Berinkarnasi

Berinkarnasi
Penderitaan Zhang Hou


__ADS_3

Zhang Hou menuju taman kolam bunga racun, ia memandang kolam itu lama ditemani Lan Jingyi, ia terkenang masa lalunya.


Sewaktu kecil ia malas untuk belajar, karena ia fikir bagaimanapun ia akan tetap menjadi Kaisar karena tidak ada putra selain dirinya, ditambah Ming Hui sangat memanjakannya, dan selalu memenuhi semua keinginannya, itulah mengapa ia sangat menyayangi ibunya.


Setiap terkena masalah apapun Ming Hui selalu melindungi Zhang Hou dari hukuman, ia tidak bisa membiarkan Zhang Hou terluka karena berlatih, ia membiarkan Zhang Hou bermain seperti yang ia inginkan tetapi Zhang Han paling tidak suka melihat itu, ia sering memarahi bahkan memukul Zhang Hou.


Saat Zhang Hou berumur 8 tahun ia bertengkar dengan Zhang Han, karena kemanjaannya membuat ia lupa siapa yang berhadapan dengannya.


" Kenapa ayah selalu memukulku? ibu bahkan tidak pernah memarahiku, kenapa?..." teriak Zhang Hou marah.


" Kau harus belajar agar kau tau etika, sopan santun karena kau adalah pangeran negeri ini."


" Aku tidak mau, aku hanya ingin bermain, aku lelah belajar, lagipula aku satu-satunya putramu yang akan meneruskan pewaris, jadi untuk apa aku harus belajar?"rengeknya, tidak segan Zhang Han mengambil kayu lalu memukul pantat putranya.


" Hafal ini." Zhang Han melemparkan sebuah buku padanya, Karena kesal Zhang Hou langsung merobeknya didepan Zhang Han.


" Sudah aku katakan, aku tidak mau belajar." teriaknya, ia menangis.melihat itu Zhang Han hampir kehilangan kesabaran, Ming Hui yang baru sampai segera berlutut pada Zhang Han agar memaafkan putranya.


" Yang mulia, biar aku saja yang memberitahunya." Zhang Han menatap tajam pada putranya lalu pergi begitu saja.


" Aku benci ayah..." teriak Zhang Hou, Ming Hui dengan cepat menutup mulut putranya, Zhang Han dapat mendengar teriakkan putranya.


" Kau tidak boleh bicara seperti itu, bagaimanapun ia adalah ayahmu, kau harus menghormatinya." ucap Ming Hui lemah lembut.


" Tapi ibu, ayah selalu memukulku, ibu lihat." Zhang Hou memperlihatkan pantatnya yang merah dipukul Zhang Han, ia bermanja-manja dengan Ming Hui.


" Baiklah, nanti akan ibu obati, sekarang kau harus belajar."


" Tidak, aku ingin bermain."


" Baiklah, tapi setelah bermain kau harus belajar ya." Zhang Hou tertawa riang, ia segera pergi bermain lagi, bahkan rasa sakit dipantatnya tidak ia rasakan lagi.


Saat bermain ditaman, ia melihat Zhang Han, karena takut ia bersembunyi, tetapi Zhang Han mengetahuinya.


" Pangeran..." panggil Zhang Han, Zhang Hou keluar dari persembunyian.


" Yang mulia." Zhang Hou memberi hormat dengan malas.


" Bacakan padaku apa isi 7 kebajikan?" Zhang Hou menggelengkan kepala, Zhang Han melemparkan buku mengenai tepat kepala Zhang Hou, Ia menjadi tertawaan yang lain, walaupun mereka tidak tertawa besar, Zhang Hou melihat ejekan dimata mereka.

__ADS_1


" Kenapa ayah selalu memukulku?aku benci ayah..." ia lalu berlari pergi, Zhang Han menghela nafas berat.


" Entah bagaimana lagi aku harus mendidiknya." Zhang Han melihat kepergian putranya yang menangis.


Saat malam hari, ia datang kekamar Zhang Hou, lalu mengelus kepala putranya yang ia lempar tadi, Zhang Hou terbangun ia terkejut melihat Zhang Han.


" Kenapa ayah disini?" tanyanya terkejut, Zhang Han lalu mengeluarkan pedang kayu.


" Belajarlah besok menggunakan pedang ini. " ucap Zhang Han lalu menyerahkan pedang itu, Zhang Hou menerima pedang itu saat Zhang Han ingin keluar Zhang Hou membanting pedang itu.


