Berinkarnasi

Berinkarnasi
Pesta


__ADS_3

Jiang dan Ming Hui saling menatap, Jiang menangkap sinar mata Ming Hui yang berbeda. " Yuan, Zhao An, kalian berdua tunggu aku didepan." kata Jiang tanpa memalingkan wajahnya dari Ming Hui.


Zhao An dan Yuan saling menoleh lalu memberi hormat pada mereka kemudian pergi dari sana. " Mereka sudah pergi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Ming Hui langsung tersenyum kemudian melangkah mundur.


" Aku terkejut kau dapat membaca fikiranku?" Ming Hui lalu berbalik setengah untuk berpaling dari Jiang.


" Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi denganmu, langsung katakan saja."


" Aku ingin membuat penawaran denganmu." Jiang menaikan sebelah alisnya mendengar perkataan Ming Hui.


" Penawaran?"


" Aku tau kau sedang mempersiapkan pasukan, aku diam bukan berarti aku buta, aku mengawasimu setiap hari dan orang-orang yang berkerja denganmu, Bai Yunfei dan Mendiang Dao-Dao banyak membantumu, sekalipun aku tidak tau untuk apa, tapi aku yakin kau membutuhkan bantuanku." Jiang langsung tertawa lebar.


" Kau... aku terlalu meremehkan dirimu dalam menggali informasi, bahkan Zhang Han tidak tau tentang hal ini, tapi apa keuntungan yang kau dapatkan, kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini bukan?" Ming Hui menggelengkan kepala.


" Aku tidak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan." untuk pertama kalinya Jiang melihat Ming Hui yang terlihat berkuasa dan tegas ini menangis dihadapan Jiang.


Ming Hui langsung memegang tangan Jiang sambil menangis. " Bantu aku Jiang...hanya kau yang bisa membantuku." isaknya.


" Tenanglah..." Jiang mencoba menenangkannya yang terlihat histeris.


" Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, tapi bantu aku, aku sudah tidak tahan lagi hidup seperti ini."


" Baiklah...katakan apa yang bisa aku bantu."


" Tinggalkan kerajaan ini." Jiang langsung menghempaskan tangan Ming Hui.


" Kau sedang bercanda?" Jiang menjadi marah mendengar perkataan Ming Hui.


" Aku...Aku... tidak mempunyai pilihan lain, mungkin jika kau pergi dari istana, Zhang Han bisa mencintaiku..."


" Aku bisa memberikan apapun yang kau inginkan, pasukan, senjata, dan bahan pangan untuk keperluan perang, aku tau kau membutuhkan semua itu." lanjunya, Ming Hui Melihat Jiang terdiam memikirkan sesuatu.


" Aku membutuhkan semua itu." batin Jiang.


Jiang lalu menyentuh perutnya. " Aku menerimanya." jawab Jiang tanpa ragu, senyum cerah diwajah Ming hui tampak jelas.


" Satu Minggu aku akan mempersiapkan hal yang kau butuhkan." jawab Ming Hui gembira.

__ADS_1


" Aku akan pergi, tetapi jika takdir mempertemukan kita kembali, janji ini berakhir." Ming Hui mengangguk.


Jiang meninggkan kediaman Ming Hui, Zhao An dan Yuan heran, Zhao An ingin bertanya tetapi ia urungkan, saat sampai di kamar, Zhao An masuk dan Yuan diperintah untuk menunggu diluar.


Jiang mengeluarkan tabung berisi surat yang ia sempat tulis tadi kemudian memberikan pada Zhao An, Zhao An lalu membuka tabung itu, didalamnya berisi surat kosong, ia lalu mendekatkan surat itu pada api dan segera muncul tulisan.


" Jiang..." Keterkejutan Zhao An setelah membaca surat itu.


" Kirimkan itu pada penerima surat rahasia." jawab Jiang.


" Apa yang ingin kau coba lakukan, jangan gegabah, paling tidak fikirkan anak yang berada dalam kandunganmu."


" Aku tidak memiliki waktu lagi Zhao An, sekarang adalah waktu yang tepat." Jiang lalu mendekat pada Zhao An kemudian genggam tangannya.


" Berjanjilah, bahwa kau tidak akan ikut campur, apapun yang terjadi kau tidak akan memberitahu Zhang Han, berjanjilah Zhao An, demi anakkku yang belum lahir, cepat katakan."


