Berinkarnasi

Berinkarnasi
Gagal


__ADS_3

" Dapatkan kau mengatakan bahwa semua yang Lu Xiang bunuh adalah mereka yang pantas mati?..." Xiaojiu terdiam, Jiang menahan emosinya yang meledak-ledak mengingat kejadian dimana orang tersayangnya mati didepan matanya. Zishu dan Xiolin berada didepan memimpin jalan jadi mereka tidak mendengar percakapan Jiang dan Xiaojiu yang berada ditengah pengawalan yang hanya terdiri beberapa orang saja. Selama perjalanan Jiang dan Xiaojiu memilih diam.


Sesuai perjanjian, Lu Xiang datang dengan seorang diri, sebelum itu Jiang menyuruh pasukannya untuk melihat apakah Jiang membawa bantuan yang akan menjebak mereka, dan semuanya bersih, Jiang melihat Lu Xiang bediri dengan pakaian jubah dan memakai tudung kepala. Setelah merasa aman, Jiang mendekat, Sebilah pedang ditangan Jiang mengarah pada leher Xiaojiu.


" Maafkan dia, beri dia kesempatan untuk berubah." ucap Xiaojiu pelan yang masih dapat didengar Jiang saat mereka belum benar-benar mendekat menghampiri Lu Xiang. Jiang melirik.


" Tidak akan... setelah semua yang terjadi." jawabnya acuh, lalu mereka tidak berbicara lagi setelah mendekat pada Lu Xiang, jarak Lu Xiang dan Jiang hanya 2 meter saja jauhnya.


" Xiaojiu..." Lu Xiang ingin mendekat tetapi Jiang menggeser pedang yang langsung menyentuh leher Xiaojiu membuat Lu Xiang berhenti, ia adalah kode agar ia tidak mendekat, Lu Xiang mengepalkan tangannya.


" Kakak..." Balas Xiaojiu lalu ia melirik Jiang


" Sabar dulu... kalian pasti senang sekarang karena bisa bertemu setelah sekian lama tidak berjumpa, itupun berkat diriku ." Jiang lalu tersenyum kearah Lu Xiang.


" Apa yang kau inginkan?" Tanya Lu Xiang tanpa basa-basi.


" Informasi."


" Tidak...kakak..." Xiaojiu khawatir melihat Lu Xiang, tapi Lu Xiang seolah tak mendengar Xiaojiu.


" Tentang?"


" Kelemahan kalian... berdirilah bersamaku menantang mereka, menghancurkan mereka semua dan aku bersedia berlutut meminta maaf pada Zhang Han atas nyawamu." Jiang mengatakan itu hanya untuk menguji melihat apakah Lu Xiang tulus dan bersedia berkhianat pada Bai Qian.

__ADS_1


" Apa yang kau katakan?" teriak Xiaojiu terkejut melihat Jiang,lalu matanya berkaca-kaca melihat Lu Xiang yang terlihat datar.


" Apa Yang aku dapatkan dari pengkhianatan ini, bisakah kau melupakan masa lalu pembunuhan yang terjadi? bisakah kau lakukan itu?" Xiaojiu tau seperti apa Lu Xiang, ia takut Lu Xiang akan mengkhianati Bai Qian dan ganjaran untuk itu tidak akan mudah.


" Kakak kumohon... jangan lakukan, lebih baik aku mati..." Xiaojiu menangis menatap Lu Xiang.


" Tentu saja, kau bukan dalang sebenarnya, kau juga diperalat oleh dia untuk mencapai tujuannya." Jawab Jiang, ia melihat ekspresi Lu Xiang datar, tanpa ekspresi.


" Kakak...ku mohon..." Xiaojiu menangis takut apa yang sedang ia bayangkan yang akan terjadi.


" Kau penting bagiku...sudah cukup aku kehilangan Jing er, aku tidak bisa kehilangan kau juga..." ucapnya lalu menoleh pada Xiaojiu, ia langsung terkejut.


" Maka maafkan kebodohan yang aku lakukan ini..." ekspresi Lu Xiang langsung berubah khawatir seolah ia bisa menebak apa yang ingin dilakukan Xiaojiu.


" Apa yang ingin kau lakukan?... jangan coba-coba melakukan apapun..." teriak Lu Xiang, Mata Lu Xiang menatap memohon pada Xiaojiu. Jiang tidak mengerti situasi antara Xiaojiu dan Lu Xiang, mereka berbicara dari mata kemata, kasih sayang yang dalam.


" Suatu kehormatan bisa melayanimu... dalam kehidupan ini aku tidak menyesal..." Xiaojiu langsung menggenggam mata pedang secepat kilat lalu menggores lehernya sendiri, Jiang terkejut apa yang dilakukan Xiaojiu, ia bahkan belum sempat bereaksi.


" Tidak...." teriak Lu Xiang histeris, Xiaojiu langsung jatuh, darah segar keluar dari lehernya karena ia memotong urat nadinya sendiri, Lu Xiang berlari menangkap tubuhnya yang akan jatuh ketanah, Jiang terlalu terkejut dengan kejadian yang begitu tiba-tiba, ia termundur.


Jiang menatap Xiaojiu yang berada dalam pelukan Lu Xiang, ia melihat Lu Xiang menangis histeris pada tubuh Xiaojiu yang sudah tidak bernyawa. " Mengapa kau bisa begitu bodoh...bangun... kakakmu memerintahkan kau untuk bangun.... bukankah kau selalu bilang hanya mendengar perkataanku saja." Lu Xiang sangat histeris, ia mengguncang tubuh Xiaojiu tetapi tidak ada jawaban sama sekali.


