
Lu Xiang Keluar kediamanannya, ia ingin mencari tau mengapa Zhang Han tidak kelihatan dua hari ini, ketika Lu Xiang menuju kediaman Zhang Han, ia berpapasan dengan Selir Ming Hui. Mereka berdua sama-sama memberi hormat.
" sepertinya kondisi selir Lu Xiang sudah membaik." sapa Ming Hui, Lu Xiang tersenyum.
" Ini berkat doa semua orang dan pengobatan tabib istana." jawab Lu Xiang.
" Selir Lu Xiang, anda ingin kemana?"
" Aku ingin menemui yang Mulia."
" Sepertinya yang mulia sangat sibuk, ia tidak pernah keluar dari kediamanannya selama 2 hari ini." jawab Ming Hui, ia juga tidak melihat Zhang Han.
" Benarkah?"tanya Lu Xiang heran.
" Mungkin perkerjaannya menumpuk karena merawat selir Lu Xiang sewaktu sakit kemarin jadi ia tidak keluar kediamanannya untuk menyelesaikan laporannya." Jawab Ming Hui, kata-kata itu seperti menyindir Lu Xiang, secara tidak langsung Ming Hui mengatakan bahwa semua gara-gara Lu Xiang sakit jadi Zhang Han sangat sibuk.
" Ah... mungkin anda benar selir Ming Hui." jawab Lu Xiang, ia tersenyum kecut, ia lalu berpamitan untuk pergi meninggalkan Ming Hui, ia sedang tidak ingin berlama-lama mengobrol bersama Ming Hui dan mengatakan hal yang tidak penting.
Lu Xiang menuju kediaman Zhang Han, penjagaan dikediaman Zhang Han cukup ketat tidak seperti biasanya, begitu Lu Xiang ingin masuk, dua penjaga langsung menghentikannya, Lu Xiang heran, biasanya para penjaga langsung membiarkan dirinya masuk begitu saja.
" Apa kalian tau siapa aku? sejak kapan aku dilarang masuk kediaman yang mulia." kata Lu Xiang Garang, kedua penjaga itu saling menoleh, mereka sangat tau bahwa selir Lu Xiang adalah selir yang bebas masuk kedalam kediamanan raja.
" Minggir." kata Lu Xiang, ia mencoba menerobos kedua penjaga itu, tiba-tiba pintu kediaman terbuka menampakkan Wei Chan berdiri disana.
" Selir Lu Xiang." sapa Wei Chan lalu memberi hormat.
" Wei Chan, kenapa aku dilarang masuk kediaman yang mulia? ada apa ini." tanya Lu Xiang kesal
" Maaf selir, sekarang yang mulia tidak bisa diganggu, ia memerintahkan untuk tidak membiarkan siapapun masuk kedalam kediamanan ini termasuk Selir Lu Xiang." jawab Wei Chan.
" Apa yang sedang dilakukan yang mulia sehingga tidak bisa diganggu? apa terjadi sesuatu dengan yang mulia?" selidik Lu Xiang, Wei Chan tetap bersikap tenang.
" Silakan pergi, selir Lu Xiang." jawab Wei Chan tanpa menjawab pertanyaan Lu Xiang.
" mencurigakan, disaat seperti ini dimana sebentar lagi akan diadakan acara dan Zhang Han mengurung diri dikediamannya, aku yakin pasti terjadi sesuatu." batin Lu Xiang.
__ADS_1
Lu Xiang meninggalkan kediamanan Zhang Han dan kembali kekediamannya. Wei Chan menarik nafas dalam, ia lalu masuk kembali kekediaman Zhang Han, Lan Huan menatap Wajah Wei Chan yang lesu.
" Ada Apa?" tanya Lan Huan.
" Kita tidak tau sampai kapan kita bisa menyembunyikan kebenaran bahwa yang mulia sedang tidak berada diistana." jawab Wei Chan lesu.
" Kau benar." mereka berdua terduduk diruang tamu, mereka hanya bisa berharap Zhang Han cepat kembali, selir Lu Xiang bukanlah satu-satunya yang datang mencari Zhang Han, beberapa menteri datang ingin melaporkan tentang situasi acara dan mereka tidak bertemu Zhang Han tentu saja menimbulkan kecurigaan, tetapi mereka tidak berani mengatakannya didepan wajah Wei Chan dan Lan Huan.
" Aku khawatir ini tidak akan bertahan lama, cepat atau Lambat, semua orang akan mengetahui ketidakberadaan yang mulia diistana." kata Wei Chan, mereka menarik nafas berat setiap memikirkan kemungkinan jika seluruh orang mengetahui jika Zhang Han tidak berada diistana.
Memang sebelum pergi, Zhang Han berpesan agar Wei Chan dan Lan Huan tidak membiarkan seorangpun mengetahui kalau dirinya keluar istana, mereka harus menjaga kediamanan apapun yang terjadi dan jangan sampai seseorang masuk kedalam kediamanan dan mengetahui ketidakberadaannya diistana.
Zhang Han dan Jiang sudah pergi dari kota itu, mereka melanjutkan perjalanan setelah cukup beristirahat dan mengisi perut mereka yang kosong. Ketika malam tiba, mereka berhenti karena akan berbahaya jika melanjutkan perjalanan dimalam hari, mereka berkemah dialam terbuka ditepi sungai. Zhang Han menghidupkan api unggun dan menganggang kelinci yang mereka tangkap tadi sore, sedangkan Jiang menyiapkan tempat untuk mereka tidur malam ini.
