Berinkarnasi

Berinkarnasi
Bandit


__ADS_3

Xuan dan Yuan mengemaskan barang mereka, karena besok adalah hari mereka akan berangkat keistana, Xuan mengambil beberapa obat-obatan yang sudah jadi untuk perjalanan mereka sisanya barang mentah untuk obat.


" Kakak..." Xuan menoleh saat Yuan memanggilnya.


" Seperti apa ya istana, selama ini kita hanya mendengarnya saja, tidak pernah melihatnya secara langsung." Yuan tersenyum memikirkannya sambil mengemaskan barangnya, Xuan terdiam sejenak.


" Yuan, ibu pernah menyinggung tentang hal itu saat kita masih kecil dulu, hanya saja kita mengabaikannya karena kita fikir ibu sedang berdongeng, apa kau lupa?" jawab Xuan, Yuan melupakan tentang hal itu.


" Aku lupa." Yuan menyengir .


" Saat sampai diistana, kendalikan amarahmu, jangan membuat masalah dengan siapapun, jangan gunakan kekerasan jika masih bisa diselesaikan dengan baik-baik, dan jangan membuat ibu dan ayah khawatir."


" Kakak bicara seolah aku adalah biang onar." Yuan mendengus kesal.


Setelah selesai ia melihat hanya beberapa orang saja mereka berangkat, prajurit yang dibawa Zhang Han sudah berangkat beberapa hari yang lalu yang dipimpin oleh Wei Chan dan Hua Rong karena perintah Zhang Han, jadi hanya 5 pengawal, Zhang Han, Jiang yang kondisinya sudah membaik, Xuan dan Yuan yang tersisa.


Mereka berangkat dengan kereta yang mewah dan menarik perhatian juga beberapa barang mahal karena Zhang Han berencana akan melewati sebuah jalur perampok yang sudah membuatnya sakit kepala karena laporan menumpuk tentang perampok itu.


Mereka berangkat, Zhang Han dan Yuan berkuda sedangkan Jiang dan Xuan Naik kereta, bukan karena Xuan tidak pandai berkuda hanya saja ia ingin menemani ibunya, didalam perjalanan Yuan berkuda mendekati jendela kereta.


" Ibu..." bisiknya pelan, Jiang membuka tirai jendela, Zhang Han berada dikiri kereta sedangkan mereka dikanan kereta.


" Xuan..." panggil Zhang Han, Xuan lalu membuka tirai kanan.


" Ada apa ayah?" tanya Xuan.


" Ehmm, ayah lelah...kau gantikan ayah berkuda, kudengar kau bisa berkuda juga." kata Zhang Han tersenyum, Xuan melirik Jiang yang berbicara dengan Yuan, ia lalu mengangguk.


" Ibu, apa cerita yang kudengar bahwa yang mulia itu kuat benar adanya? kulihat hanya tau memerintah saja, aku pernah bertarung dengannya, kalau saja saat itu aku tidak lelah mungkin aku akan menang." Jiang tersenyum Dan ingin menjawab tetapi tiba-tiba kereta terhenti.


" Ada Apa?" tanya Jiang pada Xuan, Yuan juga ikut berhenti, memikirkan pertanyaan yang sama.


" Ayah lelah, aku akan bergantian berkuda dengan ayah." Xuan lalu turun, melihat itu Yuan memutar bola matanya malas melihat Zhang Han naik kereta sedangkan Xuan naik kuda.


" Kukira kisahnya mengesankan, ternyata tidak lebih dari Kaisar lemah, haaaa ternyata rumor benar-benar hanya rumor." batin Yuan, memandang malas Zhang Han.


" Didepan sana kita akan melalui gunung yang jalurnya berada diantara jurang, jalur itu dikuasai bandit terkenal, aku sengaja masuk untuk melindungimu karena kondisimu belum pulih sepenuhnya." Kata Zhang Han saat ia masuk kedalam kereta, Jiang mengangguk.


Yuan lalu berkuda beriringan dengan Xuan memimpin jalan.


" Kenapa bertukar tempat?" tanya Yuan.


