Berinkarnasi

Berinkarnasi
Undangan pernikahan


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu, Zhang Han sama sekali belum mendapatkan kabar, saat ia duduk membaca laporan tiba-tiba Lan Huan datang membawa sebuah undangan gulungan emas.


" Yang mulia." Lan Huan memberi hormat lalu meletakkan undangan itu dimeja Zhang Han, Zhang Han segera membukanya dan membacanya.


" Undangan Xuelan akan menikah." ucap Zhang Han pada Lan Huan.


" Aku tidak bisa hadir, kau dan Zhao An akan menggantikan diriku untuk datang." lanjutnya, Lan Huan mengangguk, Zhang Han tidak mau meninggalkan istana karena ia menunggu kabar dari Bai Yunfei tentang keberadaan Jiang, ia takut saat ia pergi, Bai Yunfei mengirim pesan dan orang lain akan menerima pesan itu.


Tak lama Zhao An datang dengan sebuah gulungan emas yang sama, tetapi tertanda istimewa ditabungnya, ia senyum sumringah melihat Zhang Han dan Lan Huan.


" Yang mulia..."belum selesai ia mengatakannya, Zhang Han menghentikannya.


" Aku tau apa yang ingin kau katakan...aku tidak bisa hadir, lebih baik kau dan Lan Huan yang menjadi utusan dari Qing untuk hadir disana." Ucap Zhang Han melanjutkan mengerjakan laporannya.


" Jiang berjanji padaku bahwa kami akan bertemu disana, ah...jika aku mengatakannya pada yang mulia berarti aku mengkhianati Jiang, tetapi jika tidak kukatakan...tidak akan ada pertemuan lain kali lagi...ah....bikin pusing saja...ah... terserah surga yang atur ..." Zhao An tampak frustasi, Zhang Han melirik Zhao An yang kecewa.


" Ada apa?" tanya Zhang Han.


" Tidak apa-apa yang mulia." Zhao An kemudian memberi hormat lalu keluar ruangan.


" Tunggu..." Zhang Han menghentikannya, ia melepaskan kuas tintanya, lalu menatap Zhao An.


" Zhao An, aku ingin kau membuat janji yang sama yang kau ucapkan untuk Jiang." ucap Zhang Han tiba-tiba, Zhao An terdiam.


" Apa yang ingin saya janjikan untuk anda?" tanya Zhao An.


" Diantara kami, kau paling bisa diicar...jadi aku ingin kau berjanji atas nyawamu sendiri bahwa aku tidak akan pernah mengatakan apapun yang kita rencanakan pada siapapun juga, baik sekarang maupun dimasa depan."


" Hah?..." Zhao An ternganga. " Dalam arti aku berada netral, aku tidak bisa mendukung Jiang maupun Zhang Han... takdir benar-benar mempermainkanku." batin Zhao An bertambah frustasi, ia mengeladah kelangit.


" Aku berjanji..." jawab Zhao An lemah, lalu meninggalkan Zhang Han dengan wajah murung, ia lalu keluar ruangan.


" Ada apa dengannya?" tanya Zhang Han heran, Lan Huan hanya mengangkat bahu, Zhang Han menyelesaikan laporannya kembali.


*****


Jiang membuka matanya, yang dilihatnya ruangan penuh dengan bau obat-obatan yang menyengat hidungnya, tabib yang berada diruangan itu buru-buru mendekati Jiang, lalu memeriksa urat nadinya.


" Dewa menolongku... cepat beritahu jenderal Zishu dan Pangeran mahkota." kata tabib itu antusias. seorang pelayan yang membantu tabib itu segera undur diri.

__ADS_1


" Syukurlah nona bangun, aku khawatir akan membutuhkan waktu lama bagi nona." ucap tabib itu, Jiang tersenyum, ia lalu duduk bersandar.


" Aku tau dengan kondisiku sendiri, terima kasih sudah merawatku, maaf merepotkan." ucap Jiang lemah, kondisinya memang lemah.


Tak lama seseorang masuk dengan wajah cemas. " Zishu." Jiang tersenyum menoleh orang itu, Zishu setiap hari dilanda khawatir, hari ini ia merasa bahagia mendengar Jiang sadarkan diri. " Nona, beristirahatlah." ucap Zishu, Jiang meminum semangkuk obat sambil menunggu Xuelan datang.


Tak lama Xuelan datang, ia segera duduk ditepi peranduan tempat Jiang duduk bersandar, wajahnya cemas. " Bagaimana keadaanmu?" tanya Xuelan cemas.


" Kau datang tidak dengan berlari bukan?" Jiang tersenyum karena melihat keringat didahinya.


" Tidak..." belum selesai ia bicara seseorang yang baru datang lebih dulu memotongnya.


" Pembohong..." Seorang wanita cantik memandang Jiang, Xuelan tersenyum kecut melihatnya.


" Kenapa kau kemari?" tanya Xuelan.


" Karena aku penasaran siapa yang bisa membuat pangeran yang terkenal datar ini berlari keluar istana saat mendengar nama seseorang disebutkan." Ucap Gadis itu tak suka dan sedikit kesal pada Xuelan yang tiba-tiba langsung meninggalkan dirinya tadi.


" Maaf tidak bisa memberi hormat padamu, putri Mahkota, nona Meng Lu." Jiang tersenyum, Ia bisa menebak kalau gadis ini adalah calon istri Xuelan.


" Kau bisa langsung mengenalinya tanpa aku perkenalkan." Ucap Xuelan tersenyum pada Jiang.


" Ia sering menceritakan tentang sahabatnya padaku, aku bahkan sangat hapal ceritanya, sebab sudah seribu kali ia menceritakannya."


