
Zhao An memiliki kelainan pada Indra penciumannya sejak lahir, ia bisa mencium bau racun apapun bahkan bila racun itu tidak berbau dan berwarna, ia tetap bisa mendeteksi racun, itulah mengapa Lu Xiang tidak pernah menggunakan racun untuk menyakiti Zhao An, sebab itu sudah mengetahui hal itu dari sang kekasih dahulu, yaitu kakak laki-laki Zhao An.
" Sebaiknya makananmu harus dicicipi orang lain terlebih dahulu." ucap Zhao An, lalu ia berdiri dibantu Xuelan, Ayah Xuelan lalu menarik Xuelan menjauhi Zhao an.
" Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir, Xuelan mengangguk.
" Memangnya siapa yang bisa menyakitiku saat kakakku ada disini." jawab Xuelan lalu tersenyum menoleh pada Zhao An.
" Jangan bodoh...dia..."
" Ayahanda... lihat baik-baik dirinya... setelah itu baru berkomentar." Xuelan tersenyum hangat pada ayahnya. Sang ayah penasaran lalu mendekati Zhao An, berdiri berhadapan, lama Zhao An ditatap olehnya membuat Zhao An memilih Cengir bodoh.
" Aku selalu bertanya-tanya, apa istimewa teman-temannya yang selalu ia banggakan itu... tetapi aku orang yang tau berterima kasih pada orang yang sudah menyelamatkan nyawa putraku, jika memang kau menginginkan sesuatu katakan maka aku akan berusaha memenuhinya untuk membalas budimu. putraku sangat polos, ia menganggap semua orang baik hingga ia tidak bisa membedakan baik dan buruk orang lain, jika kau berteman dengannya dan jika aku melihat kau memiliki niat lain lain selain berteman, selama aku hidup kau tidak akan aku biarkan hidup damai." suaranya terdengar mengancam, Zhao An hanya membalas dengan senyuman.
" Ah...aku ingat apa yang kau pernah diajarkan padaku, Zhao An?" ucap Xuelan tiba-tiba, Zhao An menoleh lalu tersenyum, Xuelan lalu berdiri disamping Zhao An.
" Selalu bersikap tenang dalam kondisi apapun."ucap mereka berdua serempak, mereka berdua saling menatap kemudian tertawa mengingat kegilaan mereka dulu.
" Ayahanda, percaya padaku..." Xuelan lalu mendekati ayahnya kemudian menggenggam tangannya. Ayahnya hanya menghela nafas kemudian mengangguk.
" Sepertinya acara ini sampai disini, silahkan berisitirahat pada tempat yang sudah disediakan." lalu pintu terbuka dan para kepala pelayan masuk. mereka sudah diperintahkan untuk membawa para tamu berisitirahat.
Para tamu satu persatu meninggalkan ruangan untuk pergi ketempat peristirahatan, kini tinggal mereka saja, ayah dan ibu Xuelan sudah pergi karena Xuelan meminta mereka untuk segera beristirahat, para pengawal juga sudah diusir Xuelan.
" Meng Lu, istirahatkan lebih awal, aku masih ada urusan." Meng Lu sedikit ragu tetapi akhirnya pergi, kini tinggal mereka berdua.
" prajurit, panggil Zishu kemari."
" Ada apa?" tanya Zhao An.
" Aku akan membawamu bertemu Seseorang." Xuelan tersenyum penuh makna.
" Memerlukan Zishu?"
" Agar tidak ada yang curiga."
" Tapi Siapa?"
" Kau akan segera tau."
" Jangan membuat orang lain penasaran? apakah seorang wanita?" tanya Zhao An hati-hati.
" Ha?... bagaimana kau tau..." Zhao An tersenyum nakal, Xuelan keheranan... awalnya ia fikir Zhao An sudah tau siapa yang akan segera mereka temui, tetapi melihat senyum Zhao An yang terlihat fikiran kotor, ia segera memukul kepala Zhao An.
" Kenapa kau memukulku?... aku bahkan belum mengatakan apapun." Zhao An mengelus kepalanya yang dipukul.
" Karena kau akan mengatakan hal yang tidak-tidak." jawab Xuelan.
" Kau cepat sekali menebak fikiranku?, kau belum menikah tetapi kau ingin mengkhianati Meng..." Xuelan segera menutup mulut Zhao An dengan tangan kirinya.
