
" Aku sengaja membongkar rahasia diriku padamu agar kau tidak mati penasaran Jiang Feng." ucap Ruyue, ia tertawa melihat keterkejutan Jiang Feng.
" Pengkhianatan, bagaimana kau bisa mengkhianti kakakmu sendiri?" kata Jiang Feng geram.
" Ckckckck Jiang Feng, kau tidak tau apapun, cinta mengalahkan segalanya, aku rela melakukan apapun agar aku bersamanya." ucap Ruyue menggandeng pria disebelahnya, Pria itu lalu membuka penutup wajahnya, Jiang Feng tak kalah terkejut melihatnya.
" Aku tidak menyangka bahwa banyak serigala yang berbulu domba disekitar yang mulia raja, pengkhianatan besar." ucap Jiang Feng marah, ia lagi-lagi memuntahkan darah.
" Kalian tidak akan aku biarkan keluar dari benteng ini hidup-hidup." Teriak Jiang Feng, ia lalu menyerang Zhang Luhan yang segera ditahan Zhang Ruyue, jika saja keadaan Jiang Feng baik-baik saja mungkin ia mampu menghadapi ketiga orang itu tetapi keadaanya sekarang berbeda.
" Kita tidak perlu membuang banyak waktu padanya, pasukan kita tidak bisa bertahan lama, segera habisi Jiang Feng, walaupun kita tidak bisa menghacurkan benteng paling tidak kita bisa membunuh Jiang Feng seperti tujuan awal " ucap Zhang Luhan, Hao Xian menarik pedang lalu bertarung dengan Jiang Feng.
" Matilah dengan tenang Jiang Feng." teriak Hao Xian lalu menyerang Jiang Feng, Jiang Feng masih bisa menahan serangan Hao Xian, ia sempat menggores lengan Hao Xian sampai ia mendapat tusukan diperutnya. Jiang Feng termundur kebelakang, ia terhuyung segera ia menahan tubuhnya dengan pedangnya agar tidak tumbang. Jiang Feng memegang perutnya yang tertusuk pedang, darah segar mengalir dari perutnya.
Pasukan dibawah tidak bisa menahan lebih lama karena pasukan dibenteng lebih banyak jumlahnya dibandingkan pasukan yang dibawa Zhang Luhan, jadi mereka berencana hanya membunuh Jiang Feng saja kerena sulit menguasai benteng dengan jumlah pasukan yang terbatas.
" Segera selesai Hao Xian, kita tidak punya waktu." teriak Zhang Luhan, Hao Xian berlari kearah Jiang Feng yang bertumpu pada pedangnya untuk dapat berdiri, Jiang Feng menyambut serangan itu tetapi tidak lama bertahan dari serangan Hao Xian sampai pedang Hao Xian mengenai lehernya.
Mata Jiang Feng menatap langit sore itu karena ia telah tumbang, nyawanya sudah diujung tanduk, bahkan saat Kematiannya Jiang Feng hanya melihat wajah Bai Qian terlukis dilangit ia tersenyum memandang langit lalu memejamkan matanya, Min Yan baru sampai diatas benteng dan melihat Jiang Feng tergeletak tak bernyawa lagi, Zhang Luhan, Zhang Ruyue dan Hao Xian sudah pergi, perlahan-lahan pasukan musuh mundur.
__ADS_1
" Jiang Feng." teriak Min Yan, air matanya sudah tidak terbendung lagi, ia langsung memeluk mayat Jiang Feng. " Jiang Feng." rintih Min Yan memeluk mayat Jiang Feng, tak lama beberapa prajurit naik saat mendengar teriakan Min Yan yang keras, mereka melihat Min Yan sudah memeluk mayat jenderal mereka. Para prajurit itu langsung berlutut melihat jenderal mereka yang terkenal kuat dan cerdas itu sudah tidak bernyawa, mereka ikut bersedih.
Zhang Luhan membawa sisa pasukannya menjauh dari benteng karena takut dikejar oleh pasukan Jiang Feng, untuk mengelabui musuh ia memecahkan pasukan untuk menyamar dengan rakyat biasa, kini hanya Zhang Luhan, Zhang Ruyue, Hao Xian dan beberapa prajurit saja menemani mereka.
" Aku yakin walaupun Kita tidak bisa menguasai benteng, membunuh Jiang Feng sudah memberi tamparan yang keras untuk Zhang Han." ucap Zhang Luhan, mereka sedang menginap disebuah kamar penginapan disebuah desa tak jauh dari benteng.
Zhang Luhan mengirim surat rahasia lewat burung merpati untuk mengirimkannya pada Lu Xiang tentang kabar Jiang Feng. Setelah cukup bersedih, Min Yan mengirim telik sandi untuk mengirimkan berita tentang penyerbuan benteng dan kematian Jiang Feng pada Zhang Han.
