Berinkarnasi

Berinkarnasi
Jiang, Zhang Han, dan Ying Zheng


__ADS_3

Jiang pergi menemui Zhang Han diruang kerjanya, saat Zhang Han melihat kedatangan Jiang ia tersenyum hangat. " Yang mulia." Jiang memberi hormat, Zhang Han tersenyum mengejek.


" Kukira kebiasaan itu sudah kau hilangkan, kemarilah." Zhang Han mengulurkan tangannya, Jiang Menerima uluran tangan Zhang Han. Jiang lalu duduk dipangkuan Zhang Han, Zhang Han memeluknya dari belakang sambil mengelus perut Jiang yang masih rata.


" Ada apa malam-malam begini kau datang Menemuiku?" Zhang Han meletakkan dagunya dibahu Jiang sambil memeluk istrinya.


" Sesuai dugaanku, Zhao An hampir menjadi korban lagi, ia hampir masuk kedalam Harem wanita." Zhang Han terdiam, Jiang lalu menceritakan semua kejadian sampai bertemu A Niang.


" Kau sudah bertemu dengannya?" tanya Zhang Han, Jiang mengangguk.


" Kulihat dia wanita yang berbeda, dia mengetahui banyak tentang musuh bahkan ia bisa beladiri, Yang aku herankan mengapa kau tidak mengangkat dia menjadi selir tingkat? bukankah ia punya kemampuan." Zhang Han tersenyum lalu mengelus kepala Jiang.


" Kau belum memasuki istana harem, ini pertama kalinya bukan? tapi A Niang itu adalah wanita spesial, ia bertugas menjaga kedamaian diharem wanita."


" Spesial?"


" Dia adik Dao-Dao, satu ibu berbeda Ayah." Jiang langsung berdiri." Ceritakan padaku tentang A Niang, aku pergi mendengar Dao-Dao menceritakan adiknya yang masih hidup tetapi ia tidak bisa bertemu." Jiang menjadi antusias, Zhang Han menarik nafas.


" A Niang adalah saudara tiri Dao-Dao, Ia lahir hasil perselingkuhan ibunya dengan pria lain, untuk menutupi kesalahannya ia memberikan A Niang pada kepala pelayan dirumahnya untuk mereka rawat, saat hari pembinasaan keluarganya, seharusnya seluruh keluarga dan pelayannya dihukum semua kecuali Dao-Dao, A Niang saat itu dalam pendidikan diluar kota jadi ia selamat, saat dicari tau kebenarannya, dihari terakhir ibunya menulis sebuah surat bahwa ia menyesal bahwa ia tidak bisa merawat A Niang sebagaimana seorang ibu."


" Ia menulis penyesalan kebetulan saat itu Dao-Dao menemukan surat itu, setelah itu ia mencari A Niang, karena A Niang berfikir ia akan diburu jadi ia menyamar menjadi pelayan diistana ini, aku bertemu dengannya dan mulai curiga dengan sikapnya yang tidak mau mengalah serta suka mengutarakan pemikirannya dan tidak mau tunduk membuatku penasaran, lalu aku mencari tentangnya, karena itu aku memerintahkan ia menjaga harem dan tidak boleh keluar dari sana, karena khawatir jika ia bertemu orang lain dan curiga pada sikapnya maka mereka bisa membuat A Niang dalam masalah, jadi jangan sebut namanya didepan orang lain, karena banyak yang tidak mengenal namanya."


" Aku mengerti, karena ia satu-satunya peninggalan Dao-Dao, aku akan menyayanginya seperti saudaraku sendiri." Jiang tersenyum, Dulu Dao-Dao mengatakan bahwa ia menyanyangi adik tirinya itu walaupun saat itu ia tidak tau kalau selama ini pelayan yang menemaninya bermain adalah adiknya sendiri.


Zhang Han mengangguk, ia lalu menarik laci meja kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah tabung perak, Jiang mengenal tabung itu karena itu berukir naga air yang tak lain pasti dikirim dari Yan Utara, Zhang Han lalu memberikan tabung itu pada Jiang.


" Dari Xuelan." Jiang kegirangan,ia sudah lama tidak mengirimkan surat, Jiang lalu melihat tabung emas diatas meja Zhang Han.


" Apa itu?" tanya Jiang menunjuk pada tabung emas diatas meja Zhang Han.

__ADS_1


" Surat dari Jin Timur." Zhang Han lalu memberikannya pada Jiang untuk membacanya, selesai Jiang membacanya,ia menggulung kembali surat itu.


" Jadi yang kau inginkan ini dari Ying Zheng?" Zhang Han mengangguk.


" Aku membutuhkannya." Zhang Han tersenyum, Jiang lalu berpamitan untuk kembali kekamarnya, Zhang Han melarangnya, jadi Jiang tidur dikediaman Zhang Han.


*****


Ying Zheng duduk ruang kerjanya ditemani Yuwen Xue, begitu banyak beban fikiran dikepalanya, Waktu yang ia berikan pada Ling Ling untuk mencari wanita permintaan ibunya belum juga ada kabar, saat ia menulis Ling Long datang memberi hormat, Ying Zheng meliriknya lalu mulai menulis lagi.


