
Xiao Na memandang vila itu lalu melambaikan tangan agar anak buahnya membersihkan vila itu dengan meringkus orang yang berada didalam.
Bawahannya segera bergerak mendekati tembok yang didepan vila terdapat dua penjaga, tanpa menyembunyikan maksud kedatangan, kedua penjaga segera ditembak mati. karena terdengar tembakan diluar pintu vila terbuka dan segerombolan pria dengan senjata api ditangan mereka keluar tetapi bahkan mereka belum bertindak mereka sudah kehilangan nyawa.
Xiao Na yang menonton dibelakang tersenyum.
" Jangan terlalu bernafsu, haa...mereka seperti ngengat yang berlari keapi." kata Xiao Na mengeluh, larangan yang diucapkan Xiao Na adalah kata perintah yang berarti mereka harus segera membereskan, Anak buahnya mengangguk saat merasa aman untuk Xiao Na memeriksanya, mereka melepaskan topeng wajah mereka.
Xiao Na berjalan memasuki vila diikuti Feiyu dan Song Lan untuk menjaga keamanan Xiao Na, ia melihat sekitar vila yang berdiri besar dan megah yang hanya dua lantai itu.
Tiba-tiba pintu lain terbuka, Song Lan segera menarik Xiao Na agar bersembunyi dan Feiyun berpisah,karena mereka membawa pasukan, baku tembak terjadi, anak buah yang dibawa Xiao Na sedikit hanya dua puluh orang sedangkan mereka mungkin tiga kali lipat jadi ia tidak mau rugi anak buahnya mati sia-sia.
Xiao Na mengeluarkan pistol lalu menembak siapa musuh yang terlihat dimatanya, kini ia tidak ingin bersembunyi dan terang-terangan melawan menembak yang dilihatnya, melihat kelihaian dan kepiawaian Xiao Na membunuh membuat kobaran semangat anak buahnya.
Tiba-tiba seseorang keluar dengan dijaga banyak orang dibelakang, umurnya masih terbilang muda dan Xiao Na tersenyum melihatnya, tatapan tajam menatap kemarahan pada Xiao Na, senjata saling ditodongkan antara mereka.
Xiao mengangkat tangan untuk memerintah tidak ada yang boleh menembak, Song Lan terkejut karena wajah pemuda itu mirip dengan pemuda yang menunjukkan arah pada mereka, tidak ada yang ingin memulai menembak duluan, walaupun mayat bergelimpangan diantara mereka, hanya mata pemuda itu yang kesal melihatnya karena hampir semua mayat yang bergelimpangan adalah anak buahnya.
" Aku tidak tau urusan nona Xiao Na kemari?" katanya menekan setiap kata yang keluar, kemarahan ingin meledak tetapi ia tahan.
" Kau?" Xiao Na ingin bertanya nama pemuda didepannya, pemuda itu menaikan sebelah alisnya menatap Xiao Na.
" Su Jing." jawabnya, Song Lan langsung menodongkan pistol kearah kepala Su Jing.
" Song Lan, turunkan senjatamu." perintah Xiao Na, pria yang ditodong sama sekali tidak gentar ia bahkan tidak bergerak dari tempatnya.
" Dia adalah tangan kanan He Mingjue, Su Jing..." Kata Song Lan ia tidak bisa menyembunyikan nafsu membunuhnya pada Su Jing. selama ini mereka hanya mendengar namanya tapi tidak ada yang pernah melihat wajahnya, dia bekerja seperti bayang. satu kata 'Dark moon.' adalah gelar untuk pemuda itu.
" Song Lan..." Xiao Na menepuk pundak song Lan, jadi Song Lan mundur, pria itu tertawa melihat Xiao Na.
" Reputasi nona cukup terkenal, wanita kuat yang sulit dicari tandingannya."
" Terima kasih pujiannya." jawab Xiao Na.
" Terima kasih kembali." ia tersenyum, Xiao Na membalas senyuman Su Jing.
" Ah... seperti biasa kau penuh dengan kobaran semangat api, Yuan..." kata Xiao Na tersenyum, pria itu menatap Xiao Na tidak mengerti dengan perkataannya.
__ADS_1
" Yuan?ckckck kurasa kau sudah hilang akal, aku memiliki hadiah." Ia lalu membuka jalan dibelakangnya dan terlihat Feiyun sudah bebak belur diwajahnya dan seseorang berdiri dibelakangnya menodongkan pistol dikepala, Feiyu jatuh berlutut karena ditekan dari atas, bibirnya pecah dan darah mengucur dari sudut mulutnya.