Tidak perlu lama, surat dari Min Yan lebih dulu sampai pada Wei Chan dan Lan Huan karena kerja para telik sandi bukan satu orang, mereka dengan cepat menyampaikan surat itu. begitu Wei Chan membaca surat itu, tangannya bergetar hebat, Lan Huan tak kalah , jantung mereka berdegup kencang setelah membaca surat itu.
" Lan Huan." kata Wei Chan, suaranya terdengar bergetar memanggil Lan Huan. Lan Huan menggelengkan kepala, itu adalah pukulan yang mendalam bagi mereka.
" Katakan pada komandan Min Yan untuk membawa mayat Jiang Feng keistana." ucap Wei Chan pada telik sandi itu, orang yang mengirim surat itu segera pergi setelah mendapat perintah.
Lu Xiang yang selesai membaca surat dari Zhang Luhan tidak berkata Apapun, ia hanya menghela nafas setelah selesai membaca, ia tidak tau harus berekpresj seperti apa.
Kabar tentang Jiang Feng tidak akan bisa disembunyikan terlalu lama, para telik sandi lain mengirimkan kabar itu kepada jenderal lain dan kabar itu cepat tersebar di seluruh istana, para menteri berkumpul diruang rapat tanpa Zhang Han perintah karena mereka ingin membicarakan tentang hal ini pada Zhang Han, tapi orang yang mereka tunggu tak kunjung tiba.
Wei Chan dan Lan Huan yang berada dikediaman Zhang Han mendengar para menteri berkumpul diruang rapat untuk membicarakan tentang hal ini pada Zhang Han. memang tidak aneh karena banyak yang akan dibahas nanti. yang pertama pengganti Jiang Feng menjaga perbatasan selatan, karena benteng selatan adalah jalur paling rawan diserang jika tidak dipimpin orang yang kuat akan mudah dikuasai.
__ADS_1
Ini juga kesempatan Lu Xiang untuk melihat apakah Zhang Han berada diistana atau tidak saat mendengar permasalahan seperti ini, ia tidak akan mungkin membiarkan hal ini apalagi ia kehilangan salah seorang jenderal terkuat miliknya. Lu Xiang menghadiri rapat itu juga bersama Bai Qian, nampak Bai Qian bersikap tenang tetapi tidak ada yang tau apa yang kini ia rasakan sekarang begitu mendengar berita itu.
Para menteri saling berbisik dan berdiskusi tentang hal itu sambil menunggu Zhang Han, tak lama pintu terbuka tampak Wei Chan yang datang diruang rapat itu membuat semua orang bertanya-tanya dimana Zhang Han mengapa Wei Chan yang datang.
Wei Chan berdiri ditangga partama dari bawah singgasana yang berada diatas, ia berdiri menghadap semua orang yang berada diruangan itu, ia dan Lan Huan sudah berdiskusi tentang hal ini bahwa Jika mereka tidak datang keruang rapat maka para menteri akan bergerombolan datang kekediaman ini jadi mereka memutuskan salah seorang mereka harus menghadiri rapat itu
" Yang mulia tidak bisa hadir sekarang karena sesuatu hal, jadi aku datang untuk menggantikannya." kata Wei Chan para menteri terkejut mendengarnya, bagaimana tidak, Hal sepenting ini Zhang Han tidak hadir tentu saja mereka tidak bisa menerima hal ini.
" Panglima Wei Chan, sebenarnya apa yang terjadi pada Yang mulia? sudah beberapa hari ini yang mulia tidak keluar dari kediaman,bahkan berita sepenting ini ia juga tidak hadir membuat kami khawatir mungkin terjadi sesuatu pada yang mulia." kata salah seorang menteri, para menteri yang lain mengangguk setuju perkataan menteri itu. Wei Chan sudah menebak akan terjadi seperti ini tapi ia juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
Wei Chan menjadi serba salah, ia tidak bisa memberi perintah apapun juga tidak bisa meredakan kecemasan para menteri karena tidak heran akan hal itu, musuh akan menyerang benteng selatan jika mereka tau benteng itu kosong terlalu lama tanpa dipimpin siapapun, rakyat yang akan menjadi korban jika terjadi penyerangan susulan. mereka belum mengetahui siapa yang menyerang benteng karena tidak ada tanda pengenal dan tidak ada satupun musuh yang selamat atas kejadian itu.
" Ini akan kita bahas dilain hari." ucap Wei Chan, tentu saja perkaataan Wei Chan mengundang kemarahan semua orang tetapi ia juga tidak tau harus mengatakan apa, karena ia tidak memiliki kekuasaan untuk memutuskan sesuatu.
" Katakan saja dimana yang mulia, jangan membuat semua orang khawatir panglima Wei Chan, mengapa Yang mulia tidak keluar dari kediamannya saat mendengar kabar sepenting ini." teriak salah seorang menteri, ia merasa kesal mendengar perkataan Wei Chan yang sama sekali tidak berarti apa-apa.
Wei Chan menarik nafas, ia menatap wajah semua orang yang berada diruangan.
" Yang mulia..." Wei Chan menghentikan kata-katanya karena ragu.
__ADS_1