
" Iya, iya, turun Xuelan, ayo turun dari sana." Kata Jiang menggelengkan kepalanya. kepalanya sudah sangat pusing, Dao-Dao dan Zhao An sudah tidak sadarkan diri, Xuelan juga sudah mulai ingin pingsan, Jiang melihat samar-samar melihat 3 orang berjalan kearah mereka.
Begitu penglihatannya jelas, ia tertawa lalu berjalan sempoyongan menghampiri orang itu, ia tersandung tapi dengan sigap tangan seseorang menangkap tumbuhnya. ia jatuh kedalam pelukan orang itu yang tak lain adalah Zhang Han bersama pengawal pribadinya Wei Chan dan Lan Huan.
" Kau " tunjuk Zhang Han pada Jiang yang sedang dalam pelukannya, tapi tiba-tiba Jiang langsung mengecup bibir Zhang Han membuat Zhang Han terkejut.
" Perkerjaanmu setiap hari hanya marah terus, apa kau tidak lelah " kata Jiang tertawa.
" Kau sedang mabuk, ayo pergi." kata Zhang Han datar.
" Kau tau, aku hampir membunuhmu jika aku tidak mengingat kau adalah raja sekaligus suami wanita ini." Jiang menunjuk dirinya sendiri, ia lalu mengalungkan tangannya dileher Zhang Han.
" Kenapa kau melakukan ini padaku, sebentar kau membuatku senang sebentar kau membuatku menderita, sebenarnya terbuat dari apa hatimu." Jiang mulai menangis, melepaskan tanganya dari leher Zhang Han.
" Kau sedang mabuk, jadi kau mengatakan yang tidak-tidak, ayo kembali.
" Kau hanya membuatku menderita, logikaku berkata aku sangat membencimu, tapi hatiku selalu menolaknya, Bagaimana menurutmu apakah aku harus menceraikamu, membunuhmu atau mencintaimu." Jiang tertawa lalu menutup mulutnya setelah mengatakan itu.
Zhang Han menghela nafas melihat tingkah Jiang yang mabuk." Dimasa depan, aku tidak akan membiarkanmu mabuk lagi." Guman Zhang Han.
__ADS_1
Jiang menakup wajah Zhang Han, lalu meneliti wajah Zhang Han dekat membuat Jantungnya berdegup kencang, ia tidak pernah menyentuh wanita wajar baginya ia sangat terkejut melihat Jiang memperlakukan dirinya seenaknya. Zhang Han sangat malu, bahkan pipinya sangat merona.
" apa yang sedang kalian lihat, cepat bawa mereka bertiga kekediaman Jiang, jangan sampai diketahui orang lain." teriak Jiang pada Wai Chan dan Lan Huan yang sejak tadi mematung melihat Jiang dan Zhang Han. mereka berdua memberi hormat lalu mulai memapah mereka satu persatu tapi mereka tersenyum melihat Jiang mabuk.
Saat Wei Chan dan Lan Huan memapah mereka, Lian dan Yuan melihat mereka dan terkejut karena sejak kapan pengawal terhormat raja mereka memapah prajurit mabuk. saat mereka berpapasan, Lian Dan Yuan bingung.
" Nanti malam buatkan sup penghilang mabuk, antar saja kekamar yang mulia Jiang, jangan tanya kenapa, kerjakan saja." Pesan Wei Chan lalu meninggalkan mereka, mereka hanya mengangguk saja.
Zhang Han terlalu malu dilihat oleh mereka, " Ayo pergi." Zhang Han ingin memapah Jiang, Jiang langsung duduk berjongkok. " aku tidak mau." tolak Jiang.
" Ayo." Zhang Han menarik tangan Jiang tapi Jiang tidak bergeming." Gendong." Jiang mengulurkan tangannya kearah Jiang. " Apa seperti ini saat kau mabuk, seperti anak kecil saja." guman Zhang Han lalu berjongkok membelakangi Jiang.
