
Para pelayan itu masih bersujud dihadapan Wei Chan sambil menangis memohon ampun. " Katakan, kenapa kalian tidak berkumpul." teriak Wei Chan marah.
" Kami adalah pelayan kediaman ibu suri, kami tidak bisa meninggalkan kediaman karena ibu suri sangat membutuhkan kami." jawab salah seorang pelayan yang bersujud itu. " Mohon ampuni nyawa kami jenderal." ucap mereka serempak.
" Angkat kepala kalian, aku ingin melihat wajah kalian." kata Wei Chan, semua pelayan itu mengangkat wajahnya, setelah Wei Chan melihat wajah semua pelayan itu, tidak ada yang mencurigakan dan wajah para pelayan itu tidak ada yang mirip dengan lukisannya, Wei Chan menyuruh mereka kembali kekediaman ibu suri.
Sampai malam tiba, mereka tidak mendapatkan hasil apapun, Jiang gelisah dikamarnya ia bolak-balik dikamar." Aku harus mencari tau sendiri, siapa dalangnya." Kata Jiang bicara sendiri.
" Tapi siapa?... Apa mungkin selir Lu Xiang?" tanya Jiang sendiri.
" Fillingku berkata bahwa dia pelakunya, seolah ia sendiri yang ingin memberitahu diriku?Aku akan memeriksanya sendiri untuk menghilangkan kecurigaanku padanya." Jiang lalu berganti pakaian, ia memakai pakaian serba hitam dan menutup wajah, Ia menyelinap keluar menuju kekediaman Selir Lu Xiang.
Penjagaan dikediaman selir Lu Xiang tidak ketat,bahkan dibilang sangat mudah bagi Jiang untuk menyusup, Jiang segera memanjat dan masuk lewat jendela untuk masuk kedalam kamar Lu Xiang, saat Jiang masuk, Lu Xiang tidak berada dalam kamarnya. " Kemana Selir Lu Xiang pergi larut malam begini?" guman Jiang sendiri.
" Ini lebih mudah bagiku jika tidak ada dia, lagipula aku hanya memeriksa sesuatu." Jiang segera memeriksa semua lemari Lu Xiang, laci mejanya semua Jiang periksa tapi tidak menemukan apapun.
" Sepertinya ada tikus yang masuk?" kata seseorang dibelakang Jiang, Jiang terkejut karena ia tidak mendengar langkah kaki Lu Xiang masuk. Jiang langsung memutar tubuhnya menghadap Lu Xiang yang tersenyum manis tapi penuh makna.
Lu Xiang duduk dikursi dekat peranduan, ia menuangkan teh dicangkirnya, Jiang berniat ingin pergi karena tidak mau berurusan pada Lu Xiang. " Tidak perlu terburu-buru Jiang, kau belum mendapatkan yang ingin kau cari bukan? Duduklah dulu, temani aku minum teh." Kata Lu Xiang saat menyadari Jiang berniat pergi, ia tersenyum saat Jiang menghentikan langkah kakinya.
" Apa kau yang melakukannya?" tanya Jiang penasaran.
" Ini?" Lu Xiang mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berwarna hijau. Sekali lihat Jiang mengetahui apa yang dikeluarkan oleh Lu Xiang. " Itu." Tunjuk Jiang terkejut, rasa kecurigaannya kini telah terbukti.
__ADS_1
" Kau menginginkan ini bukan?" Lu Xiang tertawa, ia lalu meminum tehnya sedikit.
" Ternyata selama ini kau adalah dalang dari semua kejahatan dikerajaan ini." kata Jiang marah.
" Dalang kau bilang? Banyak hal yang tidak kau ketahui Jiang, yang pasti aku adalah pelaku yang membunuhmu 10 bulan yang lalu karena kau mengetahui semua rencanaku, sayangnya aku tidak menyangka kau selamat." jawabnya tersenyum licik.
" Lu Xiang..." teriak Jiang.
