Berinkarnasi

Berinkarnasi
Hari sial


__ADS_3

Banyak yang menyaksikan pertarungan itu, para mentri yang mendengar keributan itu juga langsung bergegas karena ruang pertemuan tak jauh dari kediaman kaisar, mereka menyaksikan betapa hebatnya kedua wanita yang sedang bertarung sehingga mereka sulit menentukan siapa pemenangnya.


keterkejutan juga jelas terlihat dimata mereka, ratu yang selama ini tidak pernah dianggap ada dan lemah ternyata sangat hebat dalam seni beladiri.


"Apa yang sedang kalian lakukan." teriak Zhang, semua orang yang menyaksikan memberi hormat saat mendengar suara Zhang, Jiang dan Lu Xiang juga berhenti bertarung, mereka berdua segera menoleh kearah Zhang, dan terlihat jelas Zhang saat ini sangat marah besar.


" Kalian semua bubar."teriak Zhang semua orang segera berhamburan kembali ke tempatnya masing-masing, Jiang melemparkan pedangnya sembarangan, niat untuk melihat pemandangan malah berkelahi, sehingga suasana hatinya kesal. Jiang juga berniat pergi saat Zhang mengatakan bubar.


" Permaisuri Jiang Huan, Kau ingin pergi kemana, kau yang sudah menciptakan kekacauan ini semua." teriak Zhang, sebenarnya hatinya sangat kesal, tapi juga bercampur dengan heran, bagaiman Jiang bisa begitu hebat dalam seni beladiri.


Jiang yang merasa namanya di panggil berhenti, lalu menatap wajah Zhang yang menurutnya sangat menyebalkan. Lu Xiang dengan wajah yang merah padam karena dia berniat ingin menghabisi Jiang, bagaimana tidak, wanita yang dianggapnya tidak berguna dapat mengimbangi beladirinya yang terkenal di seluruh kerajaan Qing, dan belum tentu ada wanita di kerajaan Qing ini dapat mengimbanginya.


"Kalian berdua, ikut aku." kata Zhang lalu mereka berdua mengikuti dari belakang. memang Wei chan dan Lan huan sempat melongo melihat pertarungan mereka yang menurutnya sangat menarik.


Jiang dan Lu Xiang berjalan dibelakang Zhang dengan diikuti Wei chan dan Lan huan mengikuti paling belakang. Mereka sambai di sebuah ruangan luas saat dua prajurit itu membuka pintu yang sangat besar didepan mereka. Ruangan yang luas dan di depan mereka ada anak tangga yang mengarah kesinggasana di atasnya.

__ADS_1


ruangan itu adalah ruangan rapat pribadi bagi kaisar Qing, ruangan itu hanya digunakan saat sang kaisar membahas masalah yang memang perlu untuk dirahasiakan karena ruangan itu dijamin ke amanannya dan tidak akan ada yang bisa mendengar apa yang dibicarakan didalam ruangan itu.


Zhang kemudian duduk di singgasananya, sedangkan Wei Chan dan Lan Huan ditepi, yang ada hanya Lu Xiang dan Jiang Huan berdiri di hadapan Zhang.


" Apa yang kalian berdua lakukan, mengapa kalian bertarung." teriak Zhang menggema di seluruh ruangan.


" Maafkan saya yang mulia, Aku bertarung dengan ratu Jiang hanya karena membela diri , yang mulia juga melihat sendiri ratu Jiang menarik pedang dan berniat membunuh selirmu ini." jawab Lu xiang menangis tersedu-sedu tapi Jiang tau bahwa Lu xiang sedang bersandiwara dengan tangis buayanya.


Zhang masih diam, ia menatap Jiang menunggu nya untuk membela diri atau membantah perkataan Lu Xiang, tapi Jiang masih tidak mengatakan apapun.


" kalaupun saya mengatakan sebenarnya, anda juga tidak akan percaya, jadi percuma saya berbicara." jawab Jiang datar.


Zhang mengangkat sebelah alisnya, memang harus Zhang akui, permaisuri nya yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu, tapi kebecian dihati Zhang untuknya sangat dalam.


" Jadi maksudmu kau membenarkan apa yang dikatakan Selir Lu Xiang?" tanya Zhang mengimitasi.

__ADS_1


" Saya tidak bermaksud membunuhnya yang mulia, saya hanya hanya ingin memotong lidahnya saja." jawab Jiang. wei Chan Dan Lan Huan saling memandang lalu menoleh Jiang kemudian melihat Zhang yang wajahnya sudah merah padam menahan amarah.


" lancang sekali kamu Ratu Jiang Huan." teriak Zhang marah, Lu Xiang tersenyum kemenangan melihat kemarahan Zhang.


" Selir Lu Xiang, kamu boleh pergi."kata Zhang dingin. Lu Xiang segera mengundurkan diri, setelah Lu Xiang sudah hilang di balik pintu, Zhang turun dari singgasananya.


saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Zhang tiba-tiba mencekik leher Jiang,Wei Chan dan Lan Huan terkejut melihatnya. Jiang yang dicekik merasa kesakitan dan sulit bernafas untuk sesaat.


" Yang mulia, lepaskan tangan anda, anda bisa membunuh ratu Jiang Huan yang mulia." kata Wei Chan khawatir, bagaimana pun Jiang Huan adalah ratu sekaligus putri perdana mentri, juga adik seorang jendral, jadi nyawanya cukup diperhitungkan.


Walaupun Jiang Huang tidak pernah dianggap oleh keluarganya, tapi jika Jiang mati ditangan kaisar sendiri maka sebagai sang ayah tentu tidak terima, walaupun ayahnya nampak tidak perduli sebenarnya ia masih menyanyangi putri dari mendiang istri pertamanya itu.


Zhang melepaskan cekikannya,lalu menarik nafasnya untuk menenangkan kemarahannya. Jiang terbatuk-batuk saat Zhang melepaskan cekikannya.


" Hari ini benar- benar hari yang sial, niat melihat pemandangan malah berakhir begini." kata Jiang dalam hati

__ADS_1


__ADS_2