" Ayah lelah."


" Lelah?" Yuan tidak percaya saat mendengarnya. " Ternyata orang-orang hanya membesarkan rumor saja." kata Yuan.

__ADS_1


" Yuan, tidak baik berbicara seperti itu tentang ayah..." Wajah Xuan serius.


" Hah?" Yuan menatap Xuan.


" Walaupun seekor kelinci dikira singa." lanjutnya, Yuan dan Xuan tertawa bersama.


" kakak, leluconmu itu sungguh tepat untuknya..." Yuan tidak berhenti tertawa. Zhang Han memiliki pendengaran yang tajam begitu juga Jiang jadi mereka bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, lagipula Yuan berbicara keras seperti sengaja didengar orang yang berada didalam kereta.


" Boleh aku membunuh mereka?" tanya Zhang Han, Jiang langsung menatap tajam Zhang Han, ia menelan ludah.


" Kurasa aku berubah fikiran." kata Zhang Han lalu mengalihkan pandangannya karena takut melihat tatapan kejam Jiang.


Zhang Han membuka sedikit tirai kereta.


" Kita sudah memasuki wilayahnya." Saat Zhang Han menoleh Jiang yang sedang memejamkan matanya, Jiang membuka matanya terkejut.


" Ada apa?" tanya Zhang Han.


" Tidak..." jawab Jiang, sekali lagi jiwanya serasa ditarik keluar lagi, membuatnya berkeringat dingin.


" tetapi kenapa kau berkeringat dingin?" tanya Zhang Han khawatir.


" Aku baik-baik yang mulia, tidak perlu khawatir." Jiang menarik nafas menenangkan dirinya sendiri.


" Tempat yang strategis untuk merampok, apakah aku harus memberi mereka penghargaan selirku?" Zhang Han tersenyum.


" Berhenti bercanda yang mulia, bantu putramu, Dilihat dari strategi mereka yang tidak memunculkan diri, sepertinya mereka perampok unggul." kata Jiang.


" Tentu saja, tidak mungkin aku mendapat seribu laporan selama sepekan karena banyak pejabat dirampok setiap mereka melewati wilayah ini, aku sengaja memilih jalur ini untuk melihat langsung." Zhang Han masih duduk tenang didalam kereta.


" Kau tidak turun?" Tanya Jiang.


" Turun? untuk apa? aku yakin Yuan bisa mengatasinya." jawab Zhang Han.


" Tidak, firasatku buruk tentang ini, keluarlah sebelum kutendang dari sini." Zhang Han menghela nafas, ia dengan berat hati keluar kereta, tetapi baru saja ia membuka tirai kereta tiba-tiba pisau terbang hampir mengenainya kalau saja ia tidak menghindar.


" Kenapa kalian tidak menangkis pisau itu, tapi malah menghindar." teriak Zhang Han, Yuan menoleh, mereka memang menghindari pisau itu karena terkejut, mereka tidak tau bahwa Zhang Han keluar kereta, karena posisi mereka tepat didepan kereta.


" Aku terkejut." jawab Yuan.


" Terkejutmu hampir membunuhku." balas Zhang Han.


" Ayah, tetaplah berada dalam kereta, keadaan ini berbahaya, sepertinya ada bandit yang mengintai kita." kata Xuan melihat situasi.


" Ibu kalian mengusirku." jawabnya kesal lalu ia turun dari kereta, para prajurit sudah siaga.

__ADS_1


" Berapa lama lagi kami harus menunggu kalian memunculkan diri? keluar CEPAT...aku sudah lelah..." teriak Zhang Han. Ia memperhatikan sekitar ia lalu menghela nafas.


" Pilih, kalian keluar atau kubakar hutan disini?" pendengaran dan penglihatan Zhang Han tajam, Yuan bersiaga begitu juga Xuan, walaupun ia tidak pandai bertarung tetapi ia bisa memanah dan keahliannya tidak perlu diragukan lagi.


" Yuan, kau memiliki batu api?" tanya Zhang Han, Yuan lalu mengeluarkan batu api dari kantong nya lalu memberikannya.


