Berinkarnasi

Berinkarnasi
Diwen


__ADS_3

Zhang Han berjalan sendiri dikegelapan malam dibawah payung yang sedang hujan deras, ia menuju tempat tinggal Jiang An, walaupun tubuhnya lemah, ia tetap memaksakan diri pergi, karena Zhang Han tau Jiang pasti disiksa.


Saat mencapai rumah itu, ia langsung masuk karena penjaga mengenal Zhang Han, mereka langsung memberi hormat saat melihat Zhang Han, Zhang Han langsung menuju aula pemakaman, ini bukan pertama kalinya Zhang Han datang, dulu ia pernah datang kemari jadi Zhang Han mengenal ruang-ruang dirumah Jiang An. Saat ia menuju Aula, ia melihat Jiang Huan berlutut didepan aula, ia langsung menemui Jiang Huan.


Zhang Han berdiri disampingnya dengan payung ditangannya, Jiang Huan merasa hujan tidak menimpanya lagi, ia menoleh keatas dan melihat Zhang memayunginya.


" Zhang Han." gumannya pelan, Jiang Huan langsung tumbang, Zhang Han langsung berjongkok menahan tubuh Jiang kemudian memeluknya, Zhang Han melepaskan payungnya. " Jiang Huan." panggil Zhang Han menepuk pelan pipi Jiang tetapi Jiang Huan tidak bergeming, ia sudah kelelahan sejak dari gunung Yiling tanpa istirahat sedikitpun.


" Jiang Huan." ulang Zhang Han, Jiang An mendengar suara orang lain ia lalu keluar yang diikuti Xiang Yu dan Jiang Mei, begitu mereka melihat Zhang Han, Xiang Yu dan Jiang Mei langsung berlutut berbeda dengan Jiang An hanya memberi hormat pada Zhang Han. " Yang mulia." kata mereka bertiga serempak. Zhang Han menatap Jiang An.


" Kenapa kau lakukan ini padanya?" teriak Zhang Han marah, karena terlalu emosi Zhang Han hampir memuntahkan darah tetapi segera ia tahan karena ia tidak ingin dilihat orang lain.


" Aku tidak perduli padanya yang mulia, silahkan bawa ia pergi." jawab Jiang An, kembali memberi hormat, keluarga Zhang Han dan keluarga Jiang memiliki masa lalu yang hanya diketahui mereka berdua selama ini.


" Jiang An." teriak Zhang Han, Xiang Yu menatap suaminya seolah bertanya apa suaminya tidak menghormati raja didepan mereka.


" Apa kau tidak perduli dengan nyawa putrimu?"


" Sejak kapan kau perduli tentang dirinya yang mulia?"


" Dulu mungkin aku tidak perduli, tapi sekarang aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya termasuk kau, jika aku melihat hal ini lagi aku tidak akan mengampuni dirimu dan melupakan siapa dirimu bagiku." jawab Zhang Han lalu mengangkat tubuh Jiang Huan menuju kamarnya, Zhang Han menyuruh seorang pelayan memanggil tabib.


" Apa yang kau lakukan suamiku, dia adalah seorang raja, bagaimana kau bisa tidak menghormatinya?" tanya Xiang Yu kesal, ia khawatir jika Zhang Han marah maka ia akan memenggal kepala Suaminya. Ia lalu mengajak Jiang Mei menemui Zhang Han untuk meminta maaf, ia menuju kekamar Zhang Han.


Jiang An menghela nafas saat mereka semua pergi, Zhang Han khawatir pada keadaan Jiang yang terlihat pucat, tak lama tabib datang. begitu ia melihat Zhang Han, ia langsung memberi hormat. " Yang mulia." sapa tabib itu,


" lupakan itu, ayo cepat periksa dia." kata Zhang Han, karena tabib itu terlalu lama menunduk memberi hormat, Tabib itu tergopoh-gopoh memeriksa Jiang Huan karena ia takut Zhang Han marah, lalu datang Xiang Yu dan Jiang Mei. Jujur saja ini pertama kalinya bagi Jiang Mei melihat Zhang Han dan ia langsung terpesona melihat ketampanan Zhang Han apalagi dengan basah kuyup seperti itu, air hujan yang menimpa rambutnya membuat Zhang Han semakin tampan dimatanya.


" Yang mulia." hormat Xiang Yu, Jiang Mei mematung memandang Zhang Han, Melihat putrinya, Xiang Yu menyenggol putrinya untuk memberi hormat begitu tersadar ia langsung memberi hormat tetapi Zhang Han seperti tidak memperdulikan kedatangan mereka.


Xiang Yu heran melihat wajah Zhang Han yang khawatir pada Jiang Huan, setaunya Zhang Han tidak pernah perduli pada Jiang Huan tetapi hari ini berbeda. tabib itu selesai memeriksa Jiang Huan.

__ADS_1


" Bagaimana?"tanya Zhang Han khawatir, tabib itu memberi hormat lalu menatap Jiang karena ragu untuk memberitahukan Zhang Han.


" Katakan saja, tidak perlu ragu." kata Zhang Han seolah bisa membaca fikiran tabib itu.


" Yang mulia Jiang mengalami Diwen ( hipotermia), pembekuan darah dalam tubuhnya karena suhu dingin yang tinggi, anda mengerti maksud saya yang mulia?" tanya tabib itu.


" Aku mengerti." jawab Zhang Han, ia lalu menatap Jiang, Zhang Han memerintahkan mereka semua untuk keluar dan jangan mengganggu sampai besok pagi.


" Ibu, aku menyukai yang mulia." kata Jiang Mei saat mereka mereka sudah berada diluar ruangan.


" Jangan bermimpi Jiang Mei, yang mulia bukan barang yang bisa kau miliki hanya karena kau menyukainya." jawab Xiang Yu karena ia tidak mau putrinya terluka karena keinginan yang tidak mungkin dicapai.