" Nona, acara segera dimulai, anda diminta untuk segera datang keaula." teriak Lian dari luar kamar.


" Zhao An..." Panggil Jiang lagi. " Aku tidak memiliki banyak waktu." Tangan Zhao An gemetar.


" Tidak, aku tidak bisa membuat janji seperti itu, aku sudah bersumpah untuk selalu mendampingi, jika kau memintaku untuk tidak ikut campur dan tidak membantumu maka hidupku tidak berarti apapun."


" Kau akan diburu Jiang, kau akan dituduh berkhianat pada yang mulia...." Zhao An tidak bisa membendung air matanya lagi.


" Demi masa depan kerajaan ini, hama perlu di basmi agar tanaman bisa tumbuh subur."


" Nona." panggil Lian lagi.


" Berjanjilah." Zhao An menarik nafas.


" Aku berjanji." jawab Zhao An.


" Katakan."


" Aku berjanji bahwa aku tidak akan ikut campur, tapi kau juga harus berjanji bahwa kau harus mengutamakan keselamatan dirimu sendiri." Jiang mengangguk, ia lalu mengambil tusuk konde pemberian Jiang Feng dulu sebagai hadiah sebelum ia menginggal.


Mereka berdua keluar dari arah terpisah, Zhao An Harus mengirimkan surat terlebih dahulu baru keruang aula, Jiang langsung menuju aula, terlihat semua orang sudah berkumpul, Jiang menuju Zhang Han lalu duduk disebelahnya.


" Kau tampak menawan." kata Zhang Han berbisik, Jiang tersenyum.

__ADS_1


" Kau lebih tampan dari biasanya." balas Jiang berbisik.


" Suatu kehormatan bisa dipuji olehmu, karena sangat jarang kata-kata manis keluar dari mulutmu."


" Benarkah?" Jiang tersenyum manis.


" Sikapmu Sekarang membuatku takut."


" Kenapa?"


" Aku lebih suka kau melampiaskan kemarahan dibanding bersikap manis seperti sekarang, karena ini tampak menakutkan." Jiang tertawa kecil.


" Kukira ku lebih suka sikapku sekarang."


" Sedikit." jawab Zhang Han tersenyum.


Lalu ia memulai acara, tarian, musik dimulai dan hidangan sudah disiapkan. Zhang Han menuangkan arak pada cangkirnya untuk bersulang pada Jiang.


Jiang juga menuangkan arak pada cangkirnya, mereka berniat bersulang, lalu tangan Jiang menahan cangkir milik Zhang Han membuatnya terkejut.


" Untuk mengetahui isi hatiku, kau tidak perlu melakukan semua ini." Jiang lalu mengambil cangkir Zhang Han lalu meletakkannya diatas meja.


Jiang menyentuh wajah Zhang Han lalu menciumnya didepan semua orang, semua orang terkejut dan segera memalingkan wajah , Zhang Han menikmatinya, Jiang terus mencium bibirnya.


" maafkan aku..." batin Jiang. Disela sela ciumannya, Jiang meneteskan air mata , Zhang Han melepaskan ciumannya.


" Kenapa?" Tanya Zhang Han, Jiang tersenyum lalu menangkup wajah Zhang Han.


" kenapa apanya? aku hanya terharu dan terlalu merasa bahagia." jawab Jiang tertawa kecil.


" Aku mencium ramuan dalam arakmu." Lanjutnya, Zhang Han lalu tertawa kecil.


" Sepertinya aku tidak bisa menipumu, Rencana Ying Zheng ini sangat mudah ditebak."


" Ternyata ini rencananya." jawab Jiang lalu meneguk araknya.


semua acara berjalan dengan lancar, Jiang memperhatikan sekelilingnya. " entah kapan aku akan melihat ini semua lagi." batin Jiang.


Jiang lalu menoleh pada Zhang Han yang terlihat bahagia berbincang dan minum, ia bahagia karena ia akan menjadi seorang ayah.

__ADS_1


" Maafkan aku karena harus merebut kebahagiaan itu darimu." ia meneteskan air mata lagi memandang Zhang Han. malam ini adalah malam terakhir Jiang karena rencananya dimulai malam ini.


__ADS_2