" Feiyu." Teriak Song Lan, kemarahan diwajah Song Lan tercetak jelas, ia baru menyadari Feiyu tidak ada, Xiao Na tersenyum.
" Ckckck dia cukup kuat, untung saja ia masuk jebakan kalau tidak sulit menundukkannya."
" Apa ini juga pujian?" tanya Xiao Na, pemuda itu tertawa.
" Tentu saja." jawabnya.
Xiao Na melangkah beberapa langkah kedepan hingga jarak mereka berdua hanya tinggal satu meter.
" Jika ingin memukul Anjing, kau harus melihat tuannya terlebih dahulu."
" Oh? hahaha..." Su Jing tertawa lalu melanjutkan ketika tawanya reda. " Kau kira aku takut? jika aku takut aku tidak akan berada ditempat ini." jawabnya tertawa, Xiao Na menarik pistol disaku paha dan seperkian detik bunyi tembakan.
Duarrr...
Su Jing mematung, ia bahkan tidak melihat pergerakan tangan Xiao Na tetapi pelatuk sudah ditarik dari tempatnya, peluru sudah ditembakkan tanpa dia menoleh mangsanya, pria yang menodongkan pistol pada Feiyu langsung terjatuh dan bersimbah darah keluar dari kepalanya.
" Aku tidak suka ia menodongkan pistol pada Feiyu." Xiao Na merasakan dia sedang diawasi dari lantai dua, ia jadi memandang sekitarnya.
" Jangan bersembunyi seperti tikus, keluarlah..." Xiao Na langsung menembak pada arah pintu yang tertutup yang memiliki lubang dipintunya, walaupun Xiao Na menembak tetapi tidak mengenai sasaran karena menembak sniper menggunakan pistol tidak akan akurat, setelah ditembak Xiao Na terdengar bunyi nyaring dari ruangan itu, Su Jing menatap kagum pada Xiao Na.
" Sayangnya bakat langka ini dimiliki wanita..." ucap Su Jing, Ia langsung meraih pistol lalu menodongkan pistol pada Xiao Na, Xiao Na langsung menepis senjata itu, lalu menendang Su Jing hingga termundur beberapa langkah, senjata itu terlempar jauh.
Xiao Na maju lalu menghajar beberapa anak buah Su Jing lalu mengincar Su Jing kembali, Song Lan langsung membantu dan diikuti anak buahnya, perkelahian tangan kosongpun terjadi, Song Lan ingin membantu Xiao Na, tetapi Xiao Na menyuruhnya membantu Feiyu terlebih dahulu.
" Ah...aku tidak sabar ingin mendidik anak nakal ini ! tanganku gatal dan aku merasa bersemangat sekarang..." gumam Xiao Na tersenyum lalu menyerang Su Jing.
Su Jing bahkan tidak dapat menyentuh tubuh Xiao Na untuk melukainya padahal ia adalah yang terbaik dan hanya seorang wanita tetapi mampu membuatnya tidak berdaya dan merasa kehilangan harga diri.
Tetapi yang lebih memalukan adalah setiap serangan Xiao Na selalu menampar wajahnya membuat ia semakin kesal, pipinya sekarang sudah merah karena tamparan Xiao Na beberapa kali, lebih tepatnya adalah seperti ibu yang menghukum putranya dan itu menghancurkan harga dirinya.
" Namamu bukan Su Jing, mulai sekarang namamu Zhang Yuan..." sedari tadi Xiao Na tidak pernah menyebut namanya dari awal mereka bicara dan entah kenapa ia menjadi sedikit bangga saat Xiao Na memberi nama padanya.
" Aku tidak perlu, apa hakmu mengubah namaku?"
__ADS_1
" Dimana Yi Han?" kata Xiao Na, sepertinya He Mingjue tidak berada ditempat karena dari tadi ia tidak muncul.
Sebenarnya Su Jing penasaran bagaimana Xiao Na berada ditempat ini, desa Liguai adalah tempat terlarang yang tidak bisa dimasuki tanpa akses, tiba-tiba dia berada disini sedangkan tuannya tidak ada, ia sudah memeriksa bahwa keluarga Xiao Tidak terdaftar tetapi bagaimana bisa masuk?.
