
Ini sudah hari ke-6, Tiba-tiba pintu sudah terbuka membuat Xuan, Yuan, Wei Chan dan Gubernur Gu terkejut, Zhang Han muncul dengan wajah panik walaupun terlihat jelas wajah lelahnya.
" Xuan... periksa keadaan Jiang, ia terus..." belum ia menyelesaikan kata-katanya Yuan lebih dulu maju lalu mencengkram kerah baju Zhang Han. Xuan segera masuk kedalam Dengan perasaan khawatir.
Yuan lalu mendorong Zhang Han masuk, ia menarik pedangnya dari sarung.
" Apa yang sudah kau lakukan pada ibu?" kata-katanya penuh intimidasi, Zhang Han memandang tidak percaya pada Yuan, Xuan memeriksa keadaan Jiang.
" Aku tidak melakukan apapun..." jawab Zhang Han, Wei Chan masuk ia lalu berdiri didepan Zhang Han menjadi tamengnya.
" Sadarlah, bagaimanapun ia adalah ayahmu, yang mulia tidak mungkin menyakitinya." kata Wei Chan, Zhang Han menatap punggung Wei Chan.
" Kau menceritakan pada mereka?" tanya Zhang Han tidak percaya.
" Maafkan hamba yang mulia, daripada terus terjadi salah paham, bukankah lebih baik menjelaskan pada mereka bahwa yang mulia adalah ayah mereka."
" Ayah...ayah kau bilang?... bagaimana ia bisa disebut seorang ayah jika dia tidak dapat melindungi keluarganya sendiri..." Yuan menatap marah pada Zhang Han, Zhang Han menghela nafas lelah.
" Kau tidak akan mengerti apapun, meskipun dijelaskan kau tetap tidak ingin mengerti." jawab Zhang Han. Yuan menggenggam erat pedangnya dan berniat maju menyerang tetapi Xuan lebih dulu memanggilnya.
" Hentikan Yuan..." Yuan berhenti, tetapi matanya merah dan berkaca-kaca, sampai akhirnya pedang itu ia jatuhkan kemudian ia menangis.
" Kenapa harus kau yang menjadi ayahku?... kenapa harus dirimu, seumur hidupku aku selalu berharap dapat bertemu dengannya...aku berkhayal jika bertemu aku memeluknya dan mengatakan aku merindukannya...aku akan menutup mulut semua orang yang mengatakan bahwa kami anak haram tidak memiliki ayah...aku selalu bekerja keras agar jika aku bertemu Ayahku aku akan membuatnya bangga memiliki kami berdua..." Yuan meraung sambil menangis karena kenyataan bahwa ia tidak dapat membenci ayahnya.
" Yu-a-n..." Terdengar suara lemah Jiang memanggil.
" Ibu sudah sadar, Yuan..." Xuan menepuk pundak adiknya lembut, Yuan dengan cepat menghapus air matanya kemudian mendekati ibunya.
" Ibu..." Yuan meneteskan air mata menggenggam tangan ibunya lalu mencium punggung tangan Jiang. " Ibu." ia meredam tangisnya agar ia tidak histeris.
" Ibu baik-baik saja, jangan khawatir." suara Jiang lemah, ia tersenyum, ia tidak bisa banyak bergerak karena kondisinya sangat lemah.
Jiang menggenggam erat tangan Yuan, Jiang mengedipkan mata seperti memberi kode pada Yuan, Yuan mengerti lalu mendekatkan telinganya pada Jiang.
" Beri pelajaran pada ayahmu jika kau masih kesal padanya, bukankah kau selalu bermimpi ingin bermain-main dengan ayahmu seperti anak lainnya." bisik Jiang, Yuan menjauhkan kepalanya, ia bersikap seolah Jiang tidak mengatakan apapun padanya.
" Aku mengerti, ibu cepatlah sembuh." Yuan mencium telapak tangan ibunya.