" Aku tidak mau menerima hadiah dari ayah." teriaknya.


" Kau terlalu dimanjakan, kau anak yang tidak bisa diharapkan." ucap Zhang Han. Zhang Hou tidak mengerti perkataan ayahnya. Zhang Han lalu keluar, hari-hari berlalu, ia selalu berlindung pada ibunya saat terkena masalah sampai pada kejadian yang bisa membuat Zhang Hou hampir dihukum mati.


Pada hari itu, Zhang Hou bermain tanpa sadar jauh padahal ia bermain dengan pelayan istana bermain petak umpet, karena iseng ia bermain jauh sampai keluar istana dan karena penasaran ia melihat bangunan batu tak jauh dari istana dan masuk kedalam untuk bersembunyi. hari ini adalah upacara penghormatan pada leluruh yang wajib dilakukan Zhang Han, Karena Zhang Hou tidak tau ia bermain-main dan sebuah tombol kontrol pemakaman ditengah ruangan. Saat itu pergantian penjaga jadi tidak ada penjagaan beberapa saat jadi Zhang Hou tidak tau.


Tombol kontrol adalah tombol yang khusus dibuat untuk mengendalikan makam jika terjadi pencurian makam, jika ditekan berarti akan terjadi perubahan pada letak makam dan semua jebakan diseluruh makan terbuka, saat itu Zhang Han sudah dalam ruangan bersama rombongan penjaga dan pelayan juga Ming Hui yang menemaninya.


Zhang Hou menekan tombol itu dan terkejut, karena senjata yang tidak tau asalnya menyerang, beruntung ia menghindar dan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi dari senjata itu, ia ketakutan saat melihat senjata itu menyerang, diruangan lain Zhang Han bersama rombongan menghindari senjata yang datang, ia harus melindungi dirinya dan Ming Hui dari hujan panah dan tombak yang menyerang.


" Siapa yang mengaktifkan tombol kontrol?" kata Zhang Han sambil berusaha menghindari senjata itu, semua pelayan dan prajurit yang tidak dapat menghindar hanya tewas ditempat, jadi hanya tinggal beberapa prajurit tangguh saja.


Hujan senjata reda." Kalian tunggu disini, jangan kemana-mana karena ruangan lain penuh dengan jebakan, aku akan pergi kuruang kontrol." Zhang Han pergi seorang diri, saat ia sampai ia melihat Zhang Hou ketakutan yang bersembunyi, saat itu sebuah panah mengarah padanya dengan cepat panah segera diblokir Zhang Han sebelum mengenai putranya.


Ming Hui terkejut. " Bawa dia dan kurung, aku harus menyelesaikan upacara ini terlihat dahulu." perintah Zhang Han, Ming Hui memeluk putranya.


" Apa yang terjadi? bagaimana kau bisa ada disini?" Ming Hui khawatir, tetapi ia juga harus menyelesaikan upacara jadi Zhang Hou dikawal prajurit.


" Ibu..." Zhang Hou terlihat khawatir.


" Tunggu ibu." jawab Ming Hui, mereka lalu pergi.


Setelah selesai upacara Zhang Han memanggilnya putranya yang tangannya dirantai, Saat ia datang ia melihat Ming Hui sudah jatuh berlutut dihadapan Zhang Han dengan tangisan yang memilukan.


" Ibu... apa yang terjadi?" ia ikut menangis melihat ibunya menangis. menteri hukum lalu berdiri. membuka gulungan ditangannya.


" Pangeran Zhang Hou melakukan kejahatan dengan memasuki makam tanpa izin dan membuat kekacauan, juga menyebabkan para pelayan dan prajurit yang membawa sesembahan untuk leluhur kerajaan Qing tewas, kejahatan tidak termaafkan." Setelah dibacakan apa kesalahannya ia baru mengingat bahwa ada tertulis makam yang tidak boleh dimasuki tanpa izin, ia tidak tau bahwa ia sudah membuat kekacauan, ia pernah membaca peraturan kerajaan, dan prajurit dan pelayan yang tewas ada orang pilihan yang memang untuk menjaga makam, dan itu adalah kejahatan besar.


Zhang Hou jatuh berlutut dihadapan Zhang.

__ADS_1


" Aku bersalah ayah... maafkan aku, aku tidak tau." rengeknya, ia menangis menyesal.


" Yang mulia kumohon maafkan dia." Ming Hui memohon dengan tangisan yang dapat membuat hati siapapun iba mendengarnya.


" Kejahatan yang sudah ia lakukan tidak bisa ditoleransi." ia menoleh Ming Hui, ia lalu menoleh putranya.