" Jangan bicara sembarangan, jika ada yang mendengar bukankah aku akan dikuliti hidup-hidup olehnya." Xuelan lalu melepaskan tangannya.
" Lalu siapa yang ingin kita temui? cepat katakan."
__ADS_1
Xuelan ingin menjawab tetapi Zishu sudah datang, Zishu memberi hormat, ia melirik Zhao An.
" Minta maaf." ucap Xuelan tiba-tiba.
" Tidak perlu, lagipula ia melakukan itu karena tugasnya, ia hanya tidak ingin terjadi apapun padamu..." Zishu kemudian memberi hormat pada Zhao An.
" Maaf aku salah mengenali orang baik, tolong maafkan aku." ia membungkuk hormat, Zhao Ab segera mendekati Zishu lalu mengangkat lengannya agar tidak membungkuk padanya.
" Tidak perlu seperti ini, berdirilah." Zishu lalu berdiri.
" Ayo kita pergi." Xuelan lalu berjalan, Zishu dan Zhao An mengikuti dari belakang.
Zhao An lalu berjalan berdampingan dengan Xuelan dan Zishu jadi berjalan didepan.
" Dimana dia?" tanya Xuelan, Zishu mengerti maksud Xuelan lalu ia berjalan halaman belakang karena Zishu sudah tau kebiasaannya.
Seseorang sedang duduk memunggungi mereka, Zhao An memperhatikan seorang wanita yang duduk sedang menikmati tehnya, Zhao An segera berlari mendekati wanita itu.
" Jiang..." teriak Zhao An girang, Jiang lalu menoleh kemudian tersenyum, Jiang lalu berdiri, Zhao An ingin memeluk Jiang tetapi ia tahan, ia harus tau batasannya.
" Kau ada disini?" tanyanya senang.
" Bukankah aku sudah berjanji bahwa kita akan bertemu disini." Zhao An cengir.
" Kau benar." jawabnya. Tiba-tiba Jiang terbatuk-batuk membuat Xuelan segera menghampiri Jiang.
" Kau baik-baik saja?" tanya Xuelan memegangi Jiang yang hampir jatuh.
" Apa yang terjadi padamu, Jiang?" Tanya Zhao An khawatir karena terlihat bahwa kondisi Jiang sedang lemah.
Xuelan memberi kode agar Zishu pergi, Zishu segera mengundurkan diri, kini tinggal mereka bertiga.
" Apa yang terjadi, Jiang... Xuelan..." Zhao An meminta penjelasan. Xuelan lalu menceritakan segalanya, sampai Jiang terkena racun dan kandungan Jiang, Zhao An terperangah mendengarnya.
" Lalu kandunganmu, apakah akan baik-baik saja? " Tanya Zhao An sedih.
Xuelan menggeleng, Zhao An menatap Jiang sedih, bertanya banyak pun tidak akan berguna karena itu tidak akan membantu. Zhao An ingin mengatakan sesuatu tetapi ia tahan.
" Apa lagi ini? takdir apa yang kau tulis dewa...aku memiliki dua janji pada dua orang yang tidak bisa aku ingkari, akh....kenapa jadi seperti ini." Zhao An berteriak dalam hati, Ia lalu membenturkan kepalanya dimeja, Jiang dan Xuelan menatap Zhao An heran.
" Ada apa?" tanya Jiang.
" Tidak ada. " jawab Zhao An masih membenturkan pelan kepalanya kemeja.
" Lalu kenapa kau membenturkan kepalamu?"
" Tidak apa, aku hanya ingin membenturkannya saja, untuk menguji kekuatan kepalaku." jawab Zhao An asal.
" Oh ..." jawab Xuelan dan Jiang serempak, Zhao An mengangkat kepalanya menatap dua orang itu kemudian membenturkan kepalanya kembali karena kesal mendengar jawaban kedua temannya.
" Banyak yang ingin aku katakan padamu Jiang... tetapi yang mulia memintaku berjanji, aku tidak tau harus melakukan apa...jika aku katakan maka aku mengkhianati yang mulia...jika tidak apakah semua akan baik-baik saja?" batin Zhao An, ia lalu menghela nafas, Jiang menoleh padanya.
