
Sudah satu bulan mereka bertempur tanpa henti, Xuan memandang khawatir pada adiknya yang sedang berperang diluar benteng. jumlah mereka sudah kalah jauh, Yuan karena dikelilingi musuh, tiba-tiba seorang prajurit musuh menyerang Yuan dari belakang, melihat itu Xuan langsung berteriak.
" Yuan....AWAS...." Terlambat untuk Yuan menghindarinya sehingga pedang itu mengenai punggung belakang, Xuan ingin menyelamatkan Yuan tetapi prajurit yang berjaga didekat Xuan langsung melarangnya.
" Jenderal, anda jangan pergi kesana."
" Benar, jika terjadi sesuatu pada anda keadaan akan semakin buruk." Xuan terdiam, apa yang dikatakan mereka memang benar, akhirnya ia masih memantau dari atas benteng dengan perasaan khawatir.
Beberapa prajurit langsung melindungi Yuan saat melihatnya terluka, hati Xuan sedikit lega saat jenderal lain keluar benteng membantu dan memasukkan Yuan kedalam benteng untuk diobati, kerjasama mereka dibawah komando Xuan teroganisir, Xuan menyuruh beberapa orang menunggu diatas benteng untuk memantau jika terjadi sesuatu harus segera dilaporkan padanya karena ia ingin melihat keadaan Yuan, sekarang perang masih bisa dalam kendali.
Yuan dibawa keruang pengobatan untuk prajurit terluka, ia memandang sekeliling sudah banyak prajurit yang terluka, ia lalu dibopong kesalah satu tempat tidur pasien, saat melihat Yuan banyak prajurit merasa canggung karena siapa yang tidak melihat kehebatan perang Yuan dimedan tempur, jadi mereka merasa segan saat satu ruangan dengannya.
Hua Rong yang masuk keruang pengobatan terkejut melihat Yuan disana, ia segera menghampiri Yuan.
" Apakah kau terluka?" tanya Hua Rong khawatir, ia hanya tersenyum merasa tidak enak karena lukanya tidak parah, tetapi ia dibawa masuk kedalam benteng seolah ia seperti sudah sekarat.
" Tidak parah, hanya tergores kecil." jawab Yuan, " Dimana Ibuku?" tanyanya lagi.
" Bibi sedang membuat obat, kemari biar aku obati." Yuan merasa canggung, tetapi akhirnya ia melepaskan pakaiannya didepan Hua Rong, ia sebenarnya malu tetapi tidak memiliki pilihan lain, Saat pakaian atasnya dilepas, Hua Rong entah kenapa merasa canggung apalagi memandangi tubuh Yuan yang berotot sempurna dengan dada bidangnya yang sudah terbentuk, ia menelan ludah lalu sedikit berpaling karena tidak bisa terlalu lama menatap Yuan.
" Berbaliklah." kata Hua Rong untuk memenangkan dirinya dan Jantungnya yang sudah berolahraga, Yuan berbalik, Hua Rong melihat luka panjang yang menggores punggung Yuan.
" Kau bilang ini luka kecil?" Hua Rong tak percaya saat luka menganga panjang itu disebut luka kecil.
" Luka itu tidak dalam." jawab Yuan.
" Apakah pedang menggorok lehermu dan kau sudah tidak bernyawa baru disebut luka besar." nada bicara Hua Rong terdengar kesal, Yuan tidak tau apa membuat Hua Rong kesal, jadi dia diam saja.
Hua Rong sudah diajari Jiang mengobati orang, jadi ia yang selalu membantu prajurit yang terluka. Ia mengoleskan obat pada Punggung Yuan, setelah itu ia berdiri menghadap Yuan kemudian membalut perban kain pada tubuh Yuan, saat melilit perban, wajah Hua Rong sangat dekat dengan wajah Yuan.
Membuat Yuan dapat melihat dengan jelas kecantikan Hua Rong, ia menelan ludah dan wajahnya bersemu merah, jadi ia segera memalingkan wajahnya saat Hua Rong menyadari dirinya sedang dipandang Yuan.
Setelah selesai, Jiang datang dan terkejut melihat Yuan terluka.
__ADS_1
" Aku sudah mengobati lukanya, bibi." jawab Hua Rong, Jiang merasa khawatir, lalu Xuan datang dengan wajah khawatir.
" Hanya luka kecil kakak, tidak perlu khawatir." jawab Yuan melihat Xuan.
" Masih mengatakan luka kecil? itu luka terpanjang yang pernah aku obati selama menjadi tabib untuk mengobati prajurit yang terluka " celetuk Hua Rong memandang kesal Yuan, Jiang dan Xuan langsung menoleh Yuan.
" Dia suka membesar-besarkan masalah, jangan khawatir luka ini tidak dalam." jawab Yuan menenangkan ibu dan kakaknya yang sudah khawatir melihat dirinya.
Tiba-tiba seorang prajurit berlari menemui Xuan
" Jenderal, gawat ... pasukan kita terdesak dan jenderal Li tidak dapat mengatasi pasukan musuh, musuh sudah mendekati benteng dan segera menerobos masuk." lapor prajurit itu khawatir.
Xuan segera berlari kebenteng diikuti, Yuan dan Jiang, Sebelum itu Hua Rong ingin ikut tetapi Jiang melarangnya dan memerintahkan untuk tetap disini mengobati prajurit yang terluka jadi ia Hanya bisa patuh karena ia berjanji harus mematuhi perintah Jiang.