" Andai aku tau yang mulia setampan ini, aku pasti akan memohon pada kakek untuk menggantikan Jiang." guman Jiang Mei,


" Tidak usah berkhayal, ayo pergi." kata Xiang Yu, Jiang Mei dengar berat hati melangkah pergi, mereka tidak ingin mengganggu Zhang Han, lagipula mereka tidak terlalu mendengar yang dikatakan tabib karena mereka saat itu jarak mereka cukup jauh.


Untuk mengatasi Diwen adalah dengan menghangatkan tubuh orang yang terkena Diwen, karena diwen adalah penyakit pembekuan darah akibat suhu cuaca yang berlebihan dan tubuh tidak bisa mengatasi suhu itu. Zhang Han mulai melepaskan pakaian Jiang yang basah lalu ia ikut melepaskan pakaiannya sendiri kemudian memeluk Jiang dan masuk kedalam selimut.


Tengah malam Zhang Han terbangun karena ia ingin batuk, tidak ingin mengganggu tidur Jiang, ia memakai celananya kembali lalu keluar kamar, ia langsung memuntahkan darah hitam, hujan sudah reda.setelah itu ia masuk kembali. Zhang Han menyentuh kening Jiang untuk memeriksa apakah Diwennya sudah Hilang. ia lalu tidur kembali.


" Kau sudah bangun?" tanya Zhang Han lemah, ia seperti malas ingin bangun.


" Apa yang kau lakukan padaku? mengapa..." Jiang Huan tidak jadi melanjutkan perkataannya.


" hmmm?"


" Zhang Han....." kata Jiang, ia ingin meminta penjelasan, ia masih mengingat kalau ia kehujanan lalu jatuh pingsan setelah itu ia tidak mengingat apapun.


" Apa yang harus kau malukan dari diriku? aku sudah pernah melihat semuanya, setiap inci, jadi bagian mana yang tidak pernah aku lihat?" goda Zhang Han, wajah Jiang bersemu merah, ia malu mendengar perkataan Zhang Han dan Zhang Han menikmati ekpresi Jiang saat ini.


" Zhang Han, aku sedang tidak bercanda, apa yang terjadi sehingga kau melakukannya." tanya Jiang sedikit kesal karena Zhang Han sedang mempermainkan dirinya.

__ADS_1


" Tentu saja untuk memuaskan diriku." jawab Zhang Han Entang.


" Zhang Han." terik Jiang Huan.


" Jiang Huan." balas Zhang Han, Jiang jadi kesal jadi ia langsung mendekati Zhang Han untuk memukulnya tetapi Zhang Han langsung menarik tangan Jiang sehingga ia jatuh diatas dadanya. Zhang Han langsung memeluk kepala Jiang yang berada didadanya. Jiang ingin memberontak tetapi saat kepalanya dielus Zhang Han membuat Jiang terdiam.


" Aku sangat khawatir padamu semalam, kukira kau akan mati dan aku harus mencari pangganti dirimu, itu sangat merepotkan jadi aku putuskan untuk menyelamatkanmu."


" Berbicara yang benar Zhang Han, aku tidak punya waktu untuk bercanda denganmu." kata Jiang yang masih berada didada Zhang Han, Zhang Han tertawa kecil mendengarnya.


" Mengapa kau begitu tidak sabaran Jiang? Baiklah, harus aku mulai dari mana ceritanya? katakan?" Zhang Han semakin bertela-tele membuat Jiang semakin kesal, ia lalu bangkit dari dada Zhang Han.


" Apa kau tidak bisa serius? katakan dengan jelas Zhang Han." bentak Jiang. " juga, kenapa kau ada disini, bukankah kau ada diistana?" lanjutnya.


" hmmmm, semalam aku tertidur berjalan, aku tidak sadar begitu terbangun aku sudah disini, aku melihatmu jatuh pingsan lalu karena kau kedinginan aku membantu menghangatkanmu."


" Kau benar-benar tidak tau malu, mengapa kau mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal, apa kau fikir aku percaya?" bentak Jiang.


" Aku fikir kau akan percaya." jawabnya menambah kekesalan Jiang.


" Bagaimana kau bisa tidak tau malu seperti ini."


" Baiklah, ahhhh saat serius malah marah, aku aja bercanda tambah marah, wanita memang sulit dimengerti."guman Zhang Han pelan tapi masih bisa didengar Jiang.


" Aku masih bisa mendengarnya Zhang Han."


" Aku sengaja." Jiang langsung mengangkat tangannya untuk memukul Zhang Han karena terlalu kesal tetapi ia tahan.


" Kau mengalami Diwen, jadi menurutmu apa aku punya pilihan lain?' tanya Zhang Han, Jiang Huan tau apa itu Diwen jadi ia langsung memukul dada Zhang Han.


" Akhhh." kata Zhang Han kesakitan saat dipukul Jiang, Jiang memutarkan matanya malas.

__ADS_1


" Jangan berpura-pura kesakitan seperti itu, aku tau kau tidak lemah, lagipula aku tidak memukulmu kuat." Kata Jiang, Zhang Han tersenyum dan bersikap bahwa ia hanya bercanda.


Jiang berdiri dengan tubuh terlilit Selimut, ia menuju tempat pemandian, begitu Jiang hilang dari pandangannya ia langsung terbatuk tetapi ia tahan sekuat mungkin agar Jiang tidak mendengarnya, pukulan Jiang memang tidak kuat tetapi kondisi Zhang Han sangat parah jadi pukulan tadi seperti ingin mencabut nyawanya. ia melihat telapak tangannya bekas batuk tadi dan ada sedikit darah. Zhang Han menghela nafas.


__ADS_2