" Jangan berteriak padaku Jiang, kau kehilangan ingatan makanya kau tidak mengingat bahwa aku yang membuatmu menceburkan diri kedalam kolam."
" Apa kau juga yang membuat ibu suri seperti itu?", tanya Jiang geram.
" Benar." jawab Lu Xiang santai, Mendengar jawaban Lu Xiang, Jiang menahan amarah.
" Apa kau juga yang membunuh raja terdahulu dan adik Zhang Han, Zhang Ruyue?" tanya Jiang, ia mengepalkan tangannya menahan amarah.
" Apa kau juga yang ingin meracuniku?"
" Benar, tapi aku berubah fikiran, sedikit bermain-main denganmu sepertinya menyenangkan. mari taruhan denganku?" Lu Xiang tertawa yang membuat Jiang geram melihatnya.
" Taruhan?" Jiang menaikan sebelah Alisnya tidak mengerti.
" Benar, Kau terlalu percaya diri bukan? baik, aku akan membuat orang terdekatmu kehilangan nyawanya dan hanya kau yang bisa menyelamatkan, itu tergantung pada usahamu menyelamatkannya."
__ADS_1
" Kau benar-benar binatang? kau mempermainkan nyawa orang lain seperti boneka. sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Jiang marah.
" Melihat Zhang Han menderita." jawabnya marah.
" Zhang Han sangat mempercayaimu, bagaimana kau bisa mengkhianatinya seperti ini?"
" Hahaha.... tidak ada yang mengenal Zhang Han lebih baik daripada diriku, Aku akan membuat Zhang Han menderita, dan kau tidak akan bisa menghetikanku, semuanya akan berawal darimu karena kau adalah kuncinya."
" Aku akan melindungi Zhang Han, tidak akan aku biarkan kau menyakitinya, itu adalah janjiku."
" Baik, kita lihat siapa pemenang terakhir."
" Aku akan memberitahukan Zhang Han bahwa kau adalah ular diistana ini dan memberitahu semua kejahatanmu."
" Hahaha... kau kira dia akan percaya? baik, beritahu padanya sekarang dan kita lihat apa dia percaya atau tidak perkataamu." Lu Xiang tertawa besar, Jiang menatap Lu Xiang tajam.
" Kau terlalu memandang tinggi dirimu Lu Xiang, tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu menyakiti orang yang aku sayang, tidak akan pernah."
" Dan kita akan lihat." Jawab Lu Xiang, Jiang langsung melompati jendela keluar dari kediaman Lu Xiang, Jiang tidak ingin menimbulkan keributan jika harus berkelahi pada dengan Lu Xiang larut malam begini demi botol racun itu, ia akan kembali memikirkan cara lain, dan dia juga yakin tidak akan bisa menang melawan Lu Xiang. Lu Xiang duduk kembali meminum tehnya setelah Jiang pergi.
" Apa kau sudah puas menguping pembicaraan kami?" kata Lu Xiang, ia memandang seseorang yang bersembunyi dibalik tirai yang tertutup gelap karena tidak disinari lilin, keberadaannya sedari tadi bahkan tidak disadari Jiang yang terbilang peka pada sekitar, jangankan itu Lu Xiang masuk saja Jiang tidak menyadarinya.
" Mengapa kau memberitahu semua kejahatan yang kita lakukan padanya?"tanya Orang itu.
__ADS_1
" Agar permainan semakin menarik, kau tidak perlu khawatir tentang itu, aku mempunyai rencana sendiri." Jawab Lu Xiang lalu menghabiskan teh dicangkirnya dalam sekali teguk.
" Ingat, jangan sampai rencanaku hancur hanya karena balas dendammu, jika sampai itu terjadi, aku tidak akan mengampunimu." kata Orang yang berada dikegelapan malam itu , ia langsung pergi dikegelapan malam. Lu Xiang menghela nafas setelah kepergian orang itu. Jujur saja, saat berhadapan pada orang itu, seluruh tubuhnya merasa ketakutan.