Pendengaran Zhang Han yang tajam mendengar sesuatu, angin malam yang berhembus sepoi-sepoi tidak dapat menipu Zhang Han, karena perpohonan bergoyang berbeda. " Akan kedatangan tamu tak diundang." guman Zhang Han pelan, Jiang yang terlalu asik menyiapkan tempat untuk mereka tidur tidak menyadari hal lain.
" Jiang." panggil Zhang Han, Jiang menoleh pada Zhang Han saat dipanggil namanya.
" Ada apa?" jawab Jiang, masih mengemaskan tempat untuk mereka tidur.
Zhang Han lalu meletakan panggangannya kemudian menemui Jiang dan menarik tangan Jiang untuk duduk didekat api unggun, Jiang sedikit kesal karena Zhang Han memaksanya.
" Makan ini." Zhang Han menawarkan daging yang sudah matang pada Jiang, Jiang karena kesal membuang muka.
" Kau sangat manis saat marah, ya sudah lanjutkan." kata Zhang Han lalu mencubit daging yang matang itu, Jiang mendengus kesal mendengar perkataan Zhang Han.
Jiang berniat untuk pergi, begitu ia berdiri Zhang Han langsung menarik tangan Jiang hingga ia terduduk dipangkuan Zhang Han, Zhang Han langsung memeluk dirinya.
" Aku hanya bercanda." bisik Zhang Han ditelinga Jiang, Jiang berpura-pura tidak mendengar perkataan Zhang Han.
" Kau masih marah? baiklah, apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah." tanya Zhang Han, Jiang lalu melepaskan pelukan Zhang Han dan duduk disebelahnya.
" Kau serius mau melakukan apapun yang aku perintahkan." tanya Jiang, Jiang tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk memberi pelajaran pada Zhang Han, tentu saja ia akan memanfaatkan kesempatan ini jika Zhang Han serius dengan kata-katanya.
" Tentu saja, Pantang bagi seorang raja menarik kata-katanya." jawab Zhang Han Yakin, Jiang langsung tersenyum licik.
__ADS_1
" Kau tidak akan menyesali kata-katamu bukan?" tanya Jiang untuk menyakinkan,
" Sedikit, tapi demi dirimu aku rela." jawab Zhang Han, perasaannya tidak enak saat Jiang mengatakan tidak menyesali perkaataannya.
" Baiklah." Jiang lalu mengambil kayu kecil.
" Buka pakaianmu." perintah Jiang.
" Untuk apa? kau ingin memperkosaku." tanya Zhang Han asal, Jiang langsung memukul bahu Zhang Han menggunakan kayu kecil itu.
" Tidak tau malu, mengatakan hal seperti itu." kata Jiang kesal, Zhang Han mengelus bahunya yang dipukul Jiang.
" Kenapa? kau malu?" goda Zhang Han, Jiang kembali memukul bahu Zhang Han dengan kayu itu lagi, lagi-lagi ia mengelus bahunya yang dipukul Zhang Han.
" Baiklah." jawab Zhang Han, ia lalu melepaskan pakaian atasnya sehingga ia bertelanjang dada.
" Ambil posisi Push Up( Fuwocheng)." Perintah Jiang, Zhang lalu mengambil posisi push Up, terlihat otot perut dan tangannya yang sudah terbentuk.
" Cepat lakukan, jangan berhenti sebelum kuperintah." kata Jiang, ia duduk didepan Zhang Han. ia memperhatikan Zhang Han yang sedang push up, ia lalu tersenyum senang, Zhang Han melihat Jiang yang tersenyum. ia lalu berhenti push up.
" Kau senang melihat aku tidak memakai pakaian ya? kenapa tidak katakan daritadi, aku bisa membuka..." belum selesai Zhang Han menyelesaikan kata-katanya Jiang memukul kepalanya menggunakan kayunya, Zhang Han meringis kesakitan.
" Kau tidak dengar yang kukatakan, jangan berhenti." Kata Jiang, Jiang terlalu malu mendengar kelanjutan dari kata-kata Zhang Han, walaupun hanya mereka berdua ditempat itu, ia tetap malu mendengarnya.
Zhang Han mendengus, ia melanjutkan untuk push up. " Sekarang aku menyesali perkataanku." gumannya, Jiang mendengar perkataan Zhang Han, ia hanya tertawa kecil. Jauh dari lubuk hatinya, saat melihat Jiang tertawa dan tersenyum lepas seperti itu membuat Zhang Han sangat bahagia.
" Maaf, aku selalu membuatmu menderita saat berada didekatku." batin Zhang Han Zhang Han tau dari duluJiang menderita, ia tidak pernah melihat Jiang sebahagia ini, ia tidak menyembunyikan kebahagiaannya saat melihat Jiang tertawa lepas seperti itu, ia ikut senang.
Jiang berdiri, lalu ia menaiki punggung Zhang Han, bebannya bertambah, Zhang Han bahkan sudah berkeringat sejak tadi push up sekarang Jiang menaiki punggungnya.
" Apa tadi tidak cukup menyiksaku, kau sudah memukulku beberapa kali tadi dan sekarang kau menaiki punggungku, kau fikir aku kuda?" kata Zhang Han sambil Push Up.
" Aku belum puas meluapkan kemarahanku padamu." jawab Jiang yang berada dipunggung Zhang Han dengan bersila kaki.
Tiba-tiba sebuah panah melesat cepat kearah Jiang, Zhang Han pertama kali menyadari, ia langsung berbalik dan menangkap tubuh Jiang supaya tidak terjatuh, ia lalu berdiri, Jiang terkejut dengan serangan yang tiba-tiba itu.
__ADS_1
" Aku sudah cukup lama menunggu kalian bergerak." kata Zhang Han tersenyum licik.