
Jiang Feng duduk diatas benteng memandang seluruh desa itu, ia lalu berbaring memandang langit, fikirannya Kemabli kemasa muda dimana darah asmara mengalir deras di nadinya. wanita pujaan yang tidak dapat ia miliki malah menjadi wanita dari orang yang ia junjung tinggi dan ia tidak berdaya akan hal itu.
Dulu keluarga Jiang dan keluarga Bai bersahabat akrab, Jiang dulu suka berkunjung pada keluarga Bai, disana ia bertemu Bai Qian, saat melihat Bai Qian pertama kali ia langsung jatuh cinta. Bai Qian adalah anak angkat yang dibawa keluarga Bai saat ia berumur 14tahun, mereka menemukan Bai Qian dalam keadaan terluka dan ia juga kehilangan ingatannya. kebetulan saat itu keluarga Bai tidak memiliki seorang putri jadi mereka mengangkatnya menjadi putri mereka.
Jiang Feng sangat senang bermain bersama Bai Qian, juga ia mencintai Bai Qian, Jiang Feng yakin Bai Qian memiliki perasaan yang sama untuknya walaupun tidak pernah ia ungkapkan. Jiang memiliki keahlian dalam melukis, saat berumur 17 tahun ia mendaftar sebagai prajurit, karena talentanya ia perlahan naik pangkat, walaupun dalam militer ia tetap mengirim surat yang selalu dibalas Bai Qian.
Lama-kelamaan sikap Bai Qian berubah, Jiang Feng tidak tau apa yang menyebabkan Bai Qian berubah, lalu ia mendengar kabar bahwa Bai Qian dipilih menjadi selir Zhang Han untuk perluasan kekuasaan dan dukungan dari orang yang memiliki pengaruh dikerajaan. Jiang Feng patah Hati, begitu ia diangkat menjadi jenderal ia dipindahkan kedalam istana, disitu ia bertemu kembali dengan Bai Qian setelah bertahun-tahun berpisah.
Jiang Feng mengajak Bai Qian bertemu secara diam-diam, ia ingin memberi lukisan yang ia buat sendiri untuk Bai Qian sebagai bentuk perpisahan karena mereka sekarang tidak akan pernah bisa bersatu.
" Ambillah lukisan ini sebagai kenang-kenangan dariku." ia lalu menyodorkan lukisan itu pada Bai Qian, Bai Qian lalu membuang lukisan itu didepan wajah Jiang Feng.
" Aku tidak membutuhkannya." ucap Bai Qian. Jiang kembali memungut lukisan itu.
" Boleh aku bertanya? saat itu kau diberi pilihan dan kau bisa menolak lamaran yang mulia, kenapa kau menerimanya?" tanya Jiang Feng, matanya sudah berkaca-kaca.
" Semua aku lakukan demi diriku, aku tidak perduli apa yang fikirkan tentang diriku." Jawab Bai Qian, ia lalu ingin meninggalkan Jiang Feng.
__ADS_1
" Aku tau sejarah kelammu, aku tau kau tidak kehilangan ingatan, aku tau mengapa kau memilih menjadi selir kaisar, aku tau tujuanmu datang, tapi biar aku ingatkan bahwa semua yang kau lakukan nanti hanya angan-angan belakang. Kau masih bisa kembali Bai Qian." ucap Jiang Feng, Bai Qian berhenti saat mendengar perkataan Jiang Feng.
" Apapun yang kau katakan tidak akan mengubah apapun. Setelah hari ini mari untuk tidak mengenal satu sama lain." jawab Bai Qian, ia lalu pergi meninggalkan Jiang Feng yang memantung memandang dirinya. Lukisan yang ingin ia berikan pada Bai Qian adalah lukisan Bai Qian, ia tidak ingin membuangnya jadi dibalik lukisan itu ia menggambarkan peta kerajaan dan akan selalu ia bawa kemanapun ia pergi, Lukisan Bai Qain terbuat dari tinta apel, jadi hanya didekatkan pada api lukisan itu muncul dan tidak seorangpun mengetahui kisah Jiang Feng.
