahan pukulan ditambah didalam kolam racun yang pasti walaupun sudah dihalang racun itu tetap masuk melewati pori-pori kulit.
Lan Huan dan Wei Yanli sudah lama hidup bersama setelah peristiwa itu, pernikahan besar juga sudah diadakan. Kabar tentang kehamilan Ming Hui sudah menyebar 2 bulan yang lalu, banyak kerajaan memberikan selamat, hanya kerajaan Yan Utara seperti menutupi diri, dan kerajaan Jin Timur diikuti kebahagiaan karena kehamilan ratu mereka juga hamil.
Sebenarnya kabar gembira dirasakan tiga kerajaan sekaligus yaitu Yan Utara, Jin Timur dan Qing, karena kabar gembira tentang kehamilan ratu mereka hanya berbeda beberapa waktu saja, hanya saja Yan Utara benar-benar berubah, mereka menutup diri pada dunia luar sejak peristiwa itu dan diangkatnya Xuelan menjadi raja.
ENAM BELAS TAHUN KEMUDIAN...
Dua orang pemuda berjalan beriringan, pemuda sebelah kanan memakai baju putih lebar, warna baju seiras dengan rambutnya yang juga putih, wajahnya penuh wibawa, anggun dan lembut, senyumnya seindah giok, ia begitu tampan dan perawakannya yang tenang, rambutnya terurai panjang yang kedua sisi rambutnya dikepang kecil dan diikat satu pada kedua ujungnya, dahinya memiliki tanda lahir bulan sabit yang bernama Xi Xuan.
Disisi kiri pemuda yang memiliki wajah mirip dengan sebelahnya hanya saja pakaiannya berbeda berwarna hitam yang juga seiras dengan rambutnya yang hitam, ia terlihat kuat dengan menggenggam pedang ditangannya yang dilipat didada, perawakannya keras walaupun ia tampan, ekspresinya serius, pakaiannya sesuai dengan bentuk tubuhnya, rambutnya dikucir kuda yang dijepit perak pada pangkal akarnya, ia benar-benar bertolak belakang pada saudara kembarnya, Xi Yuan.
Xi Xuan menenteng sebuah bungkusan obat untuk Dikirim pada pelanggan mereka.
" Kakak... lihat..." Xi Yuan menunjuk pada sebuah pertunjukan sulap,mereka berdua berlari untuk menonton pertunjukan itu.
Pertunjukan sulap itu dikelilingi banyak penonton, pesulap melakukan berbagai keajaiban didepan penonton sambil bermain drama tentang kaisar mereka, pertunjukan itu seru dengan diiringi musik dan pemain-pemain yang lihai juga pandai bersandiwara, para penonton bersorak karena kisah yang diceritakan sangat menarik karena tentang perjuangan Kaisar mereka dimedan pertempuran, wibawanya serta kepemimpinan kaisar mereka hingga kerajaan menjadi makmur.
Setelah selesai, Xuan menepuk pundak Yuan pelan. " Ayo pergi, jika kita akan terlambat, ibu akan memarahi kita nanti." Ajaknya, Yuan mengangguk, saat mereka akan pergi, didepan jalan mereka berdiri tiga pengawal menghalangi jalan mereka.
" Ingat pesan ibu." bisik Xuan pada Yuan, Yuan adalah orang yang mudah terbawa emosi, ia kuat, tangkas dan pintar, ia ahli bermain pedang, bahkan beladirinya cukup kuat dengan tenaga dalam yang hebat, berbeda dengan Xuan kakaknya.
Xuan lemah sejak lahir karena terkena dampak racun sejak dalam kandungan membuatnya lemah, inti spritualnya hancur sehingga ia tidak memiliki tenaga dalam, karena memiliki fisik yang lemah ia mudah sakit, bulan sabit didahinya adalah bekas racun, karena ia tidak bisa bertarung ia ahli dalam pengobatan berkat didikan ibunya yang juga ahli pengobatan, ia cerdas dan berwawasan luar, jika senjata adiknya pedang maka ia ahli bermain alat musik guqin sampai tahap bersatu dengan jiwa yang artinya musik itu bisa menjadi senjata saat diperlukan.
Yuan memandang ketiga orang itu dengan malas. " Mau apa lagi?" tanya Yuan malas.ketiga pengawal itu lalu membuka jalan, mempersilahkan seorang pemuda yang tak jauh berbeda umurnya untuk lewat.
" Wahhh.... apa kabar anak haram? kalian ingin mengantar obat lagi?" tanyanya mengejek, Mendengar itu Yuan Hampir kehilangan kesabaran jika bukan karena Xuan menahan pergelangan tangannya, sebuah tinjuan mungkin sudah melayang di wajah pemuda itu.
__ADS_1
" Tuan Muda Gu." Xuan memberi hormat, ya pemuda itu adalah anak pejabat didesa mereka, mereka tinggal diperbatasan, desa Nanzhao yang dipimpin pejabat Gu Linjiang.
Putra Gu Linjiang, Gu Zhen tertawa besar saat Xuan memberi hormat padanya. " Harusnya kau bersikap seperti kakakmu, Yuan." tawa Gu Zhen membuat orang sekitar berkumpul dan memperhatikan mereka.
" Bukankah itu putra kembar Xi Shi?"
" Tuan muda Gu memang suka mengganggu mereka berdua."
" Kasihan mereka, padahal mereka anak yang baik, hanya karena mereka tidak mengetahui siapa ayahnya, mereka selalu dibully Tuan muda Gu."
" Siapa suruh tidak memiliki ayah."
" Lahir tidak tau asal usul sungguh suatu kesialan."
Berbagai komentar orang sekitar dapat didengar Xuan dan Yuan, komentar tentang kelahiran karena tidak memiliki ayah sudah mereka dengar sejak lahir.
