Berinkarnasi

Berinkarnasi
Perjodohan


__ADS_3

Xiao Na keluar rumah jalan-jalan, butuh waktu setengah jam menggunakan mobil untuk bertemu jalan raya, ia menuju sebuah telepon umum, Xiao Na menekan nomor, terdengar deringan telepon diseberang.


" Halo..." kata orang diseberang telepon.


" Kak A-Yan, ini Xiao Na ..."


" Xiao Na, kau dimana? bagaimana keadaanmu? apa terjadi sesuatu? katakan..." Xiao Na sampai menjauhkan telinganya dari telepon karena Xiao Yan berteriak diseberang telepon dengan pertanyaan bertubi-tubi.


" Aku baik-baik saja, jangan khawatir, aku pergi karena memulihkan diri." terdengar helaan nafas lega.


" Kau dimana?aku akan menjemputmu."


" Tidak, aku belum ingin pulang, aku menelponmu karena aku tidak ingin kalian khawatir, karena aku ingin mengejar masa depanku." Tanpa ia sadari ia tersenyum malu.


" Masa depan? apa...." belum selesai Xiao Na memotongnya.


" Sudah, aku tutup dulu nanti aku akan menghubungi kakak lagi."


" Tunggu sebentar..."


" Apa?"


" Tiga hari kedepan, calon tunanganmu datang, kau harus hadir jika tidak ingin ayah angkat malu."


" Aku mengerti." Xiao Na langsung menutup teleponnya.


Ia berjalan keliling kota, Yi Han setelah tenang ia mencari Xiao Na untuk meminta maaf karena ia sudah bersikap kasar, ia sudah mengelilingi rumah tetapi tidak ketemu, ia hanya melihat Yi Huang sedang menonton tv.


" Huang, kau melihat Xiao Na?"


" Dia baru saja pergi menggunakan mobilmu setelah membuatku kesal." jawabnya tanpa menoleh.


" Pergi? kemana?" Yi Huang hanya mengangkat bahunya, tak lama ia mendengar suara mobil memasuki garasi.


" Dia sudah datang." Yi Han bergegas ke garasi.


Xiao Na turun dari mobil dan terkejut karena tiba-tiba Yi Han langsung memeluknya.


" Kau darimana saja? kenapa pergi tiba-tiba?" terdengar kekhawatiran dari suaranya, Xiao Na membalas pelukan itu, dan ia memeluknya semakin erat.


" Aku hanya meninggalkanmu selama dua jam, tapi kau sudah sangat khawatir seperti ini." Xiao Na tersenyum, Yi Han segera melepaskan pelukannya.


" Aku bukan khawatir padamu, tetapi pada mobilku." ia berpura-pura mengecek mobilnya.


" Cih... aku sudah jual murah dia malah jual mahal, dasar pria..." Xiao Na meninggalkan Yi Han yang meliriknya.


Yi Han mengikuti Xiao Na duduk diruang tamu, ia duduk disebelahnya.


" Dari mana?" tanya Yi Han.


" Cari angin segar."


" Jangan pergi tiba-tiba lagi, aku khawatir dengan lukamu."


" Lukaku?" Xiao Na mengangkat sedikit pakaiannya.ia lalu melanjutkan.


" Sudah sembuh." ia membuang muka.


" Kau kesal padaku?"


" Tidak, kau tidak salah aku yang salah, harusnya aku menembak kepalamu tadi." Xiao Na masih kesal.


" Kau marah Karena aku usir atau menolak ketempat hiburan?"


Mendengarnya Xiao Na semakin kesal, Ia melangkah pergi meninggalkan Yi Han, ia masuk kedalam kamar lalu membanting pintu keras.


" Membosankan..." teriaknya.


Yi Han menggelengkan kepala melihat Xiao Na, ia lalu duduk disamping Yi Huang menemaninya menonton.


" Tidak ingin membujuknya?" Yi Han melirik Yi Huang.

__ADS_1


" Membujuknya? nanti dia akan tenang sendiri."


" Tidak peka."


" Kau bilang apa?"


" Aku bilang tidak peka, kau memang pria dungu, kalau kau suka padanya untuk apa berpura-pura tidak perduli, bujuk dia... wanita saat sedang kesal suka untuk dibujuk daripada didiamkan, saat sedang marah wanita lebih mengerikan apalagi kalau cemburu... itulah mengapa pepatah mengatakan bahwa racun paling mematikan adalah kecemburuan seorang wanita."


" Anak kecil, kau tau apa!" Yi Han menyentil kepala Yi Huang lalu pergi menuju kamar Xiao Na.


" Xiao Na... " ia mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban, ia membuka pintu kamar yang tidak dikunci, terlihat Xiao Na menutup tubuhnya dengan selimut.


Yi Han duduk ditepi tempat tidur.


" Pergi... aku ingin tidur."


" Langit belum gelap, kau sudah mengantuk?"


" Iya."


" Kau marah?"


" Tidak."


" Lalu mengapa mengurung diri." Yi Han ingin membuka selimut tetapi ditahan Xiao Na.


" Bukan urusanmu, keluar... aku mengantuk."


" Maaf, maafkan aku...aku berjanji tidak akan memarahimu lagi karena masuk ke kamarku, kalau kau ingin pergi ke tempat hiburan akan aku temani pekan ini, bagaimana?"


" Pergi dari sini... aku ingin tidur, aku tidak ingin lagi pergi ketempat hiburan atau apapun."


" Kau yakin?" Xiao semakin kesal.


" Tidak peka, kenapa tidak memaksa sedikit agar aku tidak kehilangan muka.." batin Xiao Na.


" Iya."


" Baiklah, kalau kau mengantuk aku akan pergi."


