
Zhang Han terkejut mendengar berita itu, seharusnya masih 10 hari dari waktu yang ditentukan, ia segera meninggalkan kamar Jiang, saat mencapai pintu keluar kamar ia berhenti. " Segera tinggalkan istana, ingat jangan sampai ada yang melihat kalian, Jiang tidak akan bangun sampai besok pagi." lalu Zhang Han meninggalkan mereka yang diikuti Wei Chan dan Lan Huan, telik sandi itu pergi dijalan berbeda.
Zhao An dan Dao-Dao menghela nafas setelah kepergian Zhang Han, diwajah Xuelan tanpak khawatir diwajahnya, ia menggigit bibir bawahnya karena khawatir setelah mendengar berita itu.
" Ayo kita pergi sebelum orang lain melihat kita." ajak Dao-Dao, saat mereka berdua ingin berdiri, Xuelan yang berada ditengah-tengah mereka menahan lutut mereka agar mereka tidak jadi berdiri.
" Ada apa lagi Xuelan?" tanya Zhao An. Xuelan lalu berpindah tempat menghadap Dao-Dao dan Zhao An.
" Aku adalah pangeran Yan Utara yang mereka cari." Kata Xuelan tiba-tiba membuat mereka melongo melihat Xuelan.
" Itu sudah kau katakan tadi saat mabuk, sudah jangan becanda lagi Xuelan." kata Dao-Dao tidak memusingkan perkataan Xuelan.
" Aku pangeran asli Yan utara, apa kalian benar-benar tidak percaya padaku." tanyanya mulai kesal.
Dao-Dao menyentuh kening Xuelan " tidak panas, sepertinya sarafnya sudah rusak." Kata Dao-Dao lalu mencoba berdiri lalu ditahan Xuelan lagi.
" Kalau kalian saja tidak percaya padaku, bagaimana orang lain akan mempercayainya." Kata Xuelan yang mulai serius. Dao-Dao dan Zhao An saling menoleh.
" Kau serius tentang hal ini?" tanya Dao-Dao menyakinkan. Xuelan mengangguk yakin.
" Kalau kau pangeran kenapa kau tidak menemui Zhang Han dan menceritakan segalanya, kau malah membuat kerajaan ini terancam perang." tanya Zhao An, Dao-Dao ikut menyetujui Zhao An.
" Aku kehilangan liontin perakku saat aku terbangun dulu, jadi aku tidak bisa mengatakannya pada yang mulia ataupun menemui utusan Yan Utara." jawabnya lesu.
" Oh... liontin perak berlambang Long Wang(naga laut)" kata Dao-Dao tiba-tiba. mereka berdua langsung menoleh Dao-Dao.
" Bagaimana kau tau Dao-Dao?" tanya Xuelan heran.
" Biar kuingat dimana aku menyimpannya." katanya.
__ADS_1
" coba kau ingat, itu sangat penting." kata Xuelan diburu penasaran
" ini aku sedang berfikir Xuelan, kau bisa diam agar aku mengingatnya." Dao-Dao mencoba berfikir 3 tahun lalu saat bertemu Xuelan.
" Aku ingat, ada padanya." Dao-Dao menunjuk Jiang yang masih tertidur pulas.
" Kau yakin?tapi Jiang saat ini masih hilang ingatan, bagaimana ini?' kata Zhao An ikut khawatir.
" Dia yang menyimpan liontin itu, saat kau tidak sadarkan diri, liontin itu jatuh dari tubuhmu, aku hanya melihat sekilas , ia mengatakan akan mengembalikannya saat kau sadar, sepertinya ia lupa mengembalikannya padamu." Jawab Dao-Dao.
" Sekarang kita harus membangunkan Jiang." mereka berdiri langsung keperanduan Jiang yang masih tertidur pulas.
" Jiang bangun, ini sangat gawat, Jiang." kata Zhao An mencoba membangunkannya, Xuelan dan Dao-Dao tak kalah heboh untuk membangunkan Jiang.
" Pelankan suara kalian, nanti kita ketahuan." peringat Zhao An.
mereka berusaha membangunkannya tapi Jiang tidak bergeming, ia benar-benar tertidur pulas. Zhao An hampir menyerah membangunkan Jiang yang tidak sadar.
