Berinkarnasi

Berinkarnasi
Putra bangsawan


__ADS_3

Saat pagi hari, Yuan bangun lebih dulu, ia melihat Jiang merebus Obat.


" Ibu..." panggil Yuan, Jiang tersenyum.


" Ibu akan pergi kerumah gubernur Gu, nanti suruh Xuan cari obat lalu kau tunggu gadis itu sadarkan diri, ibu hanya pergi sebentar." Yuan mengangguk. Jiang lalu mengemaskan obatnya, saat ia akan berangkat Yuan memegangi tangan Jiang menahannya.


" Maaf atas kejadian kemarin ibu..." ucapnya penuh sesal, Jiang tersenyum lalu mengelus kepala putranya itu.


" Tidak apa-apa, tapi ingat jangan sampai amarahmu itu membakar dirimu sendiri, ibu pergi..." Jiang lalu pergi berangkat, Yuan melanjutkan merebus obat untuk gadis itu, tak lama saat ia mengipas tungku Xuan terbangun.


" Apa ibu sudah berangkat?" tanya Xuan saat melihat Yuan sendiri.


" Sudah." Ia lalu memberikan keranjang obat pada Xuan. Xuan mengambil keranjang obat itu menggendongnya dipunggung.


" Aku pergi " Yuan mengangguk.


" Hati-hati." Xuan lalu berangkat pergi.


rebusan obat itu sudah selesai, ia lalu mengambil sedikit obat kemudian memasukkan kedalam manggkuk kecil, ia ingin mengantarkan obat itu, saat ia masuk ia melihat gadis itu sudah terbangun, gadis itu terkejut melihat kedatangan Yuan.


" Tenang, aku yang menolongmu." Jawab Yuan santai melihat gadis itu terkejut.


" Dimana aku, dan siapa kamu?" tanya gadis itu


" Kau ada digubuk kami, aku menemukanmu ditepi danau kemarin."gadis itu mengangguk, ia mengingat kejadian yang menimpa dirinya.


" Kita belum berkenalan, namaku Hua Rong, namamu?" ia tau tata Krama pada orang yang sudah menolongnya


" Yuan." jawabnya. ia lalu meniup obat yang dimangkuk lalu memberikannya pada Hua Rong.


" Minumlah selagi panas, itu dapat menyembuhkan lukamu." Hua Rong menyambut obat itu, ia perlahan meminum obat itu, saat terasa pahit wajahnya berubah, Yuan tertawa kecil melihatnya.


" Apakah itu pahit?" tanyanya tertawa, Hua Rong mengangguk patuh.


" Ini.." Yuan memberikan sebuah gula batu padanya. Hua Rong memperhatikan gula batu itu.


" Apa ini?"tanyanya bingung.


" Kau tidak tau gula batu ini? padahal ini dijual dimana-mana." Hua Rong menggeleng.


" kau berasal darimana? sepertinya kau bukan berasal dari sini?" Hua Rong terdiam, ia menjadi gugup dan menggigit bibir bawahnya, Yuan memperhatikan Hua Rong.


" Kau bukan mata-mata bukan?" tanya Yuan Curiga.


" Bukan..." Jawab Hua Rong dengan cepat.


" Aku...aku... aku... tersesat..." cicitnya pelan.


" Apa? aku tidak mendengarnya?"


" Tersesat..."


" Kau tersesat...?" Hua Rong mengangguk.


" Kau berasal dari mana dan ingin kemana?" jantung Hua Rong berdebar, ia takut jika mengungkap identitasnya ia akan dimanfaatkan, seperti pengalaman sebelumnya .

__ADS_1


" Aku berasal dari negeri seberang dan ingin kekota raja."jawabnya singkat.


" untuk?" Hua Rong menatap tajam pada Yuan.


" Kenapa kau banyak tanya? bukankah aku sudah menjawab semua pertanyaanmu, urusanku kekota raja adalah rahasiaku." jawabnya kesal, Yuan merasa tidak enak, ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


" Baiklah, ibu dan kakakku pergi sebentar, sebelum siang mereka akan datang." jawab Yuan lalu keluar ruangan. Hua Rong selesai meminum obat, kemudian ia keluar menghirup udara segar.