" Aku pergi..." terdengar langkah kaki pergi, Xiao Na langsung membuka selimutnya dengan kesal.


" Apa dia begitu dungu, pergi begitu saja...dia benar-benar menyebalkan, membosankan, akh... apakah dia tidak bisa sedikit membujuk, Paling tidak memaksaku pergi, aku... " saat Xiao Na berbalik Yi Han masih berdiri disana dengan santai. Xiao Na segera menutup mulutnya.


" Kenapa kau masih berdiri disana?" teriak Xiao Na.


Yi Han mendekati Xiao na, lalu memeluknya.


" Maaf, jangan marah lagi...aku salah maafkan aku." Xiao Na tersenyum, Yi Han menyadari senyuman Xiao Na ia ikut tersenyum.


" Dasar rubah licik." gumannya, tetapi Xiao Na tidak perduli walaupun ia mendengarnya.


Xiao Na melepaskan pelukannya, ia lalu menarik Yi Han untuk duduk disampingnya.


" Ada apa?" tanya Yi Han lembut.


" Ceritakan kehidupan masa lalumu."


" Terlalu menyakitkan." ia tersenyum pahit.


" Berbagilah kesedihanmu padaku, jangan memendamnya sendiri, kau bisa bersandar padaku." Xiao Na menepuk pundaknya sendiri, Yi Han tertawa kecil.


Yi Han langsung bersandar padanya, Xiao Na terkejut.


" Secepat ini?"


" Bukankah kau menawarkannya."


" Baiklah..." ia terdiam sejenak lalu melanjutkan.


" Besok aku akan pulang."

__ADS_1


" Um... baguslah kau juga sudah lama tinggal disini." Xiao Na memicingkan matanya lalu menyenggol bahu Yi Han.


" Kau tidak menahanku?"


" Itu keputusanmu sendiri, lagipula jika aku menahanmu bukankah kau juga tetap akan pergi."


" Tidak peka." Xiao Na mendengus, Yi Han menarik nafas panjang.


" Pantas saja banyak orang mengatakan lebih baik berhadapan dengan musuh dimedan perang daripada berdebat dengan wanita." Batin Yi Han.


" Jadi maumu apa?" tanya Yi Han sabar.


" Tidak perlu, keluar..." Xiao Na menjadi kesal, ia membungkus tubuhnya dengan selimut.


" Baiklah, istirahat besok aku akan mengantarmu."


" Tidak perlu."


" Kenapa?"


" Aku khawatir kau ditembak sebelum masuk ke rumahku."


" Hah?" Xiao Na menggigit bibirnya karena menyadari ia sangat bicara, ia langsung bangun.


" Maksudku tidak perlu mengantar, aku akan naik taksi, lagipula kau harus kerumah sakit pasienmu menunggumu."


" Baiklah, oh ya pekan nanti aku menunggumu di tempat hiburan jam 7."


Xiao Na mengangguk, Yi Han lalu keluar kamar.


" Maaf belum saatnya kau mengetahui identitasku, aku takut kau menjauhiku nanti." batin Xiao Na.


Xiao Na berpamitan pada mereka semua lalu pergi kesebuah Mension mewah, Mension itu sepi hanya beberapa penjaga saat mereka melihat Xiao Na mereka langsung membuka pintu pagar.


Xiao Na dengan santai melewati lorong-lorong mewah, banyak pelayan bekerja disana, mereka menunduk hormat saat Xiao Na lewat.


" Dimana tuan muda?" tanya Xiao Na pada salah satu pelayan.


" Sedang mandi."


Xiao Na langsung menuju kesebuah kamar mewah dan luas itu, terdapat beberapa pelayan berdiri didepan pintu kamar mandi dengan nampan berisi parfum mandi, handuk dan bermacam-macam keperluan untuk mandi.


Xiao Na hanya melihat mereka lalu berbaring malas ditempat tidur, tak lama pria yang ia tunggu keluar dengan baju handuk yang memperlihatkan dadanya.


Ia tersenyum saat melihat seseorang berbaring ditempat tidurnya.


Para pelayan itu segera melayani keperluan pria itu diruang ganti miliknya, setelah selesai para pelayan itu segera keluar kamar.


" Kenapa baru pulang sekarang?" tanyanya sambil memakai jam tangan.


" Aku sebenarnya tidak ingin pulang, hidup dengannya benar-benar membuatku merasakan apa arti hidup." Xiao Na menghela nafas lalu ia duduk melihat Xiao Yan yang duduk disampingnya.


" Kau menemukan seseorang yang kau cintai?" Xiao Na mengangguk.


" Dia mengetahui kau seorang mafia?" Xiao Na menggeleng sedih.


" Dia mengetahui kau mencintainya?"


" Entahlah, aku belum mengungkapkan perasaanku."


" Tapi bagaimana kau bisa jatuh cinta padanya secepat itu? kalian baru saja kenal, dia belum tentu menyukaimu, bagaimana jika kau ditolak olehnya?"


" Aku tidak tau, aku hanya tau kalau aku mencintainya." jawabnya sedih.


" Sudahkah kau fikirkan jika suatu hari ia mengetahui identitasmu? bisakah dia menerimanya."


" Aku tidak tau..." Xiao Na semakin sedih memikirkannya.


" Sudah lupakan masalah itu, sekarang lebih baik kau fikirkan cara untuk menolak perjodohanmu."


" Aku sudah memikirkannya, tetapi mungkin akan sedikit membuat ayah murka."

__ADS_1


" Aku mendukungmu, paling ringan hukuman kau ditembak, paling berat seluruh kekayaanmu ditarik." Xiao Na mendengus.


" Aku akan tinggal disini sampai hari perjodohan." Xiao Yan mengangguk.


__ADS_2