Sudah berbagai cara mereka bangunkan Jiang dari menepuk pipinya, mencubit tangannya bahkan hampir memotong urat leher Jiang karena terlalu kesal tapi tidak ada yang berhasil untuk membangunkan Jiang, Jiang hanya bergeliat mengubah posisi tidur tanpa terganggu sama sekali apa yang mereka lakukan.
" Sekarang apa yang harus kita lakukan, waktu kita hanya sampai besok sebelum perang itu benar-benar terjadi." kata Dao-Dao menghela nafas.
" Sekarang kita hanya bisa menunggu pagi tiba karena Yang mulia mengatakan ia akan bangun besok pagi, keberuntungan kita tergantung padanya, lenih baik kita beristirahat juga." lanjutnya, mereka bertiga menghela nafas. mereka mengambil tempat yang bisa mereka tiduri kecuali tempat tidur disebelah Jiang.
Begitu menjelang pagi, Jiang menguap saat ia menoleh ia dikejutkan tiga kepala yang menatap padanya." Akhirnya kau bangun juga." Kata Xuelan.
" Kalian, kalian belum pergi? bagaimana jika ada yang melihat kalian, apalagi jika Zhang Han yang melihat, sudah dipastikan kalian tidak akan berumur panjang." Kata. Jiang khawatir.
" Kau pikir siapa yang membawa kita kemari?" Tanya Dao-Dao.
__ADS_1
" Zhang Han?" tebak Jiang tidak percaya jika Zhang Han yang melakukannya.
"Itu tidak penting, ada yang lebih penting sekarang, hari ini adalah hari terakhir Yan Utara memberi waktu untuk memberikan pangeran mereka."
" Apa? bukankah masih 10 hari, bagaimana bisa secepat itu."tanya Jiang terkejut yang memotong pembiaraan Dao-Dao yang belum selesai.
" Dengarkan aku dulu, aku belum selesai berbicara, ternyata pangeran Yan Utara yang mereka cari adalah Xuelan." kata Dao-Dao, Jiang terkejut mendengar perkataan Dao-Dao.
" Dia?" Tunjuk Jiang pada Xuelan, Xuelan mengangguk mantap." kau percaya perkataan orang mabuk?" tanya Jiang meremehkan Xuelan, ia sangat tidak percaya.
" Aku tidak mabuk Jiang, ini sangat darurat, akan terjadi perang nanti, kau harus tau, pantang bagi kerajaan Yan Utara pulang dengan tangan kosong, mereka lebih baik mati perang daripada kembali." jelas Xuelan berusaha menyakinkan Jiang.
" Kau benar-benar pangeran Yan Utara? kau tidak bercandakan?" Jiang masih tidak percaya perkataan Xuelan.
" Kau masih tidak percaya? ini bukan saatnya aku bercanda Jiang." Xuelan mulai terlihat kesal.
" Baiklah aku percaya, jadi apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan perang ini." tanya Jiang.
" Apa kau bisa mengingat 3 tahun yang lalu kau menyimpan token perak berlambang Long Wang."tanya Xuelan antusias.
Jiang mencoba mengingatnya " Oh ya, aku menyimpannya" Jiang berdiri lalu membongkar lemari dan menemukan kotak kayu yang terdapat liontin yang mereka cari.
" Ini?" Jiang menunjukan liontin itu, " Iya, itu liontinnya." teriak senang Xuelan.
" Ayo sekarang kita temui yang mulia." Kata Dao-Dao. mereka bertiga mengangguk. "Tunggu, biar aku saja yang menemuinya, kalian tunggu aku di sini." kata Jiang, mereka mengangguk.
Jiang segera berlari kekediaman Zhang Han tapi tidak ada, ia lalu pergi keruang utama tempat rapat istana tapi tidak ada juga, ia pergi keruang militer tempat biasa ia bertemu jenderal, tapi ia hanya melihat Satu jenderal saja. jenderal itu memberi hormat saat melihat Jiang.
" Maaf, aku ingin bertanya? Dimana Yang mulia" tanya Jiang sopan karena jenderal itu.
__ADS_1
" Anda tidak tau? Yang mulia sudah berangkat kemedan perang sebelum matahari terbit, ia ingin memimpin pasukan sendiri dalam perang ini."
" Sudah pergi?" Jiang tidak terkejut sekaligus khawatir pada Zhang Han.