Berinkarnasi

Berinkarnasi
Kembali


__ADS_3

Xuan hanya melihat Qiaoyin dari jauh saat ia menangis semalam, Xuan mengerti jika Qiaoyin adalah orang yang malu saat menangis didepan orang lain, jadi ia hanya menemani dari jauh sampai Qiaoyin kembali kekediaman.


Xuan berjalan berdampingan dengan Yuan, ia melihat Jiang sedang minum teh sendiri dipandopo halaman, jadi mereka berdua menghampiri Jiang.


" Ibu..." ucap mereka serempak, Jiang melihat kedua putranya, rambut perak Xuan yang terkena sinar matahari pagi membuat pria itu tampak tampan dan kharisma yang anggun membuat siapa melihatnya pasti akan merasa tenang dan damai karena senyumnya yang hangat, hanya saja setiap melihat tanda lahir bulan sabit Xuan membuat Jiang sedih, tanda itu membuat Jiang merasa bahwa Xuan adalah yang paling menderita, hanya saja tidak pernah ia tunjukkan karena selalu ia sembunyikan dengan ketenangan yang ia miliki.


Jiang menatap Yuan, Rambut Yuan yang dikucir kuda dan belahan poni samping membuat pria itu sangat tampan, rambut hitam legam dan Kuat tampak dari otot lengannya, wajahnya jarang tersenyum, sebuah pedang yang bersarung selalu ia bawa kemana ia pergi membuat Yuan gagah ,Jiang tersenyum melihat putranya yang keras kepala yang satu itu.


" Berapa lama ibu akan menatap kami?" tanya Xuan tersenyum, Jiang tertawa kecil.


" Ibu sudah lama tidak menatap kalian seperti ini." sebenarnya Jiang sedang memikirkan berita yang ia dengar saat dipasar tadi, tetapi ia merasa jika ia mengatakannya pada Zhang Han maka hanya akan menambah beban fikiran Zhang Han jadi ia sedikit melamun karena itu juga berhubungan dengan putranya.


" Xuan, ibu sudah lama tidak mendengar kau bermain musik sejak datang kemari."


" Kenapa tiba-tiba?" tanya Xuan.


" Bermainlah, ibu dan Yuan akan berlatih pedang dengan melaraskan gerakan musikmu." Xuan tersenyum.


" Aku mengerti." Jiang lalu berdiri, kemudian mengambil pedang yang dipajang dihalaman, Xuan duduk lalu mengeluarkan guqinnya dari kantong Qiankun ruang hampa miliknya.


Xuan memetik senarnya, Jiang mulai memainkan pedang, Yuan juga memulai musik terus dimainkan dan gerakan Jiang dan Yuan semakin cepat, mereka seperti menari tiba-tiba jiwa Jiang serasa ditarik saat ia bermain pedang diudara setinggi 10 kaki, Jiang terjatuh dan segera Yuan menangkap Jiang.


Jiang duduk bersila menutup matanya lalu Menarik nafas, Xuan segera berganti musik dan memainkan musik yang dapat memperbaiki qi dalam tubuh, Yuan khawatir melihat keadaan Jiang, beruntung Xuan cepat bertindak, Yuan mencoba menyalurkan tenaga dalamnya pada Jiang. tetapi Jiang menghentikan Yuan


" Hentikan Yuan, itu tidak berguna." Yuan menarik kembali tangannya, ia jadi ikut bersila dan memejamkan matanya karena musik yang dimainkan Xuan dapat memperbaiki Qi dalam tubuh dan menenangkan bagi yang mendengarnya, dan itu benar-benar sangat dibutuhkan oleh orang yang Qi nya sedang terluka.


Zhang Hou tidak sengaja lewat, mendengar musik Xuan ia ikut larut dan memejamkan matanya, ia langsung duduk tidak perduli ia dimana, sebab menemukan musik dengan dapat memperbaiki Qi sangat langka, apalagi musik yang dimainkan Xuan tepat dan dapat membuat seseorang bisa tertidur lelap jika kerusakan Qi nya parah.


Xuan langsung memuntahkan darah, karena ia memaksa tubuhnya mengeluarkan tenaga dalam karena ia tau kerusakan Qi pada Jiang sangat parah, Yuan segera membuka matanya, Musik berhenti Jiang langsung jatuh pingsan, Zhang Hou merasa ringan saat ia membuka mata tetapi ia terkejut melihat Jiang pingsan dan Xuan memuntahkan darah, ia segera berlari menghampiri Xuan.


" Apa yang terjadi?" tanya Zhang Hou melihat Xuan memuntahkan darah. Yuan menggendong Jiang.


" Jangan banyak tanya, bawa Kak Xuan menemui tabib." Yuan berlari membawa Jiang kekediamannya, Zhang Hou memapah Xuan mengikuti Yuan kekediaman Jiang.


Zhang Hou memanggil seseorang untuk memanggil tabib. Entah kenapa Zhang Hou merasa sangat khawatir melihat keadaan Xuan.


Tak lama tabib datang, Yuan tidak ahli pengobatan jadi ia tidak tau harus melakukan apa, tabib itu segera memeriksa Jiang, Yuan melihat bibir Xuan pucat, jadi ia menyalurkan tenaga dalam, Zhang Hou segera membantu tetapi ia tidak banyak membantu, keadaan Xuan tidak berubah.


" Apa yang terjadi?" Zhang Hou sangat penasaran yang terjadi.


" Ini karena kak Xuan terlalu memaksakan diri menguras tenaga dalamnya saat bermain musik." Yuan sangat sedih saat memandang wajah Xuan ditambah Jiang yang terluka.