' Rencana jahat apa yang difikirkan anak dan putranya itu ' fikir Xuan memandang aneh adik dan ibunya, ia tau sikap Yuan yang berubah tiba-tiba.
Hua Rong tiba-tiba menerobos masuk, melihat ia masuk semua orang memandangnya, ia terkejut melihat Zhang Han, ia berpura-pura tidak melihat Zhang Han kemudian mendekati Jiang.
" Bibi..." Hua Rong terlihat khawatir melihat kondisi Jiang.
" Aku baik-baik saja." Jiang lalu terbatuk-batuk, Zhang Han kemudian mendekati Jiang dengan tergesa-gesa kemudian mengambil secangkir air putih.
" Minumlah..." Zhang Han lalu membantu Jiang minum, Yuan lalu bergeser membiarkan Zhang Han membantu ibunya.
Hua Rong berbalik ingin keluar, tetapi ia merasakan pakaiannya tertahan dan saat menoleh ternyata Zhang Han sudah selesai memberikan minum pada Jiang dan menarik pakaiannya agar ia tidak kemana-mana, Hua Rong tersenyum bodoh.
" Yang mulia Paman..." Hua Rong cengir seperti orang bodoh.
__ADS_1
" Kepalaku hampir botak memikirkan pesan ayahmu yang meminta jawaban keberadaan putrinya, aku bahkan tidak tau putrinya datang berkunjung..." Zhang Han memandang Hua Rong.
"Ahh...jangan memelototiku seperti itu yang mulia...aku tersesat..." jawab Hua Rong, Zhang Han kemudian berdiri ia tersenyum.
" Ahh...jadi putri Hua Rong tersesat?... kerajaan Qing sudah seperti taman bermainnya sejak kecil... tetapi ia masih bisa tersesat!..kalau begitu bukankah aku harus melaporkan kepada ayahmu bahwa putrinya tersesat dalam perjalanan kemari dan ia terdampar diperbatasan..." Mendengar itu terdengar Zhang Han sedang menyindirnya, ia batuk kecil.
" Sepertinya itu tidak perlu dilaporkan pada ayahanda, apalagi ibunda... bukankah paman lebih senang jika ibunda tidak datang kerajaan Qing, hehehe." Hua Rong tertawa mengejek, Zhang tersenyum kecut saat mendengarnya.
" Semua orang tolong keluar, ibu butuh istirahat." Tanpa mereka sadari ruangan itu sudah bersih dari asap bekas pengobatan dan barang apapun bekas pengobatan untuk Jiang, selagi mereka bertengkar tempat itu diperintahkan Gubernur Gu untuk membersihkannya saat Xuan memintanya.
Satu persatu mereka keluar dimulai Wei Chan kemudian Hua Rong, Zhang Han dan Yuan tidak bergerak ditempat.
" Aku akan menemani ibu."kata Yuan.
" Tidak, biar aku saja." kata Zhang Han.
" Aku saja, kau keluar dari sini..."
" Tidak akan...kecuali..." Zhang Han tersenyum penuh makna.
" Kecuali?" Yuan manaikkan sebelah alisnya memandang Zhang Han.
" Panggil aku ayah..." kata Zhang Han cepat. " Dari tadi kau terus memanggil kata 'kau', padahal aku ayahmu, sebutkan kata yang sopan padaku."Zhang Han tersenyum hangat.
" A-y-... mimpi saja aku memanggilmu seperti itu." Yuan mendengus, mendengar itu Zhang Han hampir kecewa.
" Kalau begitu aku yang akan tetap disini menemani Jiang." Zhang Han lalu duduk ditepi peranduan dengan bersilang tangan didepan Dadanya.
" Kakak juga mengusirku? mengapa tidak mengusir orang itu saja?" ia menyindir Zhang Han karena hanya mereka bertiga yang masih dalam ruangan, Zhang Han berjalan keluar ruangan.
" Kau juga keluar."
" Tidak..." Yuan keras kepala.
" Kau menjadi keras kepala setelah bertemu ayah?"