Saat sampai diatas benteng, Pasukan musuh sudah bergerak mendekati benteng dan prajurit yang berperang diluar benteng kewalahan menghadapi musuh, melihat itu Yuan menjadi geram karena pemimpin dari pasukan musuh sudah berdiri tersenyum dari balik topengnya serigala yang ia kenakan., ia terus maju sambil menghabisi prajurit yang menghalanginya.
" Kakak, perintahkan aku untuk memimpin pasukan menghadang mereka." Yuan memandang Xuan dengan wajah geram.
Xuan terdiam, ia tidak bisa mengorbankan adiknya.
" Aku tidak bisa membiarkanmu memimpin untuk perang, kau sudah terluka, jika terjadi sesuatu padamu aku..." Xuan terhenti saat Jiang menepuk pundaknya pelan.
" Apa kau memiliki solusi lain?" tanya Jiang,
" Aku tidak kompeten ibu, maafkan aku." jawab Xuan.
" Kalau begitu biarkan Yuan yang memimpin pasukan menghadang mereka, Ibu akan menemani Yuan berperang..."
" Ibu..." kata Xuan dan Yuan serempak mendengar perkataan Jiang.
" Wanita dilarang untuk ikut berperang ibu..." kata Xuan tidak setuju.
" Apa kau lupa cerita yang pernah kau dengar bahwa mantan permaisuri kerajaan Qing pernah berperang untuk menyelamatkan banyak orang..."
__ADS_1
" Dia seorang pengkhianat ibu, selir Jiang berkhianat pada Kaisar." kata Yuan.
" Walaupun ia berkhianat tetapi ia tetap seorang wanita, bukankah itu sama saja."
" Sebagian orang mengatakan ia adalah pengkhianat tetapi sebagian orang lagi mengatakan bahwa ia adalah pahlawan negeri ini, jadi tidak ada yang tau kisah sebenarnya karena ia sudah tiada 16 tahun yang lalu." jawab Xuan
Kisah itu sudah menyebar di seluruh negeri, tidak ada yang tidak tau kisah itu karena dimana-mana bukunya dijual ditoko karena itu adalah kisah yang menarik untuk dibaca.
Xuan melepaskan pakaian perangnya lalu memberikan pada Jiang.
" Jika terjadi sesuatu pada kami, kau harus tetap berusaha mempertahankan kota ini, Xuan." kata Jiang sambil memakai pakaian Zirah perang.
" Ibu selalu berkata bahwa aku adalah tongkat dari sebuah tombak dan Yuan adalah ujung tombak itu sendiri, tetapi ibu... bukankah tombak itu satu tubuh..." Xuan berhenti melanjutkan kata-katanya karena Jiang menutup mulut Xuan.
" Ibu tau apa yang ingin kau katakan, tetapi jika kau ikut maka tidak ada yang akan memimpin, kau lebih paham tentang strategi perang dibandingkan ibu, tetaplah disini sebagai penyemangat mereka." Xuan meneteskan air mata lalu mengangguk barulah Jiang melepaskan tangannya yang menutup mulut Xuan.
" Xuan adalah Air yang selalu tenang, ia tidak pernah memperlihatkan emosinya." Jiang lalu mengelus kepala Xuan kemudian berjalan melewatinya diikuti Yuan.
Mereka bersiap saat gerbang dibuka, Yuan dan Jiang memimpin lalu menyerang pasukan musuh yang mendekat, para prajurit bersorak dan perang kembali pecah.
Yuan dikelilingi musuh, Jadi Jiang mencoba mendekati Yuan yang terkepung karena dari awal ia memang sudah diincar, Tiba-tiba kepala Jiang pusing sehingga ia tidak menyadari musuh mendekat lalu mengores pergelangan tangannya, racunnya kambuh karena ia lupa meminum obat karena terlalu sibuk mengobati prajurit yang terluka.
Saat Jiang diserang, Yuan melihatnya dan terkejut.
" IBU..." teriak Yuan, ia ingin mendekati Jiang tetapi dihadang, dan musuh yang mendekatinya semakin banyak, kepala Jiang pusing, seluruh tubuhnya merasa dicabik karena racun, pasukan itu sudah terdesak dan mereka tidak memiliki harapan untuk menang, hanya tinggal sedikit prajurit yang bertahan, tetapi tiba-tiba keajaiban datang.
Xuan sudah sangat khawatir hingga ia ingin melompat dari atas benteng untuk menyelamatkan adik dan ibunya tetapi itupun tidak akan merubah keadaan, lalu seseorang prajurit berteriak bahwa pasukan bantuan sudah datang dan mereka sudah sampai kemari.
Jiang dapat melihat pasukan besar menuju mereka, ia menyipitkan matanya memandang pasukan besar itu, ia mencoba fokus walaupun kepalanya sangat sakit, ia lalu melihat Yuan yang berjuang menghadapi musuh yang mengepungnya.
Ia kembali memandang pasukan bantuan yang semakin mendekat, Jiang dapat melihat dengan jelas siapa pemimpin pasukan tetapi bukan itu yang Jiang lihat karena yang bisa membuat Jiang khawatir adalah orang yang berada disebelahnya yang berkuda dengan gagah, kepalanya semakin sakit dan pasukan bantuan sudah dekat, akhirnya ia tidak dapat mempertahankan keseimbangan tubuhnya, tetapi saat ia hampir ambruk tiba-tiba tubuhnya ditangkap seseorang.
Jiang melihat samar wajah itu tetapi ia sangat yakin siapa yang menangkap tubuhnya, karena orang itu jelas melompat dari kuda untuk menangkap tubuhnya yang hampir ambruk.
__ADS_1
" Mengapa kita selalu bertemu dimedan perang? baik dulu maupun sekarang." kata Jiang lalu ia sudah tidak sadarkan diri lagi.