" Yuan, dimana Yi Han?", Su Jing menyimpitkan mata.
" Sudah kukatakan, aku bukan Yuan." Si Jing datang menyerang tetapi baru beberapa langkah sebuah tamparan kembali mendarat di pipinya, ia mengelus pipinya yang memerah.
" Aku bahkan belum sempat memukulnya, tetapi kenapa wanita ini hanya menamparku? ia memiliki banyak kesempatan untuk membuatku tidak berdaya tetapi lebih memilih untuk menamparku." batin Su Jing menatap Xiao Na.
Song Lan setelah menolong Feiyu, mereka berdua pergi mencari keberadaan Yi Han, karena sepertinya Xiao Na ingin bermain-main terlebih dahulu dengan Su Jing sedangkan mereka tidak memiliki banyak waktu.
Dibelakang Vila terdapat danau kecil tempat penyiksaan, tidak sedikit orang berada disana dalam penyiksaan, Song Lan melihat Yi Han yang diikat tangannya yang digantung diudara, terlalu banyak penjaga sehingga Song Lan tidak bisa menerobos jadi ia hanya bisa kembali menemui Xiao Na.
Xiao Na masih bermain-main dengan Su Jing, Song Lan segera memukul Su Jing saat ia lengah dan pria itu terlempar membentur dinding, kepalanya mengucur sedikit darah, ia menyentuh kepalanya yang terluka.
Tatapan Xiao Na langsung jatuh pada Song Lan, kemarahan sedikit terlihat dimatanya tetapi ia tidak mengatakan apapun, Song Lan dapat melihat kemarahan Xiao Na sehingga ia bingung tetapi itu bukan tujuan mereka sekarang.
" Yi Han berada dibelakang Vila, terdapat banyak penjaga disana." kata Song Lan, Xiao Na mengangguk.
" Semuanya dengarkan... ringkus mereka semua tetapi jangan pernah menyentuh Yuan ku ...jika ada yang tidak mendengarkan? silahkan pilih peti mati kalian sendiri." teriak Xiao Na, Song Lan dan Feiyu yang mendengarnya terkejut, sejak kapan Xiao Na mengasihani musuh.
" Baik..." jawab mereka serempak, suara mereka bergema divila, mereka tau siapa Yuan yang disebut karena tadi Xiao Na sudah mengatakannya.
Xiao Na segera berlari kebelakang Vila, Su Jing diam ditempat tidak menghalanginya, dia juga tidak tau mengapa ia melakukannya,Song Lan dan Feiyu membuka jalan untuk Xiao Na menuju belakang Vila.
sekejap penjaga diringkus habis Xiao Na, Song Lan dan beberapa anak buah yang mereka bawa. Setelah cukup aman ia berlari menghampiri Yi Han yang terikat.
Wajah pria itu pucat, tubuhnya lemah, ia seperti ikan yang dijemur kering dan ia masih memiliki kesadaran saat melihat Xiao Na, untuk pertama kali dalam hatinya ia merasa menyesal bertemu Xiao Na, dulu ia berfikir bahwa suatu keberuntungan karena bertemu Xiao Na agar ia dapat membalas dendam tetapi sekarang ia tidak ingin bertemu karena ia tidak ingin menyakiti Xiao Na, balas dendam ini tidak mudah dihapus.
Xiao Na memotong tali yang mengikat Yi Han sehingga pria itu langsung tercebur kedalam air, Xiao Na langsung menceburkan diri kedalam danau.
" Mengapa? mengapa kau yang datang? mengapa harus kau?" batinnya saat ia melihat Xiao Na berenang kearahnya, saat ia hampir kehilangan kesadaran tiba-tiba seseorang memberi nafas dari mulutnya.
ia membuka mata dan Xiao Na susah mencium dirinya untuk memberi nafas buatan untuknya agar ia tidak hilang kesadaran.
Mohon maaf untuk para semua para pembaca berinkarnasi, kenapa saya jarang up cerita karena saya bukan penulis ataupun bekerja sebagai penulis, saya hanya seorang pekerja pabrik dan kadang bekerja sampai malam jadi tidak memiliki waktu untuk menulis, membuat cerita hanyalah sekedar hobi saja dan saya Hanya menulis saat waktu luang saja.terima kasih sudah membaca cerita saya sejauh ini, salam saya dari Kalimantan barat , Singkawang....
__ADS_1