" Ayo naik kepanggungku." Jiang langsung melompat kepunggung Zhang Han, lalu mereka berjalan menuju kekamar Jiang.
Zhang Han meletakan Jiang di peranduan, ia duduk ditepinya , tak jauh dari kakinya tiga orang berbaring tidur. Wei Chan dan Lan Huan menunggu didepan pintu kamar untuk berjaga dan tidak boleh membiarkan orang lain masuk.
saat malam tiba, Xuelan yang pertama terbangun, begitu ia mengucek mata dan rasa pusing masih melanda kepalanya, hal pertama ia lihat adalah kamar lalu mata elang yang sedang menatapnya tajam. ia bergelidik ngeri, lalu mencoba membangunkan Dao-Dao dan Zhao An.
" Hei bangun." katanya takut-takut. Dao-Dao yang bangun lebih dulu terkejut melihat orang itu adalah Zhang Han yang sejak tadi menunggu mereka bangun, tak lama Zhao An tersadar dan ikut terkejut karena Zhang Han tampak menyeramkan saat menatap mereka.
__ADS_1
mereka berlutut menundukkan kepala, bahkan rasa pusing mereka hilang seketika, Zhang Han yang masih duduk ditepi peranduan, hanya Jiang yanv belum sadarkan diri.
" Kukira kalian tidak akan bangun, aku hampir menyuruh Wei Chan dan Lan Huan mengubur kalian." kata Zhang Han menatap mereka tajam, Mereka bertiga menelan ludah, mereka saling menoleh dan keringat dingin mulai bercucuran.
Tiba-tiba Wei Chan mengetuk pintu, Zhang Han mempersilahkannya masuk, terdapat tiga mangkuk sup diatas nampak yang dibawa Wei Chan, mereka bahkan tidak berani menoleh Wei Chan yang masuk karena terlalu takut, cukup dulu mereka melihat keluarga mereka binasa.
Zhang Han memberi kode untuk menyimpan sup itu diatas meja dibelakang mereka. Wei Chan segera keluar setelah meletakkan sup itu. " Jika bukan karena aku sangat mengenal kalian, sudah akan aku pastikan kalian keluar dari sini tinggal nama."
" Mohon ampuni kami yang mulia." ucap mereka serempak lalu bersujud didepan Zhang Han.
" Bagaiman kalian bisa berpesta seperti itu saat kerajaan sedang terancam, kalian bahkan mengajaknya minum, kalau sampai orang lain yang melihatnya?apa kalian tidak memikirkan akibatnya." nada Suara Zhang Han tinggi membuat hati mereka Ciut.
Mereka saling menoleh, mereka mengerti kemarahan Zhang Han, jika itu dilakukan orang lain mungkin sudah Zhang Han tebas kepalanya, kalau bukan karena mereka pernah tinggal bersama dulu, tidak tau apa yang akan terjadi pada mereka, apalagi mereka adalah keturunan terakhir dari pejabat pengkhianatan keluarga mereka dulu.
Mereka bertiga tidak mengatakan apapun setelah minta maaf, mereka merasa bersalah, mereka teringat samar-samar apa yang mereka lakukan saat mabuk tapi lambat laun mereka mengingatnya. Terdengar dari dalam kamar seseorang prajurit telik sandi ingin bertemu Zhang Han.
Zhang Han mempersilahkannya masuk karena ia mendengar kalau kabar yang ia bawa sangat darurat.
" Katakan." kata Zhang Han telik sandi itu berdiri dihadapan Zhang Han disamping mereka bertiga, ia melirik mereka bertiga karena takut informasi yang ia bawa bocor dan menyebabkan kepanikan.
__ADS_1
" Tidak apa-apa, mereka orang kepercayaan" kata Zhang Han, ia sangat mengenal tiga orang itu saat tinggal bersama.
" Yang mulia, kerajaan Yan Utara sudah mempersiapkan pasukan, ia mengirim seseorang untuk menyampaikan bahwa besok adalah hari terakhir, dan perang tidak bisa dihindari."