Berinkarnasi

Berinkarnasi
Kenang-kenangan


__ADS_3

Jiang mengambil sapu tangan itu lalu membukanya, ternyata ada batu giok pipih sebesar genggaman tangan yang memiliki lambang Yin-yang yang sudah terpecah dua.


" Batu lambang pernikahanku." Jiang tersenyum tipis melihat batu itu.


" Yuan memberikan batu ini padaku, sapu tangan ini disulam oleh Lian, mereka memberikannya sebelum aku berangkat ke Yan Utara." jelas Zhao An, Jiang masih memandang batu itu, ada sedikit kerinduan didalamnya.


" Tao melahirkan Satu ,Yang Satu melahirkan Dua, Dua melahirkan Tiga, Ketiganya melahirkan semua ciptaan, Semua benda membawa Yin namun memeluk Yang.


Mereka memadukan nafas hidup mereka untuk menghasilkan harmoni." gumam Jiang mengingat sumpah pernikahan mereka, ia lalu menarik nafas panjang. " Aku akan menyimpannya untuk kenang-kenangan saja." Jiang lalu memasukkannya kedalam kantong pakaiannya.


" Mari kita bersulang untuk merayakan pertemuan kita kembali." Xuelan mengangkat cangkirnya yang diikuti Jiang dan Zhao An. Jiang tidak boleh meminum arak jadi ia meminum teh sebagai pengganti arak.


Jiang lalu mengeluarkan satu surat dari bajunya lalu memberikannya pada Zhao An. " berikan pada Zhang Han saat kau sampai diistana, ini adalah surat permintaan ceraiku." Zhao An memandang Jiang lalu mengambil surat itu kemudian memasukannya kedalam pakaiannya, Jiang lalu mengeluarkan dua surat lagi dari lengah bajunya.


" Berikan pada Yuan dan Lian, ini adalah surat pembebasan perbudakan untuk mereka." Zhao An mengambil surat itu tanpa mengatakan apapun karena ia juga tidak tau harus mengatakan apa.


" Zhao An, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Jiang.


" Katakan."


" Nikahi mereka berdua."


" Hah?..." Zhao An terkejut,


" Aku tidak percaya pada orang lain, tetapi aku percaya padamu, mereka berdua tidak memiliki siapapun didunia ini, aku percaya kau mampu untuk melindungi mereka berdua, kau maukan? " Zhao An tampak serba salah.


" Tapi apakah mereka akan setuju?" tanya Zhao An ragu


" Setelah mereka membaca surat pembebasan perbudakan itu, mereka pasti setuju." Jawab Jiang percaya Diri.


" Baiklah." Jiang tersenyum lalu mengangguk.

__ADS_1


*****


Ying Zheng sedang mengerjakan laporannya, tiba-tiba Selir Fei datang membawakan teh padanya, selir Fei menemani Ying Zheng.


" Boleh aku bertanya?" tanya selir Fei.


" Katakan saja, tidak perlu bertanya." jawab Ying Zheng tanpa menoleh karena perkerjaannya sangat banyak, ia mendengar Selir Fei sambil mengerjakan laporannya. Selir Fei sedikit ragu, Ying Zheng meliriknya.


" Jadi bertanya atau tidak?" tanya Ying Zheng melepaskan laporannya keatas meja, ia lalu menatap Selir Fei. " Shusu..." panggil Ying Zheng lagi melihatnya yang ragu.


" Aku mendengar Jiang berkhianat, apa itu benar?" tanya selir Fei


" Belum pasti, tetapi aku percaya ia pasti melakukannya karena ada alasan, ia memang sedikit gegabah karena ia fikir ia bisa menyelesaikannya, pemberontak adalah masalah yang bukan mudah untuk diselesaikan..."


" Diantara Yang mulia Zhang Han dan selir Jiang, Siapa yang akan kau dukung?" Ditanya seperti itu, Ying Zheng terdiam lalu menatap Selir Fei.


" Ying Zheng....kenapa kau diam." Selir Fei menunggu lama jawaban Ying Zheng yang mematung.


" Kau akan sakit hati jika ku jawab, jadi aku diam saja...kau sudah tau jawabannya." jawab Ying Zheng kemudian membaca laporannya kembali.


" Jangan berfikir berlebihan..." jawab Ying Zheng cepat, ia lalu menurunkan melepaskan laporannya kemudian menggenggam tangan Selir Fei.


" Aku memiliki janji yang tidak bisa aku putuskan, aku juga memiliki hutang budi padanya...aku sudah pernah mengatakan bahwa kerajaan Jin Timur hanya akan tunduk jika itu dipimpin oleh anak keturunan Jiang sendiri, selebihnya tidak ada..."