" Hukuman yang pantas untukmu adalah hukuman mati." mendengar itu Zhang Hou menangis ketakutan, Ming Hui langsung memeluk kaki Zhang Han.


" Tidak.. kumohon... Jangan lakukan itu, aku..aku.. bersedia menggantikan Zhang Hou menerima hukuman, biar bagaimanapun sifat dia sekarang adalah karena kelalaianku yang memanjakannya." Ming Hui memohon dengan berderai air mata.


" Ibu..." ia menangis melihat Ming Hui memohon untuknya.


" Hukuman bisa diberikan pada permaisuri Ming Hui karena selaku ibunya." kata menteri hukum.


" Aku bersedia menerimanya." ucap Ming Hui cepat, Zhang Han memandang putranya yang menangis.


" Kau akan dihukum dikolam racun, dan membiarkan racun itu membunuhmu perlahan, apa kau bersedia?" Ming Hui mengangguk cepat.


Hukuman langsung dilakukan, Ming Hui dibawa ke kolam racun, ia adalah orang pertama yang merasakan hukuman itu karena kolam itu baru dibangun 3 Tahun yang lalu, ia memakai pakaian putih pidana, Zhang Hou dibebaskan dan disuruh menyaksikan penghukuman untuk ibunya.


Saat memasuki kolam itu, Racun itu sudah bereaksi, itu sama saja membunuh secara perlahan, semakin kedalam, maka semakin racun itu kuat, Zhang Hou berteriak terus memanggil ibunya agar tidak melakukan itu, ia mengerti tentang hukum dikerajaan, ia menangis terus memanggil ibunya agar berhenti, Zhang Han melihat itu dengan datar.


Zhang Hou tidak tahan, apalagi melihat ibunya batuk darah, Ia langsung jatuh berlutut dihadapan Zhang Han.


" Aku yang bersalah, kumohon hentikan hukuman ini ayah...aku tau kau membenciku, tetapi ibu tidak bersalah... aku ..aku berjanji aku akan mengikuti semua perkataanmu, aku akan belajar, aku akan berlatih, aku...aku...aku akan mengikuti semua perintahmu, tapi kumohon selamatkan ibu." ia menangis dan membenturkan kepalanya dengan bersujud hingga berdarah, sungguh-sungguh, ia tidak tega melihat ibunya.


" Tapi ada satu syarat."


" Apa?" ia mendongak memandang Zhang Han.


" Kau tidak boleh bertemu dengan ibumu seumur hidup, kau harus menjauhi ibumu.jika bertemu kau harus menghindarinya dan menganggapnya orang asing, apa kau bisa melakukannya?" perintah itu terdengar berat, ia terdiam lalu melihat ibunya yang memucat karena racun, walaupun ibunya meringis kesakitan tetapi tidak ingin mundur membuat Zhang Hou semakin sedih.


" Aku berjanji ayah..." ia menunduk menangis tidak berdaya.


" Katakan sumpahmu."


" Aku pria terhormat pangeran Zhang Hou tidak akan mengingkari janji yang sudah terucap, jika aku melakukannya maka Langit akan menghukumku." ia mengucapkan sumpah dengan tersedu-sedu.


setelah kejadian itu, Zhang Hou menjadi mandiri, ia bangkit sendiri dari rasa sakitnya, menjauhi ibunya adalah hal yang paling menyakitkan untuknya, saat ibunya sakit ia bahkan tidak bisa menemuinya dan mengetahui keadaan ibunya hanya dari tabib yang merawatnya, Ming Hui mengetahui hal itu, Ming Hui diberi perintah jika ia berani bertemu putranya diam-diam maka Zhang Hao Harus menerima cambukan sebanyak 100 kali, jadi ia tidak mau menyakiti putranya maka ia hanya bisa menjauhi putranya.

__ADS_1


Sejak kejadian itu Zhang Hou menjadi dewasa dan ia benar-benar melakukan apapun dan berkerja keras untuk mencapainya, ia berusaha menjadi kuat, Setiap hari walaupun ia ingin sekali bertemu ibunya, ia tidak berdaya dan hanya bisa menghindari ibunya saat bertemu dan tidak berbicara satu katapun walaupun ia sangat ingin memeluk ibunya dan menceritakan keluh kesahnya dan serta rasa sakit yang ia rasakan.


Tetapi ia tidak bisa melakukan itu, ia hanya bisa menelan rasa pahit itu kedalam hatinya.


__ADS_2