Tiba-tiba Zhang Han datang dengan wajah panik, ia segera duduk di samping Jiang lalu menggenggam tangannya.

__ADS_1


" Apa yang terjadi?"


Tabib itu ingin berlutut memberi hormat tetapi Zhang Han meneriakinya.


" Lupakan formalitas, katakan saja bagaimana keadaannya?" teriak Zhang Han marah.


Tabib itu merasa takut untuk mengatakannya saat melihat kemarahan Zhang Han.


"Selir Jiang...dia...ampuni hamba yang mulia, hamba tidak mampu mengobatinya." tabib itu bersujud ketakutan.


" Untuk apa aku merekrutmu jika kau tidak berguna seperti ini...sembuhkan dia atau kupenggal kepalamu..." Zhang Han berteriak marah.


Yuan yang berada diseberang peranduan menatap Kakak dan ibunya matanya berkaca-kaca, perlahan Xuan membuka mata.


Ia memaksakan untuk bangun walaupun tubuhnya lemah, Yuan segera membantunya bangun, ia melihat Jiang yang terbaring dan segera memeriksa keadaannya.


" Ibu mengalami vegetatif..." Xuan terlihat pucat dan lemah.


" Maksudmu?" tanya Zhang Han.


" Keadaan dimana seseorang yang hidup tetapi ia tidak memiliki jiwa."


" Apakah ada obatnya?" Xuan menggeleng.


" Tabib Li, aku tidak perduli jika aku harus membalikkan kerajaan Qing untuk menemukan obatnya, kau harus bisa membuatnya bangun atau kepalamu yang akan jadi jaminan." teriak Zhang Han, ia terasa sesak, ia tidak bisa lagi kehilangan Jiang, ia tidak ingin lagi berpisah dengan Jiang.


" Setiap penyakit pasti memiliki obat, aku tidak percaya jika ada obat untuk membuatnya bangun, Xuan kau berpengetahuan luas, coba fikirkan untuk menolong ibumu." Xuan terdiam.


Zhang Han tidak dapat menahan air matanya lagi, ia menangis mencium tangan Jiang, Semua orang segera mengundurkan membiarkan Zhang Han bersama Jiang.


" Kakak..." Yuan melihat kondisi Xuan yang mengkhawatirkan,


" Yuan, mungkin..."


" Tidak...kau tidak boleh melakukannya." Yuan tau apa yang difikirkan Xuan.


Xuan lalu menatap Yuan, Zhang Hou berada dibelakang Yuan, sedangkan semua orang sudah bubar, tinggal mereka bertiga yang masih berdiri didepan pintu kamar.


Xuan lalu menyetuh wajah Yuan.


" Aku harus mengetahui apa yang terjadi? perlu mencari keberadaan jiwa ibu, mengapa ibu tiba-tiba mengalami vegetatif padahal ia baik-baik saja."


" Tetapi kondisimu tidak memungkinkan, kau juga tidak memiliki tenaga dalam, dan hasilnya hanya 0,1persen saja keberhasilan, aku tidak akan membiarkan kau melakukannya...tidak akan...jika kau gagal jiwamu akan tersesat, kau juga akan pergi..." Yuan menangis memikirkan apa yang akan terjadi pada Xuan dan ibunya.

__ADS_1


" Tetapi ini juga jalan satu-satunya, bukankah energi kita itu satu, kau bisa menyalurkan tenaga dalammu."


" Tidak...aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya." Xuan langsung memeluknya.


" Persiapankan ritualnya..." Bisik Xuan, Yuan menangis.


Xuan dan Yuan pernah berguru pada pendekar, mereka diajari banyak hal, salah satunya adalah berjumpa roh sesat untuk kembali terjadi jiwa yang memanggilnya akan dikorbankan jika gagal.


*****


Jiang berada ditempat yang tidak ia ketahui, tiba-tiba Jiang asli sudah berada dibelakangnya.


" Xiao Na." panggil Jiang. Ia langsung berbalik.


" Jiang..."


" Sudah waktunya kembali."


" Kembali? aku hampir lupa dimana duniaku..." Xiao Na tertawa pahit.


" Maaf membuatmu menunggu lama."


" Bisakah aku kembali ketubuhmu untuk mengucapkan perpisahan pada mereka? mereka pasti sangat terkejut karena kepergianku yang tiba-tiba, aku bahkan tidak membuat kenangan indah bersama mereka, walaupun satu hari, aku ingin menghabiskan waktu itu bersama Zhang Han untuk membayar waktu kami yang terpisah, aku belum ingin kembali." Xiao Na menangis, Jiang menggeleng.


" Xiao Na, kau harus kembali."


" Kumohon jangan sekarang, aku belum menyelesaikan semuanya... kumohon."


" Xuan ingin melakukan ritual pemanggilan jiwa, tetapi itu tidak berarti apapun.


" Apa? itu akan melukai jiwanya."


" Jangan khawatir, sebagai bentuk terima kasihku, ritual ini akan mengobati jiwa dan racun dalam tubuhnya." Xiao Na merasa lega, tetapi hatinya terasa berat untuk pergi.


" Tapi..."


" Jangan khawatir tentang Zhang Han itu adalah takdirnya, takdir yang harus ia bayar dimasa lalu."


" Aku mengerti."


" Pejamkan matamu..." Kemudian jiwanya serasa pergi.


Maaf baru bisa Update, saya benar-benar sibuk dekat akhir tahun, jadi baru bisa menulis sekarang, harap memakluminya, terima kasih selalu menunggu cerita saya...

__ADS_1


__ADS_2