" Kau pasti bosan." kata Jiang tertawa kecil, ia sedikit menahan sakit saat ia tertawa sehingga membuat mereka khawatir.


" Aku baik-baik saja." jawab Jiang.


" Sepekan lagi adalah pesta pernikahanku." ucap Xuelan, Jiang menepuk-nepuk pundak Xuelan kemudian tersenyum.


" Berarti aku tidak melewatkannya, beruntung aku sadar lebih awal, kalau tidak aku pasti akan mengecewakanmu." Xuelan memandang Jiang.


" Kau tidak pernah mengecewakan Jiang, mereka yang tidak tau perjuanganmulah yang mengecewakan, selama kau baik-baik saja maka hubungan kerajaan Qing dan Yan Utara akan baik-baik saja." Xuelan menggenggam tangan Jiang.


" Persahabatan kita lebih dari itu, kau sudah seperti kakak perempuan bagiku, aku tidak akan rela jika kau terluka, suatu hari jika kau pergi meninggalkan Zhang Han, maka aku tidak akan segan-segan memutuskan hubungan dengan kerajaan Qing." ucap Xuelan menyakinkan.


" Aku hampir cemburu melihatnya." celetuk Meng Lu, Jiang tersenyum, Xuelan lalu berdiri mendekati Meng Lu.


" Apa tidak cukup jiwaku ini sudah aku gadaikan padamu, apa lagi yang aku punya...dia memiliki secuil kasih sayangku sebagai kakak, dan kau memiliki segalanya." Meng Lu mengulum senyum dan merona mendengarnya, tetapi ia tidak ingin memperlihatkan rasa senangnya didepan Xuelan.

__ADS_1


" Dasar..." Xuelan Tersenyum karena dapat membaca ekpresi Meng Lu yang malu-malu. ia lalu menoleh lagi pada Jiang.


" Aku mengundang Yang mulia Zhang Han dipernikahanku." Jiang menarik nafas.


" Jangan biarkan aku melihatnya, mungkin aku akan membunuhnya jika bertemu, aku mulai membenci dirinya... setiap kali aku fikirkan itu membuat diriku tersiksa, aku mulai menyesal sekarang." Jiang membuang muka, ia merasa sedikit sedih saat mengatakannya.


" Baiklah... kalau begitu beristirahatlah, aku akan menemuimu nanti, apakah kau ingin tetap tinggal disini atau ikut denganku diistana?" tanya Xuelan.


" Biarkan aku disini, disini lebih tenang." Xuelan mengangguk, ia lalu keluar ruangan, tetapi ia terhenti didepan Pintu, ia kembali menoleh Jiang.


" Apakah kau tidak akan memberi kesempatan lagi pada Yang mulia Zhang Han untuk menembus kesalahannya?"


" Aku sudah sering memberinya kesempatan, tetapi ia mengabaikannya, hingga aku mengambil tindakan ini, sekarang aku tidak percaya takdir tetapi percaya pada diriku sendiri." jawab Jiang.


" Aku mengerti." Xuelan lalu pergi diikuti Zishu, dan Meng Lu karena Jiang harus beristirahat dan membiarkan tabib itu mengobati Jiang.


" Entah itu karena tubuh ini yang dimiliki Jiang dulu ataukah dari hatiku sendiri yang masih mencintai Zhang Han, tetapi aku tidak akan jatuh lagi dilubang kebodohan, pengampun untuk Zhang Han sudah kututup rapat, aku akan mengambil keputusanku sendiri tanpa melibatkan hatiku." Batin Jiang, ia memejamkan mata menahan gejolak dihatinya, lalu kembali berbaring untuk beristirahat.


" Apa yang kau pikirkan?" tanya Meng Lu diperjalanan pada Xuelan yang terdiam sejak keluar dari ruangan Jiang, Xuelan menoleh pada Meng Lu.


" Apa pendapatmu tentang mereka?" tanya Xuelan sambil menggenggam tangan Meng Lu.


" Masa lalu adalah apa yang sudah terjadi, masa depan adalah apa yang belum kita ketahui, masa sekarang adalah apa yang kita alami saat ini, selir Jiang hanya kecewa dengan apa yang terjadi sekarang, tetapi kita tidak tau apa yang terjadi dimasa depan... Bagaimanapun ia tidak akan mudah putus hubungan dengan yang mulia Zhang Han, karena ia mengandung benihnya, semoga anak itulah yang akan menjadi perantara untuk menyatukan kedua orang tuanya." Meng Lu dapat melihat perasaan Xuelan yang mengkhawatirkan temannya, Xuelan tersenyum mendengar perkataan Meng Lu.


" Terima kasih." ucap Xuelan, mereka berdua jalan berdampingan sambil berpegangan tangan menuju istana.


" Dia adalah besanmu, anaknya adalah menantumu..."


" Ah...benarkah?...kukira kau bercanda saat mengatakannya waktu itu."


" Aku tidak pernah bercanda jika menyangkut masa depan." Xuelan tertawa kecil, Meng Lu memukul bahunya, lalu berlari, Xuelan mengejarnya.


" Tangkap aku."


" Jika aku berhasil menangkapmu, kau harus menuruti keinginanku."


" Banyak bicara... tangkap saja dulu setelah itu baru aku fikirkan." teriak Meng Lu tertawa merasa menang.


" Baiklah..." Xuelan mulai mengejar Meng Lu dengan riang, semua orang dapat melihat kebahagiaan dua orang itu saat mereka melewatinya. mereka hanya tersenyum dan tertawa kecil saat melihat putra mahkota mereka melakukan apapun yang diminta calon istrinya.

__ADS_1


__ADS_2