" Jangan sebut ayah didepanku."
" Oh... bukankah kau dulu sering menyebutnya kenapa sekarang tidak?"
" Dulu berbeda..." Yuan menjadi sedikit malu, Jiang sudah tertidur beberapa waktu lalu saat Zhang Han selesai memberinya minum, mungkin karena masih dalam pengaruh obat jadi ia cepat tidur.
" Apapun yang kakak katakan, kakiku tidak akan melangkah keluar dari ruangan ini."
Zhang Han bersandar pada pintu, Yuan melihat malas pada Zhang Han yang tersenyum mengejek.
" Diusir?" tanya Zhang Han dengan tersenyum nakal, Yuan hanya memandang Zhang Han malas.
" Tidak, aku yang ingin keluar sendiri." ia lalu berdiri di pintu juga berjaga.
" Jangan berbohong, aku mendengar semuanya."
__ADS_1
" Sudah mendengar tetapi masih bertanya." Yuan memalingkan wajah, menoleh pada Hua Rong.
" Jangan melihat wanita lain, kalian berdua adalah kandidat yang sudah dijodohkan sejak dalam kandungan." Yuan menatap Zhang Han terkejut.
" Maksudmu?"
" Panggil aku ayah, maka akan aku jelaskan." Yuan memutar bola matanya malas.
" kalau begitu, tidak usah." Jawab Yuan cuek.
" Kau benar-benar teguh pada pendirian, kau tidak penasaran?" tanya Zhang Han memancing Yuan.
" Tidak.."
" Bohong."
" berhenti memasang jebakan padaku, aku tidak akan masuk kedalam lubang itu." Yuan memandang kesal pada Zhang Han.
" Panggil aku ayah...itu tidak berat...kau tidak akan dihukum cambuk ataupun dipotong lidahmu hanya karena kau memanggilku ayah."
" pantang menyerah ternyata." Guman Yuan, ia lalu memalingkan wajah lagi.
" Putri Yan Utara adalah putri yang sudah dijodohkan pada kalian, antara Xuan atau dirimu yang akan menjadi suaminya, jika Xuan menolak maka kau tidak bisa menolak, kau harus menerimanya."
" Kenapa?"
" Janji yang sudah diucapkan, seluruh negeri juga tau tentang hal itu, bahkan sudah dibicarakan sejak kalian dalam kandungan, ibumu pernah memberitahu tentang itu tetapi ia tidak mengatakan tentang racunnya padaku, itu yang membuatku bersalah." Zhang Han menghela nafas lesu, terlihat raut wajah bersalah membuat Yuan tidak ingin melihatnya karena ia akan luluh jadi ia memalingkan wajahnya.
" Kuharap setelah ini, kau akan memperlakukan ibuku dengan baik." jawab Yuan tanpa menoleh.
" Tentu saja, aku akan melakukan apa yang harusnya aku lakukan sejak dulu." jawab Zhang Han tersenyum.
Wei Chan kemudian memberikan sebuah surat kecil pada Zhang Han.
" Surat dari pangeran Zhang Hou." Yuan menoleh pada Mereka berdua.
" Siapa Zhang Hou?" Zhang Han menoleh.
" Adikmu dari permaisuri Ming Hui."
" Ah... aku baru ingat, aku pernah mendengar tentangnya."
" sainganmu..." kata Zhang Han.
" Hah?" Zhang Han lalu melirik Hua Rong, Yuan ikut melirik lalu memalingkan wajahnya.
" Seolah dia tau isi hatiku." batin Yuan, ia memandang malas Zhang Han.
Zhang Han membaca pesannya.
" Persiapkan kembali keistana, oh Ya kirimkan pesan keistana bahwa aku membawa pulang Jiang bersama kedua putraku." kata Zhang Han, Wei Chan memandang Zhang Han.
__ADS_1
" Yang mulia, anda tidak berniat untuk mengguncang tiga kerajaan bukan?" Zhang Han tersenyum tipis.