" Kemari... kemari... dengar, biar aku perkenalkan kedua anak haram ini." teriak Gu Zhen tertawa besar, Yuan mengepalkan kedua tangannya, walaupun ia sering mendengar perkataan anak haram, tetap saja telinganya terasa panas dan darahnya mendidih setiap ada orang yang mengatakan hal itu.
" Tenanglah...Yuan..." Xuan menepuk pundak Yuan agar kemarahannya mereda. Gu Zhen semakin senang melihat kemarahan Yuan, ia akan segera lepas kendali.
" Anak haram yang tidak tau malu, kemari..
pukul aku? jika kau lakukan itu, ibumu berjanji bahwa kau akan dipenjara." Gu Zhen memprovokasi Yuan.
" Ingat pesan ibu, kendalikan amarahmu..." Bisik Xuan mencoba menenangkannya, Yuan lalu menepis tangan kakaknya kemudian pergi dengan kemarahannya, Gu Zhen tertawa keras melihat Yuan, Xuan segera mengejar Yuan.
" Yuan tunggu....Yuan..." Xuan memanggil sambil mengejar Yuan yang berjalan cepat, akhirnya Xuan dapat mengejarnya dan menarik tangan Yuan.
__ADS_1
" Yuan..." Yuan memandang Acuh kakaknya.
" Yuan..."
" Sampai kapan kita akan dihina seperti ini? sampai kapan?...apa kakak tidak merasa marah, kecewa, sedih? mereka membicarakan kemoralan ibu kita." bentak Yuan, Xuan terdiam ia tidak memiliki Jawaban atas apapun, sebenarnya apa yang dirasakan Yuan juga dirasakan Xuan, hanya saja ia menahan diri, ia tidak mau kemarahan menguasai dirinya hingga akan menghancurkan diri sendiri.
Xuan penuh dengan ketenangan, Xuan adalah Yin maka Yuan adalah Yang, mereka saling melengkapi kekurangan, Yuan seperti ujung tombak dan Xuan adalah ganggangnya, mereka saling melindungi dan menjaga. mereka berdua adalah panas dan dingin, utara dan selatan, api dan air.
" Ayo kita antar obat ini pada paman Cao." Xuan lalu berjalan dulu diikuti Yuan, Yuan tidak bisa membantah perkataan kakaknya.
Setelah mengantar obat itu, mereka pulang, Xi Shi adalah Jiang yang menyamar, Jiang setelah jatuh kesungai Sumo ia dibawa arus deras hingga ditemukan seorang nenek pendekar tua yang sudah menutup diri dari dunia persilatan, ia dirawat, hanya saja racun Jiang tidak bisa sembuh karena sudah mendarah daging untuk diobati, racun itu sudah menyebar hingga mengenai Xuan, beruntung Yuan tidak terkena dampak juga.
Nenek tua itu mengetahui situasi yang terjadi pada kondisi tubuh Xuan dan Yuan jadi ia karena handal bermain alat musik, ia mengajari Xuan dan memberikan qiankun yaitu kantong ruang hampa beserta guqin, sedangkan Yuan ia berikan pedang miliknya, kedua anak itu ia didik sampai ia tutup usia saat Xuan dan Yuan berumur 13 tahun, Jiang mengajari kedua anaknya ilmu pengobatan tetapi hanya Xuan yang memahaminya, ilmu strategi perang, kebajikan, wawasan dan pengetahuan sudah dikuasi Xuan dan Yuan walaupun Xuan lebih unggul dalam sastra.
Jiang melihat kedua ekspresi lesu putra kembarnya saat kembali, ia sudah menebak apa yang terjadi. Yuan masuk kedalam kamar, sedangkan Xuan membantu ibunya menyiapkan obat.
" Apa lagi hari ini?" tanya Jiang.
" Seperti biasa ibu, Yuan kesal lagi." jawab Xuan, walaupun tidak ada ekspresi sedih Xuan, Jiang merasa bersalah pada kedua anaknya karena tidak memberitahu kebenaran sebenarnya.
" Ibu sudah dianggap mati oleh semua orang, maafkan ibu karena tidak bisa memberitahukan kebenaran sebenarnya, racun ini cepat atau lambat akan merenggut nyawa ibu, aku takut jika kalian hidup diistana kalian akan menderita, hidup diistana lebih berbahaya dibandingkan hidup diluar istana, kalian tidak akan mampu bertahan dari orang-orang yang memakai topeng untuk menutup kebusukan mereka. dan ibu juga takut akan mati dihadapan ayah kalian..." batin Jiang, tanpa ia sadari ia meneteskan air mata, Xuan melihatnya.
" Ibu, kenapa menangis?" tanya Xuan khawatir, Jiang menggelengkan kepala.
" Jangan khawatir ibu, kemarahan Yuan tidak akan bertahan lama, setelah ini ia akan baik-baik saja, ibu jangan menangis."Xuan pikir Jiang bersedih karena Yuan, Jiang segera menghapus air matanya lalu tersenyum.
" Didunia ini, ibu tidak memiliki keinginan apapun lagi selain kalian berdua." Jiang memeluk putra sulungnya itu dengan senyuman bangga, Yuan dapat mendengar percakapan kedua orang itu dari kamar. Jiang lalu melepaskan pelukannya saat mendengar Yuan keluar dari kamar.
__ADS_1
" Ibu..." Panggil Yuan, Jiang menoleh lalu tersenyum.
" Siapa ayah kami? dan dimana dia sekarang?" tanya Yuan serius, Senyum Jiang seketika menghilang, jantungnya berdetak kencang, pertanyaan itu dilontarkan Yuan kesekian kalinya.