" pernahkah kau berfikir bahwa mereka akan berpisah? Jiang sudah mengambil keputusan pastilah ia sudah memikirkan masa depan anaknya."


" Jika kau berada diposisinya, apa yang akan kau lakukan?"


" Jika aku dia yang sudah sejauh ini mengambil keputusan seperti ini maka... aku sudah memikirkan untuk tidak membiarkan anakku hidup diistana, aku akan meminta cerai, hidup sendiri bersama anakku, aku fikir hidup diluar istana memang berbahaya tetapi hidup diistana lebih berbahaya, ular yang memakai topeng manusia dan tidak tau kapan ia akan mematuk bukankah seperti anak panah tersembunyi yang tidak tau kapan akan dilepaskan."


Ying Zheng terdiam sejenak. " Jika Jiang memutuskan untuk pergi meninggalkan Zhang Han, maka Aku juga memutuskan untuk menutup kerajaan Jin Timur untuk kerajaan Qing." Jawabnya, Selir Fei tenganga mendengarkan.

__ADS_1


" Separah itu?"


" Tentu saja, aku mendukung Jiang, maka aku mendukung keputusannya."


" Tapi Zhang Han adalah temanmu, kau tidak ingin membantunya?"


" Aku adalah orang luar, aku tidak berhak mencampuri urusan kerajaan Zhang Han, tetapi Jiang adalah penyelamatku, tentu saja aku mendukung penuh dirinya apapun yang terjadi dimasa depan, dan kau ..." Ia menepuk punggung tangan selir Fei pelan.


" Harus mendukung segala keputusanku."Selir Fei mengangguk kemudian tersenyum.


" Tentang isu Jiang yang mengandung anakmu, apa kau sudah memiliki cara untuk menyelesaikannya?"


" Aku sudah mengirimkan surat pada Zhang Han dan sudah ia balas bahwa ia yang akan menyelesaikannya, jadi aku tidak boleh ikut campur karena akan memperkeruh suasana nantinya, jadi tunggu kabar saja darinya." Ying Zheng membaca laporannya kembali.


" Kalau begitu aku pergi dulu, kau lanjutnya saja perkerjaanmu." Ying Zheng mengangguk, selir Fei memberi hormat lalu ingin beranjak pergi tiba-tiba Yuwen Xue masuk.


" Yang mulia." teriak Yuwen Xue, ia terkejut melihat selir Fei, ia segera memberi hormat pada selir Fei. " Yang mulia selir Fei."


" Aku pergi." ucap Selir Fei, ia beranjak pergi, Yuwen Xue lalu mendekati Ying Zheng.


" Terjadi masalah diharem wanita, selir Luo Niang hamil." Ying Zheng sangat terkejut, wajah selir Fei lebih menyeramkan menatap Ying Zheng, ia masih berdiri diambang pintu tadi dan mendengar perkataan Yuwen Xue, Yuwen Xue tidak tau kalau Selir Fei belum pergi karena ia ingin cepat-cepat menyampaikan berita ini.


Ying Zheng menelan ludah melihat Kemarahan yang jelas diwajah Selir Fei, ia lalu menoleh pada Yuwen Xue. " Bagaimana mungkin?" tanya Ying Zheng.


" Selidiki ini." Yuwen Xue mengangguk, saat ia berbalik Ia melihat Selir Fei menatap dirinya, selir Fei masuk kembali keruangan, ia mendekati Yuwen Xue dan secepat kilat menarik pedangnya yang berada di pinggulnya.


Ying Zheng termundur, Yuwen Xue secara refleks mundur, ia mengacungkan pedangnya pada Ying Zheng.


" Aku tau kau kaisar dan memiliki banyak istri, tetapi aku tidak sudi membagi dirimu dengan wanita lain, kau boleh memajang banyak istri, tetapi jangan pernah menidurinya. kalau kau bilang aku egois, itu memang benar... " ia lalu melemparkan pedang itu dimeja. " Aku pergi." ucapnya lalu pergi meninggalkan ruangan.


Yuwen Xue menelan ludah, ia lalu menatap Ying Zheng. " Ambil pedangmu." Ucap Ying Zheng lalu duduk kembali, ia menarik nafas.

__ADS_1


" Wanita memang sangat menyeramkan saat ia cemburu."guman Ying Zheng bergelidik ngeri, ia lalu menoleh Yuwen Xue.


" Aku tidak pernah tidur dengannya, cari tau ia tidur dengan pria mana, aku tidak menerima pengkhianat... hukum kerajaan ada untuk para selir, tanpa ampun dan belas kasihan."ucap Ying Zheng, Yuwen Xue mengangguk kemudian keluar untuk menyelidikinya


__ADS_2