
Mereka berempat menuju tepi pantai karena seluruh pasukan Yan Utara sudah menunggu disana, mereka hanya tinggal menunggu Xuelan datang, begitu mereka datang seluruh Pasukan itu menaiki kapal mereka. Xuelan memandang wajah ketiga sahabatnya.
" Jangan pernah lupakan kalau kalian memiliki sahabat bernama Xuelan." kata Xuelan, matanya sudah berkaca-kaca,
" Kami tidak akan pernah melupakanmu Xuelan, ketika kau sampai disana, kau harus sering mengirimkan kami surat." kata Dao-Dao yang juga mulai menangis, mereka sudah seperti keluarga,wajar mereka sangat sedih.
" Kau harus menjaga dirimu Xuelan, nanti kau menjadi raja masa depan Yan Utara, kau sering-sering berkunjung kemari ya." kata Jiang yang tak kalah sedih, suka duka mereka rasakan bersama, perjuangan hidup dan mati juga mereka rasakan bersama.
" Jiang, musuh yang kau hadapi sangat kuat, kau sudah merasakan sekali kematian, kau harus menjadi kuat untuk keluargamu sendiri, aku selalu berdoa pada dewa kau akan selalu menang dari setiap pertempuran yang terjadi, Jiang yang sekarang sangat berbeda dan aku memiliki keyakinan pada dirimu bahwa kau akan membongkar semua kejahatan orang yang ingin menghancurkan keluargamu." Xuelan menepuk pundak Jiang dengan keyakinan yang kuat dimatanya. Jiang mengangguk dan akan selalu berusaha melakukan yang terbaik di masa depan.
Zhao An hanya memandang Xuelan, Zhao An sangat dekat Xuelan, bahkan ia paling sangat melindungi Xuelan, Dao-Dao suka menjahili Xuelan dan Zhao An yang membelanya. Xuelan menatap Zhao An lalu langsung memeluknya.
" Kakak." panggil Xuelan, Zhao An langsung membalas pelukan Xuelan, Zhao An yang sedari tadi menahan air mata akhirnya jatuh juga. Xuelan Juga ikut menangis.
Setelah mereka berpelukan, Ia juga memeluk Dao-Dao dan Jiang. Xuelan mengeluarkan token perak miliknya lalu memberikannya pada Jiang.
" Kapanpun kau membutuhkan bantuan Yan Utara, kau harus mengirim token ini padaku Jiang, aku akan selalu siap membantumu." Xuelan mengangguk, Jiang mengambil token itu lalu menyimpannya.
__ADS_1
" Jiang, jika kau membutuhkan bantuan lalu mengirim token itu lewat seseorang, kau harus ingat bahwa jika ia sudah memasuki wilayah Yan Utara, ia harus mengeluarkan token itu dan meletakan dimana bisa dilihat karena perairan Yan Utara penuh jebakan dan setiap jebakan ada yang menjaganya, jadi jika mereka melihat token ini, maka orang itu akan aman walaupun melewati jalur manapun." pesan Xuelan.
" Aku Akan selalu mengingatnya." Jiang mengangguk mengerti.
Xuelan lalu melepaskan kalung yang selalu dipakainya lalu diberikannya pada Zhao An." Kalung ini adalah pemberian mendiang kakakku, aku memberikan padamu karena kau adalah kakakku, Jika kau datang ke Yan Utara, kau akan langsung dipertemukan denganku dan tidak akan tersesat karena kalung ini terkenal diseluruh negeri Yan Utara dan hanya aku yang mereka ketahui memilikinya." Zhao An menerima pemberian Xuelan, Dao-Dao iri karena ia tidak diberi apapun oleh Xuelan.
" Lalu kau tidak memberi apapun padaku, Xuelan." tanya Dao-Dao lesu.
" Ini." Xuelan memberi mata anak panah,tapi mata anak panah itu berbeda dari kebanyakan karena memiliki kualitas bahan yang berbeda dan berwarna mengkilat putih.
Dao-Dao melihat anak panah itu, ia lalu membulakkan matanya." ini..." Dao-Dao yang seorang informan tentu tau mata anak panah apa yang diberikan Xuelan.
mata anak panah kristal es sangat mematikan, jika ditempatkan dari jarak yang bahkan bermil-mil akan tetap mengenai sasaran karena begitu ditembakkan ia akan bercerai-berai dan setiap pecahkan yang terkena akan terbunuh, jika ditembakan dalam jarak dekat ia tidak akan bercerai-berai. kelemahannya hanya satu yaitu hanya bisa dipakai sekali.
" Aku pergi sekarang, aku akan selalu merindukan kalian semua, pada sahabat yang bahkan aku berkeliling dunia tidak akan mendapatkan orang seperti kalian. Aku berterima kasih karena dipertemukan dengan kalian bertiga, dan kebaikan kalian selalu aku tanam dalam diriku." Xuelan mengusap air matanya, lalu menaiki kapal.
Kapal itu berbunyi lalu mulai berlayar, mereka melambaikan tangan." Kami akan selalu merindukanmu Xuelan." teriak Zhao An dan Dao-Dao bersamaan, mereka melambaikan tangan sampai hilang dari pandangan mereka . Jiang menghela nafas, sekarang sahabatnya berkurang satu.
__ADS_1
" Ayo kita kembali keperkemahan, Zhang Han mengatakan akan segera berangkat pulang Kerajaan." Kata Jing, Dao-Dao dan Zhao An mengangguk, mereka memandang lautan luas itu terakhir kali lalu menaiki kudanya dan kembali keperkemahan.
Jiang langsung kembali ketenda dan menemukan Zhang Han sedang membaca pesan surat dan ekspresi sangat buruk, Zhang Han bahkan tidak menyadari kedatangan Jiang" Yang mulia." panggil Jiang, Zhang Han segera menoleh.
" Penyakit ibunda semakin parah, kita akan berangkat sekarang." kata Zhang Han lalu keluar tenda untuk segera memberi perintah agar bersiap kembali keistana.
Jiang hanya bisa menunggu semua orang bersiap karena ia tidak membawa barang apapun saat datang, ia duduk termenung dibawah pohon besar karena tendanya dikemas prajurit, Jiang menunggu semua orang bersiap, Zhang Han yang melihat Jiang melamun datang menghampirinya.
" Kau bosan?" tanya Zhang Han, Jiang menggelengkan kepalanya.
" Lalu mengapa kau melamun disini."
" Tidak akan kerjaan."
" Kau bisa membantuku, minsalnya..." Jiang langsung menutup mulut Zhang Han, lalu menatap tajam Zhang Han karena ia tau kemana arah pembicaraan Zhang Han.
Zhang Han terkekeh geli melihat ekspresi Jiang, ia lalu memeluk Jiang, Jiang membalas pelukan Zhang Han. Dao-Dao dan Zhao An yang melihat mereka berpelukan tersenyum." Sejak kemarin, aku perhatikan mereka semakin mesra." kata Dao-Dao.
__ADS_1
" Aku juga merasa begitu.", mereka berdua lalu saling menoleh kemudian tersenyum dan mulai membantu prajurit berkemas.
Begitu semua selesai, mereka langsung berangkat kembali keistana, mereka hanya istirahat sekali lalu melanjutkan perjalanan.