" Kumohon...." Lu Xiang memeluk tubuh itu, Jiang terkejut ia mengira Lu Xiang tidak akan perduli pada nyawa Xiaojiu dan tawaran yang ia katakan untuk Lu Xiang hanya menguji saja, tetapi ia benar-benar tidak menyangka kasih sayangnya untuk Xiaojiu begitu besar.

__ADS_1


" Bagaimana rasanya?" Jiang seolah menabur garam dalam luka Lu Xiang dengan pertanyaan seperti itu. Lu Xiang yang masih memeluk mayat Xiaojiu tanpa sengaja menyentuh pinggangnya dan melihat sebuah kertas kecil terselip.


Jiang langsung menarik kertas itu dan membacanya." Demi kebaikan Lu Xiang, kau harus berkorban." Lu Xiang meremas kertas kecil itu dengan kemarahan, ia lalu meletakkan mayat Xiaojiu ditanah.


" Surat ini pasti didapat Xiaojiu sebelum penyerangan, sepertinya ia tidak mengerti isi surat ini sebelum penyerangan dan dia mengerti setelah tertangkap....Xiaojiu kenapa kau bisa begitu bodoh..." batin Lu Xiang, ia masih memandang mayat Xiaojiu.


Lu Xiang lalu berdiri, matanya sembab karena menangis, ia segera menguasai dirinnya, terlihat keyakinan penuh dimata Lu Xiang menatap Jiang. " Mari berkerja sama." Jiang membulatkan matanya tidak percaya mendengar perkataan Lu Xiang.


" Mereka terlebih dahulu mengkhianati kepercayaanku, mereka tidak percaya padaku, lalu untuk apa aku setia." Jiang menatap Lu Xiang ragu, ia masih tidak yakin jika Lu Xiang tulus berkerja sama dengannya setelah Serangkaian peristiwa yang saling menghancurkan Jiang dan Lu Xiang, membuat tidak mungkin bagi Jiang untuk percaya begitu saja. " Kau tidak percaya?" Lu Xiang bisa melihat ekspresi Jiang yang ragu.


" Percaya atau tidak, itu terserah padamu...aku hanya mengingatkan agar kau tidak menyesal nanti, aku hanya melakukan penawaran kali ini saja, aku ingin menebus kesalahanku dimasa lalu..." Jiang ragu tetapi melihat tatapan Jiang yang percaya diri dan yakin pada perkataannya membuat Jiang bimbang. Tatapan Lu Xiang adalah tatapan dimana Jiang selalu kalah satu langkah, ia juga teringat perkataan Xiaojiu agar memberi Lu Xiang kesempatan.


" Percayalah padaku, jika kau percaya kau tidak akan menyesalinya..." Lu Xiang lalu melangkah mendekati Jiang.


" Berikan pedangmu padaku." Lu Xiang mengulurkan tangan meminta pedang yang masih masih tersisa darah Xiaojiu, sedikit demi sedikit perkaataan Lu Xiang, Jiang mulai mempercayainya, bukan karena apa, mulut mungkin bisa berbohong tetapi mata Lu Xiang nampak tulus dan Jiang merasa tidak ada salahnya mempercayai Lu Xiang.


Jiang lalu mendekat ingin menyerahkan pedang, tanpa aba-aba ia lalu menggenggam ujung pedang sehingga darah segar menetes dipedang itu. " Lukai tanganmu dan mari bersalaman, sebagai sumpah untuk tidak saling mengkhianati, dengan darah saling menyatu." ucap Lu Xiang, tangannya yang berdarah menunggu Jiang melakukan hal yang sama.


" Nona, jika anda tidak yakin...jangan lakukan, lebih baik salah membunuh itu lebih baik daripada kita salah percayai orang lain yang akan membuat kita binasa." Ucap Xiolin, ia melihat Jiang tanpak ragu. memang sedari tadi Zishu dan Xiolin tidak mengatakan apapun, mereka berdua hanya menonton, karena mereka berdua tidak ingin ikut campur, semua ada dikeputusan Jiang dan hanya mengikuti perintah Jiang.


Jiang melihat keyakinan penuh itu, maka tidak ada salahnya percaya, ia lalu mengores telapak tangannya, Jiang melangkah mendekati Lu Xiang, mereka berdua saling berhadapan, Lu Xiang mengulurkan tangan, Saat Jiang ingin menyambut uluran tangan itu, tiba-tiba peluit peringatan berbunyi.


Jiang terkejut, bukan Jiang saja, Zishu dan Xiolin ikut terkejut karena tanda peluit adalah peringatan bahaya bahwa ada musuh yang mendekat. " Ada Apa?" tanya Lu Xiang tidak mengerti.

__ADS_1


Jiang mundur menjauhi Lu Xiang, ia lalu menatap marah pada Lu Xiang. " PEMBOHONG..." Lu Xiang tidak mengerti.


" Aku sempat percaya padamu, tetapi ternyata kau menunggu aku lengah dan menyerang diriku, harusnya aku..." Jiang kehabisan kata-kata karena dikuasi kemarahan, Lu Xiang tidak mengerti maksud perkataan Jiang, ia memang tulus ingin bergabung dengan Jiang tetapi ia tidak mengerti apa yang terjadi.


__ADS_2