Jiang Feng yang terpejam mengingat masa lalu dan air matanya mengalir dari sudut matanya, membuka matanya lalu menghapus air matanya karena ia mendengar langkah kaki yang mendekat padanya. Min Yan datang membuat Jiang Feng tersenyum.
" Min Yan." kata Jiang Feng, Min Yan memberi hormat lalu duduk disebelah Jiang Feng.
" Sedang apa kau duduk sendirian disini? " tanya Min Yan.
Dikegelapan malam, Zhang Luhan sudah mendapatkan informasi tentang Jiang Feng dan tempat yang sering ia kunjungi, rencaan yang ia buat sesuai dengan yang ia rencanakan, identitas mereka diduplikasi oleh Zhang Luhan agar Jiang Feng yakin tidak ada penyusup diantara mereka. Jika ingin membuat lemah musuh adalah dengan menghancurkan dari dalam. ini sudah hari keempat mereka bergerak, mereka harus segera menghacurkan benteng sebelum acara dimulai.
" Begitu ada kesempatan, buat Jiang Feng lemah, setelah itu kita bisa menyerang secara besar besaran." perintah Zhang Luhan, orang yang memberi informasi mengangguk lalu pergi kembali ke benteng.
" Aku merasa firasat buruk Jiang Feng, entah kenapa aku khawatir denganmu, makanya aku datang mencarimu." ucap Min Yan, hatinya tidak tenang, jadi ia fikir lebih baik mencari Jiang Feng agar ia bisa tenang.
" kenapa? tidak ada yang perlu kau khawatirkan untukku Min Yan."jawab Jiang Feng tersenyum.
__ADS_1
" Aku sudah mati sejak lama Min Yan, sejak aku berpisah dengan Bai Qian, jika aku mati aku tidak akan menyesal." batin Jiang Feng. ia juga merasakan firasat buruk tetapi Jiang Feng seolah tidak perduli, instingnya mengatakan bahwa bahaya sedang mengancam tetapi ia tidak tau apa itu.
" Jiang Feng." panggil Min Yan, Jiang Feng menoleh.
" Jika kau menginginkan sesuatu, apa yang ingin kau capai?" tanya Min Yan.
" Melihat adikku Jiang Huan hidup dengan baik." jawabnya. " Dan memiliki Bai Qian seutuhnya tetapi itu tidak akan mungkin." batin Jiang Feng. Min Yan tidak puas mendengar pernyataan Jiang Feng.
" Apa kau punya penyesalan dalam hidup ini Jiang Feng? aku tidak pernah melihat wajah bahagiamu walau sekali, selama kita bersama kau tidak pernah menampakkan wajah bahagia walaupun kau memenangkan berbagai penghargaan dan pertempuran apapun." tanya Min Yan, ia mengetahui ekpresi Jiang Feng yang datar dalam keadaan apapun.
Jiang Feng tersenyum mendengar pertanyaan Min Yan, ia lalu memandang langit lagi, " Penyesalan selalu ada Min Yan, hanya saja itu tidak akan mengubah apapun. seperti daun yang sudah gugur ia tidak akan bisa menempel kembali kecuali tumbuh yang baru. penyesalan itu bisa dapat diperbaiki seiring berjalannya waktu tetapi penyesalan yang aku rasakan seperti kayu yang dibakar, ia tidak akan bisa kembali kayu seperti sedia kala walau bagaimanapun kau berusaha mengubahnya, itu tidak akan berguna." jawab Jiang Feng, pandangannya jauh ke depan, Min Yan tidak mengerti maksud yang dikatakan Jiang Feng.
" Aku tidak mengerti." balas Min Yan.
" Kau tidak akan mengerti apapun kecuali tentang militer saja." balas Jiang Feng ia lalu tertawa kecil melihat Min Yan.
" Ayo kembali, kita beristirahat." jawab Jiang Feng, mereka kembali ke tenda peristirahatan mereka.
__ADS_1