" Ada apa? apa terjadi sesuatu?" tanya Jiang, Xuelan ikut menoleh Zhao An, Zhao An ingin membuka mulutnya tetapi akhirnya diurungkannya.
__ADS_1
" Tidak ada." jawabnya lesu.
" Lalu kenapa kau menghela nafas?"
" Aku sengaja membuang nafasku karena terlalu banyak."
" Konyol..." celetuk Xuelan. Jiang hanya menggelengkan kepala.
" Aku tau selama ini kau selalu mengikuti Zhang Han, kau tidak bisa mengatakan rahasia dan informasi yang kau ketahui padaku...jadi aku tidak akan memaksamu, lagipula kau tidak ikut campur dalam rencanaku, aku hanya menginginkan kau hidup baik-baik saja." Jiang menepuk pundak Zhao An.
" Um...terima kasih, aku pasti menjaga diriku, kau juga..." Jiang mengangguk, ia lalu menoleh Xuelan.
" Aku mendengar kau diteror untuk dibunuh?" tanya Jiang, Xuelan mengangguk.
" Apakah kau tau Siapa dalangnya?" Lama Xuelan terdiam, ia menatap wajah kedua temannya, akhirnya mengangguk.
" Kau tau? lalu kenapa kau tidak bertindak, kenapa kau berbohong padaku tadi?" tanya Zhao An terkejut.
" Zhao An... ada Meng Lu disana, itulah mengapa aku tidak mengatakannya padamu "
" kau benar." Jawab Zhao An mengangguk-angguk mengerti.
" Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Jiang.
" Ini urusan pribadku, dia juga tidak akan benar-benar berani membunuhku, dia hanya marah padaku... biarkan saja, aku bisa mengatasinya."
" Kurasa kau sudah mengerti permasalahan yang kau alami." Jiang menepuk pundak Xuelan, Xuelan tersenyum.
" Kapan kau akan memulainya lagi?" tanya Xuelan.
" Segera setelah kondisiku membaik, aku mendapat informasi bahwa Bai Qian mulai bergerak dan gencar memburuku." Jiang tersenyum penuh makna.
" Ah.. aku baru ingat, Jiang apa kau sudah mendengar bahwa Lu Xiang meminta cerai pada yang mulia?" tanya Zhao An.
" Lu Xiang?... meminta cerai?..." Zhao An mengangguk cepat.
" Apa itu mungkin? jika Lu Xiang meminta cerai apa yang ia dapatkan? apakah ia benar-benar sudah mengkhianati Bai Qian? jika itu benar maka Bai Qian pasti memburu Lu Xiang juga, harusnya kekuatan mereka melemah sekarang..." fikir Jiang.
" Apa yang mulia menyetujuinya?" Zhao An mengangguk cepat, Jiang lalu menoleh pada Zhao An.
" Zhao An, Aku akan menjadi orang kedua yang akan meminta cerai."
" Hah...?" Zhao An terkejut.
" Tapi...ke..napa..." Zhao An tergagap-gagap karena terkejut.
" Tidak ada yang perlu dipertahankan, aku sudah memutuskannya, kau harus tetap mendampingi Zhang Han..."
" Ta...pi..."
" Aku memiliki alasan." Jiang menepuk pundak Zhao An, Zhao An terdiam ia tidak tau harus mengatakan apa, jadi ia hanya tertunduk.
" Maaf, aku tidak bisa melakukan apapun untukmu." jawabnya lesu, " Bolehkah aku berbicara pada anakmu yang belum lahir? bukankah alu mengambil sumpah atas namanya."Jiang tertawa lalu mengangguk.
__ADS_1
" Aku bersumpah atas dirimu, sekarang aku berdoa agar kau yang akan menyatukan kedua orang tuamu, jadilah anak yang tangguh, negeri ini membutuhkan kedua orang tuamu. kau harus membantuku... sekarang tanggung jawab besar sudah ada dipundakmu tumbuhlah sebagai seorang yang berani tidak perduli kau laki-laki atau perempuan." Bisik Zhao An pelan, Jiang tidak tau apa yang dikatakan Zhao An pada perutnya karena ia berbicara hampir tidak bersuara.
" Sudah." Zhao An tersenyum kemudian ia berdiri, ia kemudian menyodorkan sebuah saputangan pada Jiang.