" Rumah yang tenang." ucap Hua Rong menikmati paginya, tubuhnya terasa ringan setelah meminum obat, Yuan hanya mengawasinya dari dalam sambil memasak makanan, melihat Hua Rong tersenyum Yuan tanpa sadar ikut tersenyum, begitu ia menyadarinya ia segera menggelengkan kepala.


Hua Rong menemui Yuan, ia adalah orang yang mudah bergaul berkat pengalamannya, ia sebenarnya pemalu tetapi karena tragedi yang terjadi padanya membuatnya dapat beradaptasi.


" Kau sedang apa?" tanya Hua Rong, Yuan terkejut melihat kedatangan Hua Rong yang kedapur.


" Memasak..."


" Kau pintar memasak?" tanya Hua Rong kagum.


" Karena jika ibuku yang memasak, dapur ini bisa terbakar." jawab Yuan sambil memotong sayuran. Hua Rong tidak tau apakah Yuan sedang bercanda dengannya atau mengatakan kebenaran.


" Aku bantu?" kata Huo Rong.


" Kau pandai memasak?" tanya Yuan.


" Aku belajar sedikit beberapa waktu terakhir ini." jawabnya, ia menanak nasi dan membantu Yuan.


" Apa yang terjadi padamu, bagaimana kau bisa jatuh kedanau?" tanya Yuan sambil memasak.


" Ceritanya panjang." jawabnya tersenyum, Yuan tidak bertanya lagi, setelah memasak mereka menyiapkan makanan diatas meja dan menunggu kedatangan Jiang dan Xuan.


" Ibu." Kata Yuan, Jiang langsung masuk kedalam. kemudian menuangkan air putih lalu meminumnya.


" Apa Xuan belum kembali?" tanya Jiang, Yuan menggelengkan kepala, ia baru menyadari Hua Rong ada disitu. lama Jiang memandang Hua Rong.


" Ada apa ibu?" tanya Yuan menyadarkan Jiang.


" Keadaan sedang genting, ibu khawatir kota ini tidak dapat bertahan lama." jawab Jiang, tak lama Xuan datang dengan gendongan obat yang penuh dikeranjang.


" Ibu, Yuan.." Xuan ikut menuangkan air putih lalu duduk disebelah ibunya, ia melihat Hua Rong duduk dimeja makan diseberang mereka.


" Apakah itu gadisnya?" tanya Xuan, ia lalu melihat wajah Khawatir Jiang.


" Ada apa ibu?"


" Perang sudah pecah, Dua wilayah sudah dikuasai, ibu Khawatir kota ini tidak akan bertahan lama, cepat atau lambat jika bantuan dari ibu kota terlambat, kota ini tidak akan bertahan." Jawab Jiang, Hua Rong mendengar tetapi ia tidak berani mengatakan apapun.


" Kalau begitu, kita harus ikut bergabung mempertahankan kota ini ibu." kata Yuan, Jiang memandang kedua putranya secara bergantian lalu ia menghela nafas berat.


" Dulu ibu berjuang agar kalian tidak merasakan apa yang sekarang terjadi, nyatanya takdir berkata lain." batin Jiang.


" Ibu..." Panggil Xuan, Jiang akhirnya mengangguk, bagaimanapun ia menghindar, tidak akan bisa karena Jiang juga bagian dari kerajaan Qing.


" Besok kita akan pindah ke rumah gubernur Gu." Xuan dan Yuan mengangguk serempak.


Jiang lalu berjalan kemeja makan, Hua Rong masih duduk disana, ia kemudian mendekati Hua Rong.

__ADS_1


" Bagaimana keadaanmu?"tanya Jiang,


" Sudah jauh lebih baik." jawabnya.


" Aku Si Shi, siapa namamu."


" Namaku Hua Rong, Bibi." Jiang lalu memeriksa nadinya.


" Sudah membaik." Jiang lalu duduk disamping Hua Rong, Xuan dan Yuan duduk dihadapan mereka. Hua Rong termenung melihat kemiripan Xuan dan Yuan.


" kalian kembar?" tanya Hua Rong, Xuan Hanya tersenyum dan Yuan datar.


" Tapi kenapa rambut kalian berbeda?" tanya Hua Rong heran.


" Makan saja dulu." kata Jiang, Hua Rong mengangguk, mereka mulia menyantap hidangan.


" Kata Yuan, jika bibi yang memasak, bibi akan membakar dapur? kulihat bibi tidak seburuk itu." kata Hua Rong disela makannya, Yuan hampir menyembur nasi dari mulutnya, Xuan tersedak dan segera minum air. Hua Rong terlalu polos.


Xuan menoleh pada Yuan, Jiang menatap tajam Yuan.


" Bukan maksudku ...begini..ibu.." Yuan tergagap-gagap menjelaskannya.


" Aku bukan tidak bisa memasak, lebih tepatnya tidak memiliki waktu." jawab Jiang, ia tidak bisa menerima kenyataan, sudah berkali-kali belajar tetap saja masakannya terlihat buruk, jadi ia memutuskan untuk Tidak memaksa lagi, sejak nenek pendekar meninggal, Yuan atau Xuan yang bergantian memasak untuk mereka, mereka lebih baik dari Jiang yang memasak.


Jadi setiap kali ada yang menyinggung ia tidak pandai memasak, Jiang kesal.


" Apa buruknya tidak pandai memasak? aku memiliki putra yang bisa memasak, untuk apa menyusahkan diri." gumannya sendiri, Hua Rong dapat mendengarnya tetapi memilih diam.


" Ibuku bahkan lebih buruk dari anda?" kata Hua Rong. Wajah Jiang mencerah saat mendengarnya.


" Benarkan? ayahmu pasti dipaksa ibumu untuk mencoba masakannya setiap kali memasak, kudengar ibumu hobi memasak." kata Jiang tertawa tanpa sadar, Hua Rong, Xuan dan Yuan menatap Jiang heran, Jiang bersikap seolah ia sangat mengenal baik orang tua Hua Rong.


begitu ia tersadar ia berhenti tertawa.


" Bagaimana anda mengetahuinya?" tanya Hua Rong yang lebih heran lagi, karena itu adalah kenyataannya.Jiang berdehem.


" Aku hanya menebaknya, dulu aku juga seperti itu." jawab Jiang tersenyum lalu melanjutkan makan, Hua Rong tidak bertanya lagi.


*****


Wei Chan menyiapkan pasukan untuk berangkat keperbatasan, Zhang Han susah memberi perintah bahwa Wei Chan akan menjadi jenderal perangnya, dan Zhang Han akan tergabung dalam pasukan tanpa ada yang mengetahuinya.


Zhang Han memerintahkan Lan Huan dan putranya dari Ming Hui, Zhang Hou untuk tetap diistana menjaga agar orang lain tidak mengetahui bahwa Zhang Han keluar instan.


Pangeran Zhang Hao adalah satu-satunya pangeran diistana sehingga orang sering menyebutnya putra mahkota, panggilan untuk putra mahkota untuknya adalah sebuah ejekan bagi Zhang Hou karena ia belum dinobatkan bahkan Zhang Han tidak pernah membahas hal itu


Ia adalah pangeran yang sombong dan angkuh, tetapi ia juga orang yang mandiri, karena kesombongan yang miliki membuat ia tidak memiliki banyak teman selain orang kepercayaannya, putri dari Lan Huan dan Wei Yanli yang seumuran dengannya, Lan Jingyi.


Ia memandang pasukan besar dari atas yang berada dibawah benteng yang sudah siap untuk berangkat.


" Jingyi apa kau sudah mencari tau dimana putri Hua Rong berada? aku mendengar ia hilang diperjalanan kemari." tanya Zhang Hou, ia adalah orang yang tidak banyak bicara sejak berumur 8 tahun, ia memang kandidat yang pantas menjadi kaisar selanjutnya, selain itu ia juga kuat berkat didikan langsung oleh Zhang Han.


" Hamba sedang berusaha." jawabnya, Zhang Hou terdiam sejenak.


" Perluas pencarian." katanya, Zhang Hou sebenarnya juga menderita, ia tidak pernah melihat ibunya lagi sejak berumur 8 tahun karena hukuman, Ming Hui dihukum berat karena demi menyelamatkan Kesalahan Zhang Hou sewaktu kecil, sejak itu Zhang Hou berjanji ia tidak akan mengecewakan ibunya lagi.

__ADS_1


Ia bertekad, jika ia menjadi kaisar menggantikan ayahnya maka hal pertama adalah membebaskan hukuman ibunya, itulah mengapa ia berusaha keras menjadi seperti kuat dan pantas menggantikan ayahnya agar ia tidak diragukan lagi dimasa depan.


__ADS_2