" Bagaimana?" Ling Long tersenyum, Ying Zheng menjadi penasaran melihat senyum Ling Long terukir di bibirnya.


" Yang mulia, selir ini berbeda dari semua selir yang Anda miliki, jika selir lain menceritakan tentang anda, selir ini tidak perduli sama sekali, ia lebih suka mengajak selir lain minum-minum dan membuat pesta untuk menyenangkan diri sendiri, selir lain menghias diri untuk menarik perhatian anda, selir ini lebih suka menghindari anda, ia bernama Selir Fei. " Ling Long tersenyum mengingat apa yang sudah selir Fei itu lakukan, ia ingin tertawa keras tetapi ia sadar sekarang ia berdiri dihadapan rajanya.


" Sepertinya kau sangat menyukainya sampai kau tidak berhenti tersenyum." Ling Long mengangguk.


" Sepertinya pilihan sudah diputuskan, suruh ia sekarang datang kemari." Ling Long mengangguk, ia lalu memberi hormat.


Ling Long pergi keistana wanita, saat Ling Long datang semua selir heran, karena pasti ada hal penting, sebagai tangan kanan Kaisar, para selir mengetahui tentang Ling Long, satu-satunya wanita yang hanya bisa dekat dengan Kaisar mereka.


Ling Long lalu mengumumkan untuk mengumpulkan semua selir, para selir berantusias melihat Ling Long, karena kabar yang dibawa pasti kabar baik, semua orang dengan wajah mengantuk berkumpul,Ling Long memperhatikan semua selir itu, tapi satu orang yang tidak datang.


" Dimana selir Fei?" tanya Ling Long pada semua orang, Semua selir saling berbisik-bisik diantara mereka dan tertawa kecil.


" Jenderal Ling, selir Fei orang yang tidak perduli tentang istana, kurasa ia lebih memilih tidur dikamarnya daripada berdiri disini." mereka tertawa kecil mengingat Selir Fei orang yang paling santai dan tidak khawatir tentang masa depannya.


" Baiklah, aku hanya ingin melihat wajah kalian, kalian boleh bubar." Para selir menjadi kesal mendengar perkataan Ling Long.


" Apa dia salah makan tadi pagi?" ucap salah seorang selir, mereka dibangunkan tengah malam dan sekarang disuruh bubar bukankah membawa kekesalan.

__ADS_1


" Kurasa ia sedang mabuk." ucap selir lain, mereka lalu berbubaran dengan perasaan kesal, Ling Long tersenyum melihat kekesalan diwajah semua selir.


Ling Long menuju kamar selir Fei, saat ia masuk, seorang pelayan setia selir Fei terkejut melihat kedatangan Ling Long, ia segera memberi hormat, ia berniat membangunkan selir Fei tetapi sepertinya selir Fei sudah tau tapi tidak perduli.


" Mau sampai kapan anda akan pura-pura tidur selir?" Ling Long berdiri menjaga jarak, selir Fei membuka matanya melihat Ling Long.


" Sulit mengelabui mata elang." selir Fei tersenyum, ia lalu mengambil posisi duduk.


" Apa yang membuat jenderal besar ini datang kekamarku?"


" Aku membawa pesan, yang mulia memerintahkan untuk selir Fei datang menemuinya sekarang." Ling Long membungkuk hormat, Selir Fei mengerutkan keningnya.


" Sekarang?" Ling Long mengangguk. " Aku berganti pakaian dulu, seharian ini aku belum mandi jadi aku mau membersihkan badan dulu." Pelayannya menatap Selir Fei heran, Ling Long mengangguk.


Selir Fei menuju tempat pemandian ditemani pelayannya. " Aku tidak ingin bertemu yang mulia, bagaimana ini?" Selir Fei menatap tempat pemandian yang berada dihadapannya.


" Tapi nona, apa anda tidak takut jika yang mulia nanti akan marah jika anda tidak mau."


" itulah mengapa aku ingin merencanakan agar tidak jadi bertemu." Selir Fei melihat sebuah bak mandi berisi air kotor yang bau, sebuah ide cemerlang dikepalanya.


" Apa yang anda....?" Pelayan itu membulatkan matanya terkejut melihat Selir Fei menceburkan dirinya kedalam bak air kotor dan bau itu.


" Ah....." teriak Selir Fei, Ling Long segera berlari masuk, bau menyengat menusuk Hidung Ling Long saat Selir Fei keluar dari bak itu.


" Maafkan aku jenderal, karena ceroboh aku tidak tau kalau air itu kotor, maafkan aku..." Selir Fei menangis, pelayannya ikut bersujud dihadapan Ling Long, Ling Long mengumpat melihat selir Fei.


" Baiklah, aku akan melaporkan hal ini pada Yang mulia, kau bersihkan dirimu, ini sangat bau." Ling Long pergi meninggalkan selir Fei.


Begitu selir Fei pergi, senyuman menghias di bibir selir Fei, ia lalu menghapus air mata kepura-puraannya, ia lalu merasa jijik dengan dirinya sendiri. " Ayo bantu aku bersihkan diri." Pelayan itu mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2