" Xuan, pinjam panahmu." Xuan menyerahkan panah itu, Zhang Han kemudian masuk kereta karena ada madu didalam kereta, ia merobek kain sedikit lalu melilitkan pada mata anak panah kemudian mencelupkan pada madu.


Ia menggesek batu itu hingga memercikkan api kemudian membakarnya pada madu sehingga anak panah itu terbakar, saat Zhang Han ingin menembakkan anak panah, tiba-tiba pisau terbang langsung memotong mata anak panah itu, Zhang Han bahkan tidak sempat menghindar dan hanya melihat anak panahnya yang terjatuh karena terpotong.


Xuan dan Yuan melongok sedetik kemudian Xuan menahan tawa dan Yuan sudah terbahak-bahak tertawa melihatnya, Zhang Han seperti orang bodoh didepan kedua putranya.


Ia lalu mengambil anak panah lain dikuda Zhang Han, dan langsung menarik busurnya dan ia tembakan, ia lakukan secepat kilat dan tiba-tiba saja dari panah yang ditembakkan tak jauh, sesuatu jatuh dari pohon. Xuan dan Yuan terperangah bahwa yang jatuh adalah salah satu bandit yang mengintai mereka.


" Siapa suruh memotong panahku." Ucap Zhang Han kesal sendiri.


" Wah...." Yuan bertepuk tangan. " Apa ayah ahli memanah seperti kak Xuan?" tanya Yuan.


" Memanah hanya aku lakukan diwaktu Luang, aku ahli segalanya... memangnya siapa yang bisa menandingiku diseluruh negeri ini?" Ucap Zhang Han sombong.


Yuan memutar bola matanya malas mendengar ucapan sombong Zhang Han.


" Tentu Saja, Ayah juga ahli membuat orang lain menderita." Jawab Yuan. Zhang Han ingin membalas tiba-tiba kilatan pisau terlihat dan mengarah pada Xuan, Xuan dengan cepat menghindar serangan itu.


" Jiang benar-benar mempersiapkan mereka dengan matang." batin Zhang Han, ia tersenyum.


Suasana kembali sunyi, pendengar dan penglihatan mereka semakin tajam.


" Aku harus memancing ketua mereka keluar dari persembunyian." guman Zhang Han, ia lalu Menarik tiga anak panah, dan langsung menembaknya, dan lagi-lagi ketiga panah itu tepat sasaran menjatuhkannya. Zhang Han menarik 3 panah lagi, tiba-tiba mereka semua bergerak dan menggunakan sling baja dan meluncur.


Xuan dan Yuan menoleh Zhang Han karena mereka kini dikepung, jumlah mereka sekitar belasan orang.


" Sekarang aku menyesal membuat mereka keluar." kata Zhang Han, Xuan dan Yuan turun dari kuda, para bandit membuat jalan untuk ketua mereka lewat, mereka menutupi hidung dan mulutnya menggunakan kain hitam dan terlihat hanya mata saja.


Lama ketua itu menatap Xuan dan Yuan, entah kenapa Yuan dan Xuan merasa mengenali ketua bandit itu, tatapan mata itu serasa mengingatnya pada seseorang tetapi mereka lupa siapa dia.


" Siapa kau?" tanya Yuan, ia menatap tajam Ketua bandit itu. Ketua bandit itu lalu berbalik.


" Biarkan mereka lewat..." para bawahannya saling menoleh karena terkejut dengan perintah ketuanya, karena saat ketua mereka memimpin merampok pantang mundur sebelum mereka mendapatkan hartanya.


" Ketua... bagaimana mungkin kita bisa melepaskan mereka? lihat harta yang mereka bawa? dan juga mereka membunuh rekan-rekan kita, aku akan membalaskan kematian mereka." ucap salah seorang bandit itu marah.


" Ini jebakan." ucap ketua itu, Zhang Han tersenyum, para bawahan bandit itu terkejut.


" Sifeng... Kau kah itu? " ucap Xuan, Yuan baru mengingat saat Xuan menyebutkan namanya, sahabat yang hilang tiga tahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2