
Pasukan Utusan dari Yan Utara menatap pasukan musuhnya, ia menghela nafas berat. " Prajurit, dengarkan perintahku, demi harga diri kerajaan Yan Utara, kita tidak akan gentar melihat musuh, Pantang bagi Yan Utara pulang dengan tangan kosong, hidup kerajaan Yan Utara." teriak sang panglima perang dari kerajaan Yan Utara, ia juga tidak punya pilihan lain.
" Hidup...hidup...hidup." teriak serempak prajurit kerajaan Yan Utara sambil menghentak senjata mereka ditanah.
Zhang Han menatap tajam pasukan musuhnya, ia tidak menerima orang luar mencoba mengusik kerajaannya hanya karena pangeran mereka yang tak jelas bagi Zhang Han, bahkan gambar yang mereka berikan sangat tak jelas bentuknya, bagaimana Zhang Han harus mencari seseorang diseluruh kerajaan yang luas.
" Prajurit, dengarkan perintahku, kita usir orang asing yang masuk kedalam wilayah kita, mereka berani mengusik kedamaian kerajaan ini bearti mereka berani menguji kekuatan kita, mari kita tunjukan pada mereka betapa kuatnya tanah air kita ini." Teriak Zhang Han tak kalah hebat.
" Hidup yang mulia Zhang Han... hidup yang mulia Zhang Han... hidup yang mulia Zhang Han." teriak serempak para prajurit dari pasukan Zhang Han.
Mendengar teriakan Zhang Han Panglima itu mengangkat pedangnya yang berbentuk panjang sedikit melengkung, sebelum ia berteriak menyerukan perang, tiba-tiba sebuah anak panah melesat cepat tepat kearah dekat kaki kuda sang panglima Yan Utara yang membuat semua orang sangat terkejut.
Semua orang langsung menoleh arah panah yang dilepaskan, mereka bisa melihat 4 orang berkuda dengan kecepatan tinggi kearah mereka, Zhang Han dapat mengenali keempat orang itu ketika mereka mulai mendekat kearah mereka.
" Jiang? apa yang ingin dia lakukan disini." Guman Zhang Han sendiri, ia heran melihat kedatangan empat orang itu.
Mereka berhenti ketika berada ditepi antara dua kubu pasukan itu, Xuelan langsung turun dari kuda, ia berjalan kearah kedepan dan berdiri ditengah-tengah diantara dua kubu pasukan itu. semua orang bertanya-tanya siapa yang pria itu yang berani menghentikan perang yang hampir akan terjadi.
__ADS_1
Zhang menyimpitkan mata melihat Xuelan yang berani menghentikan perang yang hampir terjadi, Zhang Han pun juga heran kedatangan mereka berempat. Sang panglima itu turun dari kuda, ia langsung berlutut dihadapan Xuelan yang membuat mereka semua heran,para prajurit dari Yan Utara heran melihat perilaku panglima mereka.
Xuelan lalu mengeluarkan token peraknya yang sebelumnya di berikan Jiang padanya, begitu ia mengangkat keatas, seluruh prajurit Yan Utara langsung berlutut.
" Hormat kami pangeran." kata mereka serempak, Zhang Jan terkejut mendengar teriak prajurit Yan Utara yang menyebutkan pangeran.
" pangeran? Dia pangeran Yan Utara? Xuelan." kata Zhang Han rasanya ia tidak percaya apa yang dilihat dan didengarnya.
Xuelan mendekati panglima Yan Utara, ia menyuruhnya berdiri." maaf menyulitkanmu paman Zilan." sesal Xuelan, Panglima itu tersenyum lalu menangis haru melihat Xuelan.
" Kau benar-benar menyusahkanku pangeran, kau tau aku hampir membuat batu nisan untukmu karena kau tidak pernah kembali." Xuelan Hanya tersenyum kecut mendengar perkataan panglima itu.
" Aku ingin meminta maaf sebelumnya, sekarang apa yang kami cari sudah kami dapatkan, jadi tidak alasan bagi kita lagi untuk melanjutkan perang ini." Panglima itu memberi hormat Pada Zhang Han.
" Aku bisa memakluminya." Zhang Han mengangguk setuju, panglima itu lalu menemui Xuelan lagi. " Ayo kita kembali pangeran." Ajak sang panglima.
" Tunggu, beri aku waktu satu hari lagi,aku ingin menjelaskan kepada penyelamatan sekaligus teman-temanku yang paling sangat aku hargai." Xuelan menoleh mereka bertiga yang masih berada diatas kuda.
__ADS_1
" Baiklah, kami menunggu pangeran diperkemahan tepi pantai, kami akan menyiapkan kapal untuk keberangkatan kita." Sang panglima memberi hormat lalu pergi dan memerintahkan semua prajurit untuk kembali ke perkemahan untuk menyiapkan keberangkatan untuk mereka pulang.
Xuelan berjalan kearah mereka bertiga." Tidak sia-sia kerja keras kita untuk sampai tepat waktu." Kata Zhao An senang, Jiang pergi menemui Zhang Han," Perang ini sudah usai, ayo kita kembali." Ajak Jiang, Zhang Han mengangguk, ia memerintahkan untuk kembali keperkemahan yang tak jauh dari lapangan medan perang. Zhang Han langsung menaiki kuda yang ditunggangi Jiang membuat Jiang terkejut sekaligus malu karena dihadapan semua orang Zhang Han langsung memeluknya.
" Kau hutang penjelasan padaku." Bisik Zhang Han ditelinga Jiang, ia langsung memacu kudanya menuju perkemahan mereka. Zhao An, Dao-Dao dan Xuelan mengikuti Zhang Han dan Jiang dari belakang.
" Kenapa kau harus menaiki kudaku? bukankah kau memiliki kuda sendiri?" tanya Jiang yang masih diatas kuda bersama Zhang Han.
" kenapa? tentu saja untuk memelukmu, jika aku menaiki kudaku, bagaimana aku bisa memelukmu?" rayu Zhang Han .
" Sejak kapan kau pandai berkata manis seperti ini."
" Aku tidak pandai berkata manis seperti laki-laki lainnya."
" bukankan kau baru saja mengatakannya."
" Oh kata-kataku tadi dihitung sebagai kata-kata manis juga, lain kali aku akan banyak menggunakan kata manis untukmu." Zhang Han semakin mempererat pelukannya pada Jiang. Jiang tidak menyadari bahwa ia tengah tersenyum bahagia sekarang.
__ADS_1
" Apa kau menyesal memanggil jiwaku Jiang Huan? karena aku mulai menyukai pria yang sedang memelukku ini, tapi janjiku padamu tidak akan pernah aku lupakan." Batin Jiang. ia memandang lurus kedepan menikmati angin pagi yang menurutnya sangat segar dan rasa lelahnya terbayarkan.
Zhao An, Dao-Dao dan Xuelan hanya tersenyum melihat Jiang yang berada dalam pelukan Zhang Han. " Aku tidak pernah melihat kehangatan dan kebahagian mereka berdua selama aku hidup, ini adalah pertama kalinya dan aku ikut bahagia untuk mereka." ucap Dao-Dao, tapi masih bisa didengar Xuelan dan Zhao An yang berkuda disampingnya, mereka berdua mengangguk